Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 214



🌹HAPPY READING🌹


Tidak terasa seminggu sudah mereka di Turki. Sela, anak itu benar-benar memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin untuk liburan. Dia benar-benar sangat memforsir tenaga Kakek buyutnya untuk menemani liburan. Zahra dan Kenzo lebih banyak dirumah, karena Zahra yang tidak mau membahayakan anak dalam kandungannya sendiri.


Kini mereka semua berkumpul di ruang keluarga kediaman Murat. "Sela nggak mau pulang, Kakek," rengek anak itu manja pada Murat.


"Sela harus sekolah, Nak. Liburan sudah berakhir," ucap Zahra menasehati anaknya itu.


"Tapi Sela masih mau disini, Bunda. Disini lebih seru daripada di Indonesia," jawab Sela kekeuh.


"Kita harus pulang besok, Nak. Shasa aja udah pulang dari liburannya kemarin, masa Sela tega biarin Shasa sendiri disana," ucap Zahra lagi.


Sela mengangguk lemah. "Iya Bunda. Besok kita pulang," jawabnya lesu. Setelahnya anak itu beralih menatap Murat. "Kakek nggak mau ikut kita?" tanyanya pada Murat.


Murat menggeleng. "Kakek masih ada urusan disini, Nak. Nanti kalau urusan Kakek sudah selesai, maka Kakek akan datang berkunjung ke sana," jawab Murat.


"Janji?" tanya Sela mengacungkan kelingkingnya pada Murat.


Murat mengangguk tersenyum. "Janji," jawabnya menautkan jari kelingking mereka berdua.


"Abi dan Umi sudah beres-beres?" tanya Zahra.


Dee mengangguk. "Sudah, Nak. Lagian bawaan Umi dan Abi tidak terlalu banyak. Jadi nggak repot," jawab Dee.


Zahra mengangguk. "Kalau begitu Zahra mau packing dulu ya semuanya," ucap Zahra pamit.


"Jangan terlalu capek, Nak," nasehat Kevin.


"Iya Ayah," jawab Zahra patuh dan pergi dari ruang keluarga.


"Kenzo akan bantu Zahra dulu," ucap Kenzo langsung berlari menyusul Zahra.


.....


Zahra sampai di kamarnya. Saat di depan pintu, dia merasakan keram dan nyeri yang sangat hebat pada perutnya.


"Ya Allah, ini kenapa?" gumam Zahra lirih.


Dengan sedikit tertatih, Zahra melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Sampai dikamar mandi, Zahra mengunci pintu agar suara rintihannya tak terdengar oleh siapapun yang masuk nanti.


"Ya Allah kenapa ini?" tanya Zahra lagi dengan mata berkaca-kaca.


Zahra meraba sedikit bagian bawah tubuhnya. Dengan penasaran, Zahra menyingkap gamisnya dan membuka ****** ********.


"Darah," gumam Zahra dengan mata berkaca-kaca.


"Ya Allah, lindungi anak-anakku," gumam Zahra dengan suara bergetar.


Zahra menghela nafas banyak mengatur emosinya. Disaat seperti ini, dia harus tenang. Zahra beristigfar berulang kali meredakan sakit, nyeri dan keram yang menyerang perutnya secara bersamaan.


Zahra membuka ****** ***** dan langsung mencucinya. Dia takut nanti Kenzo akan melihat darah itu dan membuat suaminya semakin khawatir.


Selesai mencuci, Zahra membawanya keluar untuk dijemur dan mengganti dengan yang baru.


"Kalian sehat-sehat ya, Nak," ucap Zahra setelah selesai memakai dalaman. Dirasa sakit perutnya sudah sedikit reda, Zahra berjalan menuju kopernya untuk menyiapkan segala perlengkapan mereka untuk pulang.


"Sayang," panggil Kenzo yang baru sampai di kamar mereka.


"Mas," jawab Zahra tenang dengan senyum terukir diwajahnya.


"Biar aku yang kerjain. Kamu duduk dan lihat saja, ya. Sering bungkuk dan berdiri akan menyebabkan perut kamu sakit nanti. Kamu nggak boleh kecapean, ya," ucap Kenzo lembut.


Zahra menghentikan kegiatannya dan mengangguk. Dengan senyum lembutnya dia berjalan menuju ranjang. "Terimakasih ya, Mas," ucap Zahra tulus.


"Sudah kewajiban aku, Sayang," jawab Kenzo.


.....


