
Flash back kejadian di taman kota malam kemarin.
Malam itu Sam masih terkekeh puas melihat ekspresi wajah Maya yang memerah entah karena merona atau geram dengan semua tingkah Sam waktu itu. Jika dilihat dari bulatan bola matanya yang tajam tidak salah lagi jika arti ekspresi wajah Maya malam itu sangat kesal dan ingin memotong pusaka milik Sam, bisa di bayangkan jika Sam harus hidup tanpa pusakanya? 😃
"Samuel__!! Lo emang cowo rese, sombong dan sialan yang pernah gue kenal." Cibir Maya malam itu, bukan nya membuat Sam meminta maaf tapi Sam malah tertawa lebar melihat ekspresi Maya yang dia rasa sangat menggelikan.
"Hei girl woles aja, emang lo gak pernah ditembak cowo ya? Hahaha." Gelak tawa Sam membuat Maya semakin ingin menarik kasar poni panjang Sam. Model rambut a brow flow yang sangat cocok dengan wajah putih Sam serta hidung mancung yang selalu bertengger gagah di antara kedua alis tebal.
"Enak aja, gue udah punya cowo emang kayak lo jomblo?!" Cibir Maya.
Jomblo? Apa benar cowo se~keren dia jomblo? Ah Maya tadi hanya asal cuap saja.
Wajah Sam tiba-tiba berubah, tawa renyah nya tadi pun kini sirna menjadi sebuah wajah murung yang sangat asam untuk dilihat.
"Jadi bener bapak Samuel yang terhormat masih jomblo?" Ulang Maya lagi. Ah Maya__ kenapa mulut lo selalu gak pakai filter kalo ngomong?
"Biar gue jomblo tapi gue jomblo terhormat. Banyak cewe yang ngantri pengen jadi pacar gue." Sungut Sam tak mau kalah, kali ini kembali cowo itu memasang muka songong nya seperti biasa. Sebenarnya ekspresi Sam kali ini lebih nyaman dilihat Maya dibanding dengan wajah Sam yang beberapa menit lalu. Maya kembali mendengus mendengar jawaban bos rese nya itu. "Ish__ ge er amat jadi cowo." Cibir Maya kesal.
Sam kembali terkekeh geli melihat raut wajah Maya. Baru kali ini Sam merasa sangat nyaman dengan seorang gadis selain Freya, entah kenapa.
"Siapa nama cowo lo?" Tanya Sam, Maya mengernyit sebentar lalu menyipitkan kedua matanya ke arah Samuel.
"Emang kenapa? Lo gak akan kenal by the way." Decak Maya. Gadis itu kembali menyedot lemon tea dingin yang tadi dibelikan oleh Sam, plus kripik kentang kesukaan Maya dan entah darimana Samuel bisa mengetahui cemilan favorit Maya.
Lagi pula gadis itu tidak terlalu peduli darimana bos nya itu tau minuman dan cemilan kesukaannya.
****
In Office
Sam terlihat sedikit kebingungan mencari sesuatu dan membuat Maya menyipitkan kedua matanya. "Cari apa pak?" Tanya Maya walau dengan ekspresi muka datar.
"Ponsel." Jawab Sam cuek, seperti biasa.
"Bukannya kemarin udah dibanting ya?"
"Ponsel baru gue." Ucap Sam lagi.
Maya membulatkan bibirnya sambil manggut-manggut kecil lalu kembali dia sibuk dengan urusannya sendiri. 'Bukan urusan gue.' Bantin Maya. "Heh, bantuin cari dong gimana sih." Bentak Sam dengan ekspresi kesal nya.
"What? Harus juga ya gue bantu nyari? Kalo disuruh seenaknya kayak gini gaji ditambah harusnya." Sungut Maya kesal walau ucapannya tadi tidak serius.
Beberapa saat keduanya masih sibuk mencari benda pipih panjang berwarna hitam yang Sam cari.
"Ini ponselnya?" Tanya Maya dengan sebuah ponsel berlogo buah apel separoh di belakangnya. I Phone seri terbaru dan pasti dengan harga selangit. "Jangan dibanting lagi kali ini." Sindir Maya, Sam hanya mendengus kesal seperti biasa.
Sam meraih kasar ponsel yang ada di tangan Maya, lalu kembali menuju meja kerjanya.
"Ish, bener-bener gak tau terima kasih." Sunggut gadis itu kesal.
***
Beberapa kali Maya membolak balikan laporan project dengan perusahaan klien. Sungguh laporan project iklan minuman energi terbesar di Asia itu menyita otak Maya dan harusnya semua tugas ini bukan tanggung jawabnya namun Sam selalu saja menyerahkan semuanya ke Maya. "Biar lo ntar bisa tau bisnis Advertising itu seperti apa." Ucap Sam waktu itu.
