MySam

MySam
Untuk 100 Juta



"Sam...."


"Hhmm...?"


"Apa Elano yang melakukan ini?" tanya Maya lirih, sangat hati-hati. Ia takut jika Sam kembali murka jika mendengar nama itu lagi. Dan sebenarnya Maya pun merasa enggan menyebut nama El. Apa yang telah pria itu perbuat sungguh di luar batas. Maya tidak pernah menyangka jika El bisa setega itu padanya.


Maya masih duduk di kursi kecil samping Sam dan menyandarkan kepalanya di salah satu lengan Sam, jemari lentiknya menari membelai lembut luka tusukan yang kini telah terbalut dengan perban. Baju pasien rumah sakit Sam yang tidak terkancing dengan sempurna membuat Maya bisa leluasa membelai lembut perut sixpack yang kini terbalut perban putih. Seandainya sentuhan Maya bisa menyembuhkan luka Sam....


Oh gadis itu sungguh mempunyai pikiran seperti itu saat ini.


"Aku akan membuat dia jera, sayang," ucap Sam kini, membuat Maya mendongak dan memandang ke arah paras tampan Samuel.


"Aku gak mau kamu berkelahi lagi dengan dia, Sam."


Netra Maya kini berkaca-kaca. Bagaimana jika Sam kembali celaka? Bagaimana jika kejadian seperti ini terulang lagi? ?atau yang lebih buruk lagi misalnya? Tidak! Maya tidak akan pernah mengizinkan pria itu menemui Elano lagi.


"Aku gak mau kehilangan kamu, Sam," Maya kembali merajuk, menatap lekat manik mata Samuel dengan tatapan sayu.


"Aku takut." Maya menghentikan sejenak kalimatnya.


"Aku takut jika Elano berbuat licik ke kamu. Aku takut sesuatu yang lebih buruk dari ini menimpa kamu, Sam." Maya memastikan bahwa ketakutan yang terlihat dari sorot matanya saat ini adalah fakta.


Samuel tersenyum kecil, melihat kekhawatiran yang terpancar dari sorot mata Maya membuatnya bahagia namun tidak mengurungkan niatnya untuk memberi Elano pelajaran atas sikapnya.


"Kamu tenang aja, sayang. Aku akan membawa kasus ini ke meja hijau." Sam menghentikan sejenak ucapannya.


"Aku tidak mempermasalahkan perbuatan dia padaku, tapi aku gak akan membiarkan siapapun terutama dia, mencelakai atau menyakiti gadis milik Samuel." Sam meneruskan ucapannya, memandang lekat paras Maya.


"Oh, Sam...." Maya refleks memeluk tubuh Sam, menangis terharu mendengar apa yang baru saja pria itu katakan.


....


Pagi ini, Elano bahkan tidak berniat keluar dari apartemen. Bahkan hanya sekedar untuk fitnes, kegiatan rutinnya sehari-hari. Ia kini seperti seekor kura-kura yang bersembunyi dalam tempurung. Elano tidak bisa membayangkan jika ia harus menginap di hotel prodeo. Setidaknya sebelum pengacara pribadi El menyelesaikan semua kekacauan ini.


Namun dalam hati Elano, ia tidak menyesali sedikit pun perbuatannya terhadap Samuel.


"Semoga saja, si brengsek itu mati!" kelakarnya seorang diri. Menghentakkan kasar gelas kristal yang berisi wiski dingin yang ada dalam genggamannya.


Mata coklatnya kini menajam, rahangnya mengeras dan terlihat menyeramkan.


ting... tong...


Suara bel pintu apartemen mengagetkan Elano, membuatnya berjalan perlahan mendekati pintu setelah mengetahui siapa yang berdiri di luar pintu. Dari Cctv luar kamar apartemen, El bisa melihat siapa saja yang berada di luar apartemennya. Membuka knop pintu perlahan dan membiarkan seseorang itu masuk.


"Rencana kamu kenapa bisa gagal sih El? capek-capek aku nyusun rencana dan menyuruh semua karyawan kamu pulang cepet sore itu." Freya masuk dengan berkacak pinggang, bibir tipisnya melontarkan kalimat pertanyaan yang semakin membuat Elano frustasi.


"Itu karena salah kamu juga Fe, sialan!" dengus El kesal.


El lama-lama jengah juga dengan sikap Freya, gadis itu bukannya membuat mood Elano membaik tapi malah membuatnya semakin buruk.


"Kamu ada keperluan apa lagi selain ngomel gak jelas kek gini, hah?!" tanya El kesal. Meninggalkan Freya untuk menuju ke mini bar yang terdapat di sudut ruangan apartemen. Menuangkan sekali lagi wiski ke gelas kristalnya.


