
Harris Pratama, seorang dokter spesialis kandungan yang cukup ternama di salah satu Rumah Sakit swasta di Jakarta. Seorang dokter yang sangat berpengalaman dalam menyelamatkan kelahiran ibu dan buah hati.
Harris sudah lama mengenal Baskoro ayah dari Martha. Bisa dibilang jika Harris dan Baskoro sudah berteman sejak mereka duduk di bangku SMA.
Harris sering meluangkan waktu bertandang ke mansion Baskoro, walau hanya sekedar minum teh atau kopi di sore hari dan Baskoro serta istri pun menerima kedatangan Harris dengan sangat baik.
Sejak dirinya masih muda, dokter itu memang terkenal suka berganti pasangan. Harris memang belum menikah sampai saat ini namun kebiasaan dia bermain perempuan pun masih sangat gemar dia lakukan hingga sekarang, hingga usia nya sudah menginjak angka empat puluh lima tahun.
Sudah sejak lama Harris menaruh hati sama Martha, sejak gadis itu masih duduk di bangku SMP. Sebenarnya Harris sudah mengenal Martha sejak lama bahkan dia lah dokter yang menangani kelahiran istri Baskoro, Harris lah yang membantu Elsi saat melahirkan Martha.
Martha kecil tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat manis dan periang. Sejak gadis itu duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Harris diam-diam sudah menyukai Martha. Namun semua gelora cinta nya dia pendam rapat-rapat. Dia memang seorang playboy yang sering bermain perempuan namun Harris bukan lah seorang pedofil yang menyalurkan hasrat seksualitas nya ke gadis yang masih dibawah umur.
Perasaan Harris pada Martha pun bukan hanya sebatas nafsu, dia mencintai Martha dengan tulus dan Martha lah salah satu alasan kenapa laki-laki itu belum menikah hingga saat ini.
Walau sempat laki-laki itu berfikir jika Martha tidak mungkin mencintai dirinya yang berumur jauh di atas gadis itu bahkan dia pantas di anggap sebagai ayah dari Martha bukan sebagai kekasih. Apalagi sejak remaja Martha sangat dekat dengan seorang remaja laki-laki yang seumuran dengan Martha.
Anak laki-laki yang sangat tampan dengan wajah sedikit bule ber iris kecoklatan dengan rambut sedikit ikal. Harris akhirnya memendam jauh-jauh perasaan yang selalu bergelora jika dia berhadapan dengan Martha.
Hingga saat itu, hari dimana Martha mendatangi kantor Harris yang berada di Rumah Sakit swasta terkenal di daerah Jakarta Pusat.
Ketika Martha membutuhkan bantuan untuk sebuah surat keterangan kehamilan palsu. Awalnya dokter itu kaget dengan kenekatan Martha namun kembali akal licik nya dia mainkan.
Toh kini Martha sudah tidak lagi gadis kecil yang dulu, kini dia sudah menjelma menjadi gadis dewasa berumur sekitar dua puluh tiga tahun. Dengan akal licik nya Harris meminta sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak menyangka jika Martha meng^iya^kan permintaan laki-laki itu.
***
Malam Itu di Sebuah Hotel
Martha berjalan mengetukkan heels nya di lantai hotel, dia berhenti sejenak tepat didepan sebuah pintu bernomor kamar sepuluh. Gadis itu terdiam sejenak, mencoba berfikir kembali apakah dia akan melangkah masuk atau balik arah kembali ke basement parkiran.
'Ini adalah kesempatan satu-satunya untuk gue bisa mendapatkan Samuel.' pikir gadis itu.
Tidak mungkin dia mendatangi dokter lain selain Harris yang notabene adalah dokter kenalan keluarganya.
Martha membuang nafas kasar sebelum akhirnya dia membuka knop pintu kamar bernomor sepuluh tersebut. Pintu kamar hotel memang sengaja tidak Harris kunci dari dalam, jadi jika Martha datang gadis itu bisa langsung masuk.
Martha menyipitkan sejenak kedua netra nya, di dalam kamar tidak ada siapapun, hanya ada sebuah ranjang super delux yang bertaburan kelopak mawar merah serta satu set sofa dan meja bundar kecil yang juga bertahtakan sebuket mawar merah serta lilin di tengah.
Oh ya tak ketinggalan sebotol sampanye serta dua piring steak daging panggang dan juga sepotong kue black forest yang terlihat sangat menggoda.
Martha mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar hotel dengan kelas Suite Room. 'Bukan kelas kamar hotel sembarangan.' pikir Martha.
"Kamu sudah datang sayang..."
Ucap Harris yang tiba-tiba datang dari dalam bathroom. Laki-laki itu terlihat hanya mengenakan celana pendek berwarna putih dengan dada bidang dan perut sixpack yang dia perlihatkan.
Martha mencoba bersikap tenang walau dalam hati gadis itu tidak percaya dengan apa yang dia lihat. 'Ternyata om Harris tidak setua itu.' pikir Martha.
Iya penampilan Harris malam ini memang sangat jauh berbeda ketika dokter itu sedang bertugas. Selama ini tubuh atletis nya sangat tertutup dengan pakaian formal dan jas putih kedokteran nya.
"Om bawa surat yang saya minta?" Tanya Martha ketus, perlahan Harris tersenyum kecil.
"Kamu layani aku dulu sayang, baru apa yang kamu inginkan akan saya penuhi." Harris kini mulai tersenyum licik, lagi-lagi Martha mendengus kesal.
