
"Sam..."
"Hhhmm...?"
"Kenapa kamu bisa suka sama aku?" tanya Maya, sebentar ia menyendok es krim di hadapannya lalu dimasukkan ke mulut mungil gadis itu.
"Karena kamu unik sayang." jawab Samuel sambil tersenyum kecil, cowo itu kini bertopang dagu sambil terus memandangi wajah Maya.
"Unik...? emang aku barang antik apa?"
Kali ini Maya mengerucutkan bibir, dengan kedua bola mata yang melirik ke arah Samuel.
Sam terkekeh geli melihat ekspresi wajah Maya, untuk sesaat cowo itu merasa sangat