
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Rasanya semua terlampau tanpa adanya sebuah pertanda.
Semua berlalu begitu cepat, membuahkan memori-memori hangat yang perlu disimpan dalam hati.
Lulus kuliah jurusan marketing dengan predikat Cum Laude membuat Maya mendapatkan berbagai rekomendasi di beberapa perusahaan Advertising atau pun perusahaan besar di bidang yang lain.
Derap langkah beralaskan sepatu semakin berlari secepat mungkin. Mengabaikan keringat yang berseluncur pelan melewati pelipis. Kedua matanya sekilas melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya dengan gelisah.
Sial sekali, motornya harus melakukan pemberhentian di bengkel. Hari ini Maya ada interview pekerjaan dan sayang jika Maya harus terlambat dan menghilangkan kesempatan ini hanya karena motor matic nya harus menginap sementara di bengkel.
Mungkin jika Sam ada, kehidupan Maya tidak akan terlihat semenyedihkan ini.
Sudah hampir delapan bulan dirinya dan Sam hilang kontak, tanpa saling menghubungi. Sebenarnya beberapa bulan setelah perpisahan mereka Sam masih saja berkunjung ke rumah Maya, sekedar menanyakan kabar gadis itu lewat Siska sang mama namun Maya tetap tidak ingin menemui mantan bos nya tersebut. Ia hanya memandangi lewat jendela kamar, menatap nanar Samuel yang berjalan gontai menuju sedan hitamnya.
Maya turun dari taksi tepat di depan sebuah perusahaan besar, membenarkan sebentar rambut pendek sebahu, merapikan kembali pakaian kerja yang ia kenakan, sedikit minim memang namun tidak terkesan terlalu vulgar. Maya menghembuskan napas sebentar sebelum akhirnya memasuki pintu utama kantor tersebut.
Memasuki kantor baru ini mengingatkan ia saat pertama kali magang di kantor Sam, Ah... semoga saja pimpinan disini perempuan, batin Maya.
"Maaf kak, pelamar yang mau interview harus menemui siapa ya?" tanya Maya kini ke arah resepsionis cantik yang saat itu sedang sibuk melakukan panggilan telefon.
"Langsung aja ke ruang HRD yang ada di lantai dua ya."
Maya mengangguk dan tersenyum untuk mengucapkan terima kasih pada gadis resepsionis tadi.
____
"Selamat wawancara pertama anda berhasil, besok silahkan datang kembali di sesi kedua."
Ucap kepala HRD, laki-laki botak bertubuh tambun. Maya membalas uluran tangan sang kepala HRD lalu tersenyum senang, sedikit mengangguk sopan kemudian berpamitan dengan sang HRD.
Senyuman kini kembali melengkung, memantapkan diri untuk wawancara selanjutnya.
Maya keluar dari salah satu perusahaan property terbesar di Jakarta, menunggu kembali taxi yang lewat. "Apa gue cari ojol aja ya?" pikir Maya. Tak lama kemudian gadis itu mengeluarkan ponsel dari tas nya, melakukan transaksi ojek online dan untung saja ia segera mendapat pengemudi motor ojek online nya.
Tanpa Maya sadari, ada sepasang mata mengamati nya dari kejauhan, cekrek.... cekrek.... nampak laki-laki berpakaian serba hitam yang duduk di dalam sebuah mobil sedan sedang mengambil beberapa gambar Maya. Laki-laki misterius.
"Halo iya pak.... saya mendapatkan apa yang bapak minta ____ siap pak saya akan mengirimkan ke kantor bapak secepatnya___ iya pak, oke..."
Ia putuskan panggilan selulernya, kemudian melajukan sedan hitamnya menjauh dari tempat Maya berdiri tadi.
***
Samuel
Melewati pernikahan nya bersama Martha yang tak terasa sudah hampir delapan bulan. Masih sama terasa sangat dingin, Sam lebih senang dengan pekerjaannya. Menghabiskan sisa malamnya di kantor, menjelang pagi barulah ia kembali ke mansion miliknya. Sekedar melanjutkan tidur serta mandi dan sarapan yang selalu disiapkan sang bibik.
Entah kenapa Samuel tidak dapat bersikap luluh terhadap Martha, bahkan perut Martha yang membuncit pun tidak bisa merubah perasaan Sam terhadap gadis itu.
Selama menjalani pernikahan ini Samuel tidak pernah tidur satu ranjang dengan Martha. Berkali-kali Martha merengek agar Samuel mau tidur dengannya namun selalu ada alasan Samuel untuk menolaknya.
"Sam... malam ini kamu tidur sama aku ya... aku kan istri kamu Sam." rengek Martha kali ini.
Samuel masih tidak bergeming, menatap lurus layar laptop tipisnya. Mencoba mencari kesibukan dengan semua pekerjaan kantor. Martha kini berdecak kesal, mulai duduk di pangkuan Samuel. Sedikit memaksa memang, hingga membuat Sam berdesis pelan. Melepaskan kaca mata yang tadinya bertengger sempurna di hidung mancung Sam.
"Gak bisa Tha, lo tidur aja sendiri."
"Kenapa sih Sam? gara-gara mantan asisten kamu itu ya?"
"Sam, udah hampir delapan bulan kalian putus dan kamu udah jadi suami aku. Kenapa masih aja gadis kampungan itu mengusik hati kamu sih?!"
Kembali Martha berteriak, melampiaskan kekesalannya.
