
Sam masih berdiri di samping Freya, melipat kedua lengannya di atas pinggang. Menunggu jawaban dari gadis itu mengenai percakapan mereka barusan. "Bagaimana Fe? Apa keputusanmu? Aku tidak masalah jika kamu tetap menuntut Maya atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat. Tapi kamu harus ingat, yang akan kamu hadapi di pengadilan nanti bukan Maya tapi aku," ucap Samuel dengan penekanan tegas.
"Baiklah, kau menang Sam tapi kau harus pegang janjimu, rahasiakan masalah ini," jawab Freya akhirnya, walau kemarahan masih terlihat samar di kedua iris coklat miliknya, gadis itu memilih untuk mengalah. Percuma ia melawan pria bertubuh atletis di hadapannya, yang ada gadis itu hanya akan membuang lebih banyak uang untuk melawan Sam di pengadilan nanti.
Sam menarik kedua sudut bibir tebalnya, tersenyum sekilas saat mendengar jawaban dari Freya. Ia sudah bisa menduga jika mantan tunangannya ini tidak akan pernah berani dengan gertakannya, Sam tidak pernah melayangkan gertakan sambal kepada siapa pun.
"Tentu saja aku tidak akan pernah membocorkan kelakuan kamu pada publik. Jangan sampai aku melihat kamu lagi mengganggu Maya, jika kamu masih mengganggu hubungan kami..." Sam menjeda kembali kalimatnya.
"Kamu tau akan berurusan dengan siapa nanti," lanjut Sam lagi.
Freya hanya terdiam, merotasikan netra nya ke arah lain. Sam kini benar-benar sudah melupakannya, bahkan pria itu dengan tega tak mempedulikan keadaannya saat ini.
"Sekarang kamu istirahatlah. Urusan biaya rumah sakit biar aku yang tanggung. Kamu tidak perlu khawatir."
Pria itu memandang wajah Freya sejenak sebelum ia beranjak pergi meninggalkan ruang UGD. Meninggalkan sosok Freya yang terbaring di salah satu hospital bed UGD.
Ada kecemburuan dan penyesalan di manik mata Freya, harusnya dia yang saat ini menjadi gadis satu-satunya yang dipuja oleh Samuel. Dulu pria itu begitu mencintainya, melakukan apa saja untuknya hingga kebodohan yang ia lakukan membuat Samuel membencinya. Air mata pura-puranya tadi kini berubah menjadi kesedihan yang sesungguhnya. Elano....? tiba-tiba Freya teringat dengan pria itu.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ranjang rumah sakit yang ia tempati, mencari-cari ponsel pintarnya.
Netra gadis itu membola ketika mendapati ponsel pipihnya tergeletak begitu saja di atas nakas samping ranjang. Dengan sedikit rasa sakit yang ia tahan Freya mencoba meraih ponsel hitam berlapis soft case warna gold dan terlihat melakukan panggilan di sana.
"Halo, El...."
....
Hari ini Maya berniat akan menjemput Samuel ke mansion miliknya. Maya melajukan mobil milik Sam dengan kecepatan sedang, memfokuskan pandangannya pada trafic Jakarta yang belum terlalu padat pagi ini. Biasanya Samuel lah yang menjemputnya, namun kali ini beda, justru Maya yang menjemput pria itu, Maya tersenyum sebentar, mengesampingkan pikiran was-wasnya soal Freya semalam.
Bagaimana keadaan gadis itu? Apa Samuel sudah menyelesaikan permasalahan dengan Freya? batin Maya.
Sedan hitam mengkilat dengan desain yang futuristik itu melaju stabil, melewati beberapa trafic light hingga Maya membelokkan sedan tersebut ke pintu gerbang perumahan elit di kawasan Lippo Karawaci yaitu Cendana Homes. Memasuki gerbang masuk perumahan elit itu Maya disuguhi pemandangan sejuk dengan pepohonan rindang, diselingi beberapa blok rumah-rumah megah dengan design modern yang menjulang tinggi. Maya berhenti tepat di depan sebuah rumah paling megah, dengan pagar tinggi bercat abu gelap.
Satpam langsung mempersilahkan Maya masuk begitu pintu pagar terbuka. "Pagi pak..." sapa Maya begitu kaca jendelanya ia buka separuh. Sang satpam bertubuh tegap membalas senyum Maya dan mengangguk sopan ke arah gadis itu. "Pagi non Maya...." balas sang satpam tadi.
