
"Dokter Harris hari ini anda ada jadwal operasi, semuanya sudah saya siapkan." Ucap seorang perawat perempuan yang kini memasuki ruang kerja dokter tersebut.
"Jam berapa jadwal operasi nya?"
"Jam sepuluh dok." jawab suster itu lagi. Harris mengangguk lalu mempersilahkan suster tersebut untuk kembali pada pekerjaan nya.
Perlahan tangan kekar Harris menyeka rambut hitamnya lalu salah satu telapak tangan nya beralih mengusap rahang kotak tegas itu dan berakhir dengan dengusan kesal.
"Martha... kamu harus jadi milikku." gumam Harris pelan.
Kali ini lelaki itu tidak mau lagi membohongi perasaannya, ia juga sudah enggan untuk bermain perempuan bayaran lagi.
Selama ini Harris memendam perasaan nya terhadap Martha yang harus membuatnya menyalurkan hasrat dan kegemaran nya dengan bermain perempuan bayaran. Bukan sembarang wanita bayaran yang banyak ia temui di pinggir jalan, Harris lebih suka memilih wanita yang berada di kelas sosial yang tinggi.
Kehidupan metropolitan memang sangat memaksa orang untuk menghalalkan segala cara hanya sekedar memenuhi kebutuhan ekonomi atau kebutuhan pergaulan dengan ego yang sangat mahal.
Kabar tentang pernikahan Martha yang ia dengar kemarin pun telah membuatnya marah, entah kenapa. Cemburu terhadap laki-laki calon suami Martha?
Rasanya lebih dari itu. Harris memang sangat mencintai Martha, bertahun-tahun ia rela menyimpan semua perasaannya hanya demi menjaga akal sehat nya. Selain itu demi nama baik dia di mata Baskoro sahabatnya yang juga ayah dari Martha.
Namun kini laki-laki itu tidak peduli lagi dengan semua nya, ia benar-benar mencintai gadis kecil nya dulu.
Apalagi setelah kejadian malam itu, bayangan Martha selalu menghantui malam-malam dinginnya.
"You have to be mine my little girl."
Batin Harris.
***
Bali
Maya bersandar pada dinding kolam renang, mungkin ia kelelahan setelah melakukan salah satu gerakan gaya berenang. Kini Maya memandang lekat Samuel yang masih meliukkan tubuh atletis nya di dalam air kolam renang.
Sam masih menikmati air kolam renang yang pagi itu terasa sedikit hangat. Hingga pada menit ke dua puluh, Sam menghentikan gerakkan nya dan mendekati Maya.
Gadis itu merona melihat tubuh Sam yang bertelanjang dada dan hanya boxer pendek yang melilit pada tubuh kokoh itu.
Memperlihatkan dada bidang dan perut sixpack nya yang terlihat menggoda untuk sekedar dilihat.
Baru kali ini Maya melihat Sam dalam bentuk yang begitu sempurna.
"Kamu gak berenang sayang?" tanya Sam, kini CEO itu mengunci tubuh Maya dengan kedua lengan kekarnya yang ia tempelkan pada dinding kolam renang.
"Aku capek, mau istirahat dulu." balas Maya dengan pipi merona merah. C'mon Maya.... buang jauh-jauh viktor lo itu, batin Maya.
"Hey.... kamu kenapa sayang? kamu merona.... pipi kamu udah kayak udang rebus May." Ucap Sam dengan sedikit tawa, melihat wajah Maya yang sangat merah menahan malu.
"Lagian gara-gara kamu sih Sam yang buka aurat sembarangan." cibir Maya.
Sam tertawa kecil mendengar nya .
"Maaf sayang."
Kini Samuel mencium kening Maya lalu menjatuhkan tubuh nya kembali kedalam kolam renang dan melakukan gerakan meliuk didalam air.
Maya kembali tersenyum, hari ini hari ketiga dia dan Samuel berada di Bali.
______
Berkali-kali seluler Sam berdering, Maya melirik sekilas.
Martha... nama itu lah yang jelas tertulis pada layar ponsel milik Sam.
"Sam... ponsel kamu bunyi." teriak Maya dari tepi kolam renang. Samuel kini berenang ke tepi. Ia lalu berjalan mendekati kursi pantai Maya.
Sam meraih handuk lalu mencoba mengeringkan tubuhnya yang basah. "Dari siapa May?"
Kini Sam duduk di samping Maya sambil beralih mengeringkan rambutnya.
"Martha...."
