MySam

MySam
Goes to Milan



Di kamar, Maya duduk di tepian ranjang menikmati es krim vanilanya sembari melihat Samuel yang tengah sibuk memasukkan beberapa pakaian mereka ke dalam kopor.


Oh, jangan mengatai Maya pemalas karena lebih memilih bersantai di ranjang sembari memakan es krim, sementara Sam yang membereskan barang-barang mereka. Salahkan Sam yang memintanya untuk tidak melakukan apapun lalu malah memberikannya es krim agar dirinya bisa duduk tenang sementara Samuel yang membereskan pakaian mereka.


Setelah mendapat laporan dari ayahnya melalui telefon bahwa cabang perusahaan di Milan mengalami masalah, penerbangan mereka jadi dipercepat esok hari.


Sebenarnya Maya masih enggan meninggalkan Jakarta, apalagi sang mama yang saat-saat ini selalu mengunjunginya semenjak kecelakaan itu. Sayangnya sang mama tidak bersedia ikut pindah ke rumah besar mereka ketika Maya dan Samuel menawarkan wanita setengah abad itu untuk tinggal bersama. Dan sekarang, Maya harus meninggalkan mamanya untuk sementara waktu, tentu saja Siska merasa sangat sedih dengan kepergian Maya dan Sam ke negeri Pizza.


Terlebih lagi, urusan cafe yang selama ini semakin jarang ia tangani. Martha lah yang malah sibuk mengurus bisnis itu, sementara Maya lebih suka meng-handel bisnis mereka dari rumah melalui ponselnya.


Untungnya Martha tidak pernah mengeluhkan soal satu ini, karena menurutnya itung-itung menjadi kesibukannya selama ditinggal bekerja oleh Harris.


Dan soal Samudra.... Martha belum memberi keputusan, membuat Maya harus tega untuk meninggalkan sementara bocah itu. Entah kenapa Maya merasa ada sesuatu yang spesial antara dirinya dengan bocah berwajah sedikit keindo-an itu.


Kkkrrrkkk....!!


Bunyi yang memalukan berasal dari perutnya membuat refleks Maya menghentikan suapan es krim nya seraya menggigit bibir bawahnya karena malu.


Merasa kesal pada dirinya sendiri, seolah seperti orang yang kelaparan karena Samuel tidak memberinya makan. Padahal baru tiga puluh menit yang lalu dirinya menghabiskan makan malamnya dan ditambah lagi saat ini ia tengah menikmati sekotak es krim kesukaannya.


"Kamu lapar?" tanya Sam mendekatinya dan menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.


Maya mengangguk malu.


"Padahal belum ada satu jam kita makan malam," ucap Samuel membuat Maya semakin mengerucutkan bibirnya.


Sam membelai kepala istrinya lembut.


"Mau makan apa?"


"Aku pengen spagetti."


Samuel tersenyum. "Mau makan di luar?"


Maya pun lalu mengangguk manja.


"Ya udah kita cari spagetti di Italian food."


Maya kembali mengangguk semangat. "Aku gak usah ganti baju ya, suami?" cicit Maya sembari berdiri dari duduknya. Ia hanya menyisir dan merapikan kembali rambutnya serta meraih mantel berwana abu dari lemari pakaiannya


"Iya terserah kamu," jawab Samuel yang kini berganti dengan celana jeans selutut tanpa mengganti kaus oblong putih yang ia pakai sehabis mandi tadi.


Sam bahkan terlihat tetap mempesona meski hanya berbalut pakaian santai dan casual seperti itu.


....


Maya menggeliat saat merasakan usapan lembut menyentuh wajahnya, kedua kelopak matanya terbuka memperlihatkan wajah Samuel yang bertelanjang dada memperlihatkan senyuman.


"Good morning, sweetheart..."


Maya tersenyum lembut. "Morning, my husband..."


"Morning kiss?"


Maya tersenyum dan memajukan wajahnya mengecup bibir Samuel, dan Sam nampak sangat senang menerima hadiah ciumannya di pagi hari.


Maya hendak bangkit dari tidurnya ketika menyadari bahwa mereka tengah berada di tempat asing, namun Sam menahannya dengan semakin melingkarkan lengannya di pinggang Maya.


"Kita dimana, Sam?"


"Kita di pesawat, sayang."


Kedua netra Maya langsung saja membelalak kaget.


"Sudah berapa lama kita di atas?"


"Sekitar lima jam."


"Kok aku gak tau? tadi kan aku baru mainan sama Samudra di bandara."


"Iya, setelahnya kamu tertidur kan? dan tidur kamu pules banget seperti bayi," kekeh Sam sembari mengelus puncak kepala Maya.


"Aku gak tega mau bangunin kamu," lanjut Sam.


"Terus? Kamu gendong aku sampai pesawat?"


"Hm," angguk Samuel.


"Maaf ya."


