
"Samuel......!!" jerit Maya ketika tunangannya memberitahu tanggal pernikahan mereka dipercepat.
"Bagaimana mungkin bisa mempersiapkan pernikahan secepat itu?" lanjut Maya.
CEO muda itu mengulum senyum manis dan menarik pinggang ramping Maya dalam pelukan, membenamkan diri pada ceruk leher gadis yang akan menjadi istrinya.
"Jika kau memiliki koneksi yang tepat, semuanya tidak akan jadi masalah. Tapi bagaimana dengan kamu, apa kamu siap menjadi nyonya Perdana nanti?"
Maya terdiam, merasakan Samuel membelai punggungnya yang masih berbalut blezer kerjanya, membuat bulu kuduknya meremang. Maya selalu bisa menikmati sentuhan memabukan Samuel, namun juga berjaga-jaga agar tidak terlena. Tidak sebelum pernikahan mereka.
Dan kini pernikahan itu di depan mata, hanya dua bulan lagi. Maya mengingatkan dirinya dan semua perjuangannya selesai. Ucapan Samuel barusan membuat pipinya menghangat.
Menjadi nyonya Perdana? tentu saja Maya tidak sabar untuk menyandang status tersebut.
"Apa semuanya tidak terlalu cepat Sam?" bisik gadis itu, teredam oleh dada Samuel yang bidang. "Bagaimana kita bertemu, bagaimana kita memulai, dan kini tiba-tiba saja kita akan menikah ...."
"Apa kamu sekarang merasa keberatan? kamu tiba-tiba ragu?" tanya Sam, menyembunyikan ketakutan akan sikap Maya yang mungkin saja berubah pikiran tentang hubungan mereka.
Maya menggeleng pelan, membuat kelegaan mengalir dalam benak Samuel. Syukurlah Maya tidak menentang rencananya, Sam tidak bisa membayangkan bila Maya memutuskan untuk menunda rencana pernikahan mereka.
"Hanya kamu satu-satunya gadis yang ingin aku bahagiakan. Izinkan aku melakukannya, sayang, seumur hidupku."
Maya kembali membenamkan diri pada dada Samuel, menyembunyikan wajahnya yang memanas di sana. Senyuman kembali di wajah pria itu sambil merengkuh Maya dalam pelukannya sekali lagi. Membayangkan bahwa setelah ini gadis itu akan menemani hari-harinya, membuat hatinya serasa penuh kebahagiaan.
Setidaknya Sam sudah mempunyai sebuah mansion, tempat Maya bisa menunggunya sepulang bekerja, bersama dengan anak-anak mereka. Samuel melebarkan senyumnya. Apakah Maya bersedia memiliki lebih dari satu anak? Apakah Maya bersedia melepas pekerjaannya nanti? Seandainya tidak pun, itu bukan masalah.
Bersama, mereka akan mengatasi segala hal yang akan terjadi. Apa pun itu, Sam tahu, dia bisa menghadapi dunia dengan Maya di sisinya.
Sam kembali membelai lembut rambut Maya, mendaratkan kecupan di puncak kepala gadis itu. "Aku punya kejutan lagi buat kamu," bisik Sam.
"Kejutan lagi? Sam, kamu udah terlalu banyak kasih aku kejutan."
Samuel tersenyum sebentar, "Sebenarnya ini bukan dari aku, tapi dari mama."
Maya mengernyit, menyipitkan sedikit netra hitamnya. Memandang Samuel dengan penuh pertanyaan.
"Kita harus keluar untuk bisa melihat kejutan dari mama." Samuel berdiri, meraih jemari Maya dan membawanya keluar dari Mansion miliknya. Maya hanya mengikuti langkah kaki Samuel, mengekori pria bertubuh tegap itu.
Samuel membuka knop pintu mansion. Sebuah mobil sedan sport sudah terparkir di halaman depan mansion Sam. Kedua netra Maya membola penuh begitu Sam menunjukkan mobil sport keluaran produsen asal Jepang, berwarna abu metalic yang berdampingan dengan mobil jenis yang sama berwana merah, sebuah mobil tentu saja dengan harga yang pastinya sangat fantastis.
"Aku tahu jika ini dariku, kamu pasti akan menolaknya." Sam menghentikan ucapannya, melirik sebentar ke arah gadis di sampingnya.
"Ini dari mama, hadiah pernikahan kita. Sedikit lebih awal sih, tapi gak apa-apa lah, lagian kan bisa kamu bawa bekerja jika aku tidak bisa mengantarkan kamu." Lanjut Samuel.
Maya berkaca-kaca, bukan karena mobil mewah itu. Namun karena perhatian Anita terhadapnya.
"Tapi Sam, mama Anita terlalu berlebihan deh. Aku...."
"Kata mama, ia tidak menerima penolakan," sela Sam.
Maya tersenyum geli mendengar jawaban Sam, mengingatkan ia dengan ucapan Sam dulu ketika pertama kali mereka masih baru saja bertemu.
"Ternyata sifat memaksa kamu, mirip sama mama Anita ya Sam." Maya tersenyum menggoda ke arah Sam.
"Itu yang membuat kamu mencintai aku kan, baby..." Samuel tidak mau kalah, ia menjawab godaan Maya. Cubitan kecil di pinggang Sam menjadi jawaban dari Maya, mereka tertawa bersama. Samuel lagi-lagi memeluk erat Maya, mendekap gadis itu .
"Bilang sama mama, aku berterima kasih banget," lirih Maya yang dibalas anggukan kepala Samuel.
"Dan buat kamu, terima kasih sudah mencintai aku sebesar ini," lanjut Maya.
"You deserve it, honey." Bisik Samuel.
Maya mengecup tipis pipi Sam, kembali menenggelamkan kepalanya di dada bidang pria itu.
