MySam

MySam
Tak Jera Juga



"Cepat panggil tuan kamu, si mas Harris. Bilang kalau Laura ingin bertemu," kata Laura sinis kepada si bibik asisten rumah tangga Harris dan Martha. Si bibik mengernyit heran dengan kelakuan tamu tak diundang ini yang begitu sok dan sombong. Tapi menurut bibik sikap perempuan di hadapannya saat ini lebih pantas dikatakan sangat kampungan dan tidak tahu sopan santun.


"Heh...!! malah bengong nih maid tua bangka. Cepetan panggil mas Harris!" teriak Laura lagi, mata bulatnya melotot begitu menyeramkan, mirip nenek lampir, batin si bibik.


"Hello.... kamu denger kan? gak budek kan?" teriak Laura lagi.


"Eeehh... maaf nona, tuan Harris sudah berangkat ke rumah sakit, sebaiknya nona pergi saja atau saya suruh pak satpam mengusir nona." Si bibik menjawab dengan ekspresi kesalnya. Tamu yang gak ada akhlak ini menurut bibik harus diberi pelajaran.


"Kalau si perempuan murahan itu, dia di rumah gak? Cepet suruh dia keluar!" perintah Laura kasar. Si bibik hanya geleng-geleng kepala geram melihat kelakuan tidak sopan tamu di hadapannya saat ini


"Maaf maksud nona siapa ya? di sini adanya non Martha istri dari tuan Harris," bibik menjawab masih dengan sopan, sebenarnya bibik mencoba bersikap sabar menghadapi tamu tidak tahu diri ini.


"Ya udah panggil....!! gimana sih, jadi pembokat bege nya minta ampun deh...." erang Laura, mendesis kesal dan melotot ke arah wanita setengah baya bersanggul di hadapannya.


"Maaf, non Martha juga sedang tidak mau diganggu. Sebaiknya nona pergi saja atau saya panggil satpam! tuan Harris juga berpesan kalau ada nona datang ke mari saya disuruh mengusir nona." Ucapan bibik spontan membuat Laura kesal, kembali melototkan bola mata bulatnya. Menghentakkan heels ke lantai dengan keras.


...


Martha mendengar suara ribut-ribut dari pintu utama, ada suara bibik dan juga suara seorang wanita yang sepertinya sedang berdebat dengan bibik.


Martha keluar dari dalam pantry, meletakkan mangkuk bubur untuk Samudra. Ia penasaran dengan suara ribut apa di luar sana. Gadis itu berjalan dengan cepat ke arah sumber suara tadi.


Begitu melihat sosok perempuan dengan pakaian ketat selutut, berwana merah menyala yang memperlihatkan seluruh lekuk tubuh indahnya. Kedua netra Martha membola penuh, sedikit mendengus kecil melihat tingkah laku tak tahu malu perempuan itu. Belum kapok juga dia, batin Martha.


"Dasar upik abu gak tau diri ya kamu....!! cepat panggil majikan kamu si murahan itu!" erang Laura lagi.


Si bibik masih bersikukuh tidak menuruti perintah tamu tak tahu malu itu.


"Bik.... bibik masuk aja, biar aku yang meladeni dia." Ucap Martha dengan tatapan tegas ke arah Laura. "Tolong bibik suapin Samudra ya, bubur dia ada di atas meja dapur." Martha melanjutkan kembali ucapannya dan dibalas anggukan kepala patuh si bibik. Dengan jalan tergopoh si bibik masuk ke dalam rumah besar itu dan meninggalkan nyonya mudanya bersama tamu tak diundang.


"Apa lagi mau kamu, hah....?!" tanya Martha sambil berkacak pinggang, menatap tajam iris yang juga berlensa biru safir.


"Kamu sudah tau kan kalau aku tunangan mas Harris, hah?!! ucap Laura sinis.


Martha tersenyum sekilas masih berdiri dengan kedua lengan yang ia silangkan di dada. Mengintimidasi Laura dengan tatapan tajamnya.


"Hah, punya nyali juga kamu menemui saya saat ini," Martha memandang sinis Laura.


"Saya cuma mau bilang, tinggalkan mas Harris. Kamu itu tak lebih dari gadis manja dan murahan yang menjadi mainan mas Harris." Laura melanjutkan ucapannya.


"Ha ha ha.....!! Apa aku tidak salah dengar? Hak kamu apa menyuruhku meninggalkan suamiku? Mas Harris itu suamiku, ayah dari anakku. Dan dia mencintai kami." Martha menjawab ketus, menyilangkan kedua tangan ke pinggang.


"Kamu itu gak tau malu ya, datang-datang ke rumah orang sambil ngomong ngelantur gak jelas kek gini. Denger ya Laura, jangan ganggu mas Harris lagi," Martha menjeda sebentar ucapannya, balik memandang meremehkan ke arah Laura yang sudah kalah telak.


"Mas Harris sudah ceritakan semuanya tentang kamu, dan kamu itu sudah gak penting lagi dalam hidup mas Harris. Carilah laki-laki lain yang bisa merubahmu menjadi baik." Martha melanjutkan kalimatnya.


"Sialan.....!!!"


Laura mengayunkan tangannya ke arah pipi Martha namun dengan cepat Martha menghindar dan menangkap ayunan tangan Laura. Ia mencekal pergelangan tangan Laura, tepat di depan wajahnya. Mencengkeram erat pergelangan tangan gadis bersurai lurus kecoklatan itu dan menatap wajah Laura dengan tatapan mata menusuk, begitu tajam. Dan plak....!!


