MySam

MySam
Seribu Purnama untuk Melupakan



Lekat gadis itu memandangi sosok Sam yang masih mematung.


Dari balik tirai, samar ia melihat iris mata nanar Samuel. Laki-laki itu tetap memandangi pintu rumah Maya seolah berharap gadis itu keluar dari sana dan lari berhambur ke pelukannya.


"Benarkah kamu juga merasakan sakit yang sama Sam?" batin Maya pilu. Air mata beningnya masih saja deras mengalir bahkan kini terdengar isakan yang semakin nyaring. Ia sudah tidak peduli jika Siska kali ini melihat kerapuhan dirinya, sungguh...


"Kamu yang sabar ya sayang, Percaya sama takdir Tuhan." Siska meraih pundak kecil Maya dan membawanya ke dalam pelukan hangat wanita itu.


"May gak mau ketemu dia lagi ma, tolong jangan pernah mengizinkan dia masuk ke sini lagi." cicit Maya disela tangisnya. Berulang kali Siska mengelus puncak kepala Maya, semakin mengeratkan pelukannya untuk menguatkan gadis itu.


*****


Sam terlihat berjalan cepat di dalam sebuah cafe, ia mencari sosok gadis cantik bersurai panjang kecoklatan.


Dengan wajah datar Sam mendekat ke arah gadis itu begitu ia melihat sosoknya.


Seolah melihat salah satu tokoh legenda dewa Yunani, Martha mengerjapkan kedua netranya. "Sam, aku seneng deh kamu ngajakin ketemuan. Aku gak sabar dengan pernikahan kita sayang." Berusaha mendekati tubuh Sam, berniat bergelayut manja di lengan kekar laki-laki itu, sedetik kemudian kini ekspetasi Martha harus dia telan mentah. Samuel menghindar saat Martha hendak berhambur ke arah Sam.


"Langsung aja ya Tha, lo kan yang ngomong sama Maya soal pernikahan itu hah?!"


"Maksud kamu apa Sam?"


"Gak usah sok innocent. Asal lo tau ya kalo bukan karena anak yang lo kandung itu, gue gak bakal setuju sama pernikahan ini," dengus Sam.


"Aku gak ngomong apapun sama gadis kampungan itu, dan yah... mau gak mau lo harus menikahi gue dan lo harus jadi milik gue Samuel !!" decih Martha, senyuman smirk kini tertarik di kedua sudut bibirnya. Sam kembali mendengus kasar, tatapan meremehkan ia tunjukkan jelas di hadapan Martha.


"Kenapa kamu gak tanya sama tante Anita? mungkin aja tante yang ngomong sama gadis kampungan itu." Ucap Martha sinis, gadis itu kini terlihat menyesap kembali latte yang ada di hadapannya. Tanpa mempedulikan ekspresi kesal Samuel.


"Percuma gue ngomong sama lo, psycho girl." dengus Sam kesal, kini ia berlalu meninggalkan Martha sendiri. Gadis itu terlihat kembali menyesap latte, seringai kecil kini tertarik di sudut bibir tipis Martha. "Bentar lagi lo jadi milik gue Sam." gumam nya.


****


Langkah panjang Sam menapaki lantai luas mansion, "Mama ada bik?"


Wanita berkebaya itu mengangguk hormat ke arah tuan muda nya. "Nyonya di taman belakang, den." jawab si bibik, tanpa menunggu lama lagi Sam kini melangkah kembali menuju taman belakang.


Benar saja, Sam melihat Anita yang terlihat sibuk memotong tangkai dan daun tua beberapa pohon mawar koleksinya.


"Apa maksud mama ngomong seperti itu sama Maya?"


"Kamu baru datang kenapa marah-marah gitu? ada apa?"


"Mama kan yang bilang kalo Sam mau nikah sama Martha?"


"Cepat atau lambat Maya akan tau juga kan Sam." Anita masih terlihat sibuk memotong beberapa tangkai mawar yang menjulur.


"Biar Sam yang ngomong mah, mama gak perlu ikut campur urusan Sam dan Maya."


"Terus kapan kamu ngomong sama Maya? sampai kapan kamu menyembunyikan rencana pernikahan kamu Sam?"


Kini Anita menghela napas sejenak, memandang sejenak ke arah Sam.


"Sam mohon, mama jangan ikut campur urusan Sam lagi."


Selepas berbicara, langkah Sam kini menjauh dari Anita. Menjauh dari mansion keluarganya.


