
🌹HAPPY READING🌹
"Assalamu'alaikum, Ayah," ucap Kevin setelah menekan tombol hijau menerima panggilan Kevin.
"Waalaikumsalam, Ken. Bagaimana kabarmu?" tanya Kevin dari seberang sana.
"Alhamdulilah baik, Ayah. Ayah bagaimana?" tanya Kenzo balik.
"Aku baik. Zahra baik-baik saja?"
Kenzo terdiam sebentar, setelah itu dia tersenyum dan mengangguk ditempatnya, meskipun dia tahu Kevin tidak akan melihat itu. "Zahra baik-baik saja Ayah, mungkin" jawab Kenzo dalam hati saat kata terakhirnya.
"Em, Syukurlah kalau begitu. Aku hanya ingin bertanya, apa benar kamu membatalkan kerjasama kita, Ken?"
Kenzo terdiam sebentar mendengar pertanyaan Kevin. Dia tahu, cepat atau lambat Kevin pasti akan menanyakan hal ini kepadanya.
"Aku hanya ingin mandiri, Ayah," jawab Kenzo tenang.
Terdengar helaan nafas dari Kevin diseberang sana. "Jangan berbohong, Kevin. Aku tahu ada sesuatu yang coba kau tahan," ucap Kevin.
Kenzo hanya tersenyum lirih. Ayah mertuanya itu sangat mengetahui bagaimana kondisinya. Tapi bagaimanapun juga, Kenzo harus menyelesaikannya sendiri, ini urusan rumah tangganya dengan Zahra, jadi sudah tanggung jawabnya untuk merahasiakan apa yang terjadi. Hanya dia dan Zahra yang berhak untuk mengatasi ini.
"Biar aku yang menyelesaikan semuanya, Ayah," ucap Kenzo.
"Aku percaya kau sudah berubah. Jangan ulangi kesalahan yang sama. Berpikirlah sebum.bertindak, Ken. Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kamu dan Zahra, tapi satu hal yang harus kau tahu, seorang imam tidak akan melukai makmumnya sendiri," ucap Kevin menasehati.
Kenzo tersenyum mendengar penuturan Kevin. Benar apa yang dikatakan Ayahnya, bahwa seorang imam tidak akan pernah melukai makmumnya, tapi setiap imam mempunyai cara berbeda dalam membimbing makmumnya. "Terimakasih nasehatnya, Ayah," ucap Kenzo tulus.
"Jika kau butuh sesuatu, maka jangan segan untuk menghubungi aku. Aku tutup dulu, Assalamu'alaikum," ucap Kevin menutup sambungan teleponnya.
"Waalaikumsalam," jawab Kenzo.
Kenzo menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan memijat pangkal hidungnya.
Saat Kenzo hendak berdiri mengambil minuman yang ada di kulkas mini yang tergantung di ruangan kerjanya, ponselnya kembali berdering. Kenzo melihat nama 'Istriku' tertera di layar ponselnya. Kenzo membiarkan panggilan pertama lewat begitu saja. Hingga pada panggilan ketiga, baru dia mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa?" tanya Kenzo langsung tanpa basa-basi sedikitpun.
"Mas, bisa tolong kebawah sebentar," ucap Zahra dari seberang sana. Kenzo mendengar suara Zahra yang tidak seperti biasanya.
Tunggu dulu, kebawah sebentar, itu artinya Zahra ada kantornya saat ini. Sungguh, Kenzo sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa untuk saat ini.
"Kembalilah pulang. Aku banyak pekerjaan," ucap Kenzo dan langsung memutus panggilannya begitu saja.
Setelah memutus sambungan teleponnya dengan Zahra, Kenzo kembali sibuk dengan laptop dan file-filenya.
Ditengah kesibukannya, suara pintu dibuka dengan kasar.
"Ayah!" pekik suara cempreng yang tiba-tiba memasuki ruangan Kenzo.
"Astagfirullah, Sela," ucap Kenzo kaget karena kedatangan anaknya yang tiba-tiba. Biasanya Sela akan datang bersama seseorang, Zahra ataupun yang lainnya, setidaknya Arman yang akan membantu anak itu untuk masuk. Karena anak itu pasti akan selalu memaksa dan menjahili Arman untuk mengikuti kemauannya, tapi sekarang, dia nampak datang seorang diri.
