Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 77



🌹HAPPY READING🌹


Dee menggeleng. "Umi tidak marah, hanya saja jangan pernah biarkan masa lalu menguasai hidup Zahra, ya. Jangan sampai masa lalu menghancurkan kebahagiaan di masa depan, Nak," ucap Dee.


Tanpa mereka sadari, ada sosok mungil yang mendengar semuanya. Dia tidak paham semua yang Dee dan Zahra katakan, tapi yang pasti, Bundanya sedang tidak baik-baik saja.


Sela, anak itu menyaksikan bagaimana Bundanya menangis tersedu dalam pelukan Neneknya. Satu hal yang Sela tangkap, Bundanya sedih karena hubungannya dengan sang Ayah, Kenzo.


Sela mengusap air mata yang keluar dari ujung matanya. Anak itu berlari keluar untuk menemui sang Ayah.


"Ayah," panggil Sela.


Kenzo berdiri dengan senyum mengembang menatap anaknya. "Iya sayang. Bunda dimana?" tanya Kenzo.


"Bunda sholat, Ayah. Ayah pulang saja dulu, nantikan bisa kesini lagi," ucap Sela bohong. Anak itu tidak mau Ayahnya mengetahui bahwa Bundanya sedang menangis sekarang. Sela tidak mau jika Kenzo mengetahui alasan kesedihan Bundanya adalah dirinya sendiri.


Kenzo terdiam. Tidak biasanya Sela memintanya untuk pulang. Ada yang aneh dengan anaknya. "Sela tidak bohongkan, Nak?" tanya Kenzo memastikan.


Sela menggeleng. "Sela tidak bohong, Ayah," jawab Sela meyakinkan Kenzo.


Kenzo tersenyum. Tangannya terulur mengusap kepala anaknya. "Yasudah, nanti Ayah datang lagi, ya. Ada urusan yang harus Ayah selesaikan dulu sekarang," ucap Kenzo.


Sela mengangguk. "Ayah hati-hati, ya. Sela sayang Ayah," ucap Sela tulus menatap Kenzo.


""Ayah juga sayang Sela," ucap Kenzo membungkuk mengecup pipi bulat Sela. Setelah berpamitan, Kenzo berjalan meninggalkan rumah Zahra.


Sampai di mobilnya, Kenzo tidak langsung pergi. Dia segera mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman CCTV di rumah Zahra. "Ada sesuatu yang disembunyikan anakku," gumam Kenzo dengan segala keyakinannya.


Jantung Kenzo berdetak hebat melihat Zahra yang menangis tersedu di kamarnya. Tanpa bisa ditahan, air matanya ikut mengalir melihat itu. "Anakku berbohong," ucap Kenzo sendu. Dia tidak marah Sela berbohong, Kenzo percaya, pasti Sela berbohong bukan karena sebuah alasan.


Kenzo mengaktifkan rekaman suara di CCTV agar bisa mendengarkan apa yang Zahra katakan.


"Lagi-lagi ini semua karena ku," gumam Kenzo lirih.


"Anakku berbohong hanya karena takut aku tersakiti. Perbuatan ku membuat banyak hati terluka dan menderita," lanjut Kenzo lirih.


Dia yakin, Sela pasti sangat terluka mendengar setiap ucapan Bundanya. Anak itu dipaksa memilih antara Bunda dan Ayahnya. Anak itu dipaksa hidup diantara permasalahan yang ada diantara kedua orang tuanya.


"Anakku," ucap Kenzo dengan suara bergetar mengingat Sela. Sungguh, jika waktu bisa diputar, maka Kenzo tidak akan melakukan kesalahan seperti ini.


Kenzo menghirup nafas dalam. Dia mencoba menetralkan emosinya, menghapus jejak air bening yang keluar dari matanya. Kenzo mengeluarkan rekaman CCTV tersebut dan beralih mencari kontak seseorang di ponselnya.


"Halo, Arman," ucap Kenzo setelah Arman mengangkat panggilannya.


"Aku tidak mau tahu, sore ini wanita itu harus ada di ruangan ku. Aku tidak mau menunggu terlalu lama lagi," ucap Kenzo tanpa mendengarkan jawaban Arman.


"Anda yakin, Tuan?" tanya Arman sedikit ragu.


Kenzo mengangguk yakin ditempatnya. "Sangat yakin. Aku ingin segera membahagiakan anakku," jawab Kenzo.


"Baiklah, Tuan. Sore ini wanita itu akan ada diruangan Tuan," ucap Arman.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Kenzo langsung memutus panggilannya. Tidak bisa menunggu lama lagi, Kenzo harus segera menjalankan rencananya. Semakin lama, maka Zahra dan Sela akan semakin terpuruk akan masa lalunya. Kenzo ingin Zahra segera menyadari isi hatinya tanpa bersikap seolah dia tidak membutuhkan Kenzo.


