
🌹HAPPY READING🌹
Zahra tidur gelisah di ranjangnya. Sudah dua jam sejak dia istirahat, namun Kenzo tak kunjung kembali. Tidak ingin menunggu lebih lama, Zahra turun dengan perlahan dari kasurnya. Dia berjalan menuju pintu dan menuruni tangga.
"Sela," panggil Zahra pada Sela yang nampak bermain di dekat tangga.
Anak itu asik dengan mainan barunya berupa boneka remote yang bisa mengejarnya.
"Iya Buna," jawab Sela. Nampak peluh keringat membasahi dahi Sela karena berlari. Padahal rumah mereka full AC, tapi masih saja anak itu berkeringat.
"Apa Aunty Kinzi sudah pulang?" tanya Zahra pelan.
Sela menggeleng. "Nggak tahu, Buna. Tadi Cela Dali taman belakang cama Ana dan boneka lemotenya," jawab Sela memberitahu. Masih ingat Ana bukan? Boneka lusuh yang selalu menjadi teman Seka ketika sedih dan senang. Sekarang, boneka itu masih selalu setia menemaninya.
"Yasudah, Sela lanjut main. Bunda mau ketemu Ayah dulu," ucap Zahra yang langsung dianggukki eh Sela.
Zahra berjalan meninggalkan Sela dan menuju ruang kerja Kenzo.
Dengan pelan Zahra membuka pintu dan sedikit mengintip.
"Mas," panggil Zahra pelan melihat Kenzo yang menyembunyikan kepalanya di lipatan tangannya.
Laki-laki itu nampak sangat frustasi sekarang. Terlihat jelas dari rambutnya yang sangat berantakan dan wajah yang sangat gak bersemangat.
"Kemari Sayang," ucap Kenzo yang duduk di sofa.
Zahra kembali menutup pintu dan mendekat kepada Kenzo.
"Aku harus bagaimana?" tanya Kenzo lirih yang langsung memeluk perut Zahra begitu wanita itu sampai di hadapannya.
"Apa kabar tadi itu benar, Mas?" tanya Zahra pelan.
Kenzo mengangguk. "Kinzi jatuh cinta pada Ayah sejak pertama mereka bertemu di rumah Abi Ibra, Sayang. Kinzi memendam perasaanya karena saat itu masih ada Sofia. Tapi sekarang, Kinzi berani mengungkapkan karena mendengar kematian segala kejahatan Sofia," ucap Kenzo.
"Apa Mas sudah mencoba memberi pengertian?" tanya Zahra lagi.
Kenzo mengangguk. "Kinzi lebih keras kepala dari aku, Sayang," jawab Kenzo.
Zahra menghela nafas pasrah. Tangannya mengelus lembut rambut Kenzo, memberi ketenangan pada wanita itu. "Kita tidak mungkin mengorbankan hubungan kita kan, Sayang. Tidak mungkin rasanya Ayah mertuaku sendiri akan menjadi adik ipar ku," ucap Kenzo sendu menyembunyikan kepalanya di perut Zahra.
"Di satu sisi, ada hati saudari kembar ku, di sisi lain ada hubungan yang harus aku pertahankan. Aku tidak mau keluarga kita menjadi bahan bully bagi orang-orang yang ingin menjatuhkan kita, Sayang. Apa lagi kamu-"
"Aku apa Mas?" tanya Zahra begitu mendengar Kenzo memotong perkataanya.
Kenzo terdiam. Dia merutuki mulutnya yang berbicara sembarangan tanpa mau di kontrol. "Kamu sedang hamil sekarang, jadi tidak boleh memikirkan hal seperti ini," jawab Kenzo.
"Anak kita baik-baik saja kan, Sayang?" tanya Kenzo mengusap lembut perut Zahra.
"Baik, Ayah," jawab Zahra menirukan suara anak kecil.
"Anak Ayah nggak usah ikut pusing mikirin masalah orang dewasa, ya. Kerjaan kamu hanya perlu makan apa yang dikasih Bunda. Biar bisa cepat ketemu Ayah, Bunda dan Kakak," ucap Kenzo.
"Iya, Ayah," jawab Sela lagi menirukan suara anak kecil.
Kenzo tersenyum senang. Tangannya terulur mengusap pipi sang istri yang nampak menggembung karena kehamilannya.
