MySam

MySam
Jangan Pernah Bertanya Hal-hal Bodoh, May



Sedan hitam Samuel berhenti tepat di depan sebuah resort di kawasan pantai daerah Banten, setelah berkendara sekitar kurang lebih empat jam, mereka sampai juga di kawasan pantai Carita.


Sam sudah me-reservasi terlebih dahulu satu kamar resort untuk dia dan Maya. Ia tidak ingin Maya kelelahan setelah perjalanan tadi. Lagipula Sam ingin lebih menikmati suasana senja dan malam hari di pantai bersama Maya.


Terlebih lagi, sudah agak lama juga keduanya tidak berlibur ke pantai. Terakhir kalinya mereka menikmati pantai di Bali beberapa tahun silam, ketika keduanya belum menikah dan saat itu sebelum Samuel melangsungkan pernikahan pertamanya dengan Martha dulu.


"Aku pengen ke pantai...." rajuk Maya.


"Nanti, sayang. Kita taruh dulu beberapa tas ini ke kamar." Meski sedikit mengerucut, akhirnya Maya menurut apa titah suaminya.


Seorang petugas resort memberikan kunci kamar kepada Samuel begitu pria itu menuju lobi resort. "Ini kunci kamar anda, tuan," ucap seorang petugas perempuan ke arah Samuel sembari mengulurkan kunci kamar ke arahnya. "Terima kasih." Samuel mengangguk dan meraih lengan Maya kemudian menggandeng gadis itu, keduanya mengikuti petunjuk arah yang di sampaikan oleh pegawai resort wanita barusan.


Hingga akhirnya mereka menemukan kamar dengan nomor sepuluh, Samuel membuka knop pintu perlahan dan mempersilahkan Maya untuk memasuki kamar terlebih dulu.


"Sam...."


"Hhmm?"


"Aku mau ke pantai sekarang, mumpung masih ada waktu untuk sunset." Maya masih merajuk, menggelayut manja di lengan Samuel.


"Iya, istriku yang bawel...! kita ke pantai sekarang," jawab Samuel ringan. Seketika membuat wajah istrinya terlihat sumringah.


"Kita jalan kaki aja, Sam. Deket juga kan pantainya?" teriak Maya dari dalam kamar mandi.


Samuel mengangguk pelan, "Terserah kamu aja, sayang." Samuel menjawab sembari menempatkan kaca mata hitam merk Oakley bertengger sempurna di hidung mancungnya.


Sementara Maya terlihat begitu simpel dengan celana jeans selutut dan hanya mengenakan atasan Tshirt warna kuning, sungguh memperlihatkan kulit putih Maya semakin terlihat mempesona.


"Yakin mau jalan kaki?" tanya Samuel memastikan.


"Yakin dong, malah lebih romantis jalan kaki berdua," kekeh Maya lucu, selalu bisa membuat Samuel mengacak-acak gemas rambut hitam gadis itu.


"Ya udah, ayo...." Samuel menekuk lengan kanannya sebatas pinggang hingga membuat ruang kosong dan mempersilahkan Maya untuk menyusupkan lengannya di sana. Maya pun dengan senang hati mengaitkan lengannya di lengan Samuel, mereka berjalan dengan saling bergandeng mesra. Melewati beberapa pengunjung resort yang lain dan juga beberapa petugas resort yang mereka temui.


Jarak antara pantai dengan resort yang lumayan dekat membuat keduanya tidak terlalu ketinggalan panorama sunset senja itu.


Sam mengajak Maya untuk duduk di tepi pantai, tanpa alas apapun. Mereka tidak keberatan jika pasir pantai menempel di pakaian yang mereka kenakan saat itu. Sunset senja itu terlihat sangat indah, warna kemerahan bercampur lembayung yang perlahan tenggelam di balik ujung pantai. Suara deburan ombak yang diiringi hembusan angin laut membuat surai hitam Maya selalu menari-nari kecil.


Maya duduk dengan kepala bersandar pada pundak Samuel, ia tidak pernah merasa bosan untuk menikmati semua pemandangan indah dari bibir pantai bersama suaminya.


Pantai adalah tempat favorit Maya, kenangan di masa kecilnya dulu yang selalu membuatnya merasa merindukan suara ombak dan aroma air laut yang begitu menenangkan.


"Aku suka sama pantai, gak tau kenapa." Maya berujar tiba-tiba, semakin menenggelamkan kepalanya pada pundak Samuel.


