MySam

MySam
Kita Hadapi Bersama-sama Dear



Maya menangis di dalam toilet wanita, gadis itu berusaha menekan suara isak tangisnya agar orang lain tidak mendengar.


Sungguh Maya tidak bisa lagi membendung rasa sakit dan cemburu saat melihat Martha menyentuh tubuh Sam.


Seperti ini kah rasanya cemburu?, pikir Maya.


Dulu dia tidak pernah merasakan hal seperti ini bersama El. Dulu Maya bahkan tidak pernah mempermasalahkan saat El sedang bersama dengan teman cewe nya atau pun cemburu dengan klien wanita dari perusahaan El.


Namun kini kenapa bersama Sam semua rasa cemburu itu selalu menguasai hati Maya?


"Dear.... kamu didalam?"


Suara Sam terdengar sedikit khawatir dengan keadaan gadis yang saat ini menangis tersedu di dalam toilet.


"Dear, aku minta maaf please kamu gak usah dengerin kata-kata Martha." Seru Sam lagi dan masih tak ada jawaban dari Maya, hanya suara isakan tangis Maya yang terdengar hingga luar pintu toilet.


"Sayang, please keluar dulu kita ngomong baik-baik, oke?" Bujuk Sam lagi.


Sam masih mengetuk pintu toilet wanita dan berusaha menunggu Maya keluar dari sana. Dia tidak peduli dengan pandangan aneh dari beberapa wanita yang saat itu sedang memperbaiki makeup mereka di depan kaca besar toilet.


Sam sedikit menunduk dan menyeka kasar rambut ikal nya yang sedikit gondrong ketika dia sadar bahwa dirinya kini menjadi pusat perhatian para gadis di dalam toilet.


"May, tolong keluar dulu. Aku jelasin semuanya."


Akhirnya Maya membuka pintu dan keluar dengan mata sembab, cairan bening masih saja mengalir keluar dari kedua sudut mata hitam gadis itu.


"Sorry sayang, aku gak pernah mungkin nyakiti kamu." Bisik Sam lembut.


Maya masih terdiam hingga Sam memeluk tubuh mungil Maya.


Sam memeluk erat dan berusaha menenangkan Maya.


"Aku gak mau jadi bahan mainan kamu Sam." Lirih Maya.


"Aku gak pernah mainin kamu dear. Aku sangat mencintai kamu." Dekap Sam.


"Kamu mau tunangan dan nikah sama dia, mama kamu juga setuju sama kalian." Isak Maya lagi.


"Tapi aku gak pernah cinta sama dia sayang, please trust me." Bisik Sam lagi, kembali dia memeluk erat tubuh Maya.


"Aku ingin kamu percaya padaku." Lanjut Sam.


"Ntar malam kita ketemu mama sama papa aku, oke?" Ucap Sam lagi. Kali ini Sam kembali mengelus pelan puncak kepala Maya.


Gadis itu mendongak sebentar ke arah Sam. Maya berusaha melihat keseriusan di iris kecoklatan milik Sam.


Maya mengangguk pelan dan tersenyum akhirnya. "Kamu serius? Tapi bagaimana jika mama kamu gak suka sama aku Sam?" Suara Maya sedikit bergetar kini, kekhawatiran Maya akan restu orangtua Sam selalu menghantui. Maya ingat akan restu ayah Elano yang juga tidak berpihak sama dia.


Kini akankah restu dari mama Samuel juga tidak berpihak padanya? Entah lah...


"Kita akan hadapi itu sama-sama, oke dear? Percaya sama aku." Jawab Sam yang berusaha menguatkan Maya, gadis yang saat ini sangat dia cintai.


Mungkin ini adalah ujian cinta mereka yang pertama, setelah nya Maya sadar masih ada lagi ujian cinta mereka dari Elano.


***


"Sam, kenapa si dia begitu penting buat kamu?" Ketus Martha begitu melihat Sam dan Maya kembali masuk ke ruangan kerja Sam.


Martha masih menunggu Sam kembali ke ruang kerja dan terlihat kesal saat melihat Sam dan asistennya itu masuk berdua kedalam ruangan.


Apalagi Martha melihat Sam memeluk erat pundak Maya.


"Denger ya Tha, dia kekasih gue dan gue sangat mencintai Maya." Jawab Sam tegas.