Kenzo bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri anaknya itu. "Kamu kenapa, Sayang?" ucap Kenzo setelah mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Kenzo.
"Ini masih jam sekolah, kenapa kamu sudah disini?" tanya Kenzo setelah melihat jam dipergelangan tangannya.
"Ayah," panggil Sela dengan suara bergetar nya. Sedetik kemudian, air mata jatuh membasahi pipi anak itu dengan bibir melengkung kebawah, disertai dengan tangisnya yang begitu nyaring memenuhi ruangan Kenzo.
"Ayah, Buna, hiks," ucap Sela tersedu dengan punggung tangan menghapus air matanya.
"Tenang dulu, Nak. Bunda kenapa? Bunda baik-baik saja dirumah," ucap Kenzo menenangkan Sela.
Sela menggeleng. "Dalimana Ayah tahu Buna baik-baik saja? Ayah caja tidak bicala cejak tadi pagi cama Buna, Hiks," ucap Sela menjawab perkataan Kenzo.
Kenzo termenung sebentar mendengar perkataan anaknya. Ternyata anaknya peka terhadap apa yang terjadi, anaknya ikut merasakan kesepian dan tingkah dinginnya. Tapi itu urusan nanti, yang penting sekarang dia harus tahu terlebih dahulu penyebab tangis anaknya. "Tunggu dulu, Sela kenapa nangis seperti ini, Nak? Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Kenzo.
"Buna tadi beldalah, Ayah. Kaki Buna tadi ada dalahnya."
DEG
Jantung Kenzo berdetak tak karuan mendengar perkataan anaknya itu. Terlihat wajahnya yang memucat mendengar penuturan Sela. "Ja-jangan bercanda, Sayang," ucap Kenzo berusaha menyangkal apa yang dia dengar
Sela menggeleng dalam tangisnya. "Celius, Ayah. Cela nggak bohong, hiks," ucap Sela menatap Ayahnya sendu.
"Di-dimana, Nak?" tanya Kenzo takut.
"Tadi, waktu mau naik lift, pelutnya Buna kelam. Telus Buna pingcan Ayah. Cekalang dibawa Uncle Alman ke lumah cakit, hiks," ucap Sela tersedu memberitahu Kenzo.
****. Umpat Kenzo dalam hati. Arman benar-benar mencari masalah dengannya. Harusnya dia memberitahu Kenzo terlebih dahulu, tapi pria itu malah membawa sendiri ke rumah sakit.
Tanpa aba-aba, Kenzo langsung menggendong Sela dan berlari keluar ruangannya. Sela memeluk erat leher Ayahnya dengan menyandarkan kepala ke bahu Kenzo. Dibalik bahu Kenzo, anak itu nampak memancarkan senyum jahilnya. Selu juga bel akting. Batin Sela senang dan mata jahilnya.
.....
Kenzo menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh. Sela yang duduk di bangku penumpang agak sedikit ketakutan melihat Kenzo yang kalut dan ngebut membawa mobilnya.
"Pelan-pelan, Ayah. Cela takut," cicit anak itu takut.
"Maaf, Nak," ucap Kenzo menyesal dan menormalkan laju mobilnya.
Kenzo kembali fokus pada jalanan di depannya. Tangannya mencengkram kuat stir mobil menyalurkan kegelisahan yang mendera hatinya.
Kamu harus kuat, Sayang. Kalian harus kuat. Tolong jaga Bunda untuk Ayah, Nak. Batin Kenzo berdoa untuk istri dan anaknya yang masih ada dalam. kandungan Sela.
Mendengar perkataan Sela yang mengatakan darah mengalir di kaki Zahra, pikiran Kenzo langsung tertuju pada anak mereka.
Kau brengsek, Kenzo. Umpat Kenzo pada dirinya sendiri. Harusnya, tadi saat menerima telepon dari Zahra, dia langsung mengangkat dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh istrinya. Bukannya terus meninggikan ego.
Lima menit setelahnya, mobil Kenzo sampai di ruang sakit. Kenzo langsung keluar mobil dan menggendong Sela berlari memasuki rumah sakit.
"Ibu," panggil Kenzo begitu melihat Bu Sari yang duduk di kursi tunggu depan UGD.
"Nak Kenzo," ucap Bu Sari ikut berdiri.
"Bu, Zahra bagaimana?"
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