
Freya membalikkan tubuhnya begitu ia keluar dari pintu ruang kerja Samuel, memandang sebentar ke arah pintu berwarna coklat tua yang telah tertutup itu. Wajah kecewanya terlihat, begitu ia mendengar soal ruangan kerja yang terpisah dari Sam. Dan juga tentang kenyataan jika Sam menerimanya bekerja di perusahaan itu atas saran dari Maya.
Freya mendengus dan menghentakkan ke lantai kedua kakinya dengan sangat kesal.
Kenapa Maya, selalu saja Maya, batin Freya culas. Ia benar-benar menjadi penghalang dalam usahaku kembali mendekati Samuel, batin Freya lagi.
Dengan langkah cepat dan tentu saja sedikit kesal, Freya berlalu dari ujung pintu ruangan Samuel, ia menuju ke sebuah ruangan yang berada tepat di sebelah ruang kerja Samuel. Membuka knop pintu perlahan, melihat sekeliling ruang kerjanya membuat senyuman licik Freya kembali tertarik di kedua sudut bibirnya.
"Ini lebih baik dari pada aku harus bekerja di perusahaan asuransi sebelumnya," gumam Freya sambil mengembangkan senyuman smirk nya.
Gadis itu meletakkan tas kerjanya lalu duduk bersandar pada kursi kerjanya yang bisa berputar. "Good job, Freya...." seringai licik gadis itu.
....
"Sore nanti, aku yang ke kantor kamu, sayang. Terus kita mampir dulu ke rumah Martha." Ucap Maya melalu sambungan telepon beberapa menit yang lalu.
Wajah Samuel terlihat sedikit berubah heran ketika mendengar suara Maya lewat sambungan selulernya barusan. Seperti ada masalah yang begitu ia pendam rapat, padahal pagi tadi Maya baik-baik saja, pikir Sam.
Tok...tok...tok...
Tiba-tiba saja suara ketukan pintu ruangan terdengar dengan jelas, membuat Samuel kembali ke dalam alam sadarnya.
"Masuk."
"Sam, ada hal yang harus kamu periksa deh," ucap Freya begitu ia membuka knop pintu dan langsung berjalan menuju meja kerjanya.
"Laporan tender kerjasama dengan perusahaan produsen mobil di Itali?" Sam bertanya dengan sedikit mengernyit heran.
"Iya, kamu liat gak? ada yang aneh dengan angka-angka budget kerjasama ini." Freya kini lebih mendekat ke arah sisi kanan Samuel, sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Sam.
"Gak ada yang aneh, Fe. Dan kerjasama ini sudah beberapa bulan lalu. Semua udah aku periksa dan udah clear."
"Sam, kamu liat lebih detil dong. Kamu gak nyadar kalau budget kerjasama ini jauh di bawah keuntungan yang kamu terima?"
Dan Sam lebih memperhatikan kembali apa yang Freya maksudkan. Sayangnya memang benar ada sesuatu yang beda, meski selisih sedikit, nilai kontrak kerjasama dengan perusahaan itu sedikit lebih besar dari keuntungan yang ia dapat.
"Iya kamu benar Fe, sini coba aku liat lagi." Sam kali ini terlihat lebih serius dalam menghitung dan mempelajari nilai kontrak itu.
"Kamu liat kan? Ada yang berusaha mencurangi kamu, Sam."
Samuel terdiam sesaat, ia sedikit berfikir dan memutar kembali ingatannya dengan kontrak kerjasama itu.
"Memang siapa yang bertanggung jawab sama kontrak itu?" tanya Freya.
"Bukan Bayu, gak mungkin dia menikamku dari belakang," gumam Samuel.
"Selain Bayu, siapa lagi orang kepercayaan kamu?"
"Pak Agung, iya waktu itu dia yang mengurus tender ini." Sam menjeda sejenak kalimatnya.
"Fe, tolong kamu panggil Airin dan suruh dia kesini."
"Tapi, Sam... aku gak tau Airin itu yang mana."
Oh bodohnya Sam, ia lupa jika Freya baru memulai kerjanya hari ini.
"Ya sudah, biar aku panggil dia lewat telepon."
Sam lantas melakukan sambungan telepon perusahaan, dan tak lama kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu ruangannya dari luar.
"Masuk..." titah Sam.
"Maaf ada apa ya pak, anda memanggil saya?" tanya seorang laki-laki yang berumur sekitar empat puluh tahunan, Sam sekilas tidak percaya jika laki-laki di hadapannya kini adalah orang yang telah menggelapkan uang perusahaan. Kemarin-kemarin Sam benar-benar mempercayainya.
"Ada hal yang mau saya tanyakan pada pak Agung."
Sesaat Samuel terdiam, memandang lekat wajah dan gerak-gerik laki-laki yang ada di hadapannya kini.
"Saya minta penjelasan anda soal laporan keuangan tender ini." Sam kini mengarahkan laptopnya ke arah Agung. Ekspresi laki-laki yang berdiri di hadapan Samuel kini spontan berubah, dia bahkan berkeringat dingin. Wajah kebingungan menjadi kunci jawaban Samuel jika memang benar orang kepercayaannya itu telah berbuat curang padanya.
"M-maaf p-pak.... saya khilaf," jawab nya.
