Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 113



🌹HAPPY READING🌹


Kenzo mengendarai mobilnya dengan jantung yang berdetak kencang. Entahlah, dia merasakan hal buruk yang akan terjadi, tapi entah apa dia tak tahu.


Tiga puluh menit mengendarai mobil, Kenzo sampai di tempat tujuannya. Dahi Kenzo mengernyit heran saat melihat mobil yang begitu dia kenal ada disana.


"Abi Ibra disini?" gumam Kenzo bertanya. Karena mobil hitam mengkilat itu adalah mobil yang selalu digunakan oleh Ibra kemanapun dia pergi. Mobil kesayangan yang bahkan orang lain tidak diperbolehkan menggunakannya oleh Ibra, kecuali Dee.


"Al," panggil Kenzo begitu melihat Al sedang duduk disana bersama Ibra yang menggunakan kursi roda.


Mereka semua yang ada disana mengalihkan pandangannya. Kevin nampak menatap jauh ke depan. Entah apa yang dipikirannya, yang pasti Kenzo melihat ada kesedihan disana.


"Sebentar lagi, Ken," ucap Al memberitahu Kenzo.


Kenzo hanya mengangguk mengiyakan perkataan Al. Tatapannya beralih pada Ibra. "Abi," panggil Kenzo.


Ibra menoleh. "Kenapa?" tanya Ibra dengan sebelah alis terangkat menatap Kenzo.


Kenzo mendengus. Dalam keadaan seperti ini, Ibra masih saja bersikap tengil yang membuatnya kesalnya. Memang benar-benar membuat Kenzo mengumpat, tapi dia urungkan mengingat itu adalah gaya Ibra dekat dengan keluarganya.


"Abi kabur dari rumah sakit?" tanya Kenzo memicing menatap Ibra.


"Siapa yang kabur?" ucap Ibra bertanya kembali tanpa menjawab perkataan Kenzo.


"Abi tidak ingat kondisi, Abi. Pasien dilarang pergi jika tanpa izin dokter nya. Bahaya jika Abi disini," ucap Kenzo khawatir mengingat kondisi Ibra yang masih menggunakan kursi roda.


"Rumah sakit itu punya Abi kalau kamu lupa," jawab Ibra yang membuat Kenzo bertambah kesal. Al yang melihat itu hanya terkekeh pelan. Abinya ini memang benar-benar ahli dalam mempermainkan emosi seseorang. Tapi sayangnya, dia tidak sehebat Dee yang mampu memporak-porandakan hatinya.


Kenzo menghela nafas pelan mendengar perkataan Ibra. Tapi perkataan seseorang disebelah Ibra membuat dia mengerti. "Tuan Ibra masih dalam pengawasan aman, Tuan Kenzo," ucap seorang Dokter yang tadi tidak sempat tertangkap oleh penglihatan Kenzo.


Kenzo mengangguk mengiyakan perkataan Dokter tersebut. "Kenapa tidak bilang dari tadi. Harus ribut dulu apa," gerutu Kenzo kesal.


Kenzo mendudukkan tubuhnya di kursi sebelah Al. "Gimana Al?" tanya Kenzo.


Al beralih menatap Kenzo seolah bertanya maksud dari perkataan Kenzo.


"Apa Ayah Kevin sudah cerita?" tanya Kenzo lebih memperjelas maksud pembicaraannya.


Al menghela nafas pelan. "Gue bahkan malu sama Zahra," ucap Al mengerti.


Kenzo menggeleng. "Harusnya lo bangga, Al. Adik Lo buka orang sembarangan. Dan beruntungnya lagi, dia istri gue," ucap Kenzo tersenyum miring diakhir kalimatnya.


Al mengangguk setuju akan perkataan Kenzo. "Sekarang gue tahu darimana sifat baik dan kebesaran hati Zahra," ucap Al menjeda sebentar perkataanya nya sambil menatap lurus ke depan. "Tidak sedikitpun darah wanita ular itu mengalir dalam diri adik gue," lanjut Al yang disetujui oleh Kenzo. Ya, pemilik Türk Mücevher memang dikenal dengan kebaikan dan kejujurannya dalam berbisnis. Namun, karena sikap baiknya itu lah banyak musuh dan pesaing bisnis yang menyalahgunakan kebaikannya.


"Al," panggil Kenzo lagi yang dibalas dehaman oleh Al.


"Apa Umi tahu tentang hukuman Sofia" tanya Kenzo.


Al menggeleng. "Lo tahu gimana Umi, Ken," ucap Al singkat.


Kenzo sangat paham. Jika Dee tahu, maka wanita itu mungkin akan meminta untuk meringankan hukuman Sofia.


"Ayo kita masuk," ucap Kevin tiba-tiba berdiri begitu seorang polisi membisikkan sesuatu ke telinganya.


"Tunggu!" teriak seorang wanita paruh baya menghentikan langkah mereka.


