
Sesuai anjuran Bayu, sepulang kerja Sam membawa Maya ke rumah sakit tempat dimana Harris praktek. Tak bisa dipungkiri dugaan yang Bayu utarakan pagi tadi terus saja terngiang-ngiang di kepala Samuel. Menerka-nerka apakah Maya benaran hamil atau tidak.
Di ruang tunggu, Samuel duduk dengan perasaan tak karuan. Tegang serta gelisah menunggu hasil pemeriksaan. Sebenarnya Sam telah menemani Maya masuk saat pemeriksaan, hingga setelah selesai diperiksa Maya menyuruh Sam untuk keluar terlebih dahulu dengan alasan ia ingin bicara empat mata dengan dokter Harris.
Samuel men-desah panjang sembari melirik ke arah pintu ruangan yang masih tertutup rapat. Pikirannya dipenuhi berbagai macam pertanyaan, kenapa lama sekali? Apakah hasil tesnya? Apa semua baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi sehingga Maya tega membiarkannya menunggu di luar dengan perasaan yang berkecamuk dan bercampur aduk seperti ini?
Lagi-lagi Samuel menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Sesekali menyeka kasar rambut ikalnya yang kali ini tanpa pomade. Kekhawatiran nampak jelas bersarang di wajah tampannya.
Sam terus melontarkan pertanyaan pada dirinya sendiri hingga suara decit pintu terdengar. Sam sontak berdiri dan berjalan menuju Maya yang baru saja keluar dari ruangan bersama dokter Harris.
"Bagaimana?" tanya Sam penasaran.
Sementara hanya ada senyuman tipis yang setengah mengembang dari sudut bibir Maya.
Entah apa arti dari senyuman itu, bagi Sam.... otaknya saat ini sangat buntu meski hanya untuk menerka-nerka perihal apa yang terjadi selama pemeriksaan barusan.
Setelah kesekian detik, merasa ada yang tidak beres, Samuel kembali bertanya pada istrinya dan dokter Harris.
"Ada masalah. sayang?"
"Dok, bagaimana keadaan Maya?"
Tanya Samuel penuh dengan nada khawatir.
Harris masih terdiam sejenak, dan sebentar membenarkan posisi kacamata nya. Sementara Maya terlihat hanya menggeleng pelan dengan raut wajah yang sangat ia pahami. Sedangkan bahu kecilnya meluruh lemas seraya menunduk menatap lantai rumah sakit.
Samuel tertegun sejenak, raut kekecewaan tergambar jelas di wajah cantik Maya. Satu hal yang Samuel pahami, bahwa Maya tidak hamil, dan itu yang membuat gadisnya bersedih.
"It's okay, baby...." Sam menangkup wajah Maya seraya berbisik lembut.
"Mungkin memang belum rezeki kita," ucap Samuel lagi sembari mengelus pipi chubby Maya.
"Sayang--- hey jangan menangis, okey? Aku akan selalu ada buat kamu," ucap Samuel lagi. Melihat Maya menitikkan air matanya membuat Samuel dengan begitu saja memeluk erat tubuh istrinya, mendaratkan beberapa ciuman di kening dan puncak kepala gadis itu untuk memberikan ketenangan.
Mata Samuel pun ikut memerah menahan tangis. Kesedihan yang ia rasakan karena Tuhan belum juga memberikan malaikat kecil di tengah pernikahan mereka. Namun bukan karena hal itu yang mendasari kepedihan Samuel saat ini, hati Samuel kembali tercabik melihat buliran air mata yang kembali mengalir dari kedua netra Maya. Melihat gadis yang ia cintai menangis seperti saat ini justru membuat hati Samuel serasa hancur.
"It's okay, dear....." ujar Samuel seraya mengusap lembut derai air mata Maya.
Maya menarik diri dari pelukan Samuel dan mendongak menatap sayu wajah Sam. "Sam...."
"Ya, sayang?"
"Aku mau pulang," ujar Maya yang kemudian memutar badannya dan berjalan lebih dulu meninggalkan Samuel yang masih menatap khawatir punggung kecil Maya.
"Kalian yang sabar, Sam." Harris menepuk pelan bahu Samuel, mencoba memberikan semangat untuk sahabatnya.
"Percayalah dengan keajaiban Tuhan," ujar Harris kembali menambahkan.
"Iya, Dok. Thanks .... Gue balik dulu," jawab Samuel tersenyum kecil. Mungkin senyuman yang sengaja ia buat untuk menyembunyikan kepedihannya saat ini.
....
Suasana hening menyelimuti perjalanan mereka. Tak ada ocehan yang keluar dari mulut Maya seperti biasanya. Gadis itu hanya membisu sembari membuang muka ke arah sisi kiri jendela mobil. Menatap jalanan yang bergerak begitu cepat mengikuti kecepatan sedan hitam yang Sam kendarai saat ini.
Pikiran Maya terlihat menerawang jauh, memandang tanpa berkedip setiap objek yang ia jumpai melalui kaca jendela mobil.
Samuel yang sedang menyetir pun dibuat khawatir dengan keadaan Maya saat ini, khawatir jika Maya jatuh sakit jika terus seperti ini.
"Mau jalan-jalan?" tanya Samuel mencoba menghibur Maya.
Sementara itu Maya hanya menggeleng.
"Mau ke cafe? Beberapa hari ini kamu gak kesana kan?"
Samuel menghela napas ketika mendapatkan gelengan kecil Maya yang menjadi respon atas pertanyaannya barusan.
Lagi-lagi seperti ini, setiap Samuel mencoba memperbaiki suasana hati Maya, gadis itu hanya merespon dengan gelengan atau anggukan kecil saja.