Sam mendengus kesal lalu mengabaikan nya, kini cowo itu meraih ponsel dan mematikan daya ponsel pipih nya.
"Kenapa di matiin Sam? siapa tau ada yang penting."
"Pasti gak ada yang penting. Oh ya aku mau ke mini market kamu mau ikut?"
tanya Sam yang diikuti dengan anggukan kepala Maya.
Maya tersenyum kembali lalu mengikuti langkah Samuel.
_______
Mereka kini terlihat berhenti sejenak di sebuah bangku kosong sebuah cafe. Maya meletakkan beberapa paperbag, jemari gadis itu kembali terlihat menyeka peluh di kening nya.
"Harusnya kita muter-muter nya pake motor tadi, kan kamu nya jadi kecapean." elus Sam lembut di puncak kepala Maya.
Maya tersenyum sekilas, "Gak kok gak terlalu capek juga." jawab Maya.
Beberapa menit kemudian seorang waiter mendekati meja mereka dan meletakkan dua buah gelas minuman dingin dan satu piring waffle.
Keduanya mengangguk saat waiter tadi menawarkan menu yang ia antar tadi.
"Sam... kita pulang nya besok?" tanya Maya sambil menyesap ice tea lyche miliknya.
Sam mengangguk, ia juga ikut menyesap minuman yang sama dengan milik Maya.
"Kenapa? kamu mau lebih lama lagi disini?"
Maya sekilas mengerucutkan bibir nya lalu tersenyum kecil.
"Makasih ya Sam..."
"Buat?"
"Sudah memberikan kebahagiaan buat ku." lirih Maya.
Sam menghentikan suapan waffle ke mulutnya, kini ia kembali menatap Maya lembut.
"Makasih juga May, kamu telah jadi kebahagiaan untuk ku."
Kini Sam menyuapkan satu suapan waffle ke mulut Maya, dengan senang hati Maya menerima suapan dari Sam. Kini senyuman kembali mengembang di semua sudut bibir peach Maya.
"Kita pulang naik mobil aja ya, biar aku telfon bapak Mada." usul Sam.
______
Sam dan Maya masih menunggu jemputan bapak Made, guide Maya dan Sam selama di Bali.
Agak lama kedua netra Maya membola ke arah tiga orang gadis cantik yang duduk tepat di depan mereka, masih di salah satu cafe yang terletak di Kuta Bali.
Ketiga gadis cantik itu saling berbisik, entah soal apa namun yang pasti ketiganya sama-sama terlihat tersenyum ke arah Sam, seperti memberikan sebuah kode godaan pada Sam.
Bibir Maya mengerucut, ingin rasanya Maya mencongkel mata ketiga gadis itu. Maya tidak terima jika Sam digoda oleh ketiganya.
"Sam...." ucap Maya dengan sedikit nada kesal.
"Hhmmm....??"
"Liat deh, kamu digoda in ketiga gadis itu." manyun Maya, kini muka masam Maya sedikit ia tunjukkan.
Sam mengalihkan perhatiannya sebentar dari layar laptop, lalu tersenyum kecil, "Lho bagus dong sayang... itu tandanya pacar kamu ini ganteng." goda Samuel, setelahnya sekilas Sam terlihat membalas senyuman ketiga gadis tersebut.
"Iiihh... kamu genit banget sih Sam!!"
Kini bibir Maya mulai cemberut, tangannya ia silangkan sejajar dengan pinggang.
"Hahaha sayang.... kamu masih cemburu? I,m yours baby...."
Kini Sam meraih pundak Maya lalu didekap nya erat, ciuman Sam mendadak ia daratkan ke kening Maya.
Spontan saja pekikan keras terdengar dari ketiga gadis tadi saat melihat apa yang Sam lakukan barusan.
Ketiganya kembali berbisik, saling menatap Maya iri. Seolah sudah tidak ada harapan buat mereka untuk bisa mendapatkan cowo keren yang duduk di hadapan mereka saat itu.
"My eyes is yours baby...my lips, my love, and my heart too." bisik Samuel. Kembali Sam mencium kecil ujung bibir Maya, hanya ciuman kecil tanpa ada saliva disana.
Lagi-lagi ketiga gadis itu saling berbisik, memandang Maya jealous seolah beranggapan Maya adalah gadis paling beruntung di dunia ini.
Tentu saja Maya adalah gadis paling beruntung saat ini, dicintai oleh Sam dengan sepenuh hati.
Setidaknya ia sangat beruntung untuk saat ini, sebelum pernikahan itu terjadi.
To be continue...