Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 83



🌹HAPPY READING🌹


Setelah mendengar semua penjelasan dari Dokter Fahri, Kenzo berjalan di lorong rumah sakit dengan langkah lebarnya. Tangannya menggenggam kuat file yang dia dapatkan dari ruangan Dokter Fahri. Air mata Kenzo tidak henti mengalir. Seolah, setiap tetes air mata itu menemani langkah kaki Kenzo yang lebar.


"Kamu menyembunyikan hal besar seperti ini, Zahra. Ini benar-benar keterlaluan!" gumam Kenzo entah pada siapa.


Dari ujung lorong yang berlawanan dengan Kenzo, nampak Tamara yang berjalan dengan tergesa-gesa. Tamara menghentikan langkahnya ketika melihat Kenzo. Tanpa pikir panjang, Tamara langsung menyusul Kenzo.


"Kenzo tunggu!" teriak Tamara mengejar Kenzo. Sungguh, kali ini tenaga laki-laki Tamara keluar begitu saja.


"Lepasin gue!" sentak Kenzo saat tangan Tamara menahannya.


"Kendalikan emosi Lo. Jangan sampai emosi Lo merusak semuanya, Kenzo!" ucap Tamara tegas.


Tamara mengetahui semuanya. Tadi, Tamara kembali ke kantor Kenzo untuk mengambil ponselnya yang tertinggal disana. Karena tidak menemukan Kenzo, Tamara akhirnya bertanya pada Arman. Hingga akhirnya, Arman meminta Tamara untuk menyusul Kenzo dan membujuk Kenzo agar tidak melakukan sesuatu yang merugikannya. Tapi sebelum itu, Arman lebih dulu menceritakan semuanya pada Tamara, hingga Tamara mengerti dan membantu menyusul Kenzo.


Tamara memegang kuat tangan Kenzo dan menarik ke mobilnya. Disaat seperti ini, kesadaran Tamara masih sepenuhnya sadar. Dia tidak mungkin mengeluarkan suara lelakinya disaat pakaiannya sangat alim seperti itu. Oleh karena itu, dengan sekuat tenaganya, Tamara menarik Kenzo.


"Masuk Kenzo!" ucap Tamara garang saat mereka sudah sampai di depan mobil Tamara.


Kenzo masuk. Namun, saat melihat Tamara yang berjalan mengelilingi mobil menuju tempat duduk kemudi, Kenzo kembali membuka pintu mobil dan keluar. Hingga lelaki itu bisa berlari ke mobilnya.


Tamara yang melihat itu melongo tak percaya. "Lo benar-benar ya, Kenzo!" ucap Tamara geram dan langsung memasuki mobilnya. Tamara mengendalikan mobilnya dengan kecepatan penuh mengikuti mobil Kenzo dari belakang.


Kenzo mengendarai mobilnya bak orang kesetanan. Tangannya meremas kuat stir mobil menyalurkan emosinya.


Lima belas menit, Mobil Kenzo sampai di depan toko kue tempat Zahra bekerja. Waktu sudah menunjukkan menjelang sore, namun pengunjung terlihat nampak ramai. Tanpa memikirkan pandangan orang-orang, Kenzo memasuki toko dengan penampilan tak beraturan.


Kenzo mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Zahra. Hingga matanya menangkap sosok wanita yang dia cari di sudut ruangan sedang berbicara dengan salah satu pelanggan. Tanpa aba-aba, Kenzo berjalan cepat mendekati Zahra.


"Ikut aku!" ucap Kenzo menarik tangan Zahra dari belakang.


Zahra yang terkejut dengan tindakan Kenzo hampir terjatuh. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Zahra marah.


"Diam dan ikut aku!" ucap Kenzo tak terbantahkan.


"Jangan kasar pada wanita, Bung," ucap salah seorang pengunjung laki-laki mencegat tangan Kenzo.


"Jangan ikut campur urusan saya dan istri saya!" ucap Kenzo tegas, setelah itu dia menarik kasar tangan Zahra untuk mengikuti langkahnya.


"Masuk!" ucap Kenzo tegas. Zahra hanya menurut dan duduk di dalam mobil Kenzo. Sikap Kenzo yang seperti ini mengingatkannya kembali pada Kenzo masa lalu yang kejam dan semena-mena padanya.


"K-Kak Ken," panggil Zahra gugup. Percayalah, berdua dengan Kenzo dengan keadaan yang tegang seperti ini membuat nyali Zahra yang biasanya berani kini menciut begitu saja.


"Kita mau kemana, Kak Ken?" tanya Zahra ragu dan takut. Entah mengapa, mendengar ketakutan Zahra membuat pandangan Kenzo yang tadinya marah kini berganti menatap sendu pada gadis itu.


Kenzo menghela nafas pelan meredakan emosinya. "Menemui anakku, Zahra," jawab Kenzo sendu menatap Zahra.


"Se-Sela?" tanya Zahra memastikan.


Tanpa mau menjawab pertanyaan Zahra, Kenzo hanya menatap Zahra pandangan yang sulit artikan. Setelah itu di kembali fokus pada jalan.


Zahra hanya bisa berdoa dalam hati agar semuanya baik-baik saja melihat Kenzo yang hanya diam. Lima menit di dalam mobil, Zahra memperhatikan sekeliling jalan yang mereka lewati.


DEG


Jantung Zahra berdetak cepat. Dia mengetahui arah jalan ini. Ini adalah jalan menuju pemakaman anaknya. Ini adalah jalan menuju tempat peristirahatan Akbar yang terakhir.