"Kenapa minta maaf?"


"Kamu udah capek-capek gendong aku."


Sam kembali tersenyum lembut. "Aku gak capek kok. Tuh Samudra yang kecapean dari tadi di bandara lari-lari gak bisa diem."


Maya langsung saja merotasikan kedua netranya mencoba mencari sosok bocah kecil dengan pipi tembem yang sangat menggemaskan buat dicubit dan dicium.


"Mana dia?"


" Tuh di belakang lagi tidur." tunjuk Sam.


Netra Maya kembali membelalak ketika melihat sekeliling kabin pesawat. Hanya ada mereka bertiga serta beberapa pramugari pesawat yang saat itu sibuk melayani keduanya.


"Sam..... kita...."


"Iya kita naik jet pribadi. Aku pikir biar kalian nyaman selama penerbangan," jeda Samuel.


"Bukan, jet ini milik papa."


"Owh...." bibir mungil Maya mengerucut lucu, dan kembali membuat Samuel berdecak gemas.


"Jangan mengerucut gitu bibirnya."


"Kenapa?"


"Membuat aku gemas pengen gigit," kekeh Sam.


"Ish.... jangan mesum gitu ih."


Kembali Samuel tertawa, mengacak-acak puncak kepala Maya dan kembali mendaratkan ciuman kecil di keningnya.


"Aku mau deket sama Am," ucap Maya sembari mencoba berdiri dari rebahnya.


Samuel dengan sabar melepas seat-belt Maya dan membantu gadis itu berdiri.


Hingga Maya duduk di hadapan Samudra, tersenyum memandangi wajah mungil itu. Sejurus kemudian badan Maya sedikit membungkuk guna memberikan satu kecupan di kedua pipi Samudra.


....


Flashback sebelum ke Milan


"Berapa lama kalian di sana?"


"Mungkin sebulan dua bulan," jawab Samuel.


"Gimana ya...."


"Please Tha, aku janji akan jaga Samudra baik-baik nanti."


"Aku percaya sama kamu May, hanya saja...." Martha menjeda ucapannya lalu melirik ke arah Harris di sampingnya.


"Gimana mas?"


"Aku terserah kamu aja, sayang. Dan juga gimana sama Am aja. Kalau anaknya mau, gak apa-apa lah."


"Lagipula kamu bentar lagi kan mau lahiran Tha, itung-itung sebagai pengurang kerepotan kamu jika Samudra ikut sama aku ke Milan." Maya melanjutkan.


"Please....." mohon Maya lagi.


Martha menghembuskan napas berat lalu melihat ke arah Samudra yang sedang bermain dalam pangkuan Samuel.


"Am....."


"Iya mommy...."


"Am, mau gak ikut naik pesawat sama om Uel dan onty Aya?"


"Mau....." angguk Samudra semangat.


"Am telbang..... Am mau telbang...." ucap bocah itu dengan suara cadelnya.


"Tapi nanti Am jauh sama mommy sama daddy lho.... Am gak apa-apa?"


Dengan cepat Samudra kembali mengangguk.


"Am, cama onty Aya....." pekik bocah itu lagi.


Martha hanya membuang napas berat lalu mengangguk perlahan ke arah Samuel dan Maya.


"Yeah..... Thank's Tha.... Aku janji akan jaga Am baik-baik." pekik Maya girang, ia peluk pundak Martha erat. Sementara Martha hanya tersenyum kecil sembari menepuk-nepuk punggung Maya yang masih memeluknya erat.


....


Back to The Plane Scene


"Sam...."


"Hm?"


"Aku seneng deh Am bisa ikut kita."


Samuel tersenyum, lengan kanannya kini merangkul pinggang Maya yang ada dalam pangkuannya.


"Sayang...." ujar Samuel pelan.


"Iya?"


Sam kini terlihat sedikit ragu ketika ingin melanjutkan kalimatnya. Ia tak tega jika harus melarang rasa sayang Maya yang terlalu besar untuk Samudra. Bukan apa-apa, Sam hanya takut jika nantinya Maya menjadi susah berpisah dengan anak itu.


"Kenapa, Sam?" tanya Maya membuyarkan lamunan Samuel.


"Eh-emm-nggak..."


"Suami, kamu kenapa sih? seperti orang bingung gitu?" tanya Maya yang melihat sikap aneh Samuel.


"Nggak.... penerbangan kita masih lama, kamu kalo butuh sesuatu bilang aja sama pramugari, jangan sungkan."


"Oke," angguk Maya. Kini ia semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Samuel, mengecup kecil leher Sam dan sesekali menggoda suaminya itu dengan sedikit jilatan kecil di leher kokoh pria itu. Dan Sam membalasnya dengan sedikit memberikan cumbuan untuk Maya, tak jarang tawa kecil keduanya mengisi seluruh ruang kabin jet pribadi mereka.


To be continue....