"Sam, bukankah dia harus kamu laporkan ke polisi? dia telah melakukan korupsi di perusahaan kamu, Sam!" ucap Freya.
"M-maaf pak, saya mohon jangan laporkan saya ke polisi. Saya janji akan mengembalikan semua uang itu," pinta nya dengan wajah memucat dan memelas.
"Fe, tolong bilang sama Bayu suruh dia kemari, biar dia yang mengurus semuanya."
Freya hanya mengangguk pelan, kemudian berjalan keluar dari ruangan Samuel.
.....
"Sam, apa kamu gak apa-apa?" tanya Freya begitu ia memasuki ruang kerja Samuel dan mendapati pria itu terlihat masih sedikit shock tentang apa yang dilakukan oleh salah satu pegawai kepercayaan dia. Bukan jumlah yang sedikit dan sesungguhnya bukan masalah besar juga buat Samuel, hanya saja ia sungguh tidak percaya salah satu karyawan begitu tega melakukan ini semua terhadapnya. Dengan apa yang sudah ia lakukan untuk semua staf, mulai dari uang lembur atau pun bonus bulanan dan bonus-bonus lainnya. Sam pikir ia sudah membahagiakan semua orang yang bekerja padanya namun ternyata kenyataan itu salah.
Memang tidak semua melakukan kecurangan namun hal ini sungguh membuat Sam merasa terpukul.
"Sam, kamu gak pulang? ini sudah jam empat lebih lho," tanya Freya dan mendekat ke arah Samuel.
"Aku ada janji sama Maya."
"Dia mau kesini?"
Sam mengangguk pelan menjawab pertanyaan Freya barusan.
"Kebetulan dong, sekalian aku mau bilang makasih sama dia. Boleh ya kalau aku juga menunggu Maya disini?"
"Aku bilang gak perlu kan Fe, biar aku yang sampaikan terima kasih kamu ke dia."
Bukan apa-apa, Sam tidak ingin Maya bertemu Freya yang dalam keadaan hamil. Tentu saja itu akan membuat istrinya sedikit merasa tidak nyaman. Selama ini Maya ingin sekali mempunyai buah hati, namun belum juga dikaruniai setelah beberapa bulan pernikahan mereka.
Dan lagi, Sam tidak ingin Maya salah paham jika melihat Freya berada dalam ruang kerjanya.
"Sam, kenapa sih aku gak boleh ketemu sama istri kamu? Aku gak akan berbuat jahat lagi sama dia kok. Janji...." Freya mengangkat dua jemarinya sebatas dada.
"Kalian pasti bahagia ya Sam? Sudah berapa bulan kalian menikah?"
"Hampir sepuluh bulan."
"Owh.... dulu aku gak datang ke pernikahan kamu, habisnya kamu gak ngundang aku sih," ucap Freya lagi, kali ini ia kembali mendekat ke arah Samuel. Menempatkan telapak tangannya di pundak pria itu.
"Fe, sebaiknya ka-m-u pu__"
Ceklek....!!
Belum sempat Sam melanjutkan kalimatnya, pintu ruangannya dengan tiba-tiba terbuka bersamaan dengan sosok cantik yang berdiri di ujung pintu dengan gaun selutut berwarna coral yang begitu elegant, lengkap dengan heels dengan warna senada.
Senyum ceria yang tadinya mengembang penuh di kedua sudut bibir peach itu kini mendadak menghilang.
Sementara Samuel....?? ekspresi terkejutnya dengan cepat ia kendalikan, Sam kini menjaga jarak dengan Freya yang saat itu masih berdiri begitu dekat dengannya
"Hey May...." sapa Freya dengan senyum yang mengembang, entah tulus atau tidak.
"Apa kabar kamu May?" kini Freya mendekat ke arah Maya dan menjulurkan tangannya tepat di hadapan gadis yang kini memiliki Samuel.
"Baik, dan kamu? Apa kabar?" Maya menerima uluran tangan Freya dan berbalik menjabat erat tangan gadis itu.
Freya tersenyum sebentar, "Kamu lihat kan? I'm fine..." Freya kembali tersenyum mengembang.
"Oh ya... by the way.... kamu sudah hamil May?"
Seketika wajah Samuel berubah merah padam saat mendengar pertanyaan lancang dari Freya.
"Cukup Fe, sebaiknya kamu pulang sekarang!"
"Sam, aku salah? Aku kan cuma bertanya ke Maya." Freya terlihat berekspresi sok innocence di hadapan Samuel.
"Aku belum hamil, Fe." Cicit Maya lemah.
"Sungguh ironis ya? Aku yang sudah menikah dan punya suami malah belum juga hamil. Tapi kamu yang belum bersuami malah hamil duluan," seringai Maya.
Sesungguhnya saat ia berucap demikian, Maya sedang menertawakan dan mengasihani dirinya sendiri bukan Freya.
"Kita pulang sekarang, sayang." Sam begitu saja mendekati Maya dan menggandeng lengan istrinya lembut. Meninggalkan Freya yang hanya bisa mematung mendengar jawaban yang tanpa ia duga dari Maya.
Hah, awalnya Freya yang ingin menyindir Maya namun kenapa kini ia yang kena getahnya? Freya kini terlihat sedikit geram.
Oke liat saja nanti, siapa yang akan tertawa di akhir, batin Freya kesal.
to be continue....