MySam

MySam
Rencana Jahat?



"Hati-hati sayang," ujar Sam ketika melihat Maya menghempaskan tubuhnya di atas sofa panjang dalam ruang kerja Sam. Ah tidak ingatkah jika Maya saat ini tengah mengandung anak mereka? batin Sam.


"Bagaimana jika bayi kita kenapa-napa? Aku gak mau terjadi hal buruk dengan kalian." Sam mengelus perut Maya yang masih rata dan belum begitu terlihat kehamilannya.


"Maaf, suami... Aku gak sengaja," kerucut Maya menyesali apa yang telah ia perbuat barusan. Memang entah mengapa terkadang ia masih merasa tidak menyadari jika ada nyawa lain dalam perutnya saat ini. Kehamilan yang sangat ia nantikan namun Maya terkadang melupakan hal-hal kecil yang dilarang selama kehamilannya.


"Jangan diulang lagi ya," ujar Sam lembut, membelai wajah Maya dengan sentuhan yang menenangkan gadis itu.


"Hhmm.... janji." Maya menjawab singkat sembari mengangguk yakin.


"Ya udah, kamu duduk dulu di sofa itu. Aku mau melanjutkan pekerjaan ku, kamu gak papa kan?"


"Iya, kamu selesaikan aja kerjaan kamu, Sam. Bentar lagi aku juga mau ke cafe kok."


Sam mengernyit sebentar, melihat ke arah Maya dengan kedua alis yang saling bertaut.


"Kamu ke cafe? Naik taxi aja ya."


"Suami... aku emang lagi hamil tapi aku masih bisa kok ke cafe sendiri. Lagi pula cuma bentar aja aku ke cafenya." Maya menggelayut manja di lengan Sam dengan wajah memelas. Jika sudah begitu sangat sulit buat Sam untuk berkata tidak ke istri nya.


"Janji kamu hati-hati bawa mobilnya?"


"Janji....!" jawab Maya mantap dengan dua jemari yang dia acungkan ke arah Samuel.


tok...tok...tok...!!


suara ketukan pintu tiba-tiba saja terdengar dari luar membuat baik Sam maupun Maya dibuat kaget oleh suara ketukan pintu ruang kerja Samuel.


"Masuk....!"


"Sam-- eh-maaf maksud sa-ya... bapak Sam," Freya sedikit gugup dan menjeda sebentar kalimatnya begitu melihat kehadiran Maya di ruang kerja Samuel.


"Hey May....." sapa Freya dengan sedikit senyum yang setengah mengembang di salah satu sudut bibir merahnya.


"Hey Fe...."


"Maaf, pak Sam hari ini Anda ada jadwal meeting bersama bagian kreatif pukul sepuluh siang, setelah itu Anda ada jadwal bertemu dengan mister Brian yang dari perusahaan makanan kalengan dari Swiss." Freya kali ini bersikap lebih tenang di hadapan Maya, meski rasa cemburu sedikit terlihat di kedua iris coklatnya begitu melihat pandangan mata Samuel hanya tertuju ke arah Maya.


"Baik, terima kasih Fe. Kamu boleh keluar sekarang."


Freya hanya mengangguk kecil, kembali dengan senyuman yang sedikit ia paksakan untuk Maya dan juga Samuel.


"Sam...."


"Hhmm?"


"Sepertinya Freya masih cinta deh sama kamu."


"Perasaan kamu aja kali, May." Maya terlihat mendengus begitu ucapannya tidak terlalu mendapat respon dari Sam. Pria itu terlihat sibuk dengan layar laptop yang kini memperlihatkan deretan angka-angka laporan keuangan perusahaan.


"Enggak, Sam... itu terlihat jelas kok dari mata Freya," kerucut Maya.


"Terus? Bukankah kamu sendiri yang dulu mengusulkan pekerjaan sekretaris ini ke dia?" ucap Samuel yang kali ini menghentikan sejenak perhatiannya dari layar laptop kerjanya.