Perlahan Sam tersenyum sebentar, mencium puncak kepala istrinya dengan penuh kelembutan. "Kamu bahagia, honey?" tanya Samuel lirih.


"Hhmm.... sangat bahagia, Sam. Terima kasih selalu memberikan kebahagiaan buat aku." Maya perlahan menatap wajah Samuel, ia sungguh beruntung memiliki pria itu.


"Kenapa kamu suka pantai?"


Maya menggeleng pelan, "Gak tau, suka aja." Ia menjeda sejenak kalimatnya, mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Mungkin dulu ketika ayah masih hidup dan masih setia sama mama, beliau selalu membawa aku ke pantai," lirih Maya melanjutkan.


"Aku lupa waktu itu umur berapa, dan tidak pernah memahami masalah yang terjadi antara ayah dan mama dulu," kembali Maya menghela napas panjang, membuang pandangannya jauh ke arah ombak yang saling berkejaran lalu menghilang di bibir pantai.


"Hingga ayah meninggalkan kami demi wanita lain," lanjut Maya, ada kesedihan dalam wajahnya. Baginya masa lalu terburuk tentang ayahnya yang selalu menjadi mimpi buruknya.


"Aku takut...."


"Takut kenapa, sayang?" kali ini Samuel menciptakan sedikit jarak, memandang lekat wajah istrinya. Sam bisa melihat ketakutan dalam netra hitam Maya.


"Takut jika aku seperti mama nantinya...."


Spontan Samuel melingkarkan lengannya ke bahu kecil Maya, mengeratkan pelukannya di bahu istrinya.


"Aku gak akan pernah meninggalkan kamu, honey. Kamu tau itu kan?"


Maya mengangguk pelan, kini kedua lengannya ia lingkarkan di pinggang Samuel dan mengeratkannya.


"Sam....."


"Hhmm....?"


"Kalau aku hamil nanti kamu maunya punya anak berapa?"


Samuel kembali mencium lembut puncak kepala Maya dan semakin mengeratkan pelukannya di pundak kecil istrinya.


"Berapapun di kasih sama Allah, asal kamu dan baby nya selamat."


Maya terdiam sejenak menatap Samuel.


Menangkap sesuatu yang mengganjal, Sam pun bertanya, "Kenapa, sayang?"


Maya menggeleng pelan. "Kalau aku gak bisa punya anak gimana?" tanya Maya gamblang.


"Kita bisa adopsi."


"Emang kamu gak kecewa?"


Samuel menggeleng. "Yang terpenting kamu selalu ada di samping aku."


"Kenapa gak cari yang lain aja selain aku, yang bisa memberi kamu keturunan?"


"Ayolah, May.... udah aku bilang kamu gak usah punya pikiran seperti itu."


"Apa kamu akan mencari perempuan lain?"


"Gak. Gak akan pernah !" Sam menjawab dengan wajah datar dan serius. Menatap tajam ke dalam iris hitam Maya.


"Sampai kapanpun aku gak akan jatuh cinta selain sama kamu, Maya," lanjut Sam lagi.


"Lalu mama Anita....?"


"Ini hidup kita, rumah tangga kita. Hanya ada aku dan kamu. Dan tidak akan aku biarkan siapapun mengganggu keluarga aku, sekalipun dia mama aku."


"Lagi pula, mama bukan seperti ibu mertua yang galak dan otoriter seperti di dalam cerita novel yang sering kamu baca, sayang." Samuel melanjutkan ucapannya.


"Bagaimana kamu tau aku suka baca novel?" pipi Maya kali ini menyemu merah, membuat Samuel terkekeh geli melihatnya.


"Kamu gak bisa menyembunyikan apapun dari aku, honey..." goda Samuel.


"Sam....!! ihh... curang....kamu mata-matain aku ya? padahal kan novel-novel itu udah aku simpan di tempat yang...." Maya menghentikan sejenak kalimatnya ketika melihat tawa Samuel semakin kencang.


"Ih.... kamu liat semua novel-novel aku ya....?" pekik Maya, cubitan kecilnya kini mendarat di pinggang suaminya. Membuat Samuel semakin tertawa keras sambil berusaha menghindari serangan cubitan dari Maya.


"Hahaha....!!! maaf sayang. Lagian siapa suruh naruh novel-novel picisan itu dalam lemari sepatu kita, hhmmm....?!" kekeh Samuel.


"Samuel....!! itu novel romantis bukan picisan.... jahat ih...." Maya berteriak, kali ini berdiri dan berusaha mengejar suaminya yang berlari kecil di sepanjang pantai.


