
🌹HAPPY READING🌹
Saat mendapat telepon dari Ibra, Kevin segera terbang ke Indonesia tanpa memberitahu siapapun kecuali Emre. Dia hanya ingin menemui Ibra sekarang. Bahkan tidak memberitahu Zahra dan yang lainya jika dia datang.
Jet pribadi yang dinaiki Kevin mendarat sempurna di bandara. Dan saat ini, lelaki itu sudah berada di dalam mobil untuk segera menuju rumah Ibra. Bahkan, Kevin tidak membawa sepasang pakaian pun untuk gantinya. Yang ada di pikirannya saat ini adalah menemui sahabatnya itu. Kevin bisa merasakan suara kecewa yang Ibra berikan saat menelponnya kemarin.
"Bisa lebih cepat, Pak?" ucap Kevin tak sabaran pada sopir pribadi yang mengurus rumahnya yang ada disini.
"Baik, Tuan," jawab Pak Sopir patuh dan menekan gas dengan kaki semakin dalam untuk menambah kecepatan mobilnya.
Lima belas menit, mobil yang Kevin sampai di depan pagar besar itu. Melihat ada mobil yang akan masuk, Satpam penjaga langsung membuka pagar.
"Tuan Kevin," ucap Satpam tersebut dengan senyum tulusnya.
Kevin membalas dengan anggukan dan senyum ramahnya. "Siapa dirumah, Pak?" tanya Kevin. Dia takut jika di kediaman Ibra saat ini sedang ramai dan dipenuhi oleh semua keluarga besar.
"Hanya ada Nyonya dan Tuan besar, Tuan Kevin," jawab Satpam tersebut ramah.
"Baiklah. Terimakasih, Pak," ucap Kevin dan langsung meminta Sopir untuk menjalankan mobilnya memasuki pekarangan rumah Ibra.
Mobil Kevin terparkir dengan sempurna. Lelaki itu keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu.
"Assalamu'alaikum," ucap Kevin memasuki rumah. Pintu rumah yang memang sudah terbuka membuat Kevin tidak perlu menuggu pintu akan dibukakan. Karena dengan sendiri dia langsung masuk tanpa di minta.
Tidak mendapat jawaban, Kevin berjalan menuju ruang keluarga. Di sana, dia melihat Ibra dan Dee yang sedang menonton televisi. Dengan Ibra yang tidur di paha Dee. Tangan Dee yang mengelus pelan rambut Ibra dengan mata mereka yang fokus menatap acara internasional itu.
Kevin tersenyum menatap keharmonisan sahabatnya itu. Dalam hati kecilnya, dia juga ingin seperti itu. Tapi takdir berkata lain. Pencipta tidak menjodohkannya dengan Sofia sampai akhir hayat.
"Ekhem," deheman Kevin membuat Dee dan Ibra menoleh.
"Kak Kevin!" teriak Dee girang melihat Kevin yang sudah berdiri dibelakang mereka. Saat bersama Ibra dan Kevin, Dee memang bertingkah layaknya gadis kecil. Seperti adik bungsu yang bertemu dengan kakaknya.
Sedangkan Ibra hanya melihat sedikit dan kembali fokus menatap televisi. Dia terlalu malas untuk bertemu siapa-siapa saat ini.
"Kapan datang?" tanya Dee lagi.
"Baru saja, Dee," jawab Kevin singkat.
"Duduk Kak," ucap Dee menepuk area karpet berbulu yang kosong di sebelahnya.
"Mas duduk dulu, itu ada Kak Kevin datang," ucap Dee mengangkat kepala Ibra.
Ibra menegakkan tubuhnya dengan malas. Lelaki itu menatap malas Kevin yang kini juga menatapnya. Ibra tahu maksud kedatangan Kevin kesini adalah untuk menjelaskan semuanya. Tapi dia masih sedikit kecewa dengan semua ini.
Dee merasakan hawa tak enak antara Kevin dan suaminya. "Apa ada masalah?" tanya Dee menatap mereka berdua bergantian.
"Kita bicara di ruang kerja gue," ucap Ibra yang langsung berdiri dan berjalan menuju ruang kerjanya.
"Kamu juga ikut, Dee. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," ucap Kevin sebelum menyusul Ibra.
"Ada apa, Kak?" tanya Dee.
"Ikutlah ke ruang kerja Ibra. Nanti kamu akan tahu semuanya," ucap Kevin lagi.
Dee mengangguk. "Dee akan menyusul. Tapi sebelumnya mau ke dapur untuk ambil minuman dulu," ucap Dee pamit dan berlalu menuju dapur.
Kaki Kevin melangkah memasuki ruang kerja Ibra. Sampainya disana, dia duduk di sofa sebelah Ibra. Kedua lelaki itu larut dalam keheningan. Tidak ada yang membuka suara hingga tidak beberapa lama, Dee datang dengan nampan berisi tiga gelas jus jeruk.
"Minumlah dulu jika kalian perlu suara banyak untuk adu pendapat," celetuk Dee sambil menaruh gelas di meja.
Dee mendudukkan tubuhnya disebelah Ibra. Dia memperhatikan wajah suaminya yang datar sejak kedatangan Kevin. Tidak bisanya ngambek kayak gini. Lebih lucu dari Sela dan Shasa. Batin Dee menatap wajah Ibra.
Kevin menghela nafas pelan. Setelah itu dia menatap serius kepada Ibra dan Dee. "Gue minta maaf, Ib," ucap Kevin akhirnya.
"Minta maaf? Untuk apa, Kak?" tanya Dee yang penasaran. Sedangkan Ibra hanya mendengarkan.
"Telah menyembunyikan identitas Zahra, Dee," jawab Kevin pelan.
