MySam

MySam
Deans Pov



Flash back sudut pandang Dean saat di rumah Sakit.


Senyum Dean sekilas memudar begitu ia melihat sosok pria berpakaian formal namun tetap terlihat manly memasuki kamar rawat Samudra.


Melihat sosok pria bertubuh atletis dengan bahu lebar dan lengan yang terlihat berotot itu sedang memeluk erat tubuh mungil Maya, membuat perasaan berkecamuk di dalam dadanya.


Cemburu?


Mungkinkah ini yang disebut cemburu? pikir Dean. Kehadiran pria itu membuat Dean menunda kembali untuk mengutarakan isi hatinya kepada Maya.


Terlihat beberapa kali Dean membuang napas kesalnya, ia pun berpaling muka ketika melihat ciuman dari bibir tebal pria tersebut yang mendarat dan menyatu menguasai bibir Maya.


Ciuman yang hanya berlangsung beberapa detik namun mampu membuat jantungnya seperti tertusuk ribuan benda tajam yang memilukan.


Baru saja Dean merasakan getaran lembut ketika melihat senyuman Samudra merekah ketika menerima mainan yang ia bawa, namun kini getaran itu berubah menjadi seperti bom waktu yang bisa saja meledak-ledak jika ia tidak berusaha menguasai rasa cemburunya.


Melihat bagaimana dia memeluk Maya, serta respon yang perempuan itu berikan entah kenapa menimbulkan rasa sakit dalam dada seorang Dean Sanjaya.


"Harusnya gue yang berada di sana, bukan dia." Batin Dean.


....


Dean hanya mengangguk perlahan ketika Samuel mengajaknya keluar dari ruangan serba putih tersebut. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan pria dengan rambut sedikit ikal dan berpomade itu.


Ancaman yang pria itu layangkan ke arahnya, semakin membuat Dean mengetahui kelemahan pria itu.


Meskipun tak dapat dipungkiri jika Dean pun ingin sekali memberi pelajaran pada pria tampan dengan netra kecoklatan tersebut. Namun entah mengapa jauh dalam lubuk hati Dean, ia tidak ingin melukainya.


Entah perasaan apa yang saat ini mengusiknya. Dean merasakan jika dia dan pria itu mempunyai hubungan di masa lalu. Hampir saja kepalan tangan Dean Sanjaya pun bergerak cepat ke arah wajah pria tersebut dan jika ia tidak menahannya, mungkin sesuatu yang mengerikan akan terjadi.


Senyuman smirk nya pun tercipta begitu saja ketika emosi dari pria tersebut semakin meluap-luap.


Rencana satu layangan bogem mentah darinya pun akhirnya hanya Dean biarkan. Dia tidak menghindarinya dan juga berusaha untuk tidak tersulut emosi menghadapi pria yang tengah berapi-api dan berusaha menunjukan kehebatannya itu.


Hingga datanglah perempuan yang selama ini mengganggu hati Dean, sosok Maya yang tiba-tiba saja berdiri di belakang lawan bicaranya, membuat pria dengan wajah tampan dan bersurai ikal itu seketika tersentak kaget.


...


Dua pria dalam setelan resmi, lengkap dengan tuxedo hitam memasuki ruangan luas dengan beberapa perabot yang terlihat sangat mahal.


Dua pria tegap bertampang sangar itu pun mengangguk sopan ke arah Dean Sanjaya.


"Info apa saja yang kalian dapatkan?" tanya Dean tanpa memandang ke arah dua pria bertubuh besar di depannya.


Salah satu pria tegap berpakaian serba hitam, kecuali kemeja yang terbalut dalam jas hitam itu, menyodorkan satu buah map ke arah Dean.


"Kami mendapatkan semua informasi yang tuan inginkan," ucap salah satu pria berpakaian serba hitam itu.


Dean meraih map lalu membukanya, sorot matanya kini membaca dan mengamati dengan seksama beberapa lembar kertas yang berisi informasi dan juga beberapa foto.


"Bagus...." ucap Dean sembari manggut-manggut puas.


"Sekarang saya minta seluruh informasi soal perusahaan Permana Group. Terutama informasi soal Permana dan juga istrinya." Tegas Dean.


Kedua detektif itu pun mengangguk, tak berapa lama pun keduanya pamit undur diri dan keluar dari ruangan luas dengan berpendingin udara serta sofa besar dan juga beberapa nakas berbahan kayu ek tua.


Netra dengan lensa kebiruan itu kini kembali mempelajari semua informasi yang ia dapatkan. Tentang masa kecil Samuel dan keluarganya yang dulu pernah tinggal di sebuah kota kecil berhawa sejuk di daerah Jawa Barat.


Sebuah potret rumah bergaya eropa kuno dengan pepohonan rindang di halaman luasnya. Serta rumah pohon serta ayunan yang berdiri kokok tepat di depan rumah bergaya eropa kuno tersebut, mampu menarik perhatian dan rasa penasaran Dean.


Dean menarik ujung alisnya tatkala melihat foto-foto dan membaca semua informasi tersebut. Seperti ada semacam Dejavu saat Dean membaca informasi tentang Samuel.


Dean seperti pernah mengalaminya, namun..... entah kapan dan dimana.


Begitu mengetahui jika detektif bayarannya menuliskan lokasi rumah bergaya eropa kuno tersebut, Dean menarik keluar ponsel pipihnya dari saku celana dan membuat panggilan di sana.


"Pak Kardi..... siapkan mobil sekarang, antarkan saya ke suatu tempat___ iya sekarang."


Dean memutuskan sambungan selulernya lalu kembali memandangi foto rumah tersebut.


Hati kecilnya berkata jika ada sesuatu yang harus ia selidiki.


to be continue....