MySam

MySam
Masa lalu itu....



Sedan merah menyala milik Sam berhenti tepat di depan rumah minimalis. Sam sekali lagi memandang paras tunangannya sebelum gadis itu kembali masuk ke dalam rumah.


"Mobil kamu masih di tempat Vivian, biar nanti supir ku yang antar kemari." Samuel menatap lembut ke arah Maya. Seolah masih enggan mengizinkan gadis itu berlalu dari hadapannya.


"Oh ya Sam, bagaimana dengan gaun pengantin tadi? Aku gak merusaknya kan? maafkan aku sudah mengacaukan semuanya." Sam tersenyum, kemudian mengacak-acak puncak kepala Maya. Sungguh, pria itu tidak dapat meredam kegemasannya untuk tidak mengacak-acak rambut gadis itu. "Kamu tenang aja, sayang. Tadi pegawai Vivian sudah aku suruh untuk mengambil gaun itu sewaktu di rumah sakit dan saat itu kamu masih tidak sadar."


Tentu saja Maya khawatir dengan keadaan gaun tersebut, karena harganya yang senilai lima bulan gajinya di Wijaya Property. Maya takut merusak gaun indah itu dan ia juga tidak ingin menambah beban Samuel lagi.


"Kamu istirahat ya, besok gak usah masuk kerja dulu. Biar besok aku ngomong sama El."


Maya mengangguk nurut. Membenamkan perasaannya ketika telapak tangan lembut Samuel mengelus pipinya. Merasakan setiap sentuhan kecil Sam, membuatnya selalu merasa lebih baik.


"Aku masuk dulu."


Samuel mengangguk kecil, tersenyum kembali ke arah Maya. Entah darimana dorongan itu berasal, Maya dengan pelan mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Samuel. Mencium tipis ujung bibir Samuel lalu membiarkan kedua kening mereka saling menempel.


"Aku tidak tahu apa jadinya tanpa kamu, Sam. You have my life lighting, and i love you." Lirih Maya, masih menempelkan keningnya erat. Kembali menautkan bibirnya ke ujung bibir Samuel dan mengecup bibir tebal itu sekali lagi.


Samuel merasakan getaran yang sangat hebat, dadanya bergemuruh. Kebahagiaan menyeruak memenuhi seluruh hati dan pikirannya. Dia tahu Maya, selama ini gadis itu jarang sekali bersikap memulai terlebih dahulu. Dan malam ini untuk kedua kalinya Maya mengesampingkan ego yang selama ini mengikatnya.


Benar, ini kali kedua Maya memberanikan diri memulai terlebih dahulu, membiarkan hatinya menguasai pikirannya.


Maya sungguh tidak peduli.


"And you are my rainbow that gives the color in my life, honey. And i love you too."


Samuel mencium ujung kening Maya, menaruh telapak tangannya pada sisi kiri pipi Maya. Membuat gerakan nyaman di pipi chubby itu.


"Sekarang kamu istirahat. Aku pulang dulu," bisik Sam.


Maya hanya mengangguk kecil, hatinya sebenarnya menginginkan sebaliknya. Agar Samuel tetap berada di sampingnya selalu.


Namun ia harus sedikit bersabar, setidaknya setelah pernikahan mereka berlangsung.


"Hati-hati di jalan."


Samuel kembali mengangguk pelan, masih memandangi sosok Maya yang kini keluar dari mobilnya. Menunggu gadis itu hingga ia melihatnya masuk melalui pintu rumah minimalis itu.


___


Di sepanjang koridor kantor, Sam hanya tersenyum kecil membalas senyuman dan sapaan para karyawan yang lain. Mereka saling berbisik menggunjing salah satu CEO di Wijaya Property.


Di mata karyawan perempuan di perusahaan property tersebut, menurut mereka CEO yang satu ini lebih berkharismatik. Siapa pun pasti akan langsung bertekuk lutut ketika melihat pria itu tersenyum kecil.


Samuel masih melangkah menapaki sepanjang koridor kantor dengan sangat elegan. Tubuh kokohnya dengan penuh percaya diri ia busungkan tegap.


Sorot mata berlensa coklat yang dihiasi alis tebal bak camar melengkung serta hidung mancung yang bertengger di wajah putih bersih Sam, membuat gadis manapun akan dengan mudahnya menjatuhkan diri dalam pelukan pria itu. Jangan lupakan bibir tebal yang selalu berwarna merah muda, sangat alami. Samuel memang selalu menjaga penampilannya namun ia tidak pernah berfikir untuk berdandan layaknya seperti wanita. Seperti kebanyakan pria-pria metroseksual lainnya di Jakarta. Dengan sengaja mereka menambahkan lipsgloss untuk menambah kesan tampan di wajah mereka. Tidak diragukan lagi, hal itu merupakan sebagian dari trendsetter opa-opa Korea yang telah meng-influencer cara berpakaian, gaya rambut dan polesan wajah para artis, tak ketinggalan juga para pria metroseksual di kota-kota besar.


Samuel dengan tenang masih berjalan menapaki lantai demi lantai perusahaan. Berjalan dengan satu tangan yang ia masukan ke dalam saku celana bahannya. Berniat menemui Elano dan membicarakan soal pekerjaan Maya, juga tentang seorang asisten yang nantinya akan membantu kinerja Maya.


Tiba-tiba saja langkah Samuel terhenti. Ketika ia tanpa sengaja berpapasan dengan sosok perempuan yang dulu pernah mengisi hatinya. Kedua netra Sam membola penuh, kini kedua kakinya terasa berat untuk melangkah.


Surai panjang bergelombang kemerahan ia biarkan tergerai begitu saja. Mata berlensa coklat yang menatap Samuel penuh kerinduan membuatnya terlihat berkilauan.