Kevin menatap bingung pada Murat yang duduk di depannya. Kini tinggal mereka berdua di ruang keluarga. Dee dan Ibra sudah lebih dulu pergi ke kemar mereka. Sedangkan si kecil Sela sudah tidur dengan ditemani Eriye.


"Kenapa Baba?" tanya Kevin.


"Kau masih belum memberitahu Kenzo?" tanya Murat.


"Bagaimana jika dia sudah tiada?" tanya Murat lagi.


"Dia hanya akan tiada jika aku tiada, Baba!" jawab Kevin tajam.


Murat mengangguk. Lelaki itu berdiri dan menepuk pelan punggung Kenzo. "Dia pasti menunggu usahamu saat ini," ucap Murat memberi semangat pada Kevin yang sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri. Karena selama ini Kevin lah yang selalu menemani Murat, dalam keadaaan apapun. Kevin juga yang sudah membantu menemukan Onur dan menyekap lelaki bejat itu bersama dengan Emre.


Setelah kepergian Murat, ponsel Kevin berdering.


"Halo," jawab Kevin setelah mengetahui siapa yang menelponnya.


"Kami ada berita penting, Tuan," jawab seseorang diseberang sana.


"Katakan, Rudi," titah Kevin pada detektif kepercayaannya itu.


"Saat dimana wanita yang Tuan cari pergi untuk melakukan penerbangan di Paris, ternyata dia tidak pergi ke Paris, Tuan," ucap Rudi.


"Lalu?" tanya Kevin lagi. Karena dia memang sudah mengetahui mengenai ini.


"Besar kemungkinan, wanita yang tuan cari tidak melakukan penerbangan kemanapun. Aku bisa menjamin itu," jawab Rudi.


"Singkat saja!" ucap Kevin tegas dengan segala keresahan dihatinya.


"Wanita yang Tuan cari masih ada di Tanah air, Tuan," ucap Rudi singkat.


"Apa kau menemukan alamat pasti?" tanya Kevin.


"Maaf Tuan. Kami tidak mendapat informasi lebih lanjut," jawab Rudi.


Kevin memejamkan mata dan mengangguk. "Baiklah, terimakasih," jawab Kevin singkat dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


Kevin tersenyum senang. Dia sudah menduga ini. Pujaan hatinya tidak akan pergi kemana-mana dalam kehamilannya. "I Will found you, Sugar," gumam Kevin senang.


.....


Tibalah hari keberangkatan Zahra ke Indonesia bersama yang lainnya. "Zahra pamit ya, Kakek," ucap Zahra memeluk Murat.


Murat mengangguk dengan mata memerah menahan tangisnya. "Kakek akan berkunjung, Nak. Jika kalian ada waktu maka segeralah kembali lagi kesini," ucap Murat.


"Zahra pasti akan kesini lagi untuk melihat lelaki tua yang tampan ini," ucap Zahra menggoda Murat dengan tujuan untuk menghibur lelaki itu.


"Kakek akan merindukan kalian, selalu," ucap Murat.


"Kami juga akan merindukan Kakek," jawab si kecil Zahra yang berada dalam gendongan Kenzo.


"Apalagi gadis kecil ini. Kakek pasti sangat merindukan kamu, Nak," ucap Murat mencolek dagu Sela.


"Zahra," panggil seorang wanita yang sejak tadi berdiri disebelah Murat.


"Aku pasti akan merindukanmu, Hala. Terimakasih telah mencari ku," ucap Zahra beralih memeluk Nende.


"Aku sangat menyayangimu seperti putriku sendiri. Kamu satu-satunya kesayangan kami, Nak. Jadi jangan pernah melupakan kamu disini, ya," ucap Nende sedih.


"Bagaimana mungkin aku melupakan keluargaku sendiri, Hala," ucap Zahra menggeleng.


"Aku menyayangimu," ucap Nende memeluk Zahra.


"Aku juga, Hala," jawab Zahra balas memeluk Nende.


Setelah mereka semua berpamitan, kini tinggal Murat, Nende, dan Kevin serta Lukman disana.


"Baba siap untuk tugas selanjutnya?" tanya Kevin.


Murat menatap Nende dan Lukman bergantian. Setelahnya dia mengangguk yakin menatap Kevin. "Ayo kita eksekusi!"


......................


Hai teman-teman, untuk kelanjutan kisah Kevin dan Kinzi ada di novel baru yang sudah publish di aplikasi hijau dengan judul CINTA WANITA MUDA. Semoga kalian suka dan menikmati kisahnya.


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