
Sore itu Maya dan El duduk saling berhadapan di salah satu kursi taman kota, sesekali terlihat saling bercerita hingga membuat senyuman kecil tertarik di kedua sudut bibir masing-masing.
Dan Sam, masih terdiam di dalam mobil. Mengamati keduanya.
____
"Aku harus ya El, ikut dalam meeting hari ini?" tanya Maya dengan kening berkerut heran.
El mengangguk pelan, "Iya May, soalnya pemilik saham yang baru pengen bertemu dengan manager pemasaran perusahaan ini."
Kembali Maya berekspresi heran, "Pemilik saham yang baru?"
"Jadi dulu papah aku, bangun perusahaan ini berdua fifty-fifty bareng om Andi, sahabat papah."
"Berhubung om Andi mau pindah ke London, dia menjual seluruh sahamnya." Terang Elano. Maya hanya mengangguk pelan dan membulatkan bibirnya ber-oh-ria.
"Ya udah, aku balik ke ruangan ku dulu." Maya melangkah meninggalkan ruangan El.
Masih menatap punggung Maya yang kemudian menghilang di balik pintu, El membuang napas kasar.
Hampir satu tahun tidak saling bertemu, kini El merasakan kembali benih cinta pertama dulu. Mencoba mengistirahatkan hatinya untuk Freya.
Dulu pesona Freya pernah membuat El bertekuk lutut, mengabaikan sosok Maya yang saat itu masih menjadi kekasihnya.
Namun kini entah kenapa cinta pertama itu hadir kembali dalam hati El, laki-laki itu berharap Maya juga merasakan hal yang sama. Lagi pula Maya saat ini sedang tidak mempunyai hubungan dengan siapa pun.
"Maaf pak, pemilik saham yang baru sudah berada di kantor ini dan menunggu bapak." ucap sang sekretaris, membuat El sedikit terkejut dan tersadar dari lamunannya.
"Bawa dia ke ruangan meeting, sebentar lagi saya kesana." Jawab El, diikuti anggukan kepala sopan dari sekretaris cantik itu.
Kini El sedikit bertanya dalam hati tentang sosok pemilik saham yang baru, mengingat kemarin yang bernegosiasi hanyalah orang suruhan si pemilik saham tersebut.
El bangkit dari duduknya, membenarkan sebentar blezer yang ia kenakan lalu berjalan keluar dari ruangan miliknya.
....
"May kamu udah siap? pemilik saham yang baru sudah berada di ruang meeting." ucap El begitu memasuki ruang kerja Maya. Gadis itu mengangguk dan tersenyum kecil. Berdiri dari duduknya dan berjalan mengekori Elano. Tiba-tiba hati Maya merasakan sesuatu yang lain, entah perasaan apa itu.
Elano membuka knop pintu sebuah ruangan, disamping El berdiri Maya dan sekretaris pribadi El.
Mereka memasuki ruangan luas dengan beberapa kursi yang berjejer rapi, disambut seorang laki-laki tegap berbalut blezer abu berpadu Tshirt putih dan celana jeans abu model slimfit, laki-laki dengan rambut ikal kemerahan. Alis mata tebal seolah membuat iris kecoklatan itu terlihat sangat menawan, hidung mancung yang bertengger sempurna membuat wajah ber rahang kotak itu semakin menyedapkan mata untuk memandang.
Bibir tebal Sam kini menarik senyuman kecil. Terlihat santai namun tetap elegan untuk cara berpakaian seorang CEO sebuah perusahaan.
"Selamat datang ke perusahaan kami bapak Samuel Perdana." ucap Elano, menjulurkan tangannya ke arah Sam dengan sedikit senyuman di sudut bibir El.
"Saya rasa lebih tepatnya, perusahaan kita. Karena saya sudah menjadi bagian dari Wijaya Property." jawab Sam, menerima jabatan tangan El dan memperlihatkan senyuman manisnya.
Sam kini melirik ke arah Maya, memandangi lekat gadis itu dan tersenyum.
Kedua netra Maya membola penuh melihat kembali Samuel. Ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutan dan kegugupan nya ketika Sam menawarkan sebuah jabatan tangan untuk Maya.
Hanya bisa meraih punggung tangan Sam, kini tangan mereka kembali saling bersentuhan. Ada desiran aneh di dada Maya, gadis itu setengah menunduk saat Samuel terus memandangi dirinya.
"Silahkan duduk bapak Samuel."
Sejenak ucapan Elano membuyarkan lamunan Sam dan Maya.
Sam tersenyum kearah El, lalu mulai duduk di salah satu kursi disana. "Panggil Sam saja, lagi pula kita seumuran." ucap Sam kali ini dan hanya dibalas anggukan dari Elano.
"Dan ini adalah...." tanya Sam, mengalihkan pandangannya ke arah Maya yang sedari tadi hanya diam mematung dengan ekspresi terkejut.
"Oh ya ini nona Maya Aulia, marketing manager di perusahaan kita." jawab Elano memperkenalkan Maya.
Masih memandangi lekat paras Maya, Sam kini tersenyum kecil ke arah Maya.
Laki-laki itu sungguh merindukan sosok Maya, tidak pernah bosan memandangi gadis itu. Bahkan ia tidak seluruhnya mendengarkan beberapa penjelasan Elano soal bisnis property yang akan Sam geluti sekarang ini. Sam diam-diam sibuk memandangi wajah Maya yang tertunduk dalam.
Maya masih terlihat salah tingkah, merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan saat ini. Samuel... tiba-tiba kini kembali lagi hadir dalam hidupnya. Jika ia juga pemilik saham disini, tentu saja Maya akan lebih sering bertemu dengan Sam. Maya membuang napas berat dan mencoba lebih fokus dengan keadaan saat ini.
