
"Bawa yang paling penting aja sayang. Nanti sisanya kita beli setelah sampai di Paris." Sam berucap, kini ia duduk di tepi ranjang, mendekati Maya yang masih sibuk dengan acara packing pakaian mereka berdua.
"Kamu cuma bawa tiga buah baju aja, Sam?" dahi Maya mengernyit sebentar saat mencoba memastikan langsung pada Sam.
"Iya, biar gak ribet bawanya. Kita bisa belanja di sana nanti." Sam menjawab sambil merebahkan tubuhnya di samping istrinya yang masih saja sibuk memasukkan beberapa pakaian mereka berdua ke dalam kopor.
"Sini sebentar deh, honey." Sam meraih lengan Maya, membawa tubuh gadis itu jatuh ke pelukannya.
"Samuel....." pekik Maya ketika tubuhnya dengan cepat berpindah tempat ke dalam pelukan Samuel.
Kini keduanya saling berbaring dengan berpeluk, kedua manik mata berbeda warna itu saling menatap lembut. "Aku sangat bahagia bersama kamu, sayang." Sam membisikkan, mencium mesra kedua pipi Maya.
Keduanya masih saling berpeluk, Samuel membelai anak rambut Maya yang terlihat sedikit berantakan akibat ulahnya barusan.
"Sam......"
"Hhhmmm.....?"
Maya seperti hendak mengutarakan sesuatu namun kembali ia merasa ragu-ragu.
"Kenapa, sayang?"
"Eemm..... ka-mu...." lagi-lagi Maya menjeda kalimatnya, jemari lentiknya kini menari-nari di atas perut sixpack Samuel. Sambil menatap Sam sayu, Maya masih saja bermain dengan jemarinya di atas perut rata yang membentuk seluruh otot-otot kekar.
"Kenapa sih, sayang? Kamu pengen apa hhmm? bilang sama aku." Sam kini membelai lembut rambut hitam Maya, menyelipkan anak rambut ke belakang telinga istrinya.
"Eum.... Ka-mu... eemm...." Maya tidak bisa berucap, pipinya sudah terlalu memerah.
"Apa sih, honey? Oh aku tau, kamu pengen ya? hehehe!!" kekeh Sam, mencubit gemas hidung mancung istrinya.
"Ihh.... Sam apaan sih...." Maya cemberut, kini kedua pipinya benar-benar semerah tomat.
"Terus apa?" tanya Sam yang masih saja tertawa geli.
"Eum.... in-i... soal.... baby..." ucap Maya akhirnya.
"Baby? Kenapa? Kamu pengen buat baby, sayang? ayo....suami kamu selalu siap, hehehe..." Sam kembali tersenyum gemas. Benarkah istrinya saat ini sedang horny? batin Sam. Kalaupun iya, Sam justru senang Maya tidak malu-malu meminta duluan.
"Ihh.... Samuel... bukan gitu...."
"Terus....?"
"Kamu pengen kita cepet punya baby atau menunda hingga kita siap?" ucap Maya hati-hati. Sebenarnya Maya sangat siap dengan kehadiran malaikat kecil di antara mereka, namun ia takut jika Samuel lah yang belum menginginkan seorang baby mungil dalam pernikahan mereka.
"Kenapa kamu ngomong seperti itu, sayang?" Ekspresi wajah Sam sedikit menegang kini, memandang istrinya penuh pertanyaan.
"Apa kamu ingin menunda dulu, honey?" lirih Sam lagi.
Apa Maya belum siap dengan kehadiran buah hati dalam pernikahan ini? Bukankah ia yang malah terlihat sangat menyukai anak kecil? batin Samuel bingung.
"A-k--u ...."
"Kamu belum siap, sayang?" Samuel menjeda kalimat Maya, mengelus lembut pipi istrinya.
Sam tidak ingin egois, ia tidak akan memaksa seandainya Maya masih ingin menunda memiliki seorang bayi mungil buah cinta mereka.
Dengan cepat Maya menggeleng. "Bukan gitu maksudku, Sam. Aku justru takutnya kamu yang ingin menunda, dan jika kamu belum pengen punya baby...."
"Honey....." kembali Sam memotong kalimat istrinya, menempelkan telunjuknya di ujung bibir Maya.
"Aku gak pernah ada niatan menunda kehadiran buah cinta kita, kamu tau itu hhmm....?"
"Sam....."
Netra Maya berkaca-kaca, kembali mengeratkan pelukan mereka.
