
Beberapa hari kedepan adalah neraka bagi Sam. Bila selama ini Freya menerornya adalah kejadian terburuk, Sam harus mengakui bahwa hal itu salah. Tidak bertemu atau berbicara dengan Maya adalah neraka yang sesungguhnya. Sementara Freya terus saja berusaha menemui atau menghubunginya.
Sampai-sampai pria itu terlihat kesal akan sikap Freya.
Apalagi saat di kantor Wijaya Property, sikap Freya bagaikan ular betina yang tidak tahu malu. Membuat Samuel enggan untuk berada di perusahaan property tersebut.
Dan itu artinya Sam juga tidak bisa menemui Maya untuk beberapa hari setelah kejadian itu.
Sementara Elano menempel seperti benalu dan pergi ke manapun Maya pergi. Menjemput dan mengantar Maya pulang, bahkan saat jam makan siang pun Samuel pernah memergoki makhluk itu tak lepas dari gadisnya.
Panggilan ataupun pesannya selalu diabaikan Maya, membuat Sam merasakan keputusasaan yang memuncak. Hanya Maya, gadis satu-satunya yang membuatnya tak berdaya.
....
"Fe. Aku mau bicara sama kamu!" Elano menutup selulernya, duduk berputar di atas kursi kerjanya.
Dengan menyadarkan punggung serta memainkan pena tinta miliknya di sela jemari Elano.
Tak lama kemudian sosok cantik Freya membuka pintu ruangan El dan menyembulkan sebagian kepalanya di ujung pintu.
"Kamu panggil aku? ada apa?" tanya Freya, mendekat ke arah Elano dan berdiri tepat di samping pria itu.
"Kamu kemana aja? udah bosen main ke apartemenku lagi, hhmm?" pertanyaan Elano sepintas dijawab senyuman kecil Freya.
Sejak pertemuan kembali dengan Sam, gadis itu memang terlihat jarang menemui Elano lagi. Membuat fokus Freya kini beralih ke sosok cinta lamanya dulu.
"Maaf, El. Aku sibuk." Freya mencoba menata wajahnya kembali agar terlihat biasa saja seperti tidak ada yang ia sembunyikan di hadapan Elano.
Elano berdecih dan menarik senyuman sinisnya.
"Sibuk mengejar Samuel, maksud kamu?"
Pertanyaan Elano membuat ekspresi wajah Freya berubah, namun dengan cepat gadis itu kembali bersikap biasa di hadapan Elano.
"Sam teman lamaku, kebetulan kita bertemu kembali di kantor ini." Freya mendekati El, menempatkan jemari lentiknya ke pundak pria itu.
"Teman lama atau mantan kekasih kamu, hhmm?" kembali satu pertanyaan dari El membuat wajah Freya tercengang.
"Lagi pula siapa yang nyuruh kamu jadi sekretaris Sam, hah?!"
"Fe, kenapa kamu gak terus terang sama aku soal kalian."
Freya tiba-tiba mendekat ke arah Elano, memandang lekat manik mata pria itu. "Iya maaf aku salah, sejak bertemu kembali dengan Sam, aku merindukan dia."
"Seperti kamu yang masih selalu merindukan Maya."
Kali ini Freya berhasil membuat El bungkam.
Namun tak butuh waktu lama pria itu terdiam, "Baguslah kamu sudah tau yang sebenarnya, dan aku tidak perlu bersusah payah menjelaskan ke kamu," lanjut Elano.
Freya kembali mendaratkan jemari lentik dengan kuku-kuku ber-kuteks mengkilat itu di pundak Elano. Membisikkan sesuatu ke telinga El.
"Bagaimana jika kita bekerjasama untuk memisahkan mereka?"
"Aku masih mencintai Sam dan kamu juga masih mencintai Maya, bukan?" bisik Freya.
Elano terdiam, memandang ke arah Freya yang terlihat menarik seringai kecil di sudut bibir merahnya.
Beberapa detik kemudian seringai menakutkan itu juga terlihat di kedua sudut bibir Elano. Entah rencana jahat apalagi yang ada di benak pria itu.
___
Sore itu, Sam menunggu di lobi kantor Wijaya Property dan sesuai dugaan Elano keluar dari lift bersama dengan Maya. Melihat senyum Maya kembali terkembang saat berbicara dengan El membuat Samuel semakin merana. Apakah Maya sudah benar-benar berubah dan melupakannya? sementara pernikahan mereka hanya tinggal menghitung hari. Sam menguatkan hati dan melangkah ke arah mereka.
