
Berkali-kali Maya melirik ke arah jam dinding bulat di kamarnya, gadis itu mendengus pelan, 'Apa gue dikerjain sama bos rese itu?' Batin Maya.
Kembali gadis itu membuang nafas berat. 'Gak mungkin juga kan dia beneran sama ucapannya tadi pagi.' Batin Maya lagi, kaki gadis itu dari tadi mondar mandir berjalan di dalam kamarnya dengan wajah gelisah sampai-sampai Airin datang masuk ke kamarnya saja tidak Maya sadari.
"May__!!" Sapa Airin membuat Maya sedikit terkejut.
"Airin__!!! Ngagetin aja ih, lo kapan datang? Kok gue gak tau lo datang?" Tanya Maya berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Lo nya aja yang kebanyakan ngelamun, dari tadi gue masuk kamar lo May. Lo malah mondar mandir kayak setrikaan." Cibir Airin kesal, dia hempaskan tubuhnya ke atas bed Maya yang lumayan luas. Kamar yang didominasi dengan warna kuning lemon membuat orang yang berada didalamnya merasa semangat dan ceria. Iya Maya memang sosok gadis periang dia selalu membuat orang-orang di sekitarnya ikut merasakan aura positif dari gadis itu.
"Lo ngapain sih? Bingung kek gitu?" Selidik Airin. Maya tersenyum kecil lalu menggeleng, "Gak kok gak apa-apa." Jawab gadis itu ragu. "Boong__ lo tu kalo lagi boong ketauan, mata lo terus aja berkedip kalo pas lagi boong." Jawab Airin dengan pandangan tajam ke arah Maya. Gadis itu hanya tersenyum kecil dan membolakan matanya.
"Emang keliatan ya?"
"Hhmm, kenapa sih?"
"Bos rese itu ngajakin gue ketemuan." Jawab Maya membuat Airin membolakan kedua matanya sambil lekat memandangi Maya. "Serius lo? Ngapain?" Tanya Airin mulai kepo. Maya mengedikkan kedua bahunya tanda tidak mengerti sama sekali.
"Gak tau gue."
"Trus jam berapa bos ngajakin ketemu?" Tanya Airin lagi.
"Jam tujuh."
"What???!! May ini udah setengah delapan." Teriak Airin heboh namun tidak dengan Maya yang hanya cuek saja. "Terus???" Tanya Maya yang masih tak bergeming dari rebahannya. Kali ini dia mulai capek mondar mandir dan memilih berebah sambil membaca novel favorit nya.
"Gimana kalo bos nunggu lo? Bisa ngamuk dia ntar dan besok lo pasti dikasih hukuman."
Ucapan Airin kali ini berhasik membuat Maya menghentikan sejenak bacaan novelnya.
"Lo bener juga Rin, trus gue mesti ngapain?"
"Ya temuin lah."
"Udah jam segini, ah paling juga dia udah pergi atau kalo gak dia cuma ngerjain gue." Decih Maya lagi. "Lo tu suka suudzon sama orang. Udah lo coba temui aja dulu, siapa tau bos beneran nunggu lo." Lanjut Airin lagi, kali ini Maya terlihat sedikit bimbang iris matanya kembali melihat ke arah jam dinding yang sudah setengah delapan.
**********************
Di Taman Kota
Maya menghentikan motor maticnya tepat di depan pintu utama taman kota, gadis itu akhirnya memutuskan untuk datang menemui Sam si bos rese dan arogan. Tadinya Maya ingin mengajak Airin namun gadis itu beralasan untuk menunggu di rumah Maya saja, Airin juga ingin tau cerita Maya soal pertemuannya dengan sang bos.
Setelah motor nya dia parkirkan, Maya berjalan menyusuri sepanjang jalan taman, matanya menyusuri tiap sudut dan kursi taman. Hingga Maya melihat sosok cowo tegap dengan dada bidangnya dan rambut kecoklatan yang malam itu ditempa sinar lampu taman. Wajah cowo itu sangat terlihat tampan meski dia tundukan sedikit wajahnya dan terlihat sibuk dengan ponsel pintarnya.
"Dia beneran datang?" Batin Maya heran, sudah hampir satu jam Sam menunggunya. Maya kira cowo itu tidak serius dengan ucapannya tadi pagi dan Maya juga berfikir jika Sam tidak akan pernah menunggu hingga dia datang. Tiba-tiba ada semacam rasa menyesal dan bersalah menyelimuti hati Maya.