"K-Kak Ken," panggil Zahra takut-takut menatap Kenzo.


Zahra hanya menggeleng menjawab pertanyaan Kenzo. Aku pasrah jika memang Kak Ken mengetahui semuanya. Batin Zahra gelisah, namun dia hanya bisa berharap, apapun yang terjadi nanti, semoga ini adalah yang terbaik.


Tapi, yang ditakutkan Zahra tidak terjadi. Mobil Kenzo melewati area pemakaman begitu saja. Ada helaan nafas lega di hati Zahra. Kenzo yang melihat itu menangis dalam hatinya. Ternyata benar, kamu memang menyembunyikan semuanya, Zahra. Batin Kenzo. Kenzo menghirup udara banyak-banyak dan menenangkan ekspresi wajahnya agar air yang sudah mengenang di pelupuk mata itu tidak jatuh begitu saja.


"Turunlah," ucap Kenzo pelan setelah mereka sampai di persimpangan rumah Zahra.


"Ini sudah jam pulang. Kamu tidak usah kembali ke tempat kerjamu, aku yang akan mengatakan pada bos mu," ucap Kenzo.


"K-Kak Ken-"


"Turunlah, Zahra!" ucap Kenzo tegas menghentikan kegiatan tangan Zahra yang hendak menyentuh tangannya.


Zahra menarik kembali tangannya. Dengan perasaan gelisah dan tak menentu, Zahra keluar dari mobil Kenzo.


Setelah Zahra keluar, Kenzo mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "Aku tahu kau dibelakang. Keluar dari mobilmu dan masuk ke mobilku," ucap Kenzo setelah panggilannya di jawab. Tanpa menuggu jawaban dari orang yang ada di panggilannya, Kenzo langsung memutus penggilan tersebut.


Tiga menit setelahnya, seseorang masuk ke dalam mobil Kenzo dengan menghela nafas lega. "Aku pikir kau akan hilang akal, Kenzo," ucapnya.


"Kita percepat semuanya, Tamara," ucap Kenzo dan langsung melajukan mobilnya.


"Mobilku," ucap Tamara protes melihat mobilnya yang terparkir di tepi jalan.


"Orang-orangku akan mengurusnya," jawab Kenzo tegas. Tamara hanya mengangguk pasrah dan mengikuti apa yang dikatakan Kenzo.


Zahra? Zahra melihat semuanya. Dia melihat Tamara memasuki mobil Kenzo setelah dia keluar. Hatinya sakit, tempat yang dia duduki kini diduduki oleh perempuan lain, yang dia ketahui adalah teman dekat mantan suaminya saat ini, atau lebih tepatnya calon istri mantan suaminya.


"Tidak sampai lima menit, posisiku sudah tergantikan. Bahkan Kak Ken tidak bisa menunggu sampai aku menghilang," gumam Zahra sendu mengusap air bening yang jatuh begitu saja di sudut matanya.


.....


"Kau tunggu disini, aku ingin menemui anakku," ucap Kenzo pada Tamara setelah dia memberhentikan mobilnya di area parkir pemakaman umum.


Tamara hanya bisa mengangguk pasrah membiarkan Kenzo keluar mobil. Semoga saja keluarga dengan penuh masalah ini cepat bersatu, Tuhan. Batin Tamara berharap sambil menatap punggung Kenzo yang menjauh menuju pemakaman Akbar.


Kenzo berjalan lunglai menuju makam Akbar. Dari jarak dua meter, Kenzo dapat melihat tulisan besar di nisan tersebut.


Akbar Gantari Kenzar. Nama yang tertulis di nisan tersebut. Lutut Kenzo terasa lemas sekali, menatap makam kecil yang didalamnya terdapat buah hatinya, darah dagingnya sendiri.


Dengan sekuat tenaga, Kenzo mengangkat kaki melangkahkan ke makam tersebut.


"Anak Ayah," ucap Kenzo dengan tangis yang sejak tadi sudah dia tahan. Percayalah, tidak ada yang lebih hancur dari ini. Menemui anak, yang bahkan belum pernah kita ketahui kehadirannya, malah memberikan kehidupan baru bagi Kenzo sebagai orang tuanya. Tidak ada patah hati terbesar orang tua yang lebih menyakitkan dari ini. Belum bisa memberi kasih sayang, tapi anaknya sudah memberi kehidupan untuknya. Hati Kenzo sakit sekali. Tidak tahu kepada siapa akan marah, kepada siapa akan menuntut, kepada siapa akan mengumpat, tapi yang pasti, Kenzo hanya bisa menangis di makam anaknya sendiri.


"Ambil lagi ginjal ini, Nak. Bangun dan biar Ayah yang berada di bawah sana, hiks," ucap Kenzo menangis mencengkram kuat tanah kuburan Akbar.


"Ayah patah hati, Nak. Hati Ayah sakit sekali," lanjut Kenzo dengan suara bergetar. Percayalah, dari sekian banyak sakit hati yang pernah dia rasakan, ini adalah sakit hati yang paling parah yang Kenzo dapatkan. Tidak pernah bertemu, dan sekalinya bertemu hanya dengan gundukan tanah yang menutupi jasad anaknya


Kenzo benar-benar merasa menjadi suami dan Ayah yang gagal. Rasanya lebih baik mati dari pada menerima kenyataan yang membuat penyesalan sebesar ini.


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay save dalam keadaan pandemi seperti ini. Semoga novel aku bisa jadi penghibur dan bahan bacaan yang bermanfaat dalam masa pembatasan kegiatan darurat seperti ini.


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