DEG


Mereka semua menghentikan langkah. Ibra dan Al menegang mendengar suara tersebut. Kenzo memejamkan mata begitu mendengar suara wanita yang memberikan banyak pengajaran kepadanya. Kevin, lelaki itu berbalik dan tersenyum menatap wanita itu seolah semua baik-baik saja.


"Sayang," gumam Ibra pelan begitu melihat wanita paruh baya tersebut.


Ya, dia adalah Dee yang datang ke tempat eksekusi Sofia. Mereka semua menatap Dee yang masih menggunakan gamis tidurnya lengkap dengan kerudung terusan hingga menutupi dada dan punggungnya.


Dibelakang Dee nampak Aska yang menggaruk tengkuknya karena takut melihat Ibra dan Al. Aska mengacungkan jarinya meminta peace kepada Ibra dan Al karena tidak bisa menahan Dee.


"Kamu kabur dari rumah sakit, Mas?" tanya Dee menatap Ibra tajam.


"Dan Al juga membohongi Umi? Bukankah kamu izin untuk pulang menemani anak dan istrimu?" tanya Dee menatap Al.


Ya,tadi mereka semua berada di rumah sakit. Dee juga berada di rumah sakit untuk menjaga Ibra. Sedangkan yang lainnya sudah kembali ke rumah. Termasuk Sela yang nginap di rumah bersama Shasa dan Kina serta Aska.


Aska yang awalnya kembali ke rumah sakit untuk mengambil ponselnya yang tertinggal, dipaksa Dee untuk memberitahu kemana Ibra dan yang lainnya. Karena saat Dee terbangun karena haus dan membuka mata, Ibra sudah tidak ada di ranjang rumah sakit. Melihat ke ruangan Zahra, ternya Zahra sedang tertidur pulas. Akhirnya, Dee memaksa Aska untuk memberitahu dan mengantarnya.


"Bukan begitu, Umi," ucap Al memelas menatap Dee.


Dee mengalihkan pandanganya kepada Ibra. "Mas," ucap Dee tanpa mendengar penjelasan Al.


"Aku ingin menyaksikannya sendiri, Sayang," ucap Ibra jujur. Karena menurutnya, jujur akan lebih baik. Menyembunyikan semuanya dari Dee juga sudah tidak berguna sekarang. Wanita itu sudah terlanjur berada disini.


"Siapa?" tanya Dee singkat.


"Eksekusi hukum mati Sofia, Dee," ucap Kevin yang menjawab pertanyaan Dee mewakili mereka semua.


Dee beralih menatap Kevin. "Hu-hukum mati?" ucap Dee tak percaya.


Mereka semua mengangguk menjawab keterkejutan Dee. "Itu sangat pantas, Umi," ucap Kenzo menatap Dee.


"Bukankah itu terlalu kejam?" tanya Dee sendu menatap Kevin.


Kevin mengalihkan tatapannya dan mengangguk. Sungguh, dia tidak tahu harus menjawab bagaimana pertanyaan Dee. Hancur? Ya, hati Kevin sangat hancur saat ini. Semua terasa menyakitkan untuknya, tapi Sofia pantas mendapatkan semua ini.


Dee maju selangkah. Badannya masih terasa bergetar sejak tadi mendengar hukum mati yang akan dilakukan untuk Sofia.


"Apa Kakakku ini baik-baik saja?" tanya Dee menatap Kevin. Sungguh, banyak kegelisahan yang Dee lihat di wajah yang sudah paruh baya itu.


Kevin mengangguk dengan mengalihkan pandangannya. "Aku baik-baik saja, Dee," jawab Kevin.


Dee memejamkan mata mendengar jawaban Kevin. Dia tahu, terselip sakit di balik pengakuan Kevin.


"Aku tidak bertanya tubuh atau fisik Kak Kevin. Hati. Apakah hati Kakak baik-baik saja?" tanya Dee sendu menatap Kevin.


Kevin mengangguk. air bening itu membasahi ujung matanya. "Ayo masuk jika kamu ingin melihatnya, Dee," ucap Kevin berjalan mendahului mereka.


"Umi," panggil Al sambil mengangguk pada Dee.


"Boleh aku ikut, Mas?" tanya Dee.


"Dengan satu syarat, Sayang," jawab Ibra.


"Berjanji untuk memenuhinya," ucap Ibra mendesak.


"Baiklah," jawab Dee yakin.


"Jangan gunakan perasaanmu di dalam sana. Manfaatkan akal dan pikiran kamu demi keadilan kita semua," ucap Ibra.


Dee mengangguk. Meski hatinya ragu, tapi dia ingin memastikan sendiri keadaan Sofia.


Sejahat apapun wanita, dia pasti lebih mendahulukan perasaan, Mas. Maaf. Batin Dee saat mereka semua berjalan memasuki tempat eksekusi Sofia.


......................


Sofia jadi di hukum mati nggak ya????


Tunggu jawabannya di BAB selanjutnya ya teman-teman. Hukum tetaplah hukum 😉


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