
🌹HAPPY READING🌹
Mobil yang dikendarai Kenzo sampai di rumahnya. Sela dan Zahra turun duluan, sedangkan Kenzo mengeluarkan koper dari mobil dengan bantuan satpam yang membawa koper-koper mereka untuk masuk ke rumah.
"Terimakasih, Pak," ucap Kenzo sopan setelah satpam selesai membawa masuk semua kopernya.
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Satpam pamit.
"TUNGGU SEBENTAR, PAK SATPAM!" teriak Sela yang sudah berlari mengejar satpam diambang pintu.
"Kenapa teriak-teriak, Nak?" tanya Kenzo.
"Hehe, ini Sela ada oleh-oleh buat Pak Satpam," ucap Sela memberikan sebuah paper bag besar kepada Satpam yang dia ambil dari kopernya.
"Wah, terimakasih Nona Muda. Tapi ini sangat berlebihan sekali," ucap Satpam tak enak hati.
"Ambi saja, Pak," ucap Kenzo.
"Ini buat Pak Satpam. Ambil ya. Sela beli dengan uang sendiri Loh," ucap anak itu sedikit merajuk karena Pak Satpam tak kunjung mengambil paper bag itu dari tangannya.
"Baiklah. Saya terima Nona Muda. Sekali lagi terimakasih, Nona, Tuan," ucap Satpam ramah pada Sela dan Kenzo.
Kenzo hanya diam dan mengangguk. Sedangkan Sela tersenyum seraya mengucapkan sama-sama kepada Pak Satpam.
"Bunda dimana, Nak?" tanya Kenzo yang tak melihat keberadaan istrinya.
"Bunda tadi langsung ke kamar, Ayah. Mungkin Bunda capek," jawab Sela.
"Sela nggak mau istirahat?" tanya Kenzo.
Sela menggeleng. "Sela mau bongkar oleh-oleh dulu," jawabnya dengan senyum manis yang ditunjukkan pada Kenzo.
"Yasudah. Dibongkarnya di kamar saja, ya. Biar Ayah bantu bawa kopernya," ucap Kenzo yang dianggukki oleh Sela.
Sela menuruti langkah kaki Kenzo menaiki tangga dengan kedua koper yang diseret oleh lelaki itu. Kedua koper itu adalah milik putrinya sendiri yang berisi mainan. Sebenarnya tidak hanya dua, masih ada tiga koper milik Sela yang ada di ruang keluarga. Entah apa yang anak itu beli, Kenzo tidak mempermasalahkan asal anaknya itu senang. Sedangkan dia dan Zahra yang membawa dua koper masing-masingnya.
"Sela bongkar sendiri, ya. Ayah mau temui Bunda dulu," ucap Kenzo setelah meletakkan koper diatas kasur.
"Iya Ayah," jawab anak itu patuh.
Kenzo keluar dari kamar Sela setelah mengecup lembut dahi anaknya.
Kaki Kenzo melangkah ke kamarnya bersama Zahra.
Ceklek.
Pintu terbuka dan Kenzo melihat sang istri yang berbaring di kasur dengan membelakanginya.
"Sayang," panggil Kenzo lembut.
Zahra hanya diam. Kenzo mendengar suara rintihan keluar dari mulut istrinya itu.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Kenzo khawatir begitu meloncat menaiki kasur.
"Sakit Mas," ucap Zahra mencengkram perutnya yang terasa sakit, nyeri dan keram dalam waktu bersamaan.
"Kenapa Sayang?" tanya Kenzo lagi.
Zahra membalikkan badannya telentang dan berusaha untuk duduk. Setelah berhasil, wanita itu menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.
Zahra menggeleng menatap Kenzo. "Usap-usap Mas," ucap Zahra mengambil tangan Kenzo dan meletakkan diperutnya.
Kenzo mengangguk. Sebelum itu dia membawa tubuh Zahra untuk duduk di pangkuannya. Dari belakang, Kenzo mengusap lembut perut Zahra.
Zahra yang mendapat sentuhan suaminya sedikit lebih nyaman. Sentuhan Kenzo benar-benar sangat berpengaruh untuk anak-anaknya.
"Kita periksa dokter ya, Sayang," ajak Kenzo lembut.
Zahra menggeleng. "Mungkin memang karena kecapean, Mas. Jadi dia sedikit nyeri," jawab Zahra lemah.
"Tapi kamu kelihatan pucat dan lemas banget loh ini," ucap Kenzo khawatir.
Zahra menggeleng. "Nanti juga ilang sendiri."
"Mas," panggil Zahra.
"Iya Sayang," jawab Kenzo. Satu tangannya mengusap lembut perut Zahra. Sedangkan tangannya yang lain membantu membuka kerudung Zahra agar wanita itu terasa sedikit lebih nyaman..
"Kalau nanti saat melahirkan anak kita, kamu harus memilih antara aku dan anak-anak kita, tolong selamatkan mereka ya, Mas," ucap Zahra menatap lembut Kenzo dari bawah.
Kenzo menghentikan usapan tangannya dan membalas tatapan istrinya. Setelahnya dia tersenyum dan mengangguk.
Zahra yang melihat itu juga ikut tersenyum. "Terimakasih, Mas. Usap-usap lagi. Aku tiduran sebentar dipangkuan kamu, ya," ucap Zahra dan kembali menggerakkan tangan Kenzo diperutnya.
.....