………
"Ma, May berangkat dulu ya," pamit Maya, mencium kedua pipi ibunya kemudian berganti mencium punggung tangan Siska.
"Kamu berangkat sendiri? tidak bareng sama Sam?"
"Iya, Sam udah duluan menuju kesana." Maya mencomot satu buah roti isi kesukaannya, mengunyahnya dengan tergesa-gesa.
"Hati-hati di jalan, May."
"Iya, Mama gak perlu khawatir. May berangkat dulu." Maya kembali mencium kedua pipi wanita itu.
___
Maya melajukan sedan sport pemberian Anita dengan kecepatan sedang.
Sam pasti sudah menunggunya di boutique. Beberapa kali panggilan Sam tanpa sengaja ia abaikan, Maya pun akhirnya melakukan panggilan seluler ke ponsel Sam.
"Assalamualaikum Sam___ iya aku udah di jalan___ hhmm bentar lagi sampai kok ___ Iya see you there, love you... Assalamualaikum."
tuutt....tuutt...
Maya memutar mobil melewati tikungan, lima menit lagi ia akan bertemu dengan Samuel.
Rasanya Maya tidak sabar lagi bertemu dengan pria itu, walau baru sehari saja mereka tidak saling berjumpa.
Samuel menolak pesta yang sederhana, berdalih bahwa itu adalah hari yang sempurna dalam hidupnya. Walau ini bukan pernikahan pertama buat Samuel namun pria itu menganggap bersama Maya, ini adalah pernikahan pertamanya.
Sam ingin merayakannya menjadi sesuatu yang tidak akan mereka lupakan. Walau sudah dibantu dengan WO ternama, tetap saja masih ada banyak hal yang harus ia dan Sam putuskan.
____
"Hai, sayang. Kamu terlihat pucat, apa kamu baik-baik aja?" tanya Sam begitu Maya memasuki pintu boutique yang langsung disambut pelukan Samuel.
"Tidak apa-apa Sam, aku hanya sedikit lelah." Maya meraih tangan Sam, berharap pria itu tidak lagi bertanya lebih jauh.
Sore ini Maya memang hanya memakan sepotong roti isi buatan sang mama tadi, selepas izin pulang dari kantor property Maya memang belum sempat mengisi perutnya dengan nasi ataupun makanan berat lainnya.
"Kamu istirahat dulu, apa perlu aku gendong kamu ke sofa?" tanya Samuel khawatir.
"Gak usah Sam, kamu terlalu berlebihan deh. Aku cuma kelelahan dengan pekerjaan di kantor tadi," Maya tersenyum sebentar ke arah Samuel, mencoba menenangkan pria itu yang benar-benar terlihat sangat khawatir.
"Oh ya gimana fitting baju kamu? udah?"
Gadis itu mencoba mengalihkan kekhawatiran Sam. Merengkuh lengan kekar Samuel dan membawa pria itu untuk duduk di sofa yang memang disediakan oleh boutique ternama itu.
"Nanti, nunggu kamu. Kita sama-sama fitting baju bareng," jawab Samuel.
"Kamu bisa kan fitting sekarang? Vivian udah nunggu kamu dari tadi." Sam melanjutkan ucapannya dan dibalas anggukan kepala Maya.
Gadis itu melangkah mengikuti pegawai boutique menuju ruangan khusus hingga beberapa jam kemudian.
***
Sembari menunggu, Sam membenamkan kepalanya pada sandaran sofa empuk berwarna soft brown. Rasa lelah yang menderanya dengan urusan beberapa proyek sejak pagi tadi, ditambah lagi urusan pernikahan ini yang sedikit banyak ia juga masih harus ikut mencampuri rencana persiapannya. Sedikit pijatan ia daratkan di pelipisnya, mencoba menyamankan posisinya dengan kedua mata yang memejam.
"Sam...."
Suara Maya seketika dapat mengalihkan perhatiannya kini.
Senyuman merekah tertarik tiba-tiba di kedua sudut bibir tebalnya. Kedua matanya berbinar begitu melihat sosok Maya yang keluar dari bilik dalam. Baju pengantin berbahan brukat putih dengan bunga-bunga berwana pink yang menghiasi seluruh permukaan gaun pengantin. Sebagian dada dan leher jenjang Maya tidak terhalang apapun, terlihat begitu elegan dan sangat menawan. Rambut hitam lurusnya pun tersanggul sangat elegan, pulasan make up flawless seperti biasa semakin menampakkan kecantikan alami gadis itu.
Samuel hampir saja menelan salivanya, bola matanya masih saja membola penuh, melihat takjub Maya.
"Sam, bagaimana? bagus tidak?"
Samuel masih tertegun, seluruh dadanya merasakan gemuruh yang sangat hebat, kepalanya mendadak kosong. Perencanaan dan persiapan tiba-tiba saja menghilang dari pikirannya.
Dia hanya bisa memandang seorang gadis paling cantik dalam hidupnya. Vivian sang designer menambahkan beberapa potongan kristal lebih, pada gaun agar terkesan semakin elegan.
"Sempurna." Sam tidak bisa menghentikan dirinya untuk berdiri dan mendekat ke arah Maya. Agar bisa menikmati dan mengamati ciptaan Tuhan yang begitu mulia. Namun kenapa wajah itu terlihat makin pucat.
Senyum Sam menghilang ketika menyadari tubuh Maya limbung. Dengan sigap Sam menahan tubuh kecil itu agar tidak menyentuh lantai boutique.
"Maya!" seru Sam, menepuk-nepuk pipi tunangannya.
Maya tidak menjawab. Suhu tubuhnya mendingin dengan cepat.
"Please wake up, honey...."
Samuel semakin panik, Maya masih saja tidak bergerak.
to be continue....