
Pukul tiga dini hari, Maya terbangun karena merasa lapar. Mendadak ia ingin memakan pasta yang harus dimasak langsung oleh Sam, dengan taburan keju di atasnya. Membayangkan itu saja membuat Maya menelan ludahnya, ia benar-benar menginginkannya.
Maya menoleh ke sampingnya, melihat Samuel yang masih terlelap tidur pulas dengan memeluknya. Bibir mungil Maya sontak melengkung ke bawah, tidak tega jika ia harus membangunkan suaminya hanya untuk memenuhi keinginannya.
Bertanya-tanya sendiri, haruskah ia membangunkan suaminya hanya untuk sekedar membuatkan makanan untuk dia dan jabang bayi atau kah dia harus membuat pasta sendiri? atau menahan keinginannya saja? Tapi Maya tidak ingin jika nantinya sang buah hati akan selalu mengeluarkan air liurnya, mengingat mitos jika wanita hamil tidak terpenuhi salah satu keinginannya berakibat pada buah hati yang suka iler-an. Tidak... tidak.... Maya menggeleng berusaha mengusir pikiran-pikiran terburuknya.
Tapi kalaupun Maya membangunkan Samuel, apakah ia akan menjadi istri durhaka? Karena sudah mengganggu tidur suaminya hanya untuk memenuhi keinginan ngidamnya saat ini?
Ini seperti buah simalakama, Di satu sisi Maya sangat lapar dan menginginkan pasta yang dibuat oleh Samuel namun disisi lain Maya tidak tega jika harus membangunkan tidur suaminya.
Beberapa menit sibuk berfikir, akhirnya Maya memutuskan untuk memasak sendiri saja. Lagi pula pasti tidak akan jadi masalah buat Sam jika malam-malam begini dirinya akan kembali membuat berantakan isi dapur. Dan lagi pastinya bibik sudah bangun di jam segini, mengingat kebiasaan bibik yang selalu sholat di sepertiga malam.
Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Maya menyingkirkan lengan Samuel dari pinggangnya lalu bangkit. Sedikit memperbaiki letak selimut Samuel lalu mulai melangkah keluar dari kamar.
Namun baru beberapa jengkal melangkah, suara berat Samuel menginterupsinya.
"Mau kemana, sayang?"
Maya yang sempat terkejut pun sontak membalikkan badannya, menatap Samuel yang kini duduk di tepi ranjang sembari menatapnya juga.
"Hhmm.... aku mau masak."
Sebelah alis Sam terangkat heran. "Ini masih malam, sayang."
"Aku pengen pasta, Sam."
Samuel mengusap wajahnya untuk mengusir rasa kantuk lalu menyibak selimut dan menghampiri Maya.
"Ngidam lagi?" tanya Sam dan Maya mengangguk pelan menjawabnya.
"Sebenarnya sih.... aku ngidamnya kamu yang bikin-nin pastanya," cengir Maya lucu.
Sam menarik tubuh Maya dan mendudukannya di atas sofa besar yang terletak di pojokan kamar, tepat di depan plasma Tv layar besar.
"Tunggu sini, aku cuci muka dulu," ujar Sam sembari berjalan ke arah kamar mandi.
Beberapa menit Sam sudah kembali dengan wajah lebih segar, meski rasa kantuk masih menderanya. Namun ia berusaha tahan demi Maya.
Sam lalu memegang tangan Maya dan menggandengnya turun ke bawah. Dengan sangat hati-hati sekali Sam menggenggam erat tangan Maya saat menuruni banyak anak tangga melingkar.
"Kamar kita pindah di lantai bawah aja ya, sayang?" tanya Samuel di sela-sela langkah kaki mereka.
"Kenapa?"
"Sangat rawan jika kamu harus naik turun tangga."
"Aku gak papa kok, suami.... lagipula kan bagus sekalian olahraga."
Sam menggeleng pelan, "Pokoknya kamar kita mulai besok pindah aja di lantai bawah. Biar besok aku suruh mbak Pur buat beres-beres," ucap Samuel tegas.
"Terserah kamu aja deh," jawab Maya dengan sedikit mengedikkan bahunya.
"Aku bantuin?" tanya Maya begitu keduanya sampai di dapur luas dengan segala perabot lengkap.
"Gak usah, kamu duduk aja disitu," ujar Samuel yang menunjukkan kursi kayu dengan alas bantal empuk yang berada di balik meja panjang berbahan batu marmer. Meja yang berperan sangat multifungsi, biasanya di meja itu Maya dan Sam selalu menikmati cemilan atau teh dan kopi hangat di sore hari.
"Tapi aku mau bantuin...."
"No baby...! Menurutlah dan jadi gadis manis untuk malam ini." Sam menggeleng dan mencium lembut puncak kepala Maya supaya istrinya itu diam menurut.
Sam mengeluarkan beberapa bahan dari dalam kulkas, sebenarnya memasak bukanlah keahliannya, namun untuk Maya apapun akan ia lakukan demi memenuhi keinginan istrinya itu.
