MySam

MySam
Lo Harus Tanggung Jawab



"Lo tau jam berapa ini hah?!"


"Jam satu siang Pak."


"Jam satu lo bilang?" Cecar Sam sambil melirik jam bundar di dinding kantor.


"Lebih lima menit." Dengus Maya.


"Kalo mau magang disini harus disiplin dan on time!" Ketus Sam kali ini.


"Iya maaf Bapak Samuel yang terhormat, lagian telat lima menit gak akan bikin bapak bangkrut." Kilah Maya lagi.


Sam kini sungguh benar-benar naik pitam melihat kelakuan Maya sang asisten magang , entah kenapa gadis satu ini sungguh sangat susah diatur.


"Lo lihat jadwal gue hari ini?"


Maya mengernyit sebentar, gadis itu lalu kembali membuka schedul harian sang bos.


Sedetik kemudian Maya cengar cengir ke arah Sam.


"Heee__ maaf Pak, saya lupa. Bapak hari ini ada meeting dengan klien minuman energi terbesar di Asia." Ucap Maya dengan ringisan bersalah nya.


"Terus udah lo buat jadwal nya? Persiapan dokumen nya juga?!" Hardik Sam.


Maya menggeleng pelan membuat Sam kembali mendengus kesal.


"Saya buat sekarang ya pak, masih ada waktu kok."


"Pokoknya gue gak mau klien ini lari ke perusahaan saingan gue." Geram Sam.


Cowo itu sedetik kemudian berlalu keluar dari ruangan, membuat Maya kembali bersungut sebentar sebelum dia kembali duduk di balik meja kerja dan mulai membuat semua dokumen perjanjian dan garis besar program promosi produk.


Sam berjalan menuju cafe yang terletak dilantai enam, perlahan dia menekan tombol lift.


Ting


Pintu lift terbuka, dengan langkah lemah Sam berjalan memasuki lift.


Tangan cowo itu dengan erat mendekap perut sixpack nya. Kini asam lambung nya sangat dirasakan oleh Sam, emosi nya barusan telah membuat lambungnya terasa nyeri.


Sam meringis kecil menahan nyeri di perut dan ulu hati.


Sam perlahan meminum teh hangat sebelum menyantap steak daging pesanan CEO tersebut. Harusnya tadi dia mengindahkan pesan mamanya untuk tidak telat makan siang.


Mulut Sam masih terlihat sibuk mengunyah beberapa potong daging yang dia suapkan.


"Sam__"


Samuel menoleh sejenak ke arah suara tersebut.


"Hai Sam, gue senang ketemu lo disini." Decak Martha semangat, iris gadis itu bersinar cerah melihat Sam.


"Ngapain lo disini!" Dengus Samuel yang masih saja sibuk memasukkan potongan daging ke mulutnya.


"Lo masih aja galak sejak kejadian semalam?" Sungut gadis itu.


Lagi-lagi Sam mendengus tanpa melihat paras gadis cantik bermata coklat di hadapannya.


"Lo keliatan pucat Sam, lo sakit?"


"Bukan urusan lo."


"Akan jadi urusan gue ntar kalo kita udah nikah." Kembali Martha tersenyum seakan tidak peduli dengan sikap masa bodoh Sam.


"Sam__ apa lo bener-bener gak ingat kejadian semalam?" Martha bertanya lirih, sejenak Sam menghentikan suapan kemulutnya kemudian kembali mendengus kecil. "Gue gak peduli" Cibir Sam.


"Padahal lo sungguh liar malam itu. Oh_ yess__ C'mon baby__ aasshh__" Desah Martha. Gadis itu menirukan gaya bicara Sam, tentu saja hanya gaya bicara yang dibuat-buat oleh Martha.


Spontan semua pengunjung cafe saat itu mengalihkan pandangan mereka kearah Sam dan Martha.


"Sstt__ shut up your mouth!!" Bentak Sam, bukannya membuat gadis itu bungkam namun membuat tertawanya semakin keras.


"Hahaha santai aja Sam."


"Dasar freak!!" Decih Sam lagi.


Martha sejenak mengerucutkan bibirnya beberapa senti.


"Gak usah sebut nama itu di depan gue!!"


Ketus Samuel lagi dan kali ini berhasil membuat Martha bungkam.


