
Jam bundar berwarna kuning ke-emasan yang menempel pada dinding ruangan luas menunjukkan pukul dua dini hari.
Dan Sam belum juga pulang, membuat Maya mondar-mandir tak karuan. Ia khawatir akan keadaan Samuel. Di mana suaminya saat ini? Apa yang suaminya itu lakukan? Apakah kembali mabuk-mabukan seperti dulu? Ah tidak-tidak--- Maya berkali-kali mengibaskan kepalanya guna mengusir semua pikiran buruk tentang Samuel.
Maya berfikir untuk menanyakan pada Anita, apakah Sam saat ini sedang berada di rumah mereka atau---
Ah tidak.... batin Maya kemudian. Jika dia menghubungi Anita dan menanyakan apa Sam ada di sana, pasti akan membuat Anita berfikir jika dia dan Sam sedang ada masalah.
Maya tidak ingin mereka khawatir, biarlah permasalahan dia dan Samuel menjadi urusannya sendiri saat ini.
Maya kembali terlihat begitu panik, panggilan seluler ke nomor Sam pun tidak pernah pria itu respon. Hampir ada lima puluh panggilan Maya yang selalu di reject oleh Sam.
"Non....."
Bibik memanggil majikan perempuannya.
"Iya, bik?"
"Non tidur aja, Tuan muda pasti pulang."
Bibik kasihan melihat majikannya yang tengah mengandung besar yang sedari tadi mondar-mandir tidak tenang. Bibik juga takut jika hal itu akan mengganggu kehamilan Maya.
"Non Maya kan sedang hamil, kasihan nanti bayi yang ada di dalam kandungan, Non."
Maya memandang sayu ke arah bibik, mulut mungilnya pun berkali-kali terlihat menghembuskan napas panjangnya.
"Gimana kalo Sam gak pulang, bik?Aku takut." Maya berucap lirih.
"Lho ini kan rumah Tuan muda, ada Non Maya dan Den Samudra di sini. Pastilah Tuan muda pulang kembali ke sini, Non." Si bibik kembali membujuk, mencoba membuat hati Maya sedikit tenang.
"Tapi---"
Ddrrttt......
Belum sempat Maya menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ponselnya berdering.
Dengan spontan Maya menjawabnya panik.
"Halo Sam......"
^^^"May- ini aku....."^^^
Maya sekilas kembali membuang napas berat ketika mendengar suara dari seberang itu.
"Ada apa Dean?___ Bener apa yang kamu ucapkan?____Oh Syukurlah aku seneng dengernya___ Hm-iya aku akan usahakan___ Iya besok, aku temui kamu jam satu siang___ Iya-iya aku tau."
Maya tersenyum senang mendengar ucapan Dean dari seberang.
^^^"May, apa Sam belum pulang? Selarut ini?"^^^
Dari seberang, suara Dean terdengar begitu khawatir saat menanyakan pertanyaan itu.
^^^"Kalian ada masalah?"^^^
Tanya Dean lagi.
Nampak Maya menggeleng pelan.
"Emm--- Gak kok, kami baik-baik aja. Tadi aku minta tolong Sam beliin martabak- hehehehe...."
Senyum Maya menyembunyikan keresahan hatinya.
"Udah ya, aku mau tidur___ Hm-iya besok aku temui kamu jam satu siang di cafe aku___ Oke, bye....."
Klik!
Maya menutup panggilan selulernya, dia memandang ke arah bibik dengan binar mata yang sedikit lebih ceria dari sebelumnya.
"Bik, bibik....." ucap Maya memanggil maid setia berusia hampir enam puluh tahunan itu.
"Iya, Non?"
"Aku menemukan Daniel....."
Spontan si bibik terkejut. Bagaimana tidak, ketika Maya mengucapkan kalimat tadi, seperti ada petir yang menyambar berkali-kali.
"M-mmaksuuudd.... Non Maya?"
"Daniel, bik..... kakak nya Sam."
"Ttuuaann--- muda Daannieel....?" tanya bibik melongo.
Maya mengangguk antusias.