"Lo lagi!" geram El, mulai mengangkat tinjunya ke arah Sam. Maya memegang tangan El membuat pria itu kembali tenang.
Sam melihat bahasa tubuh mereka dan membuat emosinya semakin bercampur aduk.
Dilihatnya wajah Maya yang datar membuat Sam bingung harus mulai dari mana. Terlalu banyak cerita yang harus ia bagi dengan Maya. Tentang Freya, tentang kisahnya bersama gadis itu dan juga soal adegan ciuman kemarin.
"Tolong minggir." Suara Maya membuat Sam tersadar, mengingatkan akan tujuannya di sana.
"Tidak," balas Sam teguh.
"Kita harus bicara, May. Izinkan aku menjelaskan semuanya, apapun yang kamu lihat dan dengar. Maya, please...."
Setelah beberapa detik Maya terdiam, menahan air matanya yang berlomba ingin menerobos keluar dari kedua sudut matanya.
Elano meraih punggung Maya dan mengusapnya lembut. "Abaikan dia," lirih El. Membuat mata Sam membola penuh mendengar samar perkataan pria itu.
"Kita bicara di luar," ucap Maya akhirnya. Menyisakan Elano dengan ekspresi kesalnya.
"Tapi, May..." Elano mencoba meyakinkan Maya jika apa yang Maya ucapkan tadi adalah kesalahan.
"Maaf, El. Aku harus bicara empat mata dengan tuan Samuel Perdana."
"Baiklah, kamu hati-hati. Dan aku menunggumu di dalam mobilku." Elano akhirnya menerima keputusan Maya walau dalam hati pria itu masih tidak terima jika Maya bersedia bicara berdua dengan Samuel.
"Kamu duluan aja El, aku bisa naik taxi."
"Tapi May..." Elano berusaha menyela perkataan Maya, Sam hanya berdecih melihat pesaingnya itu. Sungguh penjilat, pikir Sam.
"Lo gak denger apa yang Maya bilang tadi hah?! anyway... Gue bisa mengantar Maya pulang." Samuel menyela percakapan mereka dengan ekspresi arogannya.
"Lo...!!"
Hampir saja Elano mendaratkan tinjunya ke muka Samuel, dengan cepat Maya meraih tangan El dan menggeleng pelan.
Dia senang melihat sikap keras kepala yang Maya tunjukkan ke Elano.
"Sekarang kita bicara di luar tuan Samuel."
Sam mengangguk nurut, mengekori langkah Maya. Di hadapan Maya, pria itu terlihat seperti singa kehilangan taringnya. Tidak berani berkutik sedikitpun.
"Jadi apa yang akan anda bicarakan?" Maya berbicara dengan ekspresi datar dan kedua lengan yang ia lipat di atas pinggang.
"Tidak di sini, May."
"Tuan Samuel, anda benar-benar membuang waktu saya. Sekarang katakan apa yang ingin anda katakan. Saya tidak punya banyak waktu untuk ini." Maya mendengus kesal. Memandang ke arah Sam dengan perasaan bercampur aduk. Maya takut jika berlama-lama bersama Samuel akan membuat hatinya kembali rapuh.
"Semua yang kamu lihat itu salah paham!" seru Sam kehilangan ketenangannya.
"Dia yang menciumku tiba-tiba. Jika kamu lihat dengan mata kepalamu sendiri, kamu akan tau apa yang sebenarnya terjadi, May! Bahkan setelah itu aku mendorongnya menjauh. Tidakkah kamu melihat itu?" Sam terdiam sejenak. Ada luka di mata coklatnya.
"Atau sebegitu brengseknya aku di matamu, May?"
Maya melihat Sam dengan wajah terngangga. Dia tidak menyangka Sam akan menjawabnya dengan kata-kata yang terdengar putus asa. Mulutnya membuka ingin berkata sesuatu, namun egonya kembali mengalahkannya.
"Maafkan aku, May. Aku salah tidak memberitahu bahwa Freya kembali," lanjut Samuel.
"Tapi kenapa sikap kamu kemarin begitu dingin sama aku, Sam? seolah kamu telah benar-benar berubah."
"Aku tidak ada maksud ingin menyakiti kamu, May. Waktu itu aku bingung dengan kehadiran Freya yang tiba-tiba."
"Aku takut kamu marah, jika kamu tau kalau aku bertemu dengan Freya." Samuel berusaha meraih punggung tangan Maya, namun dengan cepat Maya mengelak.