Tok__tok !!
Pintu ruang kerja Sam terdengar di ketuk oleh seseorang. Tak berapa lama masuk seseorang gadis cantik dengan pakaian serba branded dan high heels.
Martha tiba-tiba masuk dan menggelayut manja di punggung Samuel.
Maya membolakan matanya melihat gadis itu memeluk punggung bidang Sam.
"Lepas Tha, ini kantor."
Martha masih saja menggelayut manja, dia tidak peduli dengan sikap Sam yang seolah ingin melepaskan pelukannya.
"Dear, aku kangen sama kamu." Bisik Martha, kali ini gadis itu memutar kursi kerja Sam sehingga menghadap langsung ke arahnya. Martha langsung duduk di pangkuan Sam dengan salah satu tangan bertaut melingkar ke leher kokoh Sam. Martha mendekatkan wajahnya lalu bibir pink Martha mengecup lembut bibir tebal Sam. CEO itu sudah tidak bisa lagi menghindari tautan bibir Martha. Bibir mereka saling bertautan. Mereka bahkan tidak peduli akan kehadiran Maya kali itu.
Entah kenapa Sam juga sangat ingin membalas hot kiss bibir Martha di depan Maya.
"Ehemm!!! Masih ada orang lain disini woy__"
Maya sengaja berdeham membuat bos dan Martha melepaskan sejenak bibir mereka yang tadinya saling berpaut.
Sam perlahan melepas tautan bibirnya dari bibir pink Martha lalu melirik sebentar ke arah Maya. Wajah Maya nampak sedikit kesal dan itu membuat Sam tersenyum kecil.
"Kalo mau ngamar ke hotel aja sekalian." Cibir Maya lagi.
"Bilang aja kalo lo cemburu." Dengus Martha, tatapan kesalnya tertuju ke arah Maya. "Lagian lo siapa sih? Cuma asisten Sam aja kan." Ketus Martha lagi.
"What? Cemburu? Buat apa gue cemburu? Lagian siapa juga yang suka cowo mulut cabe kek dia." Ketus Maya kesal, membuat Martha membolakan matanya. Sam pun tak kalah membolakan mata juga mendengar asisten baru itu menyebut dia cowo mulut cabe.
"Lo__, Sam kenapa gak pecat aja sih cewe ini?!" Dengus Martha kesal, kedua mata coklatnya melirik ke arah Sam.
"Udah deh Tha, lo tadi ngajak makan siang kan? Ya udah ayo." Ajak Sam berusaha menengahi perdebatan kedua gadis cantik itu. "Tapi Sam__"
"Udah ayo!!" Sela Sam lagi, kali ini membuat Martha berdecih kesal. "Awas ya lo." Ancam Martha sambil mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan muka Maya.
"Ish gadis aneh." Lirih Maya pelan.
Sam melangkah berjalan meninggalkan ruang kerjanya dan diikuti Martha yang mengekor di belakang.
Entah kenapa Maya merasakan sesuatu yang tidak biasa saat Sam menggigit bibir Martha, seakan dia ingin melepaskan tautan bibir Sam yang sangat erat menempel di bibir pink gadis cantik itu. 'Apa yang gue rasain?' Pikir Maya, berkali-kali dia mengibaskan kepalanya berusaha mengusir semua pikiran yang bermain di benaknya. 'Gak mungkin gue cemburu sama dia.' Pikir Maya lagi.
"Aarrghh !!! Konyol!!!" Teriak Maya sambil mengacak-acak puncak kepalanya sendiri.
***
"Lo ngapain ke kantor gue Tha?" Tanya Sam yang berusaha melepas lengan Martha yang masih bergelayut manja. "
"Kenapa Sam? Aku kan tunangan kamu wajarkan kalo ke kantor calon suami aku?" Jawab Martha ringan. Kembali Sam merotasikan matanya ke arah lain. Dengusam kecil cowo itu lagi-lagi terdengar.
"Kita belum tunangan ya Tha dan gue belum bilang setuju sama perjodohan ini." Dengus Sam.
"Kenapa tadi kamu balas kecupan aku Sam?" Pertanyaan Martha kali ini membuat Sam salah tingkah. "Oh jangan bilang kamu cium aku buat dia? Asisten kamu tadi? Biar apa Sam? Biar dia cemburu?"
Kembali Sam terdiam. "Itu bukan urusan lo." Ucap Samuel.
"Lo udah nikmati tubuh gue, dan lo harus tanggung jawab baby." Bisik Martha tepat di telinga Samuel, lagi-lagi Sam mendengus kesal dan membuat selera makan Sam hilang.
To be continue