"Identitas Zahra? Maksudnya? Bukankah Zahra anak panti asuhan?" tanya Dee beruntun.
Kevin menggeleng. "Zahra memiliki orang tua lengkap, Dee," jawab Kevin.
Senyum mengembang terbit di wajah Dee. "Bagus kalau begitu, jadi Zahra bisa bertemu dengan orang tua kandungnya. Zahra bisa merasakan pelukan kedua orang tua kandungnya," jawab Dee senang.
Dee menatap Kevin serius. "Kenapa tidak mungkin, Kak? Dan ... Sejak kapan Kakak tahu semua ini?" tanya Dee menatap Kevin lekat.
"Sejak awal aku bertemu bayi mungil yang aku beri nama Zahra," ucap Kevin.
"Ceritakan, Kak!" tegas Dee. Sedangkan Ibra hanya diam mendengarkan langsung cerita lengkap yang keluar dari mulut Kevin.
Kevin menceritakan semuanya tanpa ada yang terlupa. Bagaimana dia menemukan Zahra dulu, siapa orang tua Zahra, dan alasannya menyembunyikan semua ini selama bertahun-tahun.
Dee mendengar dengan seksama. "Aku dan Mas Ibra berhak mengetahui semua ini kan, Kak? Kenapa baru memberitahu sekarang?" tanya Dee lirih menatap Kevin.
"Saat itu aku merasa tidak tepat untuk memberitahu semuanya, Dee. Melihat kebahagiaanmu dengan Ibra, bagaimana kamu menerima Zahra dengan baik, membuatku memilih untuk menyimpan ini sendiri," jawab Kevin menjelaskan.
"Sekuat apa Kak Kevin hingga mampu menanggung semua ini sendiri? Apa kami sama sekali tidak berguna?" tanya Dee dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak marah, namun dia hanya tidak bisa membayangkan bagaimana perjuangan Kevin sendiri menanggung amanah ini. Pasti sangat berat dan lelaki itu memaksakan diri untuk memendam segalanya.
"Bukan begitu, Dee," ucap Kevin menggeleng.
Dee menghela nafas dalam meredakan sedikit emosi tak stabil yang ada di hatinya.
"Lalu kenapa baru sekarang Kak Kevin mengungkap segalanya?" tanya Dee.
"Karena aku baru sadar jika kalian adalah orang yang paling berhak mengetahui semua ini," jawab Kevin.
"Siapa saja yang sudah mengetahui semua ini?" tanya Dee lagi.
"Semuanya," jawab Kevin yang membuat Dee semakin menghela nafas pelan. Jadi mereka adalah orang terakhir yang mengetahui semua ini. Ada rasa kecewa dalam hatinya, tapi mau bagaimana lagi, marah bukan jalan satu-satunya yang harus dia lakukan saat ini.
"Mas," panggil Dee pada Ibra yang sejak tadi menunduk. Ibra mengangkat kepalanya. Mata lelaki itu sedikit merah karena menahan gejolak emosi yang ada dalam dirinya.
"Tidak ada alasan untuk marah, Mas. Alasan Kak Kevin tepat untuk menyembunyikan semuanya," ucap Dee membujuk Ibra.
"Yang penting sekarang, kita sudah mengetahui semuanya, Ma-"
"Yang terakhir mengetahui, Sayang," ucap Ibra dengan mata menatap Kevin serius.
"Gue minta maaf, Ib," ucap Kevin menyesal.
"Di depan Kenzo, di depan Al dan Aska, bahkan di depan Arman, Asistennya Kenzo, gue bagai orang bodoh yang baru mengetahui semua ini, Vin. Gue kecewa, tapi gue tutupi karena tidak mau membuat mereka merasa bersalah karena rasa kecewa gue sendiri. Tapi Lo, Lo sahabat sekaligus saudara gue, Vin. Lo memilih untuk menganggap gue nggak ada dan menyembunyikan semuanya," ucap Ibra menjelaskan apa yang ada dihatinya saat ini.
"Mas," panggil Dee lembut mengusap punggung tangan Ibra.
"Aku juga kecewa, tapi bukankah kita harusnya senang karena Zahra memiliki keluarga yang jelas, Mas. Bahkan dia bukan orang biasa. Dan satu lagi, bukan karena menganggap kita tidak ada, Kak Kevin memiliki alasan sendiri untuk semua ini, Mas," ucap Dee.
Ibra memandang Kevin lekat. Dia dapat melihat penyesalan dari sorot mata lelaki itu. Ibra menghela nafas pelan. "Lo nggak mau minum jus buatan istri gue?" tanya Ibra mencoba untuk melupakan kecewanya.
"Ib-"
"Gue terima alasan Lo. Tapi sekali lagi ada rahasia, kita selesai," ucap Ibra.
Kevin tersenyum lega. Tidak sia-sia lelaki itu datang kesini. Dia sengaja ikut mengatakan semua ini di depan Dee. Dee berhak mengetahui semuanya. Dan juga, jika Dee yang menasehati, maka Ibra akan cepat luluh dan memaafkan.
"Kak Kevin," panggil Dee pelan.
"Iya Dee," jawab Kevin setelah meletakkan kembali gelas jus yang baru saja di teguk.
"Tadi Kak Kevin bilang semuanya mengetahui tentang hal ini. Apa semua yang Kak Kevin maksud, Zahra juga mengetahui hal ini?" tanya Dee.
Kevin terdiam. Dia menimbang, apakah harus memberitahu jika Zahra mengetahui atau tidak. Gue harus beritahu semuanya. Tidak ada guna menyembunyikannya lagi.
"Ara tahu semuanya, Umi."
DEG
......................
Kalian pasti tahu siapa yang datangkan? Kok bisa datang, ya? Tunggu jawaban di BAB berikutnya ya teman-teman 😉
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