Tawa keduanya masih meledak, sunset pun kini perlahan menghilang dan berganti semburat warna senja yang begitu indah di angkasa.


Hingga akhirnya keduanya sama-sama berhenti dengan tawa yang masih menghiasi wajah mereka.


Keduanya kembali duduk dengan begitu saja di atas pasir putih, senja sudah mulai gelap kini. Meskipun begitu, masih ada saja beberapa orang pengunjung yang duduk-duduk menikmati deburan ombak serta kerlip lampu yang mirip seperti beberapa cahaya gemintang.


"Sam...."


"Apa lagi, hhmm....?"


"Hhmm... kalo misalkan aku hamil, terus ada sesuatu yang terjadi dan harus menyelamatkan salah satunya, siapa yang kamu selametin?"


Kening Samuel mengkerut dalam, nampak ia tidak menyukai pertanyaan tersebut. "Maksud kamu?" tanya Sam yang berpura-pura tidak mengerti.


"Maksud aku, jika sesuatu terjadi nanti. Dan kamu diberi pilihan untuk menyelamatkan salah satu dari kami. Siapa yang akan kamu pilih untuk diselamatkan? aku atau anak kita?"


"Tentu kamu, May."


"Kenapa aku? Emang kamu gak pengen punya anak?"


Samuel menggeleng, "Buat apa punya anak kalo harus tanpa kamu?"


Maya cemberut, mengerucutkan bibirnya beberapa senti. "Kok gitu..."


"Kamu lupa? Di dunia ini kamu adalah harta aku yang paling berharga, sayang. Dan sampai kapanpun aku gak akan pernah lepasin kamu."


"Tapi aku maunya kamu selametin anak kita, Sam. Jadi aku bisa liat anak kita tumbuh dengan baik dari atas sana dan melihat kamu___"


Ucapan Maya terpotong saat Sam tiba-tiba memeluknya erat.


"Berhenti bicara hal-hal bodoh, May!"


"Sam? Are you okay"


Samuel menggeleng pelan. "Kamu membuat aku takut, sayang."


"Maaf, Sam. Tadi cuma umpama kok."


"Apa pun itu jangan pernah mengatakannya lagi." jeda Sam. "Jangan pernah bertanya hal-hal bodoh seperti itu. We will be fine, as long as we are always together. You understand that?"


Maya mengangguk pelan, merasakan pelukan Samuel semakin mengerat. Detak jantung pria itu pun semakin kencang, terlebih saat dirasa tubuh Samuel sedikit gemetar. Maya jadi merasa bersalah telah membuat Samuel takut.


Maya membalas pelukan Samuel, sesekali kecupan kecil Maya mendarat di tengkuk Samuel, mencoba menenangkan pria itu. "It's okay, honey... I'm here with you."


Sam mengurai pelukannya dan menangkup wajah Maya. "Sayang, kita gak usah punya anak ya. Jangan hamil."


Maya mengerutkan keningnya. "Kok gitu? bukannya kamu pengen punya baby?"


Sam terdiam sejenak lalu menggeleng. "Gak perlu, kita bisa adopsi sebanyak-banyaknya kalau perlu."


"Kamu gak mau punya anak dari rahimku?" tanya Maya nampak kecewa.


Sam menggeleng pelan, "Bukan gitu, sayang. Aku takut apa yang kamu ucapkan tadi menjadi kenyataan. Dan aku gak mau kehilangan kamu," lirih Samuel.


"Tapi aku pengen memberi kamu baby, Sam. Anak yang lahir dari rahim ku."


"Tapi, sayang...." Maya menjeda ucapan Samuel, cepat-cepat menempatkan jari telunjuknya di ujung bibir Samuel.


"Kamu gak akan pernah kehilangan aku, Sam. Never...." ucap Maya lembut. Dengan cepat Maya memeluk tubuh suaminya, menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Samuel.


"Sekarang kita balik ke kamar, udah waktu sholat maghrib, kita sholat dulu?" tanya Maya, anggukan kecil Sam yang menjadi responnya.


Sungguh Sam sangat mengkhawatirkan segala hal yang diucapkan Maya barusan. Ia bahkan tidak dapat membayangkan jika hidupnya tanpa gadis yang saat ini selalu berada dalam pelukannya siang dan malam.


"I love you, suami..." bisik Maya lembut di sela-sela langkah kaki mereka.


"I love you too, honey."


to be continue...