
🌹HAPPY READING🌹
Sela dan Shasa memasuki rumah Dee dengan bergandengan tangan. Kedua anak itu sudah beberapa Minggu ini tidak mengunjungi rumah baru Nenek dan Kakeknya. Ya, satu bulan lalu Dee dan Ibra pindah ke sebuah rumah sederhana dengan halaman yang sangat luas. Mereka akan menghabiskan masa tua berdua disini sesuai keinginan Ibra dan Dee. Namun sesekali, jika perlu mereka akan kembali sesekali jika memang dibutuhkan di perusahaan.
Rumah mereka tidak jauh dari rumah lama, berjarak tiga puluh menit menggunakan kendaraan. Jauh dari suara bising kendaraan dan polusi. Disekeliling rumah terdapat beberapa tanaman-tanaman menyejukkan. Sedangkan dibelakang rumah, terdapat kebun kecil milik Dee yang sengaja dia minta dari Ibra.
Di sana juga terdapat beberapa hewan yang jadi peliharaan Ibra. Seperti rumah kucing yang cukup besar, hamster, beberapa ekor kuda dan beberapa iguana yang menjadi hewan favorit Ibra. Ibra tidak tanggung-tanggung dalam hal ini, dia sampai membeli iguana dengan harga fantastis, dan tentunya dengan izin yang sudah dia kantongi terlebih dahulu.
"Assalamu'alaikum, Nenek, Kakek," teriak Sela dan Shasa girang ketika sampai diruang tamu dan diikuti Zahra dan Kina.
Dee dan Ibra yang sedang duduk di ruang keluarga menoleh ketika mendengar suara cucu-cucu mereka dari luar. "Waalaikumussalam," jawab mereka tersenyum. Seperti biasa, Ibra selalu bersikap manja kepada Dee. Setiap rebahan sambil nonton, maka bantal santai disana tidak akan ada gunanya. Karena paha Dee yang akan selalu jadi sasaran untuk Ibra jadikan sandarannya.
"Cucu-cucu Nenek disini," ucap Dee senang begitu Sela dan Shasa memasuki ruang keluarga.
"Kami rindu Nenek dan Kakek," ucap Sela dan Shasa manja memeluk Dee dan erat.
"Kalian mengganggu waktu Kakek," ketus Ibra yang sudah tersingkir dari paha Dee.
"Wlee." Tidak mau kalah, Shasa dan Sela mengejek Ibra dengan menjulurkan lidah mereka dengan mata yang dibuat seolah-olah juling.
"Umi, Abi."
Dee dan Ibra menoleh begitu mendengar suara lain.
Zahra dan Kina menyalami tangan Dee dan Ibra bergantian dan langsung duduk bergabung disana.
"Kalian kesini naik apa?" tanya Ibra.
"Jalan kaki, Kakek," jawab Sela.
Ibra mendelik menatap cucunya itu. Entah kenapa, semua cucunya seolah-olah adalah lawan untuknya dalam memperebutkan Dee.
"Diantar supir, Abi," jawab Zahra lembut.
"Suami-suami kalian sudah tahu kan?" tanya Ibra lagi. Karena bagaimanapun, anak-anaknya harus tetap izin terlebih dahulu kepada suami mereka. Ibra dan Dee selalu mengajarkan anak-anak mereka untuk berbakti kepada suami tanpa melupakan kewajiban sebagai seorang anak.
"Sudah Abi," jawab Zahra dan Kina berbarengan.
"Kalian sudah makan?" tanya Dee. Tangan wanita itu bergerak mengelus rambut kedua cucunya yang kini sudah tidak tertutup jilbab.
Mereka berempat serentak menggeleng. Dee tersenyum dan mengangguk. "Ayo kita masak bareng," ucap Dee.
"Sela sama Shasa nggak ikut ya, Nek," ucap Sela dengan wajah memelasnya dan diikuti anggukan eh Shasa.
"Kenapa?" tanya Ibra.
Kedua gadis kecil itu menatap Ibra dengan senyum manis dan dengan manja mendekati Ibra. "Mau lihat kebun dan binatang dibelakang sama Kakek," jawab mereka berdua kompak.
"Kalau ada maunya aja ya," ucap Ibra menyentil.pelan dahi kedua gadis cilik itu.
"Ayo kita berkebun dan berternak," lanjut Ibra menggandeng kedua cucunya. Meskipun masih toan dan gagah, namun tenaga Ibra tidak mengkhianati usianya. Dia masih sayang pinggangnya agar tidak encok karena menggendong kedua cucunya itu. Kan sayang, kalau pinggangnya encok tidak bisa olah raga dengan Dee.