"Aku butuh seratus juta, El." Freya to the point mengatakannya. Mendekat ke arah El dan bergelayut manja di lengan pria yang setengah mabuk itu.


"Terus? Apa urusannya sama aku, hah?!"


Freya mendengus kesal, menyipitkan bola matanya. Tapi tak lama wajah kesalnya berubah dan berganti dengan rayuan manja. Menggelayut ke lengan El dan mendekatkan tubuh seksinya ke arah Elano.


"Aku butuh bantuan kamu, sayang," bisik Freya. Mengalungkan kedua lengannya di leher kokoh El. Kini mereka berdiri saling berhadapan.


"Kamu mau kan tolong aku, El? please...." Freya kini mendekatkan wajahnya, hembusan napas hangat gadis itu yang beraroma chery mint begitu menggoda Elano.


Lengan Freya semakin erat mengalung di leher Elano, tubuh mereka saling berhimpit tanpa jarak. Elano bisa merasakan dua buah bongkahan kenyal Freya menempel di dada bidangnya. Membuat Elano terdiam tak berkutik.


"Aku janji akan berikan apapun padamu, sayang." Freya melanjutkan lagi rayuannya.


Semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Elano, mencium bibir El dengan bisikan menggoda.


"Apapun itu, hhmm...?" Elano kini melingkarkan lengannya ke pinggang Freya, mendekapnya lebih erat lagi. "Everything, baby...." balas Freya, masih dengan bermain dengan bibir El serta jemari lentiknya bermain di dada bidang El.


Elano semakin mengeratkan satu lengannya yang melingkar di pinggang Freya, memiringkan kepalanya menuju ke bibir gadis itu. Leguhan demi leguhan tercipta dari bibir Freya. El mengangkat tubuh Freya, melingkarkan kedua kaki jenjang Freya ke pinggangnya. Sambil berjalan dan menggendong Freya, Elano melancarkan ciuman mesra ke bibir gadis itu.


Membawa tubuh indah itu menuju ranjang berukuran delux. Menjatuhkan tubuh Freya yang kali itu hanya mengenakan dres ketat di atas lutut.


Seringai kecil, El tarik di semua sudut bibirnya. Meski ini bukan pertama kalinya dia tidur dengan gadis itu. Bagi El, tidak menjadi masalah. Selama dia bisa melupakan permasalahan yang saat ini menghimpitnya.


Elano melepas pakaian ketat Freya, hingga tubuh gadis itu terlihat hanya terbungkus cd berenda dan bra dengan warna hitam senada. El menempatkan tubuhnya di atas Freya, memeluknya. Mencium wajah, bibir hingga leher putih itu. Tentu saja tak lama kepala El beringsut turun ke dada yang kini terlihat setengah menyembul sempurna.


Perlahan El meraih pengait bra yang berada di balik punggung Freya, melepaskan dengan terburu-buru sambil bibirnya dengan lembut menjelajahi seluruh sudut tubuh Freya. Memainkan bulatan kecil berwarna pink pucat dengan bibirnya. Elano melakukan fantasi liarnya, membayangkan jika tubuh yang ia kuasai saat ini adalah milik Maya. Dengan membabibuta Elano melakukan pergerakan. Merentangkan kedua tangan Freya sebatas dadanya menggenggam dan menahan telapak tangan itu erat sambil bibirnya menyusuri tiap sudut tubuh milik Freya. Meninggalkan kiss mark di leher dan dada Freya, membuat gadis itu pasrah menikmati permainan Elano. "Aahhh... eeuumm...." Freya memasang wajah sayu yang begitu menggoda.


"Kamu suka baby....?" bisik El yang masih menyusuri semua titik sensitivitas Freya.


"Do it more, El. Please..." jawab Freya seolah memohon.


Elano semakin menambah tempo permainannya, bibirnya semakin beringsut turun ke bawah. Tanpa menunggu lama lagi begitu melihat area sensitif Freya yang begitu menggoda, membuatnya semakin menenggelamkan kepala dan bibirnya di sana.


"Oh... Elano... aahhh...eeuumm..." erang Freya.


Elano semakin menguasai gadis itu ketika tidak mendapatkan perlawanan dari Freya.


Pria itu dengan membabibuta melakukan segala hal terhadap Freya dan tentu saja tanpa mendapatkan penolakan dari gadis itu. Freya semakin terbawa dalam permainan panas El, mengimbangi segala pergerakan Elano. Karena bagi Freya yang terpenting saat ini adalah seratus juta yang ia butuhkan, meski segala akal sehat dan norma susila tidak ia hiraukan.


to be continue....