"Kamu mau kita bikin baby sekarang, sweetheart?" bisik Sam nakal. Maya kembali tersipu hingga sebuah anggukan kecil menjadi jawabannya.
Sorot mata itu mulai sayu, begitu menggoda Sam untuk semakin mendekap dan membelai lembut tubuh Maya.
"Kamu siap, honey....?" tanya Sam sekali lagi dan lagi-lagi anggukan kepala Maya yang menjadi jawaban polos gadis itu.
Sam tersenyum, lebih mendekatkan wajahnya. Kini keduanya sama-sama merasakan hembusan napas hangat mereka masing-masing, tak lama kemudian keduanya saling menyatukan bibir dan tubuh mereka, tanpa ada jarak.
Cumbuan Sam selalu membuat Maya serasa terbang ke awan, Sam mulai bangkit dari tidurnya. Melepas Tshirt hitam polosnya dan melempar asal ke lantai kamar. Yang kemudian diikuti dengan menanggalkan celana jeans pendek serta CD yang membungkus keperkasaan nya.
Kini tubuh kekarnya benar-benar polos, yang memperlihatkan jelas otot-otot perut sixpack pria itu. Ia mendekati Maya, membopong tubuh Maya dan memposisikan tubuh indah itu lebih nyaman lagi di atas ranjang berukuran kingsize tersebut.
Sam membelai terlebih dahulu, memberikan foreplay dengan kecupan-kecupan kecil di semua sudut tubuh Maya.
Hingga Sam mulai menanggalkan satu persatu pakaian yang istrinya kenakan, membuka perlahan kancing short dress warna lilac milik Maya hingga kini gadis itu hanya terlihat mengenakan bra dan cd dengan warna senada.
Sentuhan lembut Sam masih menyusuri pundak Maya hingga semakin turun, tangan kekar namun lembut milik Samuel terus melakukan pergerakan menguasai tubuh setengah polos Maya. Kali ini Sam mendaratkan ciuman mesra sembari tangannya terus bergerak, melepas pengait bra di balik punggung Maya hingga membuat hickey di sana.
Kepala Samuel kini tenggelam dalam dada indah milik Maya, memilin lembut dua bulatan kecil di sana, membuat Maya menggeliat, mengeluarkan leguhan demi leguhan dari bibirnya.
"Aahh... eeuum.... Sam...." desah Maya.
Mendengar istrinya menyebut namanya, Sam semakin intens melakukan pergerakan. Bibirnya semakin menyusur ke seluruh tubuh Maya tanpa terkecuali, kali ini Sam melucuti cd yang membungkus area V Maya, memasukkan jemari tengah nya menerobos ke inti tubuh istrinya. Kembali membuat Maya men-desah menikmati seluruh cumbuan Samuel. "Sam..... euumm...."
"Kita bikin Samuel junior, honey? atau.... Maya junior, hhmm....?" bisik Sam lembut.
Maya mengangguk sayu dengan tatapan mata yang begitu mendamba kelembutan dari suaminya. Ia semakin mengeratkan tubuh Sam yang mendekap erat di atasnya.
....
"Kamu tuh ya bisa aja gombal nya," cubit Sam gemas.
"Aduh.... sakit, sayang." Bibir Maya kini mengerucut lucu.
Sam terkekeh, tak berapa lama meraih pundak Maya dan mendekapnya erat.
"Uhhh.... sorry, honey...." elus Sam di puncak kepala Maya, membuat istrinya sedikit mendongak memandang Samuel.
"Kamu jangan lupa bawa hoodie, sayang. Karena saat ini di Paris sedang musim dingin." Sam mengingatkan.
"Heemm... aku udah bawa kok, ini..." tunjuk Maya pada sebuah sweater hangat berwarna merah maroon di salah satu tangannya.
"Aku pakai nanti saja setelah di pesawat," ucap Maya lagi.
Sam mengangguk, "Kita berangkat sekarang?" Sam memastikan, setelah selesai memeriksa kembali semua bawaan mereka. Takut nantinya ada yang tertinggal, karena Sam mengerti betul sifat ceroboh Maya.
"Aku siap, suami." Maya tersenyum kecil sambil menenteng kopor mereka.
"Kamu sudah pamit sama mama Siska?" tanya Sam.
"Sudah, sayang. Semalam aku menelepon mama. Oh ya mama titip salam buat kamu."
Sam mengangguk dan tersenyum, "Waalaikumsalam....."
"Kita berangkat sekarang, pak Andi sudah menunggu di luar." Sam melanjutkan, mengambil alih kopor dari tangan Maya dan menggandeng lengan Maya erat.