Sebenarnya gadis itu begitu merindukan Samuel. Selama beberapa hari belakangan, senyum Sam yang selalu membayangi tidurnya.
"Dear...."
Panggilan Sam membuat Maya terbangun dari lamunannya.
"Apa dengan kamu merahasiakan semuanya dariku aku akan baik-baik saja Sam? Kamu salah Samuel Perdana!" erang Maya.
Air mata kini mengalir deras membasahi kedua pipi Maya. Membuat beberapa orang yang lewat di depan mereka spontan menoleh ke arah keduanya. Memandang heran dan saling berbisik menggunjing.
"Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku, Sam?" Satu pertanyaan lagi dari Maya, membuat Sam membuang napas pelan.
"Ketika aku membatalkan janji kita, aku..." Sam tidak meneruskan ucapannya.
"Kamu apa?" desak Maya.
"Aku bertemu dengan dia di rumahku."
Maya membuang muka, mungkin mencoba menyembunyikan wajah lusuhnya akibat air mata yang terus mengalir jatuh, menyisakan kedua kelopak mata Maya yang semakin membengkak.
"Tidak terjadi apa-apa, May. Aku bersumpah gak ada apa-apa antara kami."
"Kami hanya bicara." lanjut Samuel.
"Aku mencintai kamu, hanya kamu. Ku mohon percaya sama aku sayang."
Sam berusaha mendekat, mencoba memangkas jarak mereka. Ia raih punggung Maya, ingin rasanya Sam merengkuh tubuh mungil itu dan membawanya ke dalam pelukan dada bidangnya.
Maya tidak menjawab, namun tidak bisa menahan diri untuk memandang wajah Sam. Harus diakui dia begitu merindukan Samuel.
Melihat wajah sendu pria yang biasanya arogan itu membuat perasaan Maya kembali goyah. Rasa cinta dan rindu menyeruak keluar tanpa terkendali. Dan mengingat kebersamaan mereka serta perlakuan Sam yang manis hanya untuknya kembali berputar dalam ingatan Maya.
Haruskah dia memaafkan Samuel begitu saja?
Maya menutup mata, ekspresi Sam yang terluka menghujam jantungnya dengan rasa pedih. Lagipula, Maya mencoba kembali memutar ingatannya, kejadian yang di lobi kemarin sesuai dengan pembelaan Samuel.
Maya melihat gadis berambut kemerahan itu yang mencondongkan tubuhnya dan berjinjit kecil untuk mengecup bibir Samuel.
Sam hanya berdiri tegak dan menjaga jarak.
Tapi kebohongan Sam soal hadir kembalinya Freya serta kedatangan Freya di mansion Sam kembali mengusik hati Maya.
"Sayang, aku mohon maafkan aku. Okey aku mengakui jika aku bersalah. Please.... don't make me crazy cause thinking about you." Samuel meraih bahu Maya, menaruh kedua lengannya menggantung di bahu kecil itu. Memandang sekali lagi wajah cantik yang selalu ia rindukan tiap detik.
"okay, I forgive you. Tapi beri aku waktu untuk berfikir tentang kita."
Samuel tidak mengerti dengan maksud ucapan Maya. Beri aku waktu untuk berfikir tentang kita?
Oh c'mon... apa maksud Maya? Apakah gadis itu lupa jika pernikahan mereka hanya tinggal menghitung hari saja.
Samuel memandang Maya dengan ekspresi kalut. Dia bahagia Maya sekali lagi memaafkan kesalahannya tapi apa maksudnya dengan memberi dia waktu? tentang hubungan mereka? Oh Sam sungguh berharap hubungan mereka akan baik-baik saja.
"Aku mau pulang, ku mohon beri aku ruang," lirih Maya menyadarkan Sam jika posisi mereka masih saling berhadapan dengan lengan Samuel yang masih menggantung di kedua bahu Maya.
"Aku antar kamu pulang," balas Samuel.
Sam menarik semua sudut bibirnya ketika tidak ada bantahan apapun dari Maya.
Mereka kembali berjalan beriringan, namun dengan suasana hati beda, tidak seperti biasanya. Mereka masih saling canggung.
Tak menjadi soal, batin Sam. Setidaknya Maya kini tidak menghindari dia lagi.
Sekali lagi, Sam tersenyum bahagia, berjalan di sisi Maya dan membukakan pintu mobil untuk gadisnya.
to be continue....