"Eheemmm!!" Maya berdeham pelan sehingga membuat Sam mengalihkan perhatiannya dari ponsel dan menoleh ke arah suara tadi.
"Lo terlambat." Ketus Samuel seperti biasa.
"Maaf, saya pikir bapak cuma mau ngerjain saya." Lirih Maya, untuk kali ini dia tidak memakai nada ketus.
"Gue gak pernah gak serius sama omongan gue." Balas Samuel.
"Duduk." Titah Sam, dan Maya pun menurut saja, entah kenapa malam ini dia begitu penurut sama bos rese nya itu.
"Bapak ngapain nyuruh ketemu disini?"
Sebenarnya pertanyaan itu dari tadi yang selalu melintas dibenak Maya.
"Gue pengen aja ke taman." Jawab Sam singkat, Gadis itu mengernyit sebentar.
"Terus kenapa ngajak saya? Bapak gak ada teman atau pacar atau apa gitu? Kenapa mesti saya?" Cecar Maya.
Sam menatap iris mata Maya lekat hingga membuat gadis itu sedikit merasa tidak nyaman.
"Lo gak mau gue ajak ke taman? Lo maunya kemana? Ke hotel?" Ketus Sam kali ini, Maya kembali mendengus kesal dengan ucapan Sam.
Maya kini sudah terlihat sangat kesal dan kembali berbicara dengan nada ketus.
"Maaf."
Ucap Sam tiba-tiba dan kali ini membuat Maya kembali mengerutkan keningnya.
"Gue udah lama pengen ke taman kota, pengen ngerasain duduk di salah satu kursi taman bersama orang yang bisa gue ajak bicara." Ucap Sam kali ini.
Maya terdiam sebentar dia tidak percaya jika bos rese nya itu bisa juga bersikap manis. Sungguh baru saja Sam memperlihatkan sikap manisnya di hadapan Maya.
"Kalau bapak kesini sore hari pasti lebih menyenangkan." Jawab Maya lirih, kali ini senyuman Maya melengkung penuh di kedua sudut bibirnya.
Sam bisa melihat senyum itu, walau cuma beberapa detik namun senyuman Maya tadi mampu membuat hati Sam bergetar.
"Lain kali coba bapak kesini pas sore hari." Ucap Maya lagi.
"Sama lo?" Tanya Sam lembut, pipi Maya tiba-tiba merona.
"Ya bukan sama saya lah pak, saya kan cuma asisten bapak bukan cewe bapak." Cengir Maya.
"Lo mau jadi cewe gue?"
"What__?? Ni cowo pasti ngerjain gue lagi." Batin Maya heran, wajah nya melongo menatap Sam.
"Ngapain bengong? Lagi pula gue becanda." Decih Sam sambil memamerkan seringai kecilnya. Seringai yang membuat Maya ingin mencabik-cabik muka tampan Sam.
***
Rumah Maya
"Gimana May?" Kepo Airin begitu Maya memasuki kamarnya. Gadis itu mencebikkan bibirnya kesal, dia lempar asal tas punggungnya lalu menghempaskan tubuh kecilnya keatas kasur.
"May, cerita dong." Desak Airin lagi.
"Ccckkk !!! Cerita apaan sih?" Decak Maya kesal.
"Ya cerita tadi lo ketemuan sama bos ganteng."
"Ish__ ganteng dari luar angkasa!! Sumpah ya Rin tu cowo emang slalu bikin gue naik darah." Erang Maya meninggikan nada bicaranya. Kedua matanya membola tajam dan bibirnya mengerucut beberapa centi.
Airin tertawa sebentar melihat ekspresi wajah sahabatnya.
"Ngapain lo ketawa? Ini gara-gara lo nyuruh gue datang." Cibir Maya.
"Kok gue?"
Merasa tidak terima, kini giliran Airin sedikit manyun.
"Tauh ah cape gue, mo tidur."
Maya langsung memeluk guling dan tidur memunggungi Airin.
"Eh kok malah tidur, cerita dulu dong." Airin masih menarik-narik lengan Maya, mencoba membuat gadis itu kembali bangun.
"Ngantuk gue Rin, udah sana lo pulang aja." Elak Maya. Airin kembali cemberut dengan muka masamnya.
"Tapi ganteng kan May si bos?" Goda Airin lagi.
"Bodo amat!!" Pekik Maya yang masih membelakangi sahabatnya.
Airin terkekeh sebentar lalu kembali berbaring di samping Maya. Malam ini gadis itu kembali menginap di rumah Maya.
To be continue....