"Sam, gue cinta sama lo sejak kecil. Kenapa sih lo gak pernah bisa cinta sama gue? At least lo suka kek sama gue."


"Kita sahabatan udah dari kecil Tha, gue anggap lo seperti sodara gue dan gak mungkin dong gue cinta sama sodara gue sendiri." Jawab Sam ringan, cowo itu masih saja memasukkan beberapa potongan daging panggang ke dalam mulut nya.


"Gue gak mau tau, lo harus tanggung jawab." Sam terdiam sebentar.


"Baby__ you've enjoyed my body and than you have to be responsible it." Bisik Martha lagi, senyuman smirk tertarik dari sudut bibir tipis sialan itu.


Gadis itu kemudian berlalu dari hadapan Sam, seolah tidak memperdulikan ekspresi Sam yang sedang sangat kesal waktu itu.


Iris mata Samuel membulat tajam seakan ada kilatan yang ingin menyambar sesuatu.


Dia banting pisau dan garpu sehingga menimbulkan suara dentingan yang cukup keras dari piring bundar nya.


"Damned!!!" Umpat Sam, kini steak favorit nya rasanya sudah tidak terlalu meningkatkan selera Sam.


***


"Pak berkas dan materi buat meeting Bapak nanti sudah saya siapkan dan sudah ada di meja kerja Bapak."


Ucap Maya begitu melihat Sam memasuki ruang kerja. Tanpa menghiraukan ucapan Maya, CEO itu duduk di belakang meja kerja dengan wajah yang sedikit ditekuk.


Sam masih memikirkan ucapan Martha tadi.


Benarkah gue udah ML sama dia?, bisik hati Sam.


"Pak__!!"


Kali ini Samuel sedikit tersentak kaget mendengar suara Maya sang asisten baru tersebut.


"Iya gue denger."


"Bapak nanti meeting sama klien jam setengah tiga di Cafe lantai enam aja ya Pak biar cepat jadi Anda juga gak harus keluar kantor." Imbuh Maya lagi.


Sam mengangguk pelan, kali ini tidak ada jawaban ketus dari cowo itu dan membuat Maya mengernyit heran.


Maya meninggalkan Sam dan kembali duduk di meja seberang meja luas Sam.


Sungguh aneh bagi Maya melihat bos nya yang biasa bersikap sok bossy galak, sombong dan arogan kini tiba-tiba jadi lebih pendiam.


Kembali gadis itu mengangkat kedua bahu kecilnya, "Bukan urusan gue." lirih Maya dalam hati.


***


Beberapa jam kemudian sebelum meeting.


"Asisten baru__ lo ikut meeting sama gue."


Titah Sam tiba-tiba, membuat Maya menghentikan sejenak pekerjaan menumpuk nya.


"Tapi Pak saya masih banyak kerjaan."


"Lo berani bantah gue hah?!" Hardik Sam membuat Maya menggeleng pelan.


"Bawa semua berkas dan file tadi, lo duluan pergi ke lantai enam ntar gue nyusul." Titah Sam seenaknya.


Gadis itu hanya mengangguk dengan bola mata melirik kesal. 'Padahal tadi udah bagus diem anteng gak banyak protes ehh sekarang balik lagi ke sifat awal.' Dengus Maya pelan.


Gadis itu mengambil semua file dan beberapa dokumen yang tergeletak di atas meja kerja Sam, tanpa sengaja Maya melihat sebuah foto yang sudah terbagi menjadi dua bagian.


Foto seorang gadis, setidak itu tertera dalam bagian foto yang Maya lihat barusan.


Gadis yang sangat cantik dengan surai panjang bergelombang dan berwarna sedikt kemerahan. Dalam foto tersebut nampak sang gadis sedang dipeluk oleh seseorang. Terlihat jelas tangan seorang cowo yang melingkar di pinggang kecil gadis itu. Foto itu hanya menampakkan sebuah tangan yang melingkar di pinggang gadis tersebut.


'Mungkin ini pacar bos rese itu." Bisik hati Maya.


'Ish__ buka urusan gue.' Batin Maya lagi.


Maya kembali mengambil beberapa dokumen dari meja Sam dan bersiap menuju ke cafe di lantai enam.


>>> To be continue