Malam telah menjelang. Sela saat ini sedang heboh bercerita pada Neneknya Sari. Ibu Sari baru saja kembali dari panti asuhan setelah seminggu juga menginap disana.
"Sela beli banyak hadiah buat Nenek," ucap Sela yang kini sudah merebahkan kepalanya dipangkuan Sari.
Mereka berdua sedang menonton di ruang keluarga. Sedangkan Kenzo memilih menemani Zahra yang dia minta untuk beristirahat terlebih dahulu.
"Terimakasih ya, Nak," jawab Sari lembut sambil mengusap rambut Sela.
"Disana indah banget, Nek. Sela jadi mau tinggal disana," ucap Sela.
"Kalau Sela disana, Nenek disini sama siapa?" tanya Seri memasang raut wajah sedihnya.
Sela terkekeh pelan. "Oleh karena itu Sela kembali lagi kesini, Nek," jawabnya lembut.
"Cucu Nenek memang terbaik," ucap Sari membungkuk mengecup lembut dahi Sela.
"Tapi waktu pertama kali ketemu sama Kakek Murat, Kakek Murat langsung pukul Ayah, Nek. Sela nggak boleh lihat sampai abis, soalnya Eriye langsung bawa Sela ke kamar," ucapnya mulai bercerita.
Sari mengangguk. Tadi Zahra juga sudah menceritakan semuanya pada Bu Sari apa yang terjadi disana. Sari ikut bahagia mendengar Zahra yang sudah bertemu dengan keluarga kandungnya. Dengan sangat antusias Zahra menceritakan pada Bu Sari semuanya tanpa ada yang terlewat sedikitpun.
"Kakek pukul Ayah karena dulu Ayah ada salah, Nak. Tapi sekarang Ayah dan Kakek Murat sudah baik-baik saja kan," ucap Sari.
Sela mengangguk. "Iya Nek. Tapi Sela kasian lihat Ayah waktu itu. Wajah Ayah biru-biru," ucap Sela.
Sari mengangguk dan terkekeh pelan. Sampai sekarang bekas pukulan itu masih ada sedikit di tulang pipi Kenzo dan pelipisnya yang berbekas robekan.
"Itu urusan orang dewasa, Nak. Urusan Sela sekarang adalah main sama mainan barunya," ucap Bu Sari.
Sela menggeleng. "Nenek temani Zahra tidur, ya. Ayah curang udah tidur duluan sama Bunda," ucap Sela merajuk.
"Iya. Nenek temani Sela tidur. Ayah sama.Bunda tidur duluan karena Bunda masih kecapean, Nak. Kasihan adik-adik dalam perut Bunda ikut capek juga," ucap Sari.
"Yasudah. Kita ke kamar Sela sekarang," ucap Sari dan menuntun Sela agar bangun dan beralih ke kamar gadis kecil itu.
.....
Zahra menatap gugup Kenzo yang duduk disebelahnya dengan Laptop di depan lelaki itu. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi keduanya masih saja belum tidur.
"Ini udah malam loh, Sayang. Tidur ya," ucap Kenzo sambil mematikan laptopnya dan meletakkan di meja sebelah ranjang.
Duh, gimana bilangnya ya. Kan kalau istri yang minta jatah nggak dosa kan? Malah dapat pahala. Tapi kenapa aku takut? Batin Zahra gugup.
"Sayang," panggil Kenzo lagi menyentuh pundak Zahra.
"Em,,, Mas," panggil Zahra pelan.
"Kenapa Sayang?" tanya Kenzo yang melihat kegugupan istrinya. Pipi wanita itu juga nampak merona malam ini.
"Sejak di Turki, kita nggak ada ini loh," ucap Zahra.
"Nggak ada ini apa, Sayang?" tanya Kenzo tak mengerti.
"Sejak di Turki, kamu nggak menggauli aku loh, Mas," ucap Zahra malu dengan kepala menunduk.
Kenzo tersenyum. Jadi istrinya minta jatah sekarang? Wah luar biasa sekali. Hal ini sangat-sangat jarang terjadi dalam hidupnya. Biasanya dia yang meminta, tapi ini? Luar biasa.
Kenzo tersenyum dan memegang kedua pundak Zahra. "Bukannya aku nggak mau, Sayang. Siapa yang nggak mau mendapat surga dunia?" ucap Kenzo.
"Terus? Biasanya juga tiap malam," jawab Zahra polos.
Kenzo terkekeh. "Kehamilan kamu masih lemah. Ini saja masih sering nyeri kan. Aku nggak mau buat anak kita kesakitan, Sayang. Aku takut nanti mereka tabrakan di dalam sana sama aset aku," ucap Kenzo yang membuat Zahra semakin malu dan menunduk.
"Maaf ya, Mas. Harusnya aku bisa lebih kuat saat hamil ini," ucap Zahra menyesal.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu tidak salah dan anak-anak kita tidak salah. Sudah jalannya begini. Mungkin ini ujian buat aku sebagai seorang lelaki," jawab Kenzo lembut.
Zahra mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Terimakasih, Mas," ucapnya tulus.
Kenzo mengangguk dan membawa tubuh sang istri kedalam pelukannya. "Tapi nanti saat kamu sudah lahiran atau kandungan kamu sudah sangat kuat, aku nggak akan dengerin kalau kamu minta berhenti."
......................
Hai teman-teman, untuk kelanjutan kisah Kevin dan Kinzi ada di novel baru yang sudah publish di aplikasi hijau dengan judul CINTA WANITA MUDA. Semoga kalian suka dan menikmati kisahnya.
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