Harris mendekati Martha, "Kamu selalu menawan sayang..." bisik Harris tepat di telingga Martha. Laki-laki itu mulai mengendus aroma tubuh Martha, dia dekatkan wajahnya ke sisi telingga gadis di hadapannya itu.
Perlahan tangan Harris mulai membelai lembut rambut panjang kecoklatan Martha kini kedua tangan laki-laki itu meraih kedua pundak kecil Martha dan perlahan melepaskan pengait gaun pendek gadis itu.
"Kamu wangi sekali sayang, aku suka aroma tubuh kamu..." kembali Harris berbisik, kini bibir dokter itu dengan lembut membelai leher mulus Martha.
Entah ada perasaan aneh apa yang kini Martha rasakan, jika di lihat lebih dalam Harris bukan lah laki-laki tua yang menjijikkan, dia lumayan tampan untuk orang seusia nya.
'Ayolah Martha... hanya Samuel yang lo inginkan, dan ini demi mendapatkan Sam.'
"Kamu siap sayang?" Gumam Harris lagi, tanpa menjawab Martha hanya mengangguk kecil membuat Harris kembali tersenyum penuh kemenangan.
Harris perlahan melepas gaun pendek Martha, kini tubuh molek gadis itu terlihat hanya mengenakan bra hitam berenda dan senada dengan cd Martha.
Bra Martha yang kini terlepas hingga terpampang kedua bagian tubuh mulus Martha yang terbilang sangat menawan.
Harris menelan saliva melihat kemolekan tubuh gadis yang sudah dia cintai selama bertahun-tahun.
Harris memegang dagu lalu mendaratkan ciumannya ke bibir Martha, Harris mencium bibir manis Martha membuat gadis itu hampir kehabisan nafas.
Perlahan Harris melepas sebentar pautan bibir nya, laki-laki itu tersadar jika Martha masih sedikit canggung dengannya.
"Maaf sayang apa aku menyakiti kamu?" Bisik Harris lembut, Martha menggeleng pelan lalu kembali menatap kedua iris Harris.
"Kenapa om melakukan ini?"
"Karena sudah lama aku suka sama kamu Tha, tidak kah Kamu tau itu??" balas Harris meyakinkan.
"Kita lanjut lagi?" kali ini Harris kembali mencium ujung bibir Martha, gadis itu hanya mengangguk pelan.
Kini bibir Harris terus menguasai bibir Martha, kecupan lembut kini berganti menjadi ciuman penuh gairah, keduanya saling bertukar saliva. Tangan kanan Harris mengangkat salah satu kaki Martha untuk berada di pinggang nya.
Kecupan Harris kini turun ke leher serta bahu Martha dan meninggalkan hickey disana, tanda kepemilikan Harris.
"Ooohh.... aargghhh om Harris.." desis Martha sambil tangannya meremas rambut Harris.
Harris berganti ke arah gunung kembar Martha yang seakan menantang ingin disentuh oleh Harris.
Kepala Harris kini tenggelam disana, bibir lelaki itu kini menyapu seluruh bagian tubuh Martha hingga Martha menggeliat nikmat oleh sentuhan Harris, kini gadis itu terlihat mendekap erat tubuh kekar Harris. Seolah Martha tidak mengizinkan Harris menghentikan keliar-an nya.
Harris meneruskan menguasai tubuh Martha. Bibir Harris kembali menikmati bibir Martha, kini dia semakin mendaratkan kecupan nya secara intens.
'God damned.... kenapa malah gue terjatuh dalam permainan om Harris?' batin Martha.
"Enak sayang?" bisik Harris, Martha hanya mengangguk dengan kedua netra menatap Harris sayu.
"Sekarang giliran kamu sayang, kiss me baby." titah Harris
Martha kini memberanikan diri mencium bibir Harris, lagi-lagi mereka saling bertukar saliva,
Martha menggigit manja telinga Harris, membuat Harris meracau nikmat. "Aassshh..." racau Harris.
Setelah beberapa menit dari penyatuan mereka, Harris merasakan akan mengeluarkan cairan penyatuan mereka dan dengan cepat Harris mengangkat badan nya dari tubuh Martha.
Harris menumpahkan cairan penyatuan mereka ke atas perut mulus Martha.
Kini mereka sama-sama terkulai lemas di atas kasur hotel, kelopak mawar yang tadinya tertata sangat rapi kini berserakan di lantai kamar.
Harris mendekati Martha dan menutupi tubuh gadis itu dengan selimut tebal.
"Makasih untuk malam ini sayang..."
Dengan lembut Harris mencium kening Martha.
"Dan ini apa yang kamu mau." Ucap Harris lagi, dokter itu menyodorkan sebuah amplop putih ke arah Martha. Gadis itu meraih amplop tersebut dari tangan Harris.
"Makasih om..." lirih Martha, kini entah apa yang ada dalam pikirannya. Samuel....?? ahh tentu saja cowo itu masih menjadi tujuan utama Martha.
"Kamu jangan sungkan hubungi om jika kamu butuh seseorang, oke sayang...?" cium Harris kembali di sudut bibir Martha dan entah apa yang merasuki gadis itu, Martha membalas kembali ciuman Harris lembut... sangat lembut.
'Kenapa gue yang kini malah terjebak oleh pesona om Harris...?' pikir Martha.
To be continue...