Samuel membenci ini, ia lebih suka Maya marah-marah atau mengoceh panjang lebar daripada harus jadi pendiam seperti ini. Karena ini sangat menyiksa bagi Sam, ia tidak tahan dengan sifat diam istrinya.
"Ngomong dong, May. Jangan diam terus kayak gini."
Tak ada respon dari Maya, membuat Samuel menghembuskan napas kasar.
"Berapa kali aku bilang kalo aku gak suka sikap diam kamu? Kalo kamu pengen marah, pengen nangis atau apapun itu---" Sam menjeda sebentar ucapannya. Kembali menoleh ke arah Maya yang tetap saja tanpa respon apa-apa.
"Kamu lampiaskan aja ke aku, May. Kamu pukul aku--- asalkan kamu jangan diam seperti ini." Sam kembali melanjutkan ucapannya.
"Kamu nyiksa aku kalo seperti ini, May---" lanjut Samuel dengan nada lemah.
Maya sontak menoleh ke arah Samuel dan menatapnya tajam. "Iya, aku selalu nyiksa kamu! Kamu puas?!"
"Kamu cuma apa, Sam? Salah bicara? Kamu pikir setelah ini aku bakal baik-baik aja, hah?!"
"May---"
"Diam! Aku gak mau denger pembelaan kamu lagi!"
"Sayang---"
"Stop, aku mau turun!"
"Jangan gitu dong, May---"
"Stop aku bilang, Sam! Kamu denger gak sih?!" bentak Maya sembari tajam menatap iris Samuel.
"Tapi bentar lagi hujan, sayang. Jangan aneh-aneh."
"Biarin! Aku gak peduli."
Air muka Samuel berubah seketika.
"May, aku gak suka kamu bantah!"
"Aku mau turun!"
"Nanti setelah sampai rumah, kamu boleh turun."
"Kalo kamu gak biarin aku turun, aku akan lompat sekarang!" Maya bersikukuh dan bersiap membuka pintu mobil. Sam yang melihat itu pun sontak membanting stir dan menepikan mobilnya di bahu jalan.
"Kamu kenapa sih, May?!" Sam mulai kesal, namun Maya tidak menghiraukannya. Ia pun melepaskan seat-beltnya dan keluar dari mobil, berlari kecil meninggalkan Samuel.
Dengan cepat Samuel juga keluar dari mobil, mencoba mencegah langkah Maya. Menahan lengan gadis itu untuk tidak semakin pergi menjauh.
"Maafin aku May, aku udah bikin kamu marah. Tapi kamu jangan pergi-pergian kayak gini. Aku takut kamu pergi, sayang."
"Aku gak pergi, Sam."
"Tapi sekarang kamu disini, diluar mobil setelah sebelumnya kamu ngancem aku yang membahayakan nyawa kamu."
Maya tersenyum tipis, "Kamu ingat tempat ini, Sam?" tanyanya.
Sam seketika menoleh kesekitar mengedarkan pandangannya. Sedikit terkejut ketika menyadari tempat mereka saat ini.
Mereka berada di pinggir taman kota, tempat janjian mereka untuk kali pertama dulu.
"Ini---"
"Aku emang sengaja membawa kamu kesini," jawab Maya.
Sam masih memandang Maya dengan ekspresi penuh tanda tanya. Kedua alis tebal Sam pun saling bertaut bingung. "Untuk---?"
Maya menghela napas sebentar, Gadis itu menundukkan wajahnya lalu mendongak menatap Samuel. "Aku bingung harus mulai dari mana, Sam. Tapi sebelum ini aku mau ngucapin makasih banyak sama kamu..."
"Udah banyak hal yang kita lalui, ada bahagia, sedih dan aku seneng kita bisa kenal dan dekat. Meskipun dulu kamu adalah orang yang paling menyebalkan di muka bumi ini namun aku bersyukur bisa jadi istri kamu, tapi ...." Maya menjeda sebentar kalimatnya. Kedua iris hitamnya kini memandang lekat wajah Samuel yang mulai terlihat ketakutan yang memuncak.
"Please Maya, aku gak akan terima kalau ini kata perpisahan!" tekan Samuel.
Maya tertunduk dalam. "Maaf..."
Sam mengusap wajahnya frustasi. "Kamu kenapa sih, May? Kenapa kamu bersikap seperti ini? Kasih aku alesan yang jelas, kenapa tiba-tiba kamu bersikap begini?"
Maya terdiam, masih tertunduk dalam hingga tangannya kini mengeluarkan amplop putih dari saku hoodie maroon yang ia kenakan.
"Kamu bisa baca sendiri," ujar Maya pelan sembari menyodorkan amplop tersebut ke arah Samuel.
Samuel menerima dan membuka amplop itu, ada sebuah foto kecil dan surat di dalamnya. Sam mengeluarkan foto kecil terlebih dahulu dan melihatnya.
Tubuh Sam membeku melihat foto itu, ia melirik ke arah Maya lalu beralih membuka surat di dalamnya dan membacanya.
Samuel benar-benar dibuat mematung membaca surat tersebut. Entah perasaan apa yang kini menderanya, ekspresi terkejut masih terlihat di raut wajah Samuel.
Kembali ia memandang ke arah Maya, tiba-tiba saja cairan bening menerobos keluar begitu saja dari sudut mata coklatnya. Sam menangis, dan sungguh ia tidak peduli jika dicap sebagai pria cengeng.
"Ini---?"
Lidah Sam serasa kelu, ia sungguh tidak bisa meneruskan kalimatnya. Untuk kesekian kalinya Samuel memandang ke arah Maya dengan tangan yang gemetar memegang kertas putih itu.
to be continue.....
>> Kira2 surat itu isi nya apa ya gais....? Penisirin? kepoin terus episodenya yak.....🤗??