"Iya, bik. Tapi bibik jangan ngomong dulu ke Sam ya? Aku ingin ini menjadi kejutan buat Sam." Maya kembali tersenyum berbinar, seolah kesedihannya yang tadi, hilang sudah ketika mendengar apa yang Dean ucapan dalam telepon tadi.
"Baik, Non...." Angguk bibik.
.....
Samuel malam ini hanya bisa berbaring dalam hamparan rumput sintetis, sembari menengadahkan kepalanya ke atas melihat gemintang buatan yang berkerlap-kerlip di Planetarium pribadi miliknya.
Gugusan bintang yang terlihat indah, berputar dan terkadang berganti dengan planet lain yang menyembul keluar dari layar proyektor.
Di tempat inilah dulu dia melamar Maya. Setelah apa yang semua mereka telah lalui, akhirnya di tempat ini Samuel memakaikan cicin bermata berlian ke jari manis Maya.
Sam dapat mengingat betul, betapa banyaknya gemintang kebahagiaan yang terpancar keluar dari kedua netra Maya waktu itu.
Sam tersenyum simpul mengingat kejadian tersebut. Namun sekarang.....
Ia pun sangat tersiksa dengan apa yang telah ia lakukan terhadap istrinya. Harusnya saat ini dia lebih memperhatikan Maya dan anak yang ada dalam kandungan perempuan itu.
Sam menarik keluar ponsel pipihnya dari saku celana jeans yang ia kenakan.
Puluhan panggilan dari Maya yang ia abaikan.....
Sam menatap nanar ke layar ponsel, mencoba kembali menata hatinya. Harusnya ia mengatakan langsung apa yang menjadi masalah dalam hubungan mereka saat ini.
Harusnya Sam bisa lebih bersikap dewasa saat ini. Rasa cemburu dan amarahnya ketika melihat Dean mendekati Maya dan ditambah lagi sikap Maya yang terlihat sangat welcome pada Dean Sanjaya membuat Samuel diliputi penuh rasa cemburu.
Maya bahkan tidak pernah mengatakan apapun soal pertemuan keduanya yang secara sembunyi-sembunyi menurut Sam.
Kembali wajah Samuel mengeras, dengan gigi-gigi yang bergemeretakan geram saat kembali mengingat apa yang telah dia lihat tanpa sepengetahuan Maya.
Sepertinya malam ini ia harus menginap di Planetarium miliknya, meski sebenarnya ia sangat berat meninggalkan Maya dan juga Samudra sendirian di rumah. Namun ego Samuel terlalu tinggi untuk pulang malam ini.
Sam mengeratkan selimut yang dibawakan oleh security penjaga Planetarium, netra kecoklatan miliknya mencoba terpejam. Melupakan segala hal yang mengganggu pikirannya saat ini.
...¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤...
Perlahan kedua netra Maya mulai membuka. Ia melihat ke sekeliling, rupanya dirinya tertidur di sofa ruang keluarga dari semalam.
Ia menyibak selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Apa bibik yang memakainya selimut? Ataukah Sam? batin Maya.
Spontan saja Maya membolakan kedua netranya mengingat Samuel, suaminya.
Apa dia pulang semalam? batin Maya lagi.
Hampir saja Maya mencoba berdiri dari duduknya. Tiba-tiba saja bibik muncul dengan baki kecil dalam genggamannya.
"Sarapan dulu, Non."
Bibik meletakkan piring yang berisi roti bakar madu dan juga segelas susu hangat di atas meja.
"Bik---"
"Ya Non?"
"Apakah Tuan muda semalam pulang?"
Si bibik menggeleng pelan.
Terlihat raut kecewa dari paras Maya. Mungkin lebih tepatnya wajah sedih dan terpukul ketika mendengar bahwa suaminya tidak pulang semalaman.
"Dimakan dulu, Non. Dari semalam saya perhatikan Non tidak makan apapun. Kasian sama jabang bayi yang ada di dalam kandungan Non Maya."
Bibik berusaha membujuk majikan perempuannya itu.
