
🌹HAPPY READING🌹
"Su-surat cerai. Ini tidak mungkin kan? Ini Zahra salah lihat kan?" ucap Zahra dengan suara bergetar.
Dengan mata berkaca-kaca, Zahra membaca surat tersebut. "Enggak, ini nggak mungkin kan. Kak Ken nggak mungkin melakukan ini kan. Ini nggak mungkin!" teriak Zahra melempar surat tersebut dengan kasar.
Zahra menjambak rambutnya sendiri meyakinkan dirinya bahwa semuanya tidak benar. "Baru semalam Kak Ken bilang akan memulai kehidupan baru bersama Zahra. Ini pasti nggak mungkin, ini pasti bohong. Kak Ken pasti becanda, hiks. Ini nggak mungkin kan," ucap Zahra entah pada siapa.
Zahra menangis dan menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya. "Kak Ken pasti salah, Kak Ken pasti keliru. Itu bukan surat untuk Zahra kan? Padahal darah perawan Zahra aja belum kering hiks," tangis Zahra pecah.
Dia merasa begitu bodoh karena sudah terperangkap oleh perkataan lembut Ken semalam. Zahra merutuki hatinya yang terlalu lemah dan tidak bisa melawan apa yang Kenzo katakan. Dia terlalu menuruti dan percaya akan semua perlakuan baik Kenzo kemarin.
"Zahra," terdengar suara lembut memanggil nama Zahra.
Zahra menengok dengan mata sembab. "Umi, hiks," tangis Zahra pecah melihat Dee dan Kina yang berdiri di ambang pintu.
"Kak Zahra," ucap Kina menangis dan langsung memeluk Zahra.
"Hiks, Umi, Adek," tangis Zahra memeluk Dee dan Kina.
"Hati Zahra sakit, Umi, hiks," ucap Zahra dengan tangis pilunya.
Kina yang melihat Kakaknya seperti itu langsung berdiri dan berjalan menuju lemari untuk mengambil baju Zahra.
"Umi," ucapnya memberikan baju tersebut kepada Dee agar dipakaikan kepada Zahra.
Dee menerimanya dan memasang baju tersebut tersebut dengan lembut kepada Zahra. Tangis mereka bahkan memenuhi kamar kecil Zahra.
"Umi, Kak Ken dimana?" tanya Zahra pilu.
Dee memeluk erat Zahra memberi kelembutan untuk anak itu.
Sedangkan di ambang pintu, Al melihat semuanya. Tangannya mengepal erat melihat adiknya yang diperlakukan layaknya seorang pelacur. Jadi, kabar yang dia dengar bahwa adiknya tidak diperlakukan dengan baik itu adalah benar.
"Lo harus dapat akibatnya Kenzo!" desis Al tajam segera pergi meninggalkan kamar kecil Zahra.
Al mengambil ponselnya untuk menelpon Aska.
"Halo As, apa Kenzo di kantornya?" tanya Al langsung.
"Belum Al. Kenzo belum sampai di kantornya," ucap Aska yang diminta Al untuk pergi ke kantor Kenzo demi mencari keberadaan lelaki tersebut.
Al sudah mencari ke kamar Kenzo di lantai dua, tapi nihil, dia tetap tidak ada.
Al masuk kedalam kamar Zahra untuk melihat keadaan adiknya.
"Zahra," panggil Al lembut bersimpuh di depan Zahra.
Zahra melepaskan pelukannya dari pelukan Dee dan beralih menatap Al. Air mata Zahra semakin deras melihat Abang kesayangannya itu.
"Abang," ucap Zahra dengan suara bergetar.
Al langsung membawa tubuh Zahra kedalam pelukannya. Bahkan bau badan Zahra masih bercampur dengan bau tubuh Kenzo, dan laki-laki sudah lari dari semuanya.
"Zahra yang tenang ya," ucap Al lembut dengan mata yang sudah merah menahan buliran kristal itu agar tidak jatuh. Dia harus kuat untuk adiknya.
"Kenapa harus Zahra, hiks? Kenapa semuanya Zahra yang menerima? Zahra sudah ikhlas dengan kelumpuhan Zahra. Hiks, Zahra sudah iklhas terlahir dalam keadaan yang berbeda, tapi sekarang mengapa harus Zahra juga? Apa selama ini Zahra masih kurang sabar? Apa Zahra masih kurang baik? Jawab Zahra Abang, hiks," ucap Zahra dengan tangis yang sangat pilu sambil memukul-mukul dada Al.
Al terus memeluk Zahra erat. Al tidak pernah menduga bahwa rumah tangga yang dijalani Zahra akan sangat menyakitkan seperti ini.
Kina menutup mulutnya menahan tangisnya agar tidak terlalu keras. Dee yang melihat Kina seperti itu langsung memeluknya. "Kakak Umi," ucap Kina sendu.
Dee hanya mengangguk sambil terus mengusap punggung Kina. Sungguh, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk sekarang ini.
Di sela tangis mereka itu, Anggara dan Melani datang untuk mencari Zahra. "Zahra," panggil Melani lembut.
Zahra terus menangis dipelukan Al tanpa mau melepaskannya.
Al melihat kepada Anggara dan Melani dengan tatapan marah. "Ini yang kalian tunggu? Kesabaran dan keikhlasan adikku seperti ini yang kalian tunggu, Iya, ha?" tanya Al berteriak marah.
"Bukan seperti itu, Nak Al," ucap Melani lembut. Dia juga tidak tahu apa-apa jika saja suaminya tidak menceritakan semuanya.
"Sekarang katakan dimana Kenzo? Dimana laki-laki bajingan itu?" tanya Al emosi.
"Apa Kenzo tidak ada di kantornya?" tanya Anggara.
