MySam

MySam
Kembali ke Rumah



"Kamu pulang hari ini, Sam?"


"Iya, sayang. Aku gak bisa berlama-lama di rumah sakit. Lagi pula aku juga harus ngurus urusan dengan Elano." Ucap Sam sambil merapikan laptop. Sedang Maya terlihat sibuk menata beberapa pakaian bersih dan juga kotor milik Samuel selama tinggal beberapa hari di rumah sakit.


"Apa kamu harus ke kantor polisi untuk mengurus semuanya, Sam?" tanya Maya, menutup kopor kecil berisi semua perlengkapan Sam.


"Pengacara Rudi yang mengurus semuanya, sayang. Aku mendatangi kantor polisi jika mereka butuh kesaksianku." Sam mendekat ke arah Maya, duduk tepat di hadapan gadis itu.


"May...." Sam meraih dagu lancip Maya mengangkatnya lembut. "Polisi kemungkinan akan meminta kesaksian kamu juga, sayang," ucap Sam lembut. Ia menjeda sebentar kalimatnya, menatap lembut wajah gadis itu.


"Kamu gak ada masalah dengan itu, bukan?" tanya Sam.


"Selama ada kamu yang menemani aku, Sam." Maya menyambut tangan Sam yang mengelus lembut pipi chubbynya.


"Kamu mau kan Sam, menemani aku jika dipanggil untuk bersaksi?"


"Tentu saja, sayang. Gak mungkin juga aku membiarkan kamu begitu saja menghadapinya sendiri." Sam meraih jemari Maya dan menggenggamnya erat.


"Makasih, Sam." Gadis itu sedikit lega mendapat perhatian dari pria di hadapannya kini.


"Sama-sama, sayang." Sam tersenyum.


"Kita pulang sekarang," lanjut Sam lagi.


"Aku sudah mengurus semua administrasi rumah sakit. Kamu gak perlu khawatir," kata Samuel setelah ia melihat ekspresi wajah Maya yang terlihat bingung. Seolah pria itu tahu apa yang ada di pikiran Maya.


Mereka berjalan meninggalkan kamar rawat, saling bergandeng tangan. Salah satu tangan Sam terlihat mengambil alih kopor dari tangan Maya. "Biar aku saja yang bawa," ucap Samuel.


.....


Sedan hitam mengkilat Sam berhenti di depan mansion miliknya. Maya turun dari balik kemudi, berjalan ke arah pintu depan. Membukakan pintu untuk Sam dan membantu pria itu keluar dari mobil. "Hati-hati, Sam..." lirih Maya khawatir.


Salah satu satpam buru-buru mendekat ke arah mereka. "Tolong bapak ambilkan kopor yang ada di bagasi mobil," titah Maya sopan. Sang satpam mengangguk hormat, langsung membuka pintu bagasi begitu Maya membuka kuncinya dengan remote.


Maya menggandeng erat lengan Samuel, menuntunnya dengan perlahan, sesekali wajah khawatir Maya terlihat jelas begitu Sam terdengar sedikit mengerang kesakitan. "Kamu gak apa-apa kan, Sam?" tanya Maya khawatir.


"Aku baik-baik saja." Sam semakin mengeratkan lingkaran lengannya ke pinggang kecil Maya.


"Tuan muda sudah sembuh?" tanya si bibik begitu melihat anak majikannya memasuki pintu utama rumah besar itu. Langsung membantu Maya memapah tuan mudanya dan mendudukan tubuh Samuel pada sofa panjang dekat dengan jendela besar yang mengarah pada pemandangan taman.


"Mau bibik siapkan makanan atau minuman hangat, den Sam?" tawar si bibik.


Sam menggeleng pelan dan tersenyum. "Gak usah, bik. Tolong bibik siapkan saja makanan kecil buat Maya," ucap Sam sambil merebahkan tubuhnya pada sandaran sofa berbahan beludru mewah. Si bibik mengangguk patuh dan berlalu menuju ke ruang dapur.


"Sam, kamu kalau butuh sesuatu aku ambilin ya." Maya mengambil bantal kursi dan menempatkan di balik punggung Samuel.


"Yang aku butuhkan cuma kamu, sayang." Sam tersenyum ke arah Maya.


"Ish, kamu itu bisa aja merajuk," sedikit mengerucut, Maya merotasikan bola matanya nakal.


"Nanti kalau sudah menikah, aku mau kita selalu seperti ini, May."


"Hhmm, aku juga. Kamu jangan pernah berubah ya Sam. Meski tubuhku semakin gendut atau mulai tumbuh uban di rambutku nantinya."