"Tapi Sam dia hanya asisten kamu, gadis kampung dan dia juga jauh dibanding gue!!" Jawab Martha kesal. Sorot matanya menatap lekat Maya dari ujung rambut sampai kaki.


Tatapan mata yang sangat meremehkan.


"Lo yang gak ada apa-apanya dibanding Maya jadi stop gangguin gue lagi!!" Tegas Sam, kedua iris Sam kini menatap tajam ke arah Martha.


"Lo juga jangan pernah gangguin Maya!!" Titah Sam lagi, kali ini sebuah ucapan bernada perintah kearah Martha.


Dia berjalan keluar dari ruangan Sam dengan rasa kesal dan amarah yang meluap.


"Awas saja lo Sam!!!" Rutuk Martha dalam hati.


"Dan lo juga gadis kampung, lo akan terima akibatnya main-main sama gue." Batin Martha lagi.


Martha berjalan cepat dan sedikit kesal, heels tingginya dia ketukan keras di lantai perusahaan Samuel.


***


"Sam, aku takut Martha ngadu sama mama kamu." Lirih Maya, kembali gadis itu sedikit khawatir dengan hubungan nya sama Sam.


"Kita hadapi sama-sama, cepat atau lambat mama juga akan tau hubungan kita." Jawab Sam menenangkan, Sam kini sedikit berfikir, memikirkan reaksi apa yang akan Anita tunjukkan jika dia dan Maya menemui wanita itu.


'Semoga mama bisa menerima Maya.' Batin Sam.


"Sekarang kamu kembali kerja ya." Titah Sam lembut, Maya mengangguk pelan dan kembali berjalan ke arah meja kerjanya.


***


Martha keluar dari mobil mewahnya dan berjalan ke dalam mansion milih keluarga Sam.


"Tante Anita ada?" Tanya Martha dengan nada ketus ke seorang maid setengah baya.


"Nyonya ada di taman belakang non." Jawab maid tadi sopan.


Tanpa menunggu lama Martha masuk kearah taman belakang, dia kembali mengetukkan heels tinggi nya ke lantai marmer mansion tersebut.


Di taman terlihat Anita sedang memotong beberapa tangkai mawar yang tumbuh subur di taman pribadi miliknya.


"Tante...!!" Seru Martha, dengan langkah cepat gadis itu berjalan menuju Anita yang saat itu sedang sibuk memilih beberapa tangkai mawar yang akan dia rangkai disebuah vas bunga kristal.


"Tante...!!" Ucap Martha kembali, dia duduk disamping Anita dengan ekspresi wajah kesal.


"Apa si sayang? Kamu kenapa kok cemberut gitu?"


Anita memandang wajah Martha sekilas lalu tersenyum kecil. Wanita itu kembali meneruskan kegiatannya tadi, merangkai beberapa potong mawar untuk dijadikan hiasan dan pengharum ruangan.


"Sam tante, Tha kesel sama Samuel!!" Desis Martha dengan sungutan kesal diwajah cantiknya.


"Sam kenapa?."


"Sam pacaran sama cewek kampungan tant." Jawab Martha.


Kali ini Anita menghentikan kegiatannya sebentar. Wanita itu mengalihkan perhatiannya ke arah Martha dengan ekspresi wajah serius.


"Maksud kamu?"


"Sam pacaran sama asisten dia di kantor." Dengus Martha lagi.


"Kamu salah mungkin, Sam gak bilang apa-apa kok sama tante."


"Beneran tante... Tha liat sendiri tadi dan Sam sendiri kok yang ngomong sama Tha."


Jelas Martha lagi, Anita terdiam sebentar.


"Pokoknya Tha gak mau ya pertunangan Tha sama Sam batal." Sungut Martha lagi.


Anita masih terdiam dengan raut wajah kaget.


Sam pacaran sama asisten dia? Apakah yang waktu itu pernah dimarahin Sam di kantor? Pikir Anita.


"Tante... kok tante malah diem si." Cemberut Martha.


"Iya-iya kamu tenang aja dulu, biar tante yang bicara sama Sam, okey?" Bujuk Anita akhirnya. Martha mengangguk setuju dengan perasaan sedikit tenang.


"Untung mama kamu lebih sayang ke aku Sam..." ucap Martha dalam hati sambil tersenyum smirk, tentu saja senyuman mengerikan yang dia sembunyikan dari Anita.


>>>> To be continue