Si bibik dan juga mbak Pur mengiringi kepergian mereka, menunggu di bawah tangga. Mengambil alih kopor dari tangan majikannya begitu Sam dan Maya menuruni anak tangga melingkar di tengah ruangan.
"Bibik hati-hati di rumah ya." titah Samuel. "Iya, den. Den Sam dan non Maya juga hati-hati, semoga selamat sampai tujuan." Bibik membalas ucapan majikannya itu.
"Makasih bik," jawab Maya lembut.
"Oh ya mbak Pur tolong di siram terus tanaman anggrek nya May, ya." Maya melanjutkan yang tentu saja dibalas anggukan kepala patuh dari mbak Pur. "Siap non."
"Kita berangkat dulu, bik, mbak Pur. Jaga rumah baik-baik." Pamit Sam akhirnya.
Seiring dengan anggukan kepala kedua maid tersebut, Sam dan juga Maya berjalan dan memasuki sedan hitam dengan seorang pria tegap yang menunggu di tepi pintu penumpang. Pak Andi sang sopir pribadi Sam langsung saja membukakan salah satu pintu penumpang untuk Samuel, lalu berganti ke arah sisi yang lain dimana Maya hendak memasuki pintu sedan tersebut.
Lambaian tangan bibik dan mbak Pur mengiringi kepergian sedan hitam mengkilat milik Sam, berjalan dan perlahan mulai menjauh dari halaman luas rumah besar itu.
🛫🛫🛫
Ini memang bukan pertama kalinya perjalanan Samuel ke Paris, namun yang menjadikannya istimewa adalah kali ini ia pergi bersama dengan gadis yang sangat ia cintai. Sebaliknya ini tentu saja perjalanan pertama Maya ke luar negeri. Gadis itu terlihat sangat antusias dan menikmati perjalanan mereka. Tak jarang Maya memperlihatkan sikap sedikit norak ketika berada di atas pesawat Airbus A330.
"Sam.... lihat awan putih itu.... bagus ya.... seperti permen gula yang biasa aku beli waktu kecil dulu...." pekik Maya semangat. Tak henti-hentinya ia memandang luar jendela pesawat. Ekspresi terkagum-kagum nampak terlihat jelas dari wajah polos Maya.
Sam hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah laku istrinya, semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh gadis yang memilih tempat duduk dekat dengan jendela.
"Kamu gak lelah, sayang?"
Maya menggeleng pelan, "Aku gak lelah kok, Sam. Aku seneng banget ... ini perjalanan pertama ku naik pesawat, hehehe..." Maya tersenyum ke arah Sam.
"Aku norak ya?" ucap Maya lagi, kali ini ekspresi gadis itu menatap lemah Samuel.
"Gak kok, honey." Sam mengelus lembut pipi Maya.
"Kamu kalau capek tidur aja, karena perjalanan kita jauh." Kembali Sam mengelus puncak kepala Maya.
"Emang berapa jam kita sampai Paris?"
"Dua belas jam."
Maya membolakan kedua matanya mendengar jawaban Samuel.
"Apa....?!!" pekik Maya, membuat perhatian dari beberapa penumpang lainnya fokus melihat ke arahnya.
"Jadi kita naik pesawat selama dua belas jam?" tanya Maya yang kali ini sedikit berbisik.
Sam mengangguk dan tersenyum melihat tingkah anak kecil Maya. "Iya, sayang. Makanya kamu kalau capek tidur aja."
"Aku masih ingin melihat pemandangan angkasa dari dalam pesawat." Maya mengerucut manja.
"Hhmm... tunggu jika saat nya sunset tiba. Kamu pasti akan sangat suka."
"Benarkah? Kita bisa melihat sunset dari atas sini?" pekik Maya lagi, dan lagi-lagi suaranya menarik perhatian beberapa penumpang lainnya.
Sam tertawa kecil, "Iya, sayang."
Mengecup lembut ujung bibir Maya, seolah ingin membuat gadis itu tidak lagi menyita perhatian penumpang lainnya kembali tertuju ke arah mereka.
"Makasih, suami...." Maya memandang iris kecoklatan Sam, meraih jemari tangan Samuel dan mengelusnya pelan.
"Buat apa?"
"Telah memberikan aku kebahagiaan bersama kamu," lirih Maya.
"With my pleasure, honey...." Sam menjawab lembut dengan saling menempelkan kedua kening masing-masing.
Sementara itu pesawat berjenis Airbus A330 masih melaju dengan tenang di atas awan hingga mendarat ke kota tujuan.
Paris.....
to be continue....