___
"Jadi ini ruang kerja saya?" Merotasikan kedua matanya, mengitari semua sudut ruang kerja miliknya. Samuel terlihat puas dengan ruangan yang kini menjadi ruang kerjanya. Sedikit lebih kecil dari ruang kerja Sam di perusahaan Advertising miliknya, tapi itu tak jadi soal. Yang terpenting buat Sam, ia bisa kapan saja melihat Maya.
"Bagaimana ada yang kurang?" Tanya El. "Oh tidak, saya suka dengan design ruangan tempat ini.
"Baguslah, selamat datang di kantor ini Samuel." ucap El, kembali menjulurkan tangannya ke arah Sam.
"Oh ya bisa saya tau letak ruangan Maya? eemm.... maksud saya manajer marketing?" tanya Samuel membuat El menghentikan langkahnya yang hendak meninggalkan ruangan Sam.
Sam mengangguk pelan, berterima kasih kemudian mulai duduk di kursi putar bersandaran tinggi yang empuk itu. Membiarkan Elano keluar dari ruang kerjanya.
____
Kembalinya Samuel menyisakan udara penuh canggung antara Maya dan Sam. Saat keduanya tengah duduk di ruang meeting, yang lebih terlihat canggung di sini adalah Maya. Terlihat dari pergerakan yang selalu memainkan jemari tangannya.
Sedangkan Sam? Lelaki itu hanya menatap lurus kedepan, melirik sesekali ke arah Maya dan tersenyum melihat gadis itu salah tingkah.
"May..." Kini Samuel terlihat menjulurkan sebagian kepalanya ke dalam ruangan Maya. Membuka pintu itu lebih lebar lagi dan memasuki ruang kerja Maya.
"Aku mau bicara sama kamu May." lirih Sam.
Hanya keheningan yang memenuhi seluruh ruangan tersebut.
"Sebentar aja, soal..."
"Soal apa lagi? aku rasa gak ada lagi yang perlu dibicarakan Sam." sedikit bernada kesal, Maya kini mencoba mengalihkan perhatiannya. Berpura-pura sibuk dengan layar laptop di depannya.
"Aku kangen kamu May."
Ucap Sam, mampu membuat Maya menghentikan sebentar ketukan jemarinya di atas keyboard laptop.
"Buat apa Sam? semua udah gak penting sekarang."
"Buat aku masing penting dan akan selalu menjadi hal penting May."
"Aku masih cinta kamu Maya."
Mencoba mendekat ke arah Maya, namun dengan cepat gadis itu menghindar.
"Kita di kantor Sam, dan..."
Memandang sebentar ke arah Sam, kini sudut mata Mata mulai sedikit berair.
"Kamu sudah menikah Sam, aku gak mau istri kamu atau mama kamu mengira aku perebut suami orang." Lirih Maya, berusaha sedikit menjauh dari Samuel.
"Tapi kamu udah merebut hati ku sejak dulu May."
Sam berusaha mendekati Maya, meraih lengan gadis itu.
"Lepasin aku Sam, aku mohon."
"Tapi dear.... " menolak permintaan Maya, Sam menarik lengan Maya. Membawa tubuh Maya ke dalam pelukannya.
Menenggelamkan kepalanya ke dalam geraian rambut hitam Maya. Semakin mengeratkan lingkaran tangannya ke pinggang gadis itu.
Untuk sesaat Maya merasakan emosi yang sama, hampir membalas pelukan Sam, melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Samuel. Namun sedetik kemudian akal sehat nya menyadarkan Maya.
"Sam, lepasin aku. Aku gak mau ada gosip aneh-aneh tentang kita." Berusaha melepas pelukan Sam, namun tenaga Maya tidak sekuat itu untuk merenggangkan tubuh Samuel yang kini melekat erat dengan tubuhnya.
"Samuel lepas!! atau aku berteriak?" Ancam Maya, membuat Samuel sedikit demi sedikit merenggangkan pelukannya.
"Bagaimana kalau aku tidak baik-baik aja May? terus mengingat kamu, memikirkan kamu. Semua tentang dirimu selalu menjadi candu buat ku dear. " Bisik Samuel, tepat di telinga Maya. Mereka masih saling berdekatan, Sam masih enggan melepas tubuh Maya. Tetap menautkan erat lengannya di pinggang ramping Maya.
Ia tempelkan bibir nya di atas kening Maya, kembali merasakan aroma wangi white lily yang menyeruak keluar dari tubuh gadis itu.
"I love you so much, dear."
"Setelah anak itu lahir, aku akan menikahi kamu sayang. I promise you." Bisik Sam lagi.
Kini Maya mendongak sebentar, menatap kedua netra kecoklatan milik Sam. "Pernikahan itu bukan main-main Sam. Kamu jangan gila deh." jawab Maya kesal.
"Pernikahan ini bukan kemauan aku May, aku hanya ingin menikah sama kamu. Hanya kamu dear." gumam Sam lagi.
Aku juga sangat ingin menikah dengan kamu Sam, tapi sekarang apa itu mungkin? batin Maya.
"Sekarang aku mohon kamu keluar dari sini."
"Tapi May...."
"Aku mohon Sam, please...." Sela Maya, membalikkan badannya membelakangi dan menjauh dari Samuel. Air mata perlahan terurai keluar dari semua sudut netranya, Maya menyembunyikan semua itu dari Samuel. Hatinya sungguh hancur, merindukan lelaki itu namun tidak sanggup melampiaskan kerinduan yang memuncak.
_____
Melangkah gontai dari ruang kerja Maya, menyeka kasar rambut ikal miliknya. Namun Samuel tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan kembali hati Maya.
to be continue....