"Kamu bisa kan, suami?"
"Jangan protes kalo hasilnya gak enak ya," senyum Samuel lucu.
"Hhmm.... semangat masaknya suami... caio...." ucap Maya dengan bola mata berbinar, tangannya mengepal sejajar dengan dada untuk memberi semangat pada Samuel dalam membuat pasta yang sebenarnya sangatlah mudah. Mungkin lebih tepatnya hampir sama dengan membuat mie goreng instan dengan bumbu instan siap saji yang hanya tinggal dihangatkan saja.
Sam mulai memasukkan potongan sosis sapi dan juga pasta ke dalam panci yang sudah berisi air mendidih, mengaduknya, setelahnya ia lalu menuang bumbu dan juga saos ke dalam wajan teflon yang sudah berisi sedikit minyak wijen.
Begitu pasta dan sosis matang Sam meniriskannya lalu memasukan ke dalam wajan teflon berisi bumbu yang ia campurkan tadi. Ia tumis sebentar, setelah satu menit Sam menaruh pasta tadi ke dalam piring keramik lebar.
"Udah jadi? Hhmm... wangi banget aromanya." Bola mata Maya kembali berbinar melihat pasta lengkap dengan sosis sapi favoritnya dan juga banyak toping brokoli rebus yang juga menjadi sayur kesukaan Maya. Jangan lupakan banyak taburan keju parut di atasnya.
"Makanlah, tadi aku kurangi saos sambalnya."
"Yah.... aku maunya pedes, Sam." Kerucut Maya lucu.
"Sayang, kamu gak boleh makan pedes dulu. Kasian kan jagoan kita kalo kepedesan nanti," ujar Sam sembari menyuapkan satu suapan pasta ke mulut Maya.
"Enak?" tanya Samuel ketika dilihatnya Maya begitu menikmati suapan pasta hasil karyanya.
"Hhmm... enak, tapi kurang pedes," manyun Maya lucu, namun tak lama kemudian gadis itu terlihat begitu rakus menghabiskan satu piring penuh pasta dengan taburan keju buatan Sam.
....
Maya menghampiri Samuel yang baru saja keluar dari kamar mandi. Selama Sam memasak, pria itu terus saja bolak balik ke kamar mandi. Aroma pasta dan juga sosis yang dimasaknya membuat Sam merasa mual dan pengen muntah-muntah. Dengan susah payah Samuel menahan mual yang bisa dikatakan sangat mengganggunya.
Dan sampai Maya menghabiskan pastanya, Sam masih saja bolak balik ke kamar mandi untuk memuntahkan seluruh isi perutnya. Efek kehamilan Maya sangat berdampak ke diri Samuel, meski merepotkan namun Sam tidak pernah mengeluh, bahkan jika disuruh memilih, Sam lebih memilih dirinya yang mengalami mual dan muntah seperti ini asal bukan Maya. Tidak bisa dibayangkan jika hal ini terjadi terhadap Maya, pastinya Sam akan lebih panik dibuatnya.
"Aku buatin teh anget ya, biar lebih enakan?"
Sam menggeleng, "Aku gak papa."
"Atau aku balurin minyak kayu putih? perutnya biar enakan?"
Lagi-lagi Sam menggeleng pelan dan tersenyum ke arah Maya.
"Gak usah sayang, aku baik-baik aja kok." Kali ini Sam mendekat ke arah Maya dan menempatkan tubuh gadis itu kedalam pangkuannya.
"Maaf ya suami, kamu jadi kerepotan seperti ini." Maya memanyunkan bibirnya lucu.
"Gak papa, May.... lagipula udah jadi tugas aku kan sebagai suami kamu."
"Aku jadi nyusahin kamu, aku yang hamil malah kamu yang mual-mual," ucap Maya yang masih saja merasa bersalah. Kembali senyuman Samuel menjadi respon pria itu.
"Gak sayang," ucap Sam.
"Aku malah bersyukur bukan kamu yang ngalamin. Aku pasti gak akan sanggup melihat kamu muntah-muntah seperti yang aku alamin, lagipula aku seneng kok masak buat kalian."
"Kok kalian sih?" Maya menarik sebagian alisnya heran.
"Iya, kan buat kamu dan bayi kita."
"Oh iya, heeee aku lupa," cengir Maya.
"Hhmm.... kok bisa lupa sih? Awas nanti kamu bertindak ceroboh lagi, kamu harus hati-hati ya. Ingat sayang, ada bayi kita dalam perut kamu." Samuel membisik lembut sembari melingkarkan kedua lengannya ke perut Maya.
"Siap boss.....!" jawab Maya, ia tempelkan ujung hidung nya ke hidung mancung Sam lalu menggesekkan pelan kedua ujung hidung mereka.
"Makasih, suami.... I love you."
Sam tersenyum lalu mendaratkan ciuman di kening Maya, "I love you more, My Love."
to be continue....