MySam

MySam
Check up



"Euumm... ah...pelan-pelan, Sam...."


"Iya, sayang. Ini udah pelan, ah.... uhh.... I love you sayang..." desah Samuel, ia memperlambat tempo pergerakannya, memaju mundurkan pinggulnya dengan lembut. Sam ingin membuat nyaman di setiap pergerakan. Ia tidak ingin membuat Maya merasa kesakitan dengan penyatuan mereka.


Sam membelai rambut hitam Maya yang kini berada di bawah tubuhnya, sembari terus memaju mundurkan pinggulnya perlahan. Sesekali ciuman hangatnya secara intens ia daratkan di bibir peach Maya, mungkin mencoba membuat nyaman istrinya.


"Sam..... euumm.... ah.... aku mau keluar...." desah Maya, kedua tangannya kini mencengkeram erat punggung telanjang Samuel, seolah ia tidak mengizinkan pria itu melambatkan pergerakannya.


"Me too, honey.... ah.... uhh... God...."


Sam semakin mempercepat temponya, mendekap tubuh istrinya dengan sangat erat, sesekali tangannya meremas lembut kedua gunung kembar milik Maya yang begitu menantang, sangat indah dengan bulatan yang begitu sempurna. Hingga kini keduanya merasakan kepuasan setelah melepaskan cairan penyatuan mereka masing-masing.


"I love you, sayang...." cium Sam lembut di kening Maya, hingga ciumannya kini beringsut turun ke bibir peach istrinya yang selalu memabukan buat Samuel, kini ia mendekap erat tubuh istrinya.


"I love you more, suami...." Maya menyambut ciuman Samuel, memainkan bibirnya di atas bibir Sam. Bahkan kini terlihat Maya yang menguasai bibir tebal Samuel.


"Sam....."


"Hhmm...."


"Bagaimana jika aku benar-benar tidak bisa mempunyai anak? Bagaimana jika aku yang tidak subur?"


"I don't care, honey... aku akan tetap mencintaimu."


Samuel mengeratkan pelukannya, semakin membawa tubuh Maya kedalam dekapan eratnya.


Sesaat hanya ada keheningan disana, hingga kemudian terlihat perubahan dari wajah Samuel.


"Bagaimana jika itu aku, sayang?" lirih Samuel. Membuat Maya kini lekat menatap wajah pria itu dengan alis yang kini sedikit terangkat.


"Maksud kamu, Sam?"


"Bagaimana jika aku yang tidak bisa mempunyai keturunan? Kamu tau sendiri masa lalu aku dulu seperti apa kan?" ucap Sam dengan tenggorokan yang sedikit tercekat.


Maya menggeleng pelan, "Itu gak mungkin, Sam."


"Jika itu mungkin? Apakah kamu akan meninggalkan aku, May?" tanya Samuel, kali ini ia sedikit merenggangkan pelukannya. Menciptakan sedikit jarak keduanya.


"Aku gak akan pernah ninggalin kamu, Sam. Gak akan pernah...." cicit Maya, yang semakin mengeratkan kembali pelukan Samuel.


"Bagitupun aku, sayang.... Aku gak akan pernah ninggalin kamu hanya karena kamu tidak bisa hamil."


"Besok kita periksa ke dokter Harris?" tanya Maya, lalu anggukan kepala Samuel menjadi responnya.


Maya semakin mengeratkan lingkaran lengannya di pinggang Samuel, dibawah selimut tebal mereka, ia menghamburkan seluruh wajahnya ke pelukan dada bidang suaminya.


....


"Fe, jika ada telepon penting buat ku tolong kamu terima dulu dan bilang nanti aku telepon balik. Oh ya nanti akan ada Rina sekretaris ku di perusahaan property, suruh dia tunggu sebentar."


Freya mengangguk cepat, dengan sedikit ekspresi bertanya-tanya. "Emang kamu mau kemana, Sam?"


"Aku ada kepentingan sebentar sama Maya," jawab Samuel sembari mematikan dan menutup laptopnya.


Hampir saja Sam meraih blazer abu miliknya yang tergantung di tiang hanger berbahan kayu ek. Dengan cepat Freya meraih blazer tersebut dan hendak memakaikan nya ke tubuh Samuel.


"Aku bisa memakai sendiri, Fe." Dengan cepat Sam meraih blazer tersebut dari tangan Freya.


"Sam, aku kan sekretaris kamu. Jadi selayaknya aku membantu kamu," elak Freya yang bersikukuh ingin memakaikan blazer milik Sam.


Freya memang sengaja melakukannya. Mengambil kesempatan mendekati kembali Samuel. Dan posisinya yang sebagai sekretaris Sam pun membuatnya menjadi sedikit lebih mudah.


"Nah kan.... kalau begini kan kamu tambah gagah, Sam." Freya menepuk-nepuk pelan pundak Sam dengan blazer yang telah tersemat rapi di tubuh Samuel.


"Fe!!"


"Hhmm...?"


"Tolong kamu bersikap profesional denganku. Aku ini bos kamu dan tidak sepatutnya kamu bersikap seperti ini."


"Bersikap seperti ini gimana maksud kamu sih, Sam?"


"Aku tidak mau ada karyawan lain yang salah paham sama kita."


Freya kini mendengus pelan.


"Emang salah ya, aku memakaikan blazer itu ke kamu? Dulu juga aku sering memakaikan kamu blazer," rajuk Freya dengan bibir yang sedikit mengerucut.


"Sekarang beda Fe. Aku sudah menikah."


"Dan aku gak peduli meski kamu sudah menikah, Sam." Freya menjeda sebentar ucapannya, kini ia mendongakkan kepalanya. Memandang ke arah Samuel.