Maya terus melajukan sedan sport milik Sam hingga berhenti di depan pintu utama mansion bergaya eropa tersebut.
Sam langsung menyambut Maya begitu gadis itu keluar dari pintu mobil, memeluk erat tubuh Maya serta mendaratkan kecupan ringan di kening putih itu. "Morning, baby...." kecup Sam.
"Pagi...." jawab Maya, tersenyum bahagia menerima kecupan kecil di keningnya dengan hati membuncah.
"Gimana tidur kamu semalam? nyenyak?"
Maya mengangguk pelan, diakuinya semalam, setelah mendengar Sam berkata akan selalu ada di samping dia melewati semua kejadian yang telah menimpa Freya, Maya merasakan ketenangan.
"Iya, semua berkat kamu Sam."
Samuel tersenyum kecil lalu mengangguk dan menggandeng tangan Maya. "Kita berangkat ke kantor sekarang. Hari ini aku ada kerjaan di kantor property, jadi pagi ini kita tidak perlu berpisah kantor," jelas Samuel. Ia membukakan pintu mobil untuk Maya. "Naiklah," titah Samuel.
Maya menurut ucapan kekasihnya, memasuki mobil dan duduk di kursi depan.
"Freya berniat menuntutmu atas tuduhan tindakan tidak menyenangkan yang mengakibatkan cedera," jawab Sam tenang.
Maya terkesikap, kemarahannya terhadap nenek sihir itu semakin memuncak.
"Terus....?"
"Kamu tidak usah panik, sayang. Masalah Freya sudah selesai. Aku balik mengancamnya akan menghadapi dia di pengadilan nanti. Dia tidak akan menang di pengadilan karena aku punya bukti jika malam itu adalah kesalahannya."
"Benarkah?" tanya Maya penasaran. Matanya membulat penuh menatap Sam.
"Oh... Sam, terima kasih!" serunya tatkala Sam menjawab penasarannya dengan anggukan mantap.
Terbawa perasaan bahagia karena masalah-masalah dihadapannya telah lenyap, juga karena didorong oleh rasa terima kasih karena Sam menemani dan mendukungnya melalui masa-masa sulit, Maya mencondongkan tubuhnya dan mengecup singkat pipi Samuel.
Sam terbelalak melihat senyum Maya yang masih mengembang sempurna. Aliran hangat memenuhi rongga dada. Ia mengelus pipi yang tadi dicium oleh gadis yang saat ini selalu memenuhi pikirannya.
"Kenapa cepet banget sih, sayang." rajuk Sam kini.
"Ih... kamu kan lagi nyetir, Sam. emang mau berapa lama diciumnya?" gelak tawa kecil Maya kini memenuhi seluruh ruangan mobil sport Samuel.
"Aku maunya dicium di sini...."
"Samuel....!!" Maya spontan memekik lucu, mendaratkan beberapa cubitan kecil di pinggang pria itu begitu Samuel menjawab pertanyaan Maya tadi dengan isyarat telunjuk tangannya menunjuk ke arah bibir tebal Sam.
"Hahaha.... you've hurt me, hunny..." berganti gelak tawa Samuel yang saat ini memenuhi seluruh ruangan sedan sport itu.
"Makanya jangan nakal..." Maya mengerucutkan bibirnya lucu. Mata bulat gadis itu membola membuat Samuel semakin gemas untuk tidak mendaratkan ciuman kecil di pipi merona Maya.
"Aku akan selalu melindungi dan menjagamu, sayang." Samuel berkata dengan nada serius kali ini.
Rasa haru menyeruak dari dada Maya, membuat matanya berair.
Sam membelokkan mobilnya ke bahu jalan, memandangi lekat wajah kekasihnya.
Sam membelai pipi Maya, menghapus air mata sebelum mengecup kulit putih itu pelan.
"Aku percaya padamu, Sam" bisik Maya pelan namun terdengar sangat jelas. "Dan aku mencintaimu."
Sam tersenyum, menyatukan dahi mereka. Saat ini dia merasakan kembali seluruh semesta berhenti sejenak, memberikan mereka waktu untuk saling merasa.
Perlahan Sam menempelkan bibir tebalnya, sejenak tanpa ada pergerakan. Mereka ingin menikmati setiap moment penting tanpa ada nafsu menguasai. Hanya membiarkan cinta yang mengendalikan.
"And i love you more, baby...." bisik Sam lembut.
to be continue...