"Jika ada saya tidak akan bertanya!" jawab Al tajam.
"Rumah sakit. Pasti Kenzo ada di rumah sakit," jawab Melani cepat.
"Rumah sakit?" tanya Al heran.
Mereka semua mengangguk. Al melepaskan pelukannya pada Zahra dan menatap wajah Zahra yang sudah bengkak, namun tangisnya tak kunjung berhenti.
"Zahra," panggil Al lembut.
Zahra hanya diam sambil terus menunduk. Dia sungguh malu untuk sekedar melihat keluarganya sendiri.
"Zahra ikut Abang, ya," bujuk Al lembut.
"Hiks, Zahra nggak mau. Dunia pasti mentertawakan Zahra," ucap Zahra lirih.
Al menggeleng. "Tidak ada yang akan menertawakan Zahra. Ada Abang di samping Zahra. Ada Umi sama Adek juga," ucap Al lembut.
"Zahra ikut ya," lanjut Al.
Zahra hanya mengangguk menjawab perkataan Al.
"Umi, bantu Al bawa kursi roda Zahra, ya Umi. Biar Zahra Al gendong ke mobil," ucap Al lembut pada Dee.
"Iya, Al. Bawa Zahra," ucap Dee.
Zahra meringis ketika Al mengangkatnya. Rasa sakit akibat perbuatan Kenzo semalam masih sangat terasa perih di area bawahnya. Dan Al melihat semua itu.
Kau harus membalas semuanya, Kenzo. Batin Al marah.
Air mata Dee jatuh melihat darah Zahra yang sudah mulai mengering di kasur. Anakku tidak harusnya mendapatkan semua ini. Batin Dee sedih.
Kina juga melihat itu, dia tidak menyangka bahwa Kakaknya akan mendapatkan semua ini. Kenapa harus Kakak yang menerima semuanya? Kakak orang baik Ya Allah. Batin Zahra lirih.
.....
Sedangkan di rumah sakit, Kenzo menatap sendu Kinzi yang sampai saat ini masih setia memejamkan matanya. "Bangunlah Kinzi. Aku sudah membalas semuanya. Dia pasti sangat kesakitan sekarang," ucap Kenzo menatap Kinzi.
Kenzo menggenggam sebelah tangan Kinzi yang terbebas dari infus. "Aku mohon bangunlah, Kinzi," ucap Kenzo sendu.
"DASAR BAJINGAN! BUGH," satu pukulan tiba-tiba mendarat di pipi Kenzo dari samping yang membuat dia terjatuh dari kursinya.
Kenzo memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Abi," ucap Kenzo kaget melihat Ibra yang datang bersama seorang lelaki seumuran Ibra yang tidak Kenzo ketahui. Dia adalah Alan.
Ibra menarik kerah baju Kenzo dan membawanya keluar ruangan Kinzi.
"Brengsek kamu Kenzo!" ucap dan kembali melayangkan pukulannya di wajah Kenzo. Sedangkan Alan hanya melihat semuanya. Menurutnya Kenzo pantas mendapatkan semuanya.
"KENZO BRENGSEK SEMUA KARENA ANAK ABI!" jawab Kenzo tajam.
"Anakku siapa yang kamu maksud?" tanya Dee tegas yang datang bersama Al, Zahra dan yang lainnya.
Kenzo dapat melihat Zahra yang duduk di kursi roda dengan wajah sembabnya. Hatinya sakit, tapi lagi-lagi ego dalam dirinya mengalahkan semuanya.
Kina berjalan mendekati Ibra. Dia memeluk Ibra dengan erat. "Kakak Abi," ucap Kina sendu.
Ibra mengusap lembut punggung anaknya. Ibra melihat Zahra yang duduk di kursi roda dengan wajah sembab dan air mata yang terus mengalir. "Adek bantu semangati Kakak, ya," ucap Ibra.
Kina mengangguk. Ibra melepaskan pelukannya pada Kina dan mendekati Zahra. Ibra bersimpuh di depan kursi roda Zahra.
Zahra yang melihat Ibra langsung menundukkan kepalanya dalam. Dia sangat malu atas dirinya sendiri.
Ibra memegang dagu Zahra dan mengangkat kepala anaknya. "Zahra tatap Abi, Nak," ucap Ibra yang melihat Zahra memejamkan matanya.
Zahra menggeleng dan tetap menutup matanya. "Zahra," panggil Ibra lagi.
Zahra dengan perlahan membuka matanya. Tangisnya kembali pecah saat pandangannya bertemu dengan Ibra. "Hiks, Abi," ucap Zahra pilu dalam tangisnya.
Ibra memeluk erat anaknya. Hatinya sangat terluka melihat anak perempuannya dilukai dengan sangat parah seperti ini.
"Ara diperlakukan lebih rendah dari pelacur, Abi. Pelacur saja masih diberi selembar cek dengan nilai tak terhingga, Abi. Tapi Ara diberi selembar surat yang sangat menyakitkan. Hati Zahra sakit, Abi, hiks. Harga diri Ara lebih rendah dari binatang, hiks," ucap Zahra mengadu layaknya seorang anak kecil mengadu kepada orang tuanya. Sangat menyakitkan.
Al yang melihat dan mendengar semua itu langsung berjalan mendekati Kenzo.
"BAJINGAN!"
"BUGH."
......................
Penasaran kenapa Al sama yang lainnya bisa tau?? Nanti aku ceritakan lewat flashback ya.
Oiya, gimana part ini? Semoga kalian udah buka puasa ya 🤗🤗🌹🌹
Aku sayang kalian, dan jangan lupa follow Instagram aku @yus_kiz, Terimakasih 🌹🌹🌹