"A-ku.... A-ku masih cinta sama kamu, Sam." Cicit Freya, bahkan kedua tangannya kini sudah melingkar di pinggang Samuel.


"Gila kamu Fe."


Sam menepis kedua lengan Freya, berusaha melepas pelukan gadis itu.


"Aku bisa memberi kamu anak, Sam."


Ucap Freya tiba-tiba, membuat langkah kaki Samuel terhenti.


"Apa maksud kamu?"


"Aku bisa hamil, sementara Maya tidak."


"Jangan bawa-bawa masalah pribadi di kantor. Bagaimanapun aku menganggap kamu hanya sebagai sekretaris aku, Fe. Gak lebih."


"Tapi, Sam...." Freya berhendak mengejar Samuel, namun dengan cepat pria itu keluar dari ruangannya dan melangkah menjauh meninggalkan ruang kerjanya.


"Aku sungguh-sungguh masih cinta sama kamu Samuel," batin Freya.


.....


Dengan hati berdegup kencang, Maya mengeratkan genggaman jemari lentiknya di dalam sela-sela jemari kuat Samuel.


Menunggu hasil pemeriksaan di ruangan dokter Harris, membuat Maya semakin merasakan debaran jantung yang berpacu kencang. Mereka berharap semuanya baik-baik saja, meski pikiran buruk tetap menghantui benak keduanya.


"Aku takut, sayang." Cicit Maya.


"Tenang aja, honey. Yakinlah semua akan baik-baik aja." Samuel berusaha menenangkan.


"Kita hadapi masalah kita bersama, okey....?" ucap Sam lagi.


"Okey....!" angguk Maya.


Selang beberapa jam kemudian, masuklah Harris, dengan pakaian kebesarannya dalam tanda kutip.


"Maaf kalian harus nunggu lama," ucap Harris yang datang dengan amplop panjang berwarna putih di tangannya.


"Jadi bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Samuel dengan wajah tenang, namun tidak begitu dengan Maya. Gadis itu berkali-kali meremas gugup jemari tangan Samuel.


"Melihat dari hasil pemeriksaan kalian....." Harris menjeda kalimatnya, semakin membuat jantung Maya berdegup kencang seolah ia habis berlari mengitari stadion yang ada di Senayan.


"Kalian.... baik-baik saja," lanjut Harris.


"Benarkah, Dok? Jadi tidak ada masalah dengan kami?" Sam kembali memastikan.


"Iya, kalian sehat. Tidak ada masalah dengan kesuburan kalian," terang Harris lagi.


"Mungkin memang belum waktunya saja kalian diberi kepercayaan sama Tuhan. Tetap berdoa dan makan makanan bergizi. Jaga kesehatan juga, jangan sampai kelelahan," sambung Harris lagi.


"Maya, tidak ada yang harus kamu khawatirkan. Masalah ini normal saja. Kadang kesuburan seorang wanita berbeda-beda."


"Iya, Dok."


"Yang penting kamu tidak perlu banyak pikiran buruk, jangan terlalu capek dan ciptakan ruang nyaman kalian." Harris melanjutkan.


"Banyak pasangan seperti kalian, namun akhirnya dengan doa dan segala usaha mereka berhasil mempunyai keturunan. Lagipula pernikahan kalian belum ada satu tahun, bukan?"


Maya mengangguk pelan, semakin mengeratkan tautan jemarinya kedalam jemari lembut Samuel.


"Terima kasih, Dok."


"Sama-sama, kalian tak perlu sungkan."


Sam dan Maya keluar dari ruangan serba putih dengan banyak poster soal kehamilan dan kesehatan ibu dan bayi.


Maya mengeratkan gelayutan manja lengannya di lengan Samuel. "Kamu mau pulang atau kembali ke cafe, dear?"


"Eem... aku pengen pulang aja deh." Maya merajuk.


"Ya sudah aku anterin kamu ke rumah."


"Hhmm...." angguk Maya


....


Sesampainya di rumah mereka, baik Sam maupun Maya menempati sofa panjang yang berada di salah satu sudut ruangan luas itu.


"Kamu mau balik ke kantor sekarang?"


"Iya, sayang. Ada tender yang harus aku tangani. Dan lagi mereka menunggu keputusan dariku," jawab Samuel dengan wajah lemah. Seandainya saja pekerjaannya bisa ia tinggalkan dulu sementara.


"Kamu gak makan siang sekalian?"


"Nanti saja, aku makan siang di kantin kantor. Aku pergi dulu, mmuacch...." kecup Sam di ujung kening Maya lalu beralih kecupan hangat itu mendarat di ujung bibir istrinya.


"Kamu baik-baik di rumah ya, nanti sore aku usahakan pulang cepet."


"Iya, kamu juga hati-hati."


"Hhmm.... bye, honey.... love you..."


"Love you too, suami..." Maya menerima satu lagi kecupan hangat Sam, sebelum pria itu kembali berjalan ke arah sedan hitam mengkilat yang terparkir tepat di depan pintu utama mansion mereka.


Maya meremang, begitu sedan hitam itu meluncur dengan cepat meninggalkan halaman luas rumah mereka.


"You just alone right now, May...."


batin Maya. Hembusan napas berat menjadi respon akan kesendiriannya sepeninggal Samuel barusan.


"Non Maya mau bibik buatkan teh hangat?" tanya si bibik tiba-tiba.


Maya menggeleng pelan, "Gak usah bik, tolong bibik pijitin May aja ya."


"Baik non," angguk si bibik patuh.


Rasanya Maya memang butuh sedikit rileksasi. Kesibukannya saat ini mungkin salah satu penyebab ia tak kunjung juga hamil.


Dengan langkah berat, Maya berjalan menaiki tangga melingkar. Kini tubuh dan pikirannya benar-benar merasa lelah.


to be continue....