Sam menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerja yang bisa berputar itu. Mengangsurkan lengannya ke arah Maya, bermaksud menyuruh agar gadis itu mendekat dan duduk di pangkuannya.


"Are you jealous, baby....?" tanya Sam menggoda.


Maya mengerucut lucu sembari melingkarkan salah satu lengannya di leher sang suami.


"Tentu saja aku cemburu, istri mana yang gak cemburu jika suaminya selama setengah hari bekerja dengan sekretaris cantik yang juga mantan tunangannya, hhmm?" kerucut Maya.


"Hahaha...!! kamu cantik kalo lagi cemburu gitu."


"Samuel....!! kenapa malah godain aku, heh...?!" Maya semakin mengerucutkan kembali bibirnya. Kali ini hampir saja ia mencoba berdiri dari pangkuan Sam, namun dengan cepat Samuel mencegahnya.


"Maaf deh sayang.... jangan marah gitu dong. Aku kan cuma becanda tadi."


"Gak lucu....!" Maya menatap wajah Sam dengan mata membola penuh, berusaha bersikap tegas ke suaminya. Malah justru semakin membuat Samuel terkekeh geli dengan sikap Maya kali itu, sungguh menggemaskan buat Sam.


"Sayang...!! kok ketawa lagi sih...!!"


"Hahaha....!! sumpah ya sayang, kamu tuh makin cantik kalo lagi cemberut gitu," tawa Samuel yang semakin mendekap erat tubuh Maya yang berada dalam pangkuannya.


"Ish, aku mau ke cafe aja kalo kamu goda-in aku terus."


Maya kali ini beranjak dari pangkuan Samuel, merapikan sebentar gaun selutut yang ia kenakan.


Lalu beralih merapikan kemeja kerja Sam begitu suaminya ikut berdiri untuk mengantarkan Maya hingga ujung pintu.


"Kamu hati-hati di jalan ya," ucap Sam yang lalu mendaratkan ciuman lembutnya ke ujung bibir Maya.


"Iya." Angguk Maya pelan.


"Setelah dari cafe kamu langsung pulang aja, May."


"Terus kamu? kan mobilnya aku bawa."


"Aku bisa bareng Bayu nanti, aku gak mau kamu kecapean kesana kemari, apalagi kamu lagi hamil." Sam kembali memeluk tubuh istrinya dan mendaratkan kecupan di kening gadis itu.


"Owh... ya udah kalo gitu. Aku pergi dulu ya."


"Hhmm, take care baby...."


Samuel masih menatap punggung Maya sebelum punggung itu menghilang di balik dinding kantor. Punggung yang selalu ia elus lembut saat tidur dan punggung yang selalu menenangkan ketika ia memeluknya.


...


Samuel terbangun dengan sedikit terkejut ketika dirasakannya sentuhan lembut yang kini memijit tengkuk hingga bahu kekarnya.


Ia berusaha mengumpulkan sebagian nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul, kepalanya sedikit pusing kini dikarenakan terbangun secara paksa karena sesuatu atau lebih tepatnya tangan seseorang menyentuh tubuhnya saat terlelap.


"Sam... kamu udah bangun?" tanyanya begitu dilihatnya Sam mulai mengangkat kepala menjauh dari kedua lengan yang Samuel lipat di atas meja kerja.


Iya Sam tadinya terlelap tanpa sengaja di atas meja kantor, hanya menggunakan kedua lengan yang ia lipat sebagai bantalan tidurnya.


"Kamu kecapean? Aku pijitin lagi biar kamu lebih enakan."


Sam memang beberapa hari ini terlihat kurang tidur, kehamilan dan masa ngidam Maya memang membuatnya sedikit banyak sering terbangun di tengah malam, dan setelahnya Sam selalu tidak bisa melanjutkan tidurnya.


"Fe, apa yang kamu lakukan? Sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Sam dengan sedikit wajah bingung, sepertinya setengah nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.