Sam kembali merentangkan kedua lengannya, terbuka lebar. Seolah menyuruh Maya untuk berhambur dalam pelukan hangatnya.


"Aku hanya menginginkan kamu, sayang. Bukan yang lain." Samuel mengecup puncak kepala gadis itu.


"Sam...."


"Aku takut jika El kembali melukai kamu lagi." Kini Maya berbaring di samping Sam, masih ada sedikit ruang kosong di sofa besar itu yang memungkinkan untuk tubuh kecil Maya masuk dan berbaring di dekat Samuel, bersandar pada dada bidang pria itu.


"Aku akan baik-baik saja, Maya. Selama kamu selalu ada di samping aku, tidak ada yang aku takutkan." Sam kembali mengecup puncak kepala Maya.


"Dan kamu, gak ada yang perlu kamu takutkan. Aku tidak akan kemana-mana dan Elano tidak akan pernah bisa mengganggu kita lagi." Sam melanjutkan ucapannya, membelai anak rambut yang menjuntai di separuh wajah bersih Maya.


"Maaf tuan muda, ini cemilannya dan juga minuman dinginnya. Bibik taruh di sini ya," ucap si bibik tiba-tiba, membuat Maya sedikit kaget dengan kehadiran wanita setengah baya bersanggul tersebut.


"Iya taruh situ aja bik, makasih banyak bik."


Si bibik mengangguk hormat dan kembali melangkah menjauhi majikannya.


Maya berusaha berdiri, menata kembali rambut serta pakaian yang sedikit kusut karena ikut berbaring di samping Sam.


"Kamu kenapa sih, May?"


"Aku gak enak sama bibik."


Sam tertawa kecil, membuat Maya kembali mencebikkan bibirnya. "Ish, kenapa kamu malah tertawa, Samuel??"


"Sama bibik aja malu, nanti juga bibik akan sering melihat kita pelukan kayak tadi," goda Sam lagi. Pria itu kembali tertawa geli begitu melihat kedua pipi chubby Maya memerah.


"Samuel....!! orang lagi malu malah diketawain," kerucut Maya.


"Iya-iya maaf...." Sam tetap tertawa kecil. Melihat Maya tersipu seperti itu membuat Samuel semakin ingin menggoda tunangannya tersebut.


"Udah ah, aku pulang."


"Kok pulang sih, May. Aku masih kangen sama kamu." Sam kembali merajuk.


"Aku pulang sebentar, Sam. Kasian mama sendirian di rumah." Maya kini mendekat ke arah Samuel.


"Padahal bibik udah capek-capek siapin kamu cemilan lho, sayang." Sam mencoba merajuk kembali.


"Ya udah aku makan satu." Maya mencomot satu buah roti bakar keju favoritnya, memasukkan ke mulutnya. "Kamu mau, Sam?" Maya menawarkan roti bekas gigitannya tadi.


"Aku ambilin yang baru ya," ucap Maya begitu Sam mengangguk menerima tawaran roti bakar keju buatan bibik.


"Gak usah, sayang. Aku mau makan punya kamu aja." Cepat-cepat Sam menyela ketika Maya hendak meraih satu potong roti bakar dalam piring bundar bermotif bunga-bunga.


Maya terkesikap, bukan kali ini saja Sam yang tanpa ragu-ragu makan atau minum apa saja bekas gigitan gadis itu. 'Aku gak pernah keberatan jika itu bekas mulut kamu, sayang,' ucap Sam dulu.


Maya menyodorkan roti bekas gigitannya ke arah mulut Sam. Pria itu menerima suapan Maya dengan senang hati, menikmati apa saja yang gadis itu suapkan padanya.


"Sam, aku pulang dulu ya?" ulang Maya lagi setelah beberapa menit kemudian. Kini Sam hanya mengangguk pelan.


"Baiklah, kamu hati-hati ya. Kabari aku kalau sudah sampai rumah." ciuman kecil, Sam daratkan di puncak kepala Maya.


"Hhmm, kamu juga baik-baik di rumah. Aku pulang dulu, Assalamualaikum..."


Maya melambaikan tangan ke arah Sam yang kemudian tubuh mungilnya terlihat menghilang di balik dinding rumah besar itu.


"Waalaikumsalam, sayang...." lirih Samuel, memandangi kepergian sementara Maya.


to be continue....


Mampir juga yuk d karya kedua ku. Bodyguard Cantik Si Boy hanya d NT 😘