Martha menampar pipi mulus Laura dengan keras. "Jangan pernah ganggu keluarga ku lagi, atau kamu akan berhadapan dengan aku. Apapun akan aku lakukan untuk mempertahankan keutuhan keluargaku. Ngerti kamu, hah...?!" ucap Martha dengan nada sedikit mengancam.


Membuat Laura kesal, tidak terima dengan apa yang Martha lakukan. Kembali Laura mengayunkan sekali lagi tangannya yang hendak menampar Martha namun dengan cepat Martha kembali mencekal tangan itu, meremasnya erat hingga Laura meringis kesakitan.


"Aauuw.... lepasin gue, brengsek...!!" rintih Laura.


"Jangan macam-macam sama aku. Kamu belum tau siapa aku, hah...?!" geram Martha.


"Sekarang keluar dari rumahku dan mas Harris. Atau kamu mau mas Harris yang mengusirmu, hah...?!!" ancam Martha sekali lagi.


Martha tersenyum kecil, merasa lega melihat Laura angkat kaki dari rumahnya.


.....


Maya menghentikan sedan abunya di halaman luas mansion Martha. Berjalan menapaki halaman luas yang tertata sangat rapi. Netra Maya sedikit mengernyit ketika ia berpapasan dengan perempuan cantik yang baru saja berjalan keluar dari rumah besar itu. Perempuan tersebut memandang ke arah Maya sinis, sedikit mendengus kesal ke arah Maya lalu ia menuju ke sebuah mobil berjenis SUV warna hitam. Maya mengedikkan bahunya sedikit melihat kelakuan si perempuan tadi, Laura menancap gas dengan kencang meninggalkan halaman berpaving.


Maya kembali berjalan menuju ke pintu utama, tersenyum kecil ketika melihat Martha yang berdiri di ujung pintu dengan kedua lengan yang masih menyilang di pinggangnya.


"Hey May..." sapa Martha. Raut wajah gadis itu seketika berubah sejuk ketika melihat sosok Maya berjalan ke arahnya.


"Siapa tadi, Tha? temen kamu?" tanya Maya begitu mereka saling cipika cipiki.


"Perempuan freak dia, udah gak usah dibahas. Oh ya sini masuk..." ajak Martha.


Maya mengikuti langkah Martha kemudian duduk di sebuah sofa panjang, bersama Martha yang juga duduk di sampingnya.


"Bik...bibik...."


Wanita setengah baya bersanggul dengan tergopoh berjalan ke arah Martha sambil menggendong Samudra. "Ya non...?"


"Tolong bibik buatin minum buat Maya. Sini biar Samudra sama aku aja." Martha meraih tubuh mungil anaknya dari tangan bibik lalu menampatkan tubuh mungil yang terlihat semakin gembul itu di pangkuannya.


"Baik non."


Maya tersenyum melihat Samudra, berusaha berinteraksi dengan bayi tampan itu. "Hei sayang.... ih onty kangen deh sama kamu." Maya mengelus lembut pipi chubby Samudra, merasa gemas ingin sekali menciumi pipi gembul berwana merah muda itu.


Martha tersenyum melihatnya, "Kamu mau gendong, May...?" tanyanya.


"Mau banget...." Maya antusias, mengambil alih tubuh mungil itu dan menempatkan ke pelukannya, sesekali kembali berinteraksi dengan Samudra. Bayi mungil itu pun seolah memahami semua ucapan Maya padanya. Celotehan kecil Samudra selalu terdengar lucu, sesekali tawa kecil bayi itu terdengar menggemaskan.


"Makanya punya baby sendiri dong, May...." goda Martha sambil tersenyum. "Kapan pernikahan kalian berlangsung? Lama banget kalian meresmikannya?" tanya Martha lagi.


Maya tersenyum kecil, sambil sesekali berinteraksi dengan bayi mungil di pangkuannya.


"Nanti kalau semua masalah kami selesai. Kamu doain aja ya." Maya menjawab dengan ekspresi berharap.


"Aku pasti doa kan, tapi kalau bisa jangan lama-lama May. Ntar Sam direbut cewe lain lho." Martha kembali menggoda sambil tertawa kecil.


"Ah kamu bisa aja, aku percaya sama Sam." jawab Maya dengan tersenyum kecil sambil sedikit mengerucut lucu.


"Gimana kalo kita ngopi bareng di luar? sekalian nanti aku mau ke tempat praktek mas Harris," usul Martha yang langsung disetujui oleh Maya.


"Hhhmmm boleh juga, tapi Samudra?"


"Tenang aja, Samudra aku ajak juga kok."


"Oh ya udah kalo gitu, mobil aku biar di sini dulu ya kalo gitu, gak apa-apa kan?"


Martha tersenyum, "Gak apa-apa, kamu tenang aja."


Martha berjalan menaiki tangga menuju kamar, selang beberapa menit kemudian gadis itu kembali turun menenteng jok mobil khusus bayi untuk Samudra serta tas Chanel di tangannya.


"Bik... aku keluar dulu ya sama Maya, oh ya Samudra juga aku bawa," pekik Martha dari ruang tengah yang kemudian dijawab oleh si bibik sambil mengangguk patuh.


Kedua gadis itu keluar dari mansion, menuju ke mobil VW seri terbaru milik Martha. Tak berapa lama kemudian mereka terlihat meninggalkan halaman luas tersebut.


to be continue...