"Kenapa kamu ada di sini?" Sam menahan suaranya. Wajah pria itu jelas terlihat sangat terkejut. Melihat gadis di hadapannya saat ini. Entah lebih mirip malaikat atau sesuatu yang lain, sesuatu yang akan membawa masalah buatnya.


Gadis berambut kemerahan itu tersenyum sangat mempesona.


"Sam.... kenapa kamu juga ada di sini?" Wajah gadis itu pun terlihat tak kalah terkejutnya. Melihat kembali Samuel, tepat di depan matanya dan membuat hati Freya kembali bergemuruh cepat.


Masa lalu mereka yang menyisakan kenangan pahit di hati Sam, membuat pria itu sedikit mendengus kesal.


"Bukan urusanmu!" ketus Sam.


Rahang kotak itu terlihat mengeras, netra coklat pria itu terlihat menyiratkan kemarahan.


"Kamu apa kabar Sam?" Freya masih memandang dengan binar mata bercahaya. Bibir merah itu mengulum senyuman manisnya.


Freya maju beberapa langkah, bertemu kembali dengan Samuel bukanlah keinginan gadis itu. Sebenarnya ia pun tidak pernah menginginkan hal ini.


Apakah moment ini keajaiban dari Tuhan? pertanyaan itu yang sempat menggelitik pikirannya.


"Stop berbasa-basi kepadaku. Aku masih banyak urusan." Samuel melangkah menjauh dari hadapan Freya.


Dulu, mati-matian ia berusaha melupakan sosok gadis itu, namun kini...


Sosok itu kembali hadir, apa yang dulu pernah mereka lalui bersama, tanpa Samuel pinta kenangan itu seolah bermain kembali dalam ingatan Sam.


"Damned!! sial!!" umpatnya kesal.


___


Freya memandang nanar tubuh Sam yang perlahan menghilang dari pandangan matanya. Apa yang ia lakukan di sini? Ada hubungan apa Sam dengan perusahaan property milik El? dari tadi pertanyaan itu yang memenuhi isi kepala Freya.


Kemarahan Sam membuat luka tersendiri di hati Freya. Gadis itu mendadak berhenti melangkah, berbalik arah mengikuti arah tujuan Samuel tadi.


Membuntuti seseorang bukanlah keahlian Freya, dan sebenarnya juga bukan kegiatan favoritnya. Tapi kali ini beda, orang yang ia buntuti saat ini adalah Samuel Perdana, mantan tunangannya dulu.


Freya samar melihat sosok Sam memasuki ruang kerja Elano. Dengan sigap gadis itu berjalan, kali ini tidak lagi ia mengendap-endap seperti tadi. Freya berdiri tepat di depan pintu ruangan Elano, menempelkan sebagian telinganya pada permukaan pintu itu.


Gadis itu mengabaikan ekspresi heran orang-orang yang berjalan melewatinya. Pandangan aneh ke arahnya pun tak ia pedulikan lagi. Ia hanya membalas dengan lirikan tajam dan dengusan kesal ke arah mereka.


Dirasa tidak terlalu jelas menangkap percakapan dua orang pria di dalam ruangan tersebut, dengan perlahan Freya membuka knop pintu ruang kerja El. Mengintip dan memasang telinganya baik-baik.


____


"Maya tidak bisa masuk kerja beberapa hari ini," ucap Samuel ketus, dengan posisi berkacak pinggang di hadapan Elano.


"Kenapa dia? sakit?"


Pertanyaan El membuat Sam kembali mendengus kesal.


"Bukan urusanmu. Sebenarnya pekerjaan apa saja yang lo berikan padanya hah? mulai saat ini gue akan mencarikan seorang asisten buat Maya." Ucap Sam kembali.


Sorot kekesalan juga terlihat di wajah El, kesombongan Sam telah membuat El membenci pria itu.


"Lo nuduh gue hah? Makanya, sering-sering lo ngantor di sini. Oh apa mentang-mentang lo juga CEO di sini dan bisa seenaknya saja di perusahaan property yang keluarga gue bangun dari nol hah?!" Netra Elano tak kalah menajam, mengepalkan tangan yang saat ini sudah siap melayangkan tinjunya ke wajah Samuel.


Bukan Sam namanya jika ia menanggapi semua ucapan Elano. Lagi-lagi sikap masa bodohnya ia tunjukkan. Tatapan meremehkan Sam membuat emosi El kembali memuncak. "Masalah kerjaan gue bukan urusan lo, lagi pula apa gunanya lo di sini?" ketus Sam.


"Oh ya satu lagi, gue dan Maya akan menikah dalam waktu dekat. Dan lo..." Sam menghentikan sejenak ucapannya.


"Inget, lo jauh-jauh dari calon istri gue." lanjut Samuel lagi.


Menyisakan amarah yang kembali tersulut di iris Elano.


 ___


Freya buru-buru menjauh dari ambang pintu ruang kerja El, begitu Samuel berjalan mendekat ke arah ujung pintu.


Ia bersembunyi di balik dinding kantor yang bersekat. Menyembunyikan dalam-dalam tubuh indahnya agar Samuel tidak melihat kehadirannya di sana.


Freya menampakkan diri kembali begitu sosok Sam mulai menjauh.


Jadi Samuel, yang dimaksudkan Maya sebagai tunangannya? jadi Sam juga CEO di perusahaan ini? Terus Elano.....


Kenapa Sam bilang jangan ganggu tunangannya? apa El masih mencintai Maya?


Banyak pertanyaan yang kini mengusik pikiran Freya.


Tetap saja pertemuannya kembali dengan Sam lah yang kini menguasai hati Freya.


to be continue...