"Kita udah menikah dan kamu gak nyentuh aku sama sekali, I am your wife Sam, I am ... not her...!!" pekik Martha, kali ini membuat Samuel merasa bersalah. "Sorry Tha, gue gak bisa. Gue akan sayang sama anak itu jika dia lahir nanti, tapi untuk bersikap layaknya seorang suami ke kamu.... aku minta maaf, I can't do it... and you know it from the beginning." jawab Sam, meraih pundak Martha dan mengusapnya perlahan.
Sam kini keluar dari kamarnya, membawa laptop dan juga ponsel pipihnya. Mencoba menenangkan diri kembali di kolam renang indoor miliknya.
Martha hanya menangis menahan diri, ingin dia berontak. Memukul tubuh Sam tanpa ampun, namun ia teringat anak yang ada dalam kandungan nya.
Tentu saja bukan anak Samuel, laki-laki itu tidak pernah menyentuh Martha sedikit pun. Ia tutup rapat rahasia anak yang dia kandung saat ini, Harris lah penanam benih di perut Martha.
Saat pertama gadis itu mengetahui ia mengandung, Martha merasa senang karena Sam tidak akan curiga soal kehamilan bohongan nya dulu.
Martha meminta Harris tutup mulut dan melarang mengganggu pernikahan dia dengan Sam. Martha pikir Sam akan berubah, sedikit demi sedikit akan mencintai dirinya namun kenyataannya berbicara lain. Samuel tetap saja tidak mempedulikan dirinya. Bahkan setelah anak itu lahir, Sam tetap bersikukuh akan menceraikan Martha.
"Sialan lo Sam...!!!" erang Martha kesal, lagi-lagi ia melempar asal semua benda yang ada di dekatnya. Gadis itu kini berjalan keluar dari pintu kamar, mengetukkan heels nya kasar lalu terlihat meninggalkan mansion Samuel. "Ke mansion om Harris, cepat!!" Perintah Martha pada sopir pribadinya. Sopir itu hanya mengangguk nurut tanpa banyak bicara, menekan gas mobil meninggalkan mansion milik Samuel.
****
Martha nampak keluar dari mobil, "Ingat ya, kamu harus tutup mulut kamu seperti biasa!!" ancam Martha, sang sopir pribadinya hanya mengangguk nurut tanpa banyak membantah ucapan majikannya.
"Kamu tunggu disini sampai saya keluar," titah Martha lagi dan lagi-lagi sang sopir hanya menurut.
Ting tong.... ting tong...
Dengan kesal Martha memencet asal bel pintu rumah Harris, hingga seorang maid Harris berjalan tergopoh membukakan pintu. "Eh non Martha..."
"Om Harris nya ada kan bik?"
"Iya non, tuan ada di kamar." jawab si bibik. Tanpa banyak bicara lagi Martha menginjak kan kakinya ke arah kamar Harris, membuka knop pintu dengan keras.
"Sayang kamu kenapa? marah-marah gitu. Ada apa?"
"Aku kesel sama Samuel." kini gadis itu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang milik Harris.
"Hati-hati dong Tha, anak kita bisa kaget ntar." Harris mencoba menenangkan Martha, mengelus pelan pundak gadis itu.
Membelai rambut Martha lembut, dan mendaratkan ciuman kecilnya di kedua pipi Martha. "Kenapa om Harris masih baik sama Tha?"
"Karena kamu ibu dari anakku sayang."
"Kenapa masih baik, padahal aku menikahi Sam dan anak ini aku akui sebagai anak dia."
Harris tersenyum, membelai lembut pipi Martha yang kini terlihat lebih berisi. "Karena aku mencintai kamu sayang, aku tahu tubuh kamu hanya milikku dan hanya menginginkan sentuhan ku." Kembali Harris memeluk Martha. "Kamu nya aja yang belum sadar akan hal itu, dan aku akan menunggu kamu menyadari hal itu baby..." lanjut Harris.
"Aku lapar, kita makan di luar?" Kini Harris memandang lekat manik Martha, kembali membelai lembut pipi Martha.
Martha mengangguk pelan, kini ia sudah mulai tenang. Harris meraih jemari gadis itu dan menggandeng Martha erat, menuruni beberapa anak tangga hingga menuju ke ujung pintu mansion.
"Naik mobil ku aja ya, sopir kamu biar istirahat di dalam." ucap Harris, Martha mengangguk setuju, mendekati sopir pribadinya yang saat itu tertidur pulas. "Pak Mail tunggu aja di dalam, aku mau keluar dulu. Awas jangan kemana-mana." titah Martha yang hanya dibalas anggukan dari laki-laki itu.
Kini Jeep Wrangler milik Harris perlahan keluar dari halaman rumahnya, melaju pelan menuju pusat kota.
____
Martha turun dengan hati-hati dari Jeep Wrangler berwarna putih, bersama Harris yang kini sudah berdiri disisi Martha, menggandeng tangan gadis itu.
Mereka terlihat sangat akrab, sesekali Harris mendaratkan ciuman di kening Martha dan mengelus pelan perut gadis itu, kecupan kecil pun sesekali Harris daratkan ke perut buncit Martha.
Sepasang mata kini tiba-tiba membola tajam, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Dengan cepat ia keluar dari mobil nya, mengikuti sembunyi-sembunyi langkah Martha dan Harris. "Apa yang kamu lakukan dengan dokter itu Tha?" kini ia bermonolog pelan.
to be continue....