"Besok, aku akan ke rumah Mama dan Papa untuk membicarakan ini," ucap Kenzo memberitahu.
"Aku ikut ya," pinta Zahra.
Kenzo tersenyum. "Tapi janji nggak boleh capek," ucap Kenzo.
Zahra mengangguk semangat mengiyakan perkataan Kenzo. Setidaknya, suaminya itu tidak terlalu over protektif kepadanya. Masih dalam batas wajar saat ini, tidak tahu kalau besok.
.....
Kevin memikirkan apa yang terjadi kemarin. Kedatangan seorang wanita yang memang sejak satu bulan ini memenuhi kepalanya membuat dia cukup kaget. Sejak kematian Sofia, baru kali ini Kevin merasakan kembali getaran dalam hatinya. Tapi getaran itu terjadi karena seorang wanita yang rasanya sangat mustahil untuk bisa dia dapatkan.
Emre yang melihat Kevin termenung akhirnya berdeham. "Ekhem."
Kevin mengalihkan pandangannya kepada seorang pria yang kini sudah duduk diseberang meja kerjanya. "Sudah sejak kapan kau disini?" tanya Kevin.
"Sejak kau berdiam diri," jawab Emre.
"Apa kau masih memikirkannya?" tanya Emre. Emre memang mengetahui perihal Kinzi dan Kevin, tapi Emre memang sengaja diam tidak ingin ikut campur. Karena ini benar-benar menyangkut privasi sahabatnya.
"Bohong jika aku tidak memikirkannya," jawab Kevin dengan memainkan pulpen ditangannya.
"Aku salut dengannya. Demi bertemu denganmu, dia rela meninggalkan pekerjaannya di Paris begitu mendengar kau mengakhiri semuanya. Sampai disini, dia malah kau tolak. Dan kau tahu? Tidak sampai satu jam dia di negara ini, dia kembali ke Indonesia. Untuk apa? Untuk memperjuangkan hubungannya," ucap Emre.
"Akan banyak rintangan, Emre. Bersatu adalah hal yang tidak mungkin dalam hubungan ini, jadi untuk apa dipertahankan," ucap Kevin lirih.
"Itu adalah pikiranmu, bukan apa yang sebenarnya terjadi. Aku yakin Zahra tidak sekejam itu menghancurkan hatimu, dia akan melakukan apa yang membuat Ayahnya bahagia," ucap Emre.
"Zahra mungkin bisa menerima, tapi suaminya? Itu sangat tidak mungkin, Emre," ucap Kevin lemah.
"Kau belum mencoba, Kevin," ucap Emre.
"Karena itu hanya akan percuma, Emre," jawab Kevin yakin.
"Dan kau membiarkan dia berjuang sendirian untuk meyakinkan keluarganya? Lelaki macam apa itu!" ucap Emre mencemooh.
Kevin mengangkat alisnya mendengar perkataan Emre. "Bolehkah aku bertanya, Emre?" tanya Kevin.
"Apa?"
"Apa ini tidak terlalu cepat sejak kematian Sofia? Mengapa hatiku terlalu cepat berpaling dari Sofia?" tanya Kevin.
"Karena itu bukan cinta. Kau hanya kasihan pada Sofia hingga memberikan seluruh hidupmu untuknya. Sampai kau tidak bisa membedakan mana yang cinta dan mana yang bukan. Karena rasa kasihan mu itu, kau dengan mudah dibohongi oleh wajah lugu Sofia. Aku benad-benar tidak menyukai wanita itu meski dia sudah tiada," ucap Emre berapi-api mengeluarkan isi hatinya.
Kevin terdiam mendengar perkataan Emre. Benar, perasaannya kali ini sangat berbeda dengan perasaanya terhadap Sofia. Hatinya tidak pernah merasakan getaran hebat seperti ini sebelumnya.
"Benarkah ini cinta, Emre?" tanya Kevin bodoh.
"Tanya pada hatimu. Sudah saatnya kau memikirkan nasib hatimu," ucap Emre.
Mungkin ini akan sulit, tapi tidak ada salahnya aku mencoba. Batin Kevin membulatkan tekadnya.
"Emre," panggil Kevin tegas.
"Kenapa?" tanya Emre.
"Siapkan penerbangan ku ke Indonesia sekarang."
......................
Kevin dan Kinzi bahagia nggak yaaaa????? Tunggu update berikutnya ya teman-teman
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