
🌹HAPPY READING🌹
Thomas tersenyum mengangguk. "Tapi dengan satu syarat," jawab Thomas.
"Apa-apa?" tanya kedua gadis itu tak sabaran.
Thomas memandang kedua sahabatnya dengan tatapan jahil. "Selama seminggu, Sela harus tidur sama Ayah dan bunda. Sedangkan Shasa, harus tidur sama Papa dan Mama. Gimana?"
"BIG NO!"
"Ih kaget lagi!" kesal kedua gadis kecil itu ketika mendengar Aska dan Kenzo yang berteriak keras.
"Nggak ada nggak ada. Apa-apaan syaratnya begitu," ucap Kenzo tak terima.
"Shasa nggak usah jual kambing sama orang ini. Biar Papa yang tambahin uangnya," sambung Aska.
Thomas tertawa senang melihat wajah kesal kedua temannya itu. Thomas sangat tahu, Sela dan Shasa pasti akan sangat patuh pada syaratnya.
"Kan yang bayar Uncle Thomas, Papa. Cuma tidur bareng aja, jadi nggak masalah," ucap Shasa.
"Iya. Kenapa Ayah sama Papa kaget gitu sih?" tanya Sela penasaran.
"Nggak usah banyak tanya. Pokoknya kalian tidur di kamar masing-masing. Jangan dengerin perkataan Uncle kalian yang gila ini. Mengenai tambahan itu, biar Ayah sama Papa Aska yang kasih. Enak aja ngambil jatah tiap malam gue," ucap Kenzo dengan menggeser di akhir katanya.
Sela dan Shasa tersenyum senang. "Baiklah-baiklah, yang penting tetap dapat uang," ucap Shasa.
"Sela sama Shasa mau ke kandang dulu ya, Ayah, Papa. Nanti kalau Bunda dan Mama tanyain bilang aja. Sela sama Shasa jalan kaki aja ke kandangnya, kan dekat ujung komplek," ucap Sela pamit.
"Kalian hati-hati ya," ucap ketiga lelaki itu dan langsung dianggukki oleh Sela dan Shasa.
Ya, sejak tiga hari yang lalu, kambing Sela dan Shasa memang sudah dipindahkan ke kandang yang dibuatkan oleh Kenzo. Dan hal itu merupakan suatu hal besar bagi Kenzo. Karena dengan itu, tidak akan ada lagi suara-suara berisik yang mengganggu kegiatannya dengan sang istri.
.....
Dua Minggu berlalu. Seminggu lagi adalah hari keberangkatan Kenzo dan keluarganya ke Turki. Saat ini, Kenzo sedang berada di rumah Ibra dan Dee. Lelaki itu hanya datang sendirian. Dia sengaja karena ini masih jam sekolah dan jam kerja. Sela yang masih sekolah dan Zahra yang menunggui anaknya itu.
"Tumben sekali kamu berkunjung?" tanya Ibra. Kini mereka sudah duduk diruang tamu rumah Ibra dan Dee.
Kenzo berdecak kesal. Bukannya menanyakan kabar, lelaki itu malah lebih meledeknya.
"Minum dulu, Nak," ucap Dee yang baru datang dari dapur.
Berbeda dengan Ibra, Kenzo tersenyum ramah pada Dee. "Terimakasih banyak, Umi," ucap Kenzo sopan.
Dee mengangguk dan tersenyum. "Bukankah ini jam kerja? Kamu nggak ke kantor?" tanya Dee lagi.
Kenzo mengangguk. "Kerjaan di kantor tidak begitu banyak, Umi. Jadi bisa kesini dulu," jawab Kenzo.
"Ada apa Ken?" tanya Ibra lagi.
Kenzo menghela nafas pelan. "Ayah Kevin meminta Kenzo mengajak Abi dan Umi buat ikut ke Turki," ucap Kenzo langsung menyampaikan maksud kedatangannya.
"Kak Kevin?" beo Dee.
Kenzo mengangguk. "Dua Minggu yang lalu Kenzo mengatakan akan membawa Zahra ke Turki. Dan Ayah Kevin minta, Umi dan Abi untuk ikut," jawab Kenzo.
"Apa ada sesuatu yang Abi dan Umi tidak ketahui, Ken?" tanya Dee lagi.
Kenzo menggeleng. "Tidak Umi. Hanya itu yang dibicarakan Ayah Kevin. Ayah tidak bilang apa-apa. Mungkin ada hal yang ingin Ayah sampaikan pada Umi dan Abi," jawab Kenzo jujur.
"Bukankah ke Turki itu hanya untuk bertemu dengan keluarga kandung Zahra?" tanya Ibra.
"Iya Abi," jawab Kenzo.
"Abi dan Umi sudah mengenal mereka. Kevin yang memperkenalkan kami saat itu, meskipun hanya lewat video zoom. Kenapa masih harus ikut juga?"tanya Dee lagi.
Kenzo mengangkat bahu tidak tahu. "Mungkin Ayah rindu sahabatnya," jawab Kenzo bercanda.
Dee dan Ibra mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Mungkin memang ada hal yang tak bisa Kevin sampaikan lewat telepon pada mereka.
