MySam

MySam
You Are Mine....



Sam mengernyit sebentar, masih mengumpulkan kesadaran selepas ia tertidur sangat pulas. Maya siang ini tidak berada di sampingnya. Ranjang berukuran delux dengan bed cover serba putih itu hanya menyisakan jejak tubuh istrinya.


Tiba-tiba sedikit sudut mata Sam menyipit, melihat setangkai mawar merah tergeletak di samping tubuhnya. Ada sebuah memo di sana,


^^^Bangun bayi besar, ini sudah siang. Aku menunggu kamu di depan menara eifel^^^


^^^with love,^^^


^^^Istrimu^^^


Sudut bibir Sam kembali ia tarik, kejutan yang biasa ia berikan untuk Maya kini beralih tertuju untuknya. Tapi kemana gadis itu? Ah dia tidak mungkin berani keluar apartemen sendirian, mengingat Paris masih begitu asing untuk Maya.


Samuel bangkit dari tidurnya, ia berniat untuk mandi terlebih dulu sebelum mencoba menemukan istrinya. Dengan langkah sedikit gontai karena mungkin masih merasakan jet lag saat tiba dini hari tadi, Sam membuka pintu kaca kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.


Mengguyur tubuh kekarnya dengan air hangat yang keluar dari shower, seperti biasa ia selalu mengatur air shower dengan mode heavy rain yang melebar. Hujaman dari ribuan air yang menerpa tubuh kekarnya membuat Sam merasa sensasi relaksasi, otot-otot tegangnya kini terasa sedikit kendor.


....


Setelah acara mandi, Sam berjalan menuju ruang santai apartemen, hanya mengenakan boxer pendek berwarna hitam dan bertelanjang dada, memperlihatkan otot perut sixpack Samuel. Dengan rambut sedikit ikal yang masih terlihat basah dan tanpa pomade, membuat wajah pria itu terlihat sangat mempesona.


Jantung Maya seketika berdetak kencang melihat wajah Samuel dengan rambut setengah basahnya, membuat suaminya itu terlihat semakin tampan. Apalagi dengan dada telanjang yang memperlihatkan seluruh tubuh kekar suaminya, Oh Maya tidak bisa mengalihkan perhatiannya kini ke arah lain. Gadis itu tersenyum lembut dengan kedua netra yang selalu berpusat ke arah Samuel yang kini berjalan semakin mendekat ke arahnya.


"Hey, sayang...." kecup Sam hangat di kening Maya.


Maya bahkan bisa merasakan wangi sabun Samuel yang sangat disukainya, dan dada telanjang suaminya selalu mampu membuat kedua pipi Maya merona.


Sangat payah mengatasi hal satu ini, padahal sudah lebih dari satu minggu sejak mereka menikah, dan menerima setiap perlakuan Sam padanya. Tetapi Maya masih saja tidak bisa mengatasi kegugupan yang selalu melandanya.


Belum selesai dengan kegugupannya, kedua netra Maya seketika membola ketika tiba-tiba saja mendarat ciuman hangat di bibirnya.


"Samuel....."


"Apa, sayang?"


Maya membisu sejenak seraya menelan salivanya dengan susah payah, "Kamu kalau mau cium setidaknya ngomong dulu lah, jangan tiba-tiba gitu," cicit Maya.


"Kenapa, hhhmmm...?" Sam bertanya dengan suara bariton yang khas, sembari menyisir rambut hitam Maya menggunakan satu jemarinya.


"M-malu...." cicit Maya.


Sam kembali tersenyum, dan itu membuat pandangan Maya seluruhnya berpusat ke wajah tampan suaminya. Bahkan saat ini Maya tidak sadar jika posisi Sam kini sudah berada di atas tubuhnya yang saat itu ia tengah berbaring di atas sofa motif bunga-bunga.


"Kenapa malu sama suami sendiri, sayang? bukankah kamu sudah melihat semua milikku, hhmm....?" tanya Sam nakal.


Semakin membuat kedua pipi chubby Maya merona, dan Sam sangat menyukai saat-saat dimana Maya tersipu seperti itu.


"Suami.... ih.... terus aja goda-in istrimu ini." pekik Maya dengan kerucutan lucu di bibirnya.


Sam yang melihat wajah cemberut Maya pun terkekeh kecil, "Kamu semakin cantik kalau sedang cemberut gitu, honey."


"Dan kamu semakin ganteng kalau bertelanjang dada seperti saat ini, suami...." jawab Maya dengan sedikit tersipu malu.


"Hahaha.... sudah semakin pinter nge-gombal nih istriku."