"Aku serahkan semuanya kepadamu, Ya Allah," ucap Kenzo pasrah dengan hasil dari segala usahanya.


.....


Sela kembali memasuki rumahnya. Anak itu dengan senyum mengembangnya menuju kamar sang Bunda.


"Buna," panggil Sela lembut.


Dee dan Zahra langsung menoleh. Zahra menghapus sisa air matanya ketika melihat kedatangan Sela. Saat ini mereka berdua sudah duduk di atas kasur Zahra.


"Sela sudah pulang sekolah, Nak?" tanya Zahra.


Sela mengangguk. Dia berjalan dengan senyumnya mendekati Zahra dan Dee.


mengusap perutnya seperti orang lapar.


"Sela belum makan?" tanya Zahra. Karena Zahra selalu menyiapkan bekal untuk makan siang Sela.


Sela menggeleng. "Belum Buna, makan ciangnya Cela kaci Mang Jaja, kacian (Tukang kebun di sekolah Sela)," ucap Sela.


Zahra tersenyum, begitu juga dengan Dee. "Yasudah, sekarang kita ke meja makan. Ayo Umi," ucap Zahra mengajak Dee.


Mereka bertiga berjalan keluar kamar Zahra dan segera menuju meja makan untuk melaksanakan makan siang bersama.


Di meja makan, Sela tidak hentinya memandang wajah Bundanya yang tersenyum. "Buna," ucap Sela.


"Iya Nak," jawab Zahra.


"Celalu cenyum ya, Buna. Cela cuka kalau Buna cenyum," ucap Sela. Dee tersenyum mendengar penuturan Sela.


"Sela juga harus selalu senyum, ya. Nenek juga suka senyum Sela," ucap Dee.


Sela mengangguk yakin. Anak itu akan selalu tersenyum untuk semua orang yang dia sayangi.


Nenek tahu, Nak. Kami melihat semuanya tadi. Batin Dee menatap Sela. Dee yakin, bukan tanpa alasan Sela mengatakan hal seperti itu pada Zahra.


"Anak Bunda bisa gombal juga, ya," ucap Zahra.


Sela menggeleng. "Bukan gombal Buna, tapi itu ICI hati Cela," jawab Zahra.


Mereka semua tersenyum. Setelah itu Zahra, Sela dan Dee melanjutkan makan siang bersama.


.....


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Kenzo saat ini baru sampai di perusahaannya. Kenzo turun dan memasuki kantornya dengan wajah dingin dan langkah tegasnya. Kenzo nampak mengangguk sesekali saat karyawan menyapanya. Namun tidak dengan senyum diwajahnya. Senyumnya hanya akan diberikan untuk orang tercintanya.


"Silahkan, Tuan," ucap Arman menyambut Kenzo yang baru keluar dari lift khusus dirinya.


"Apa wanita itu sudah datang?" tanya Kenzo sambil berjalan menuju ruangannya.


"Sudah Tuan. Dia menunggu diruangan anda," ucap Arman.


"Kau harus ikut masuk. Aku tidak mau hanya berdua dengannya," ucap Kenzo. Arman mengangguk patuh mengikuti perkataan Kenzo.


"Lama tidak bertemu, Kenzo," ucap sebuah suara menyapa Kenzo ketika dia memasuki ruangannya.


Kenzo berdecak malas. "Kemana saja kau? Mengapa sangat sulit menghubungimu?" ucap Kenzo kesal.


Wanita itu tersenyum dengan gaya genitnya. "Aku habis melahirkan," ucapnya dengan gaya manja sambil mengusap-ngusap perutnya.


Arman terkekeh kecil mendengar perkataan wanita tersebut. Sedangkan Kenzo berdecak kesal. "Dasar wanita jadi-jadian," gumam Kenzo.


Wanita tersebut yang mendengar perkataan Kenzo hanya tertawa pelan. "Ingat, Kenzo, kau membutuhkan bantuan wanita cantik ini," ucap wanita itu centil mengerlingkan sebelah matanya menatap Kenzo.


"Kau harus benar membantuku sampai semuanya selesai, Thomas," ucap Kenzo yang membuat wanita tersebut kesal setengah mati.


"Panggil aku Tamara!" ucapnya tegas.


Kenzo terkekeh pelan. "Baiklah, Tamara. Nanti malam ikut aku untuk memulai semuanya."


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Sebentar lagi rencana Kenzo akan segera dijalankan, tunggu ya teman-teman 🤗


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