"Kamu bayarin tiket kan?" tanya Ibra menatap menantunya itu.
"Iya," jawab Kenzo kesal.
"Harus ikhlas. Uang Abi habis karena membeli kambing-kambing kamu itu," ucap Ibra.
"Sesekali dia bayarin kita nggak bakal miskin, Sayang. Dianya aja yang pelit. Masa anak sendiri disuruh jual kambing buat liburan," ucap Ibra yang terdengar sangat menyebalkan bagi Kenzo.
"Untung ada Umi," ucap Kenzo menghela nafas sabar. Karena jika tidak, dia akan beradu mulut dengan lelaki paruh baya yang mulutnya sangat pedas itu. Beruntung Ibra adalah mertuanya, jika tidak dia akan adu jotos disini.
"Baiklah Ken. Nanti biar Umi dan Abi yang telepon Ayah Kevin untuk menyampaikan bahwa kami akan ikut. Dan kamu nggak perlu bayarin tiketnya, uang Abi kamu ini tidak akan habis juga," ucap Dee menekankan pada Ibra namun tetap menatap Kenzo.
Kenzo tersenyum senang. "Wah, Umi memang mertua terbaik. Kalau begitu Kenzo pamit, ya. Kenzo cuma mau menyampaikan pesan Ayah sama Umi dan Abi," ucap Kenzo senang.
"Kamu nggak sekaliam makan siang disini?" tanya Dee.
Kenzo menggeleng. "Kenzo makan sama Zahra dan Sela di kantor, Umi. Sudah janji juga," jawab Kenzo.
"Baiklah. Titip salam untuk anak dan cucu Umi, ya," ucap Dee.
Kenzo mengangguk. "Akan Kenzo sampaikan, Umi," jawab Kenzo.
"Kalau begitu Kenzo pamit Umi, Abi. Assalamu'alaikum," ucap Kenzo berdiri dan menyalami tangan Dee dan Ibra.
"Waalaikumsalam. Hati-hati Ken," jawab Dee. Sedangkan Ibra hanya mengangguk dan menjawab salamnya.
Setelah kepergian Kenzo dari rumahnya. Ibra masih duduk di kursi ruang tamu. "Kenapa Mas?" tanya Dee.
"Bukankah ada hal yang sedikit mengganjal, Sayang?" tanya Ibra.
"Maksudnya?" tanya Dee tak paham.
Ibra menghela nafas pelan. Lelaki itu dengan sekali gerakkan mengangkat tubuh Dee dan mendudukkan di pangkuannya.
"Kenapa Mas?" tanya Dee mengalungkan tangan di leher Ibra.
"Bingung saja. Biasanya Kevin akan bicara langsung mengenai apapun itu, tapi ini kenapa harus lewat Kenzo?" tanya Ibra bingung.
"Mungkin Kak Kevin memang sedang banyak kerjaan dan tak sempat mengatakan pada kita, Mas. Semoga semuanya baik-baik saja, ya. Kamu harus senang. Karena sebentar lagi, Zahra, gadis kecil kita itu akan bertemu dengan keluarga kandungnya," ucap Dee.
"Dia sudah besar, Sayang. Dia sudah bisa buat gadis kecil malahan," jawab Ibra frontal.
"Mas ih mulutnya. Bagi aku, Kina dan Zahra akan tetap menjadi gadis kecil, Mas," ucap Dee.
Ibra tersenyum dan mengangguk. Dengan singkat, lelaki itu mencuri satu kecupan di bibir Dee yang masih terasa manis bagi Ibra. "Dan kamu akan tetap menjadi bidadari ku."
.....
Sela baru saja keluar dari kelasnya sendiri. Dia dan Shasa langsung memisahkan diri entah karena apa. Anak itu langsung berhamburan berlari ke tempat Zahra.
"Shasa mana Nak?" tanya Zahra.
"Tadi Shasa keruang guru dulu, Bunda. Diminta sama Ibu Wawa," jawab Sela menyebutkan nama salah satu gurunya.
"Ini anakmu, Zahra?" tanya seorang wanita paruh baya yang sejak tadi memang duduk bersama dengan Zahra.
"Ah, maaf Bu. Ini Sela, anak Zahra. Sela, ini Nenek Nende, Nak," ucap Zahra saling memperkenalkan mereka.
Sela memiringkan kepalanya menatap Nenek Nende. "Halo Nenek," ucap Sela melambaikan tangannya.
"Halo, Nak. Kamu memang gadis yang cantik dan pintar," ucap Nenek Nende mengusap lembut pipi Sela.
Sela yang dipuji cantik pun bersemu merah. Sedangkan Zahra menatap jengah anaknya itu yang semakin percaya diri.
"Cucu Nenek dimana?" tanya Zahra. Karena sejak tadi, dia belum bertemu dengan cucu yang sering dikatakan oleh Nenek Nende.
"Mungkin masih dikelasnya," jawab wanita paruh baya itu.
Sela memandang wajah Nenek Nende yang nampak nyaman dimatanya. Hidung wanita itu yang mancung seperti orang timur dan matanya yang berwarna lain itu.. "Nenek Nende cantik, kayak Bunda."
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