"Iya dong, siapa dulu master suhu nya, hhmm....?" Maya menjawab dengan senyum kecilnya. Membuat Samuel semakin terkekeh gemas.


"Aku sudah siapin kamu makan siang, sayang. Kamu mau makan sekarang?" pertanyaan Maya dijawab anggukan kepala Samuel, yang langsung saja membuat Maya bangkit dari pelukan Sam dan melangkah menuju pantry kecil di sudut apartemen.


Tak lama kemudian gadis itu kembali berjalan dengan sebuah baki berisi sandwich dengan isi telur mata sapi dan juga segelas latte hangat untuk Sam.


"Kita duduk di kursi dekat jendela, sayang?" tanya Maya sebelum ia meletakkan makan siang untuk Sam, dan dibalas anggukan kepala tanda setuju Samuel.


Maya mendekat ke arah sebuah meja kaca di samping jendela besar, dengan pemandangan yang begitu memukau, menara eifel....



"Kamu sudah makan, honey?"


"Iya, aku sudah makan kok dari tadi." Maya menjeda kalimatnya, memandang ke arah Samuel yang menikmati roti isi buatannya dengan sangat lahap.


Membuat senyuman Maya tertarik begitu saja, Apakah ia benar-benar kelaparan? batin Maya geli.


"Kamu sangat lapar ya, suami?"


Sam mengangguk cepat, "Banget... sayang," jawab Sam yang kini menyesap sedikit latte hangatnya, lalu kembali ia menikmati dan menggigit roti isinya dengan lahap. Membuat Maya kembali terkekeh geli melihatnya.


💕💕💕


Mereka kembali duduk saling berpeluk di sebuah sofa kecil yang berada di atas balkon apartemen sembari menikmati pemandangan eifel yang terlihat dari balkon dengan sangat dekat.


"Kejutan untuk kamu nanti malam aja ya, sayang."


Maya mengernyit sebentar, memandang ke arah Sam yang saat itu berada di belakangnya dan memeluk erat tubuhnya.


"Kejutan apa sih Sam?"


"Pokoknya ada lah.... ntar malam kamu juga tahu kok."


Semakin membuat penasaran Maya, kini Sam kembali mendaratkan ciuman mesra di puncak kepala Maya.


Sam mengeratkan pelukannya. "Masih capek?" tanyanya yang langsung mendapat jawaban anggukan kepala dari Maya.


"Tidur lagi."


"Tidur mulu juga bikin capek, sayang," jawab Maya gamblang.


"Terus mau ngapain?"


"Nggak tau," jawab Maya. Setelah itu terjadi keheningan sesaat.


Maya tidak mendapat respon dari Samuel, ia memilih mengendus-endus wangi tubuh Samuel yang hingga saat ini pun masih tercium di hidungnya, sesekali mendaratkan ciuman kecil di leher kokoh suaminya, sampai akhirnya Sam sedikit merenggangkan pelukannya.


Sam melayangkan ciuman di bibir Maya. "Jangan menggoda kalau kamu gak mau tanggung jawab, honey....." bisik Sam.


"Emang gak boleh ciumin leher suami?" tanya Maya polos.


"Boleh, tapi ada syaratnya."


"Sama istri sendiri kok pake syarat sih?!" protes Maya. "Emang syaratnya apa?" tanyanya.


Sam meraih punggung tangan Maya dan menempelkan punggung tangan gadis itu ke wajahnya. "Satu jari satu ciuman, kalau semua..." Sam menggantung kalimatnya.


"A-apa...? Kan kamu sendiri yang___"


Sebelum Maya menyelesaikan kalimatnya, Sam sudah lebih dulu menindih Maya dan melayangkan ciuman bertubi-tubi di bibir istrinya. Membuat Maya terkaget namun tak lama kemudian ia menikmati nya. Setiap inci tubuh mereka saling menyatu, leguhan demi leguhan tercipta dari bibir Maya.


Sam tiba-tiba menjauhkan wajahnya dan tatapan mata Samuel menyorot Maya dalam.


"Kenapa semakin hari istriku semakin cantik, hhmm...?" ujar Sam yang sukses membuat Maya merona.


Sam memajukan wajahnya kembali, menciumi seluruh inci wajah Maya tanpa terkecuali, hingga ciuman itu turun ke leher putih Maya.


"Jangan pernah menunjukkan kecantikan kamu ke orang lain."


"K-kenapa?"


"You are mine, dan aku tidak rela berbagi kepemilikan yang paling berharga buat aku."


to be continue....