____


Beberapa Minggu Kemudian


Matahari sudah menampakkan diri, cahayanya yang masih pucat tampak malu-malu, dengan pasti sinar itu menyentuh tiap jengkal bumi.


Maya perlahan menyibak asal selimut, kini kain tebal itu terlihat menjuntai turun menyentuh lantai. Ia berusaha mengumpulkan kembali nyawanya yang saat itu belum sepenuhnya terkumpul.


Tiba-tiba memori itu kembali hadir tanpa ia pinta, pelukan hangat Sam di pinggangnya dan juga tatapan mata Samuel yang selalu tanpa bosan menatap lembut ke arahnya.


Maya menghela napas sebentar, hari ini untuk kesekian kalinya ia tidak lagi datang ke kantor Sam.


Sudah lebih dari dua pekan berlalu sejak perpisahan dia dengan Samuel.


"Morning my bestie...."


Sebuah suara nyaring tanpa cela memenuhi seluruh ruangan kamar Maya. Sosok wajah manis kini menjulurkan kepalanya dari balik pintu.


Maya memutar bola matanya lalu kemudian sedikit menyipit ketika tahu siapa yang kini sudah duduk manis di tepi ranjang Maya.


"Ngapain lo kesini?" dengus Maya.


"Ihh... jahat lo May, gue datang bukannya seneng malah cemberut aja lo."


"Awas cepet tua lo ntar."


Kembali Maya mendengus kesal, memutar malas kedua bola matanya.


"Oh my god May... ini udah jam berapa? kenapa belum siap-siap ke kampus? hari ini kita ada ujian skripsi kan?" pekik Airin, sedangkan Maya hanya mengangguk kecil, meraih handuk di sandaran kursi sambil mengusap kedua netra yang masih terasa sangat berat.


"Mata lo udah gak benjol lagi kan May? kemarin udah kayak mata ikan tau gak lo?"


"Enak aja lo kalo ngomong."


Airin terkekeh, manyun sebentar ketika rambutnya dibuat acak-acakan oleh Maya.


"Cepetan mandi, gue gak mau nunggu lo kalo kelamaan." teriak Airin.


"Gak ada yang nyuruh lo nungguin gue, bawel." sahut Maya tak kalah galak dan hanya dibalas kekehan kecil Airin.


"Maya..."


"Hmm...?" jawab Maya dari balik kamar mandi dalam, terdengar suara gemericik air yang ikut meramaikan percakapan mereka.


"Kayaknya gue akan tetap di kantor Sam deh setelah lulus nanti." ucap Airin, sesaat hanya ada suara gemericik air kran yang mendominasi.


"May...."


"Apaan bawel....?!"


"Menurut lo gimana? gak apa-apa kan gue tetep kerja disana?"


"Emang kenapa lo nanya gue?" kini kepala Maya sedikit menjulur dari balik pintu kamar mandi.


"Malah bagus dong, lo gak capek-capek lagi cari kerjaan." lanjut Maya.


"Terus lo gimana? kenapa sih lo gak balik aja ke kantor Samuel? pasti keterima kok." Airin kembali menemukan keheningan sebentar.


"Gue gak mau ketemu dia lagi." Kali ini Maya keluar dari balik kamar mandi, hanya berbalut handuk sampai selutut. Untung hanya Airin, kalo gak....


"Sam masih di Praha."


"Terus...?" Maya mengedikkan bahunya sebentar.


"Wedding mereka kan hari ini May." jawab Airin hati-hati. Hening sebentar, Airin melirik ke arah Maya.


Gadis itu masih terlihat sibuk memakai beberapa bagian pakaiannya, membelakangi Airin.


"Yah semoga mereka bahagia." ucap Maya akhirnya, tentu saja dengan wajah muram yang ia sembunyikan.


"Come on.... gue juga harus bahagia kan Rin. Doain ujian skripsi gue sukses ya, semangat....!!!" seru Maya yang tiba-tiba membalikkan badannya dengan senyuman mengembang.


"Yeaahh.... semangat baby girl...." balas Airin, kedua tangannya terangkat sepundak.


Mereka tertawa, Maya tertawa menyeruak. Sebenarnya hanya untuk menyembunyikan kepedihan hatinya. Airin tidak menyadari setitik cairan bening yang keluar dari sudut mata Maya.


Bibir gadis itu mengembang sempurna, namun tidak dengan hatinya. Mungkin butuh seribu purnama atau lebih untuk menyembuhkan luka itu, terlebih lagi untuk menghilangkan bayangan Samuel dari benaknya.


to be continue...