"Aku pijitin kamu Sam, aku liat kamu kelelahan." Freya kembali memijit leher dan tengkuk Samuel, mencoba membuat otot-otot tegang mantan kekasihnya itu lebih terasa rileks.


"Enak Sam?"


Sam mengangguk spontan, entah apa yang ada dalam pikiran Sam saat itu. Tidak bisa dipungkiri pijatan tangan lentik Freya memang bisa membuat otot-otot lelah dan tegangnya sedikit kendor.


"Kamu keliatan kelelahan Sam, beberapa hari ini kamu suka bangun tengah malam?" tanya Freya yang sembari masih memijit pundak Samuel.


"Maya hamil dan dia suka ngidam aneh-aneh di tengah malam. Itu yang membuatku selalu terbangun di tengah malam atau di pagi-pagi buta," jawab Samuel yang masih menerima pijatan Freya tanpa penolakan.


"Maya hamil?" tanya freya sedikit terkejut, sebentar ia menghentikan gerakan jemari lentiknya di pundak dan leher Samuel.


"Hampir jalan empat minggu." Sam melanjutkan.


"Tunggu....!! Apa yang kamu lakukan Fe?" tanya Sam begitu ia tersadar sepenuhnya dengan perlakuan Freya terhadapnya.


"Aku mijitin kamu, Sam."


"No.... kamu gak boleh melakukannya lagi."


Samuel kini berdiri dari kursinya dan mencoba menjauh dari Freya.


"Apa salahnya sih? Lagipula saat ini di kantor sudah gak ada siapa pun."


Perkataan Freya barusan cukup mampu membuat Sam membolakan kedua matanya.


"What?! jam berapa ini hah?" Pekik Sam, dilihatnya jam tangan Rolex berwarna gold di tangan kirinya.


"Hampir jam enam sore..." jawab Freya ringan.


"Sial! Apa Bayu sudah pulang?"


"Samuel baby.... kan udah aku bilang tadi, semua karyawan kamu sudah pulang. Hanya tinggal aku dan kamu di dalam gedung ini. Kalau satpam ada sih yang masih berjaga, tapi mereka kan di lantai dasar gedung ini," jawab Freya lagi.


"Damn....!!" umpat Samuel kasar.


"Kamu kecapean Sam, aku gak tega bangunin kamu tadi," lanjut freya lagi, kali ini dengan ekspresi sok polosnya.


Tanpa banyak bicara, dengan cepat Sam meraih blazer kerjanya dan kunci mobil dari hanger pakaian berdiri di sudut ruang kerjanya.


"Kamu mau kemana, Sam?"


"Pulang!"


"Tapi Sam....."


Dengan cepat Freya menghampiri dan mencekal lengan Samuel.


"Apa lagi?!"


"Aku antar kamu, bukan kah mobil kamu dipakai Maya tadi pagi?"


Samuel terdiam sejenak, sedikit mendengus kesal ke arah Freya.


"Gak perlu, aku bisa naik taxi."


Dengan cepat Samuel melepaskan genggaman tangan Freya dari lengannya.


"Ayolah, kalo naik taxi online kamu harus nunggu beberapa menit dan taxi biasa sangat jarang ada yang lewat daerah sini. Kamu tau itu kan?" Freya tetap memaksa.


Samuel terlihat sedikit berfikir, mungkin benar kata Freya tadi. Dia ingin cepat-cepat pulang dan bertemu Maya, istrinya.


Jika harus pesan taxi online harus menunggu beberapa menit untuk dapat. Dan untuk taxi biasa sangat jarang ada yang lewat di daerah situ.


"Gimana?"


Sam terdiam sejenak dengan sedikit berfikir, Gak ada salahnya bareng Freya, pikir Sam.


"Baiklah," ucap Sam akhirnya.


Freya sedikit tersenyum smirk, tentu saja seringai licik yang ia sembunyikan di balik wajah cantik dan sok polosnya itu. Dan Samuel benar-benar tidak menyadari nya.


to be continue....