Perlahan Maya menggeleng. "Aku gak lapar, bik."
Bibik menarik napas dalam-dalam melihat sikap keras kepala Maya.
"Non mau kemana?"
"Ke kamar."
"Sini bibik bantu naik." Dengan sigap si bibik menggandeng lengan Maya dan menjaga tubuh majikannya saat menaiki anak tangga.
"Samudra udah bangun, bik?" tanya Maya di sela-sela langkahnya.
"Udah Non. Den Samudra udah bersiap mau ke sekolah."
"Dia nanyain Sam gak bik?" tanya Maya dengan suara lemah.
Si bibik mengangguk pelan.
Kali ini tidak ada suara dari Maya. Dia hanya terus berjalan menaiki tangga demi tangga. Dan ketika telah sampai pada kamarnya, Maya masih tidak bersuara. Dia hanya menjatuhkan tubuhnya pada kasur empuk dengan derai air mata yang terus saja keluar.
Sementara bibik merasa kasihan melihat majikannya. Tangan renta wanita itu lalu menarik selimut dan menyelimuti tubuh Maya hingga batas dada.
Perlahan bibik keluar dari kamar dan menutup pintu kamar perlahan.
...
Bibik menghentikan langkahnya begitu melihat Samuel yang memasuki pintu rumah besar itu.
Hingga sampailah bibik pada anak tangga terakhir dan melihat wajah kusut majikannya.
"Tuan muda dari mana saja? Kasihan Non Maya yang semalaman nunggu Tuan muda," ucap bibik.
"Non Maya sampai-sampai ketiduran di sofa dan tidak mau makan dari kemarin." Bibik melanjutkan ucapannya.
Membuat Samuel kali ini memberikan perhatiannya penuh ke arah si bibik.
"Dia gak mau makan, Bik?"
"Iya Tuan. Pagi ini saja Non Maya tidak mau sarapan. Itu sarapannya tidak disentuh sama sekali." Bibik menunjuk ke arah makanan yang tergeletak begitu saja di atas meja kaca di depan sofa panjang.
"Tuan muda.... kalau kalian ada masalah sebaiknya dibicarakan baik-baik. Kasihan non Maya, dia kan sedang mengandung." Bibik menjeda sebentar kalimatnya.
"Bagaimana jika Non Maya sampai sakit dan berakibat sama kandungan Non Maya?" lanjut wanita setengah baya itu.
Samuel tidak bisa membatah ucapan wanita tua itu. Dari kecil Sam telah menganggap bibik seperti ibu keduanya. Dia begitu menghormati wanita yang selalu berpakaian khas Jawa tersebut.
"Bawa sini makanannya, bik."
Bibik kali ini mengangguk dan langsung berjalan mengambil baki berisi roti bakar dan susu hangat tadi.
"Makasih ya bik." Samuel menerima baki dari tangan bibik dan berjalan ke kamarnya.
Bibik terlihat tersenyum lega. Wanita itu berharap jika kedua majikannya itu bisa menyelesaikan masalah mereka.
....
"Kamu makan dulu, aku gak mau anak yang ada dalam kandungan kamu sakit nantinya."
Samuel berjalan mendekat ke arah Maya yang tidur membelakanginya.
Hening....
Tidak ada jawaban apapun dari perempuan yang tengah terbaring di atas kasur dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya.
"May....."
Sam meletakkan baki yang ber-isi makanan ke atas nakas samping tempat tidurnya.
Samuel kini berjalan memutar untuk bisa melihat wajah istrinya.
Perlahan Sam membuang napas panjang ketika dilihatnya Maya tertidur sembari memeluk guling.
Sam melihat sisa cairan bening yang ada di pipi perempuannya. Dan juga noda basah di atas bantal Maya.
Tiba-tiba saja Samuel merasa sangat bersalah telah membuat Maya menangis hingga seperti itu.
Sam perlahan duduk pada tepi ranjang dengan tangan yang mengelus lembut puncak kepala Maya.
"I'm sorry....."
Bisiknya pelan.
to be continue.....