.....
"Bagaimana kehamilan kamu, Nak?" tanya Dee pada Zahra.
"Alhamdulillah baik, Umi. Hanya kadang-kadang terasa keram dan nyeri," ucap Zahra.
Dee dan Kina yang mendengar penuturan Zahra langsung menghentikan kegiatan mereka. Saat ini, tiga wanita dengan usia berbeda itu sedang memasak makan siang di dapur.
"Tapi itu tidak bahaya kan, Kak?" tanya Kina nampak khawatir.
Zahra tersenyum melihat kekhawatiran adik dan uminya. Bukannya dia senang membuat orang khawatir, tapi itu menunjukkan mereka perhatian dan sayang padanya.
"Kata Dokter baik-baik saja, Dek," ucap Zahra menjawab pertanyaan Kina. "Dan aku akan menjaga anak aku dengan sangat baik, Umi. Terimakasih sudah perhatian Umi, Adek," lanjut Zahra.
"Sudah kewajiban Umi memperhatikan setiap anak-anak Umi," jawab Dee yang dianggukki oleh Kina.
Sedangkan di bagian lain rumah, Ibra bersama Sela dan Shasa sedang melihat-lihat kuda mereka. Kandang kuda ini sangat luas dan terdapat area untuk berkuda juga. "Kakek, mau naik kuda boleh nggak?" ucap Shasa.
"Sela juga mau, Kek," tambah Sela.
"Boleh dong. Naik sendiri atau sama Kakek?" tanya Ibra.
"SENDIRI!" seru Sela dan Shasa semangat.
Ibra menaikkan alisnya mendengar jawaban semangat cucunya. "Emang bisa?" tanya Ibra sedikit ragu. Pasalnya, dia belum pernah melihat cucu-cucunya ini berkuda.
"Kakek meragukan kami?" tanya Sela tak terima.
Ibra berdecak pelan melihat tingkah kedua cucunya ini. "Kenapa sikapnya tidak meniru anak-anakku, malah meniru bapaknya semua," gumam Ibra menggerutu.
"Ayo ikut Kakek," ucap Ibra mengajak Sela dan Shasa.
"Kalian pilih kudanya," ucap Ibra memperlihatkan berbagai macam kuda yang masih ada di bilik kandangnya masing-masing. Ibra memiliki lima belas ekor kuda yang bisa dipilih oleh Sela dan Shasa.
Sela dan Shasa berjalan melewati bilik-bilik kuda tersebut. Mata kedua melihat dan memilih kuda yang mereka mau.
"Mau yang ini, Kakek," ucap Sela setelah menemukan kuda yang menurutnya bagus dan dia suka. Sedangkan Shasa masih memilih kudanya.
Ibra menggeleng disertai jari telunjuk yang dia goyangkan ke kiri dan kanan. "Itu kuda Kakek, jadi tidak bisa," ucap Ibra. Karena benar, kuda yang dipilih Sela adalah kuda khusus miliknya yang sudah dia rawat tiga tahun ini.
Sela mengangguk paham mendengar perkataan Ibra. Kali ini dia tidak ingin berdebat, karena kalau sampai berdebat, bisa-bisa dia tidak dikasih kuda oleh Ibra.
"Kakek, Shasa mau ini," tunjuk Shasa pada seekor kuda yang ukuranya sedikit kecil dari kuda biasanya.
"Itu punya adik Adam, Shasa. Lihat ukurannya memang khusus untuk Adam. Pilih yang lain ya," ucap Ibra.
Sela dan Shasa melanjutkan acara pilih-pilih mereka.
"Yang ini, Kakek!" tunjuk Sela dan Shasa pada kuda yang biliknya bersebalahan.
"Baiklah," ucap Ibra menyetujui.
Ibra memanggil penjaga yang dia tugaskan membantu merawat kudanya untuk mengeluarkan kuda ke gelanggang milik Ibra.
"Pakai atributnya," ucap Ibra memberikan atribut berkuda pada Sela dan Shasa.
"Bismillah dulu, oke," ucap Ibra setelah kedua cucunya selesai menggunakan atribut dan telah menaiki kuda.
Sela dan Shasa saling pandang. Mereka seolah ingin memberi kejutan pada sang Kakek. "Satu, dua, tiga, go!" teriak Sela dan Shasa bersamaan.
Ibra dibuat melongo melihat cucu-cucu perempuannya itu. Bagaimana bisa?
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