
Hampir delapan bulan kini usia kandungan Maya, tinggal satu bulanan lagi dirinya melahirkan anak kembar nya, darah daging nya dengan Samuel.
Rasanya ia sungguh tidak sabar menantikan kelahiran dua anak kembar mereka. Maya bahkan selalu membayangkan betapa lucunya saat kedua anaknya lahir. Pastilah bayi mungil itu lebih mirip Samuel, iya... Maya berharap jika kedua anaknya nanti akan mewarisi sepasang netra berlensa coklat jernih yang sangat memukau.
Hidung mancung mirip dengan Samuel dan juga dilengkapi dengan sepasang alis tebal melengkung bak bayangan camar.
Serta kulit putih bersih yang bisa saja akan mewarisi dari keduanya. Oh-iya jangan lupakan bibir yang selalu berwarna merah muda yang nampak alami, seperti sang suami.
Maya berkali-kali terkekeh sendiri saat membayangkan hal itu. Oh Maya sungguh tidak sabar menunggu kelahiran putra dan putri mereka.
"Hey.... emang ada yang lucu? Sehingga bisa bikin kamu senyum-senyum gitu, hm?"
Maya sedikit terkejut ketika mendengar suara Sam yang tiba-tiba saja datang dari arah dalam mansion.
Maya kembali tersenyum kali ini. "Sam, ish-kamu bikin kaget aja deh...." kerucutnya lucu.
"Hehehe.... abisnya aku lihat dari dalam, kamu senyum-senyum sendiri sambil mengelus-elus baby kita."
Jawab Samuel, kini ia memposisikan tubuh Maya kedalam pangkuannya.
Maya melingkarkan satu lengannya ke leher Samuel, sementara lengan yang satunya lagi mengelus-elus wajah tampan suaminya.
"Kenapa sih, hm?" tanya Samuel lagi.
"Gak-- aku lagi bayangin aja jika anak kita nanti cantik dan tampan seperti kamu, sayang." Jemari Maya masih saja mengelus-elus wajah Sam yang baru saja selesai mandi.
Kini hidung mancung Maya mengendus-endus aroma musk yang menguar keluar dari tubuh suaminya. Aroma musk milik Sam memang selalu menjadi candu buatnya, Maya bahkan tak pernah bosan menghirup aroma tubuh suaminya setiap kali mereka berada dalam posisi sedekat ini.
"Tentu saja baby kita akan cantik dan ganteng, karena mommy nya wanita tercantik di dunia," jawab Samuel dengan kekehan kecil.
Sam pun membalas belaian lembut Maya, sesekali mendaratkan kecupan-kecupan kecil pada pipi dan juga ujung bibir perempuannya itu.
"I love you my hubby...." bisik Maya dengan senyuman kecilnya.
"And i love you more, honey...." Sam mencium bibir Maya lebih intens, sementara satu tangannya bergerak mengelus perut istrinya yang semakin besar itu.
"And daddy love you, my hero and my princess. Mmuuaaah...." kecup Samuel pada perut buncit Maya.
"Daddy.....!!" teriak Samudra tiba-tiba.
Sam dan Maya spontan menoleh ke arah Samudra dengan ekspresi heran.
"Am.... apa sayang?"
"Daddy gak sayang sama Am? Kok yang dicium cuma dedek yang ada di perut mommy aja?" cemberut Samudra.
Maya dan juga Samuel tersenyum kecil. Kali ini Maya berdiri dari pangkuan Sam dan duduk disamping suaminya.
"Sini-sini kakak..... sini duduk deket daddy sama mommy," ucap Samuel.
Samudra berjalan mendekat, lalu duduk di tengah-tengah Sam dan juga Maya.
"Am tau kan kalau dad sama moms sayang banget sama Am?" Samudra mengangguk pelan.
"Nah.... Moms-Dad akan selalu sayang sama kakak meskipun ada dedek bayi baru," lanjut Samuel.
"Am ngerti kan?"
Samudra kembali mengangguk pelan. Kecupan kecil Samudra tiba-tiba saja mendarat di kedua pipi Sam dan juga Maya.
"I'm sorry dad...." ucap Samudra dengan manik yang menatap lembut ke arah kedua orang yang ia sayangi.
"It's okay my boy."
"Am takut, Moms-Dad nanti gak sayang lagi sama Am," lirihnya lagi.
"Mommy dan daddy akan selalu sayang sama Am. Sampai kapanpun, paham?" ujar Maya sembari mengelus lembut pipi gembul Samudra.
"Hm-paham," angguk Samudra.
"Eh-tunggu deh, Am sekarang udah bisa ngomong er dengan jelas ya?" Sam kali ini mengangkat tubuh mungil Samudra dan membawanya ke pangkuan.
Maya tersenyum senang.
"Oh iya, mommy sampai gak nyadar lho kalo kakak udah bisa ngomong er dengan jelas gak cadel lagi." Maya menimpali.
"Iya dong, Am kan pinter...." jawab Samudra lucu dan dengan penekanan di setiap kata yang berakhir-an dengan huruf R.
Sam dan Maya tertawa bersamaan. Sam mengusap gemas puncak kepala bocah itu, begitupun dengan Maya, ia menciumi pipi gembul berwarna merah muda yang selalu menggemaskan.
"Sekarang Am tidur yuk, udah malam ini."
"Hm-Am bobok dulu mommy-daddy...." kecup Samudra lagi.
"Good night...."
"Good night sayang, emmuuahh..." kecup Maya di pipi dan kening bocah itu.
"Am ke kamar dulu ya, nanti daddy menyusul ke kamar."
"Okay, dad...."
"Love you Am...."
"Love you too, Moms-Dad."
Samudra perlahan berdiri dari duduknya dan berjalan menaiki anak tangga yang akan membawanya ke kamarnya di lantai atas.
"Sam...."
"Hm?"
"Menurut kamu apa kita salah?gak lagi bercerita soal Martha dan Harris ke Am?"
Samuel terdiam dan berfikir sejenak.
"Aku takutnya jika nanti Am besar, dan dia tau soal kedua orang tuanya, dia malah akan menyalahkan kita Sam."
"Entahlah, May."
Samuel menarik napas panjang.
"Aku justru takut jika kita cerita malah akan memperburuk sakit di kepala Samudra nantinya."
"Hm, iya juga." Angguk Maya.
"Udahlah kita jalani aja dulu."
"Sam...."
"Hm?"
"Soal kakak kamu... Dan-niel... gimana? Kamu udah selidiki?"
Sam kembali membuang napas berat.
"Entahlah, soal keberadaan Daniel sepertinya sangat sulit mendapatkan titik terangnya." Sam kembali mengelus lembut puncak kepala Maya.
"Orang suruhan ku sudah mencari jejak Daniel di beberapa panti asuhan di sekitar Jakarta, namun jika hanya menunjukkan foto masa kecil Daniel, akan sangat sulit menemukan dia." Sam berhenti sejenak.
"Lagipula kejadian itu sudah puluhan tahun yang lalu." Sam melanjutkan.
"Apa gak ada tanda lahir atau apa gitu yang bisa mengingatkan kamu dan juga mama-papa akan Daniel? Maksud aku sesuatu di tubuh kakak kamu yang bisa kalian kenali?"
Sam terlihat sedikit berfikir.
"Iya aku ingat---" Sam menjeda kembali ucapannya.
"Dulu Daniel punya bekas luka di lengan kanannya, tepat di bawah siku. Saat itu dia berkelahi dengan anak-anak kampung dan dia terdorong keras sehingga mengenai ranting tajam semak-semak pohon di hutan." Sam kini sedikit demi sedikit kembali mengingat.
Senyuman kecil pun tercipta di bibir tebalnya.
"Oh-sayang makasih ya kamu membuat aku mengingat sesuatu tentang Daniel," kecup Sam.
Maya tersenyum senang melihat Sam yang bisa menemukan kembali kepingan-kepingan memori masa silam.
Kali ini Maya yang memberikan usapan lembut di bahu Samuel.
"Iya suami. Aku berharap semoga kalian bisa bertemu lagi nantinya."
Kembali Maya mengelus lembut bahu Samuel.
"Hm, Udah malam, kita tidur. Kamu gak boleh kelelahan, May."
Sam kini berdiri dan mengulurkan satu tangannya.
Tentu saja disambut oleh uluran tangan Maya, dengan hati-hati Maya berdiri sembari memegangi perut besarnya.
"Mau digendong?"
"Ih emang masih kuat?" kekeh Maya.
"Kuat dong...." Samuel mengangsurkan kedua lengan ke bawah lutut Maya.
"Sam ih... gak usah, kamu gak bakal kuat Sam." Maya masih saja terkekeh geli.
"Kuat kok sayang...."
"Sam......" pekik Maya begitu tubuhnya kini terangkat dan berada dalam gendongan ala bridal style Samuel.
"Hati-hati Sam...." ujar Maya miris, kedua lengannya menggelayut erat pada leher Samuel seolah-olah takut jika gendongan Sam tiba-tiba melorot jatuh.
Beberapa langkah Samuel menggendong Maya, namun setelah keduanya sampai di depan tangga melingkar, Sam menurunkan tubuh Maya yang dirasanya semakin berat.
Samuel terkekeh lucu memandangi Maya.
"Kenapa? Gak kuat kan?" cibir Maya lucu.
"Hehehehe.... kamu semakin berat May."
"Tentu aja, kan aku jadi bertiga sekarang," cibir Maya lagi.
Samuel kembali terkekeh lalu membungkuk, menghadap tepat di depan perut Maya.
"Maafin daddy ya nak, tapi daddy janji kalo kalian udah lahir--- dad akan selalu gendong kalian," bisik Samuel tepat di perut buncit Maya. Sam mencoba berinteraksi dengan buah hatinya.
"Sekarang daddy gandeng mommy aja naik ke atas." Maya menjawab dengan menirukan suara anak kecil. Jemari lentiknya mengelus lembut rambut ikal suaminya.
Sedetik kemudian Sam kembali berdiri tegak. Membawa Maya dalam dekapannya dan berjalan menaiki satu persatu anak tangga melingkar.
"Hati-hati, sayang....." ucapnya sembari terus menjaga Maya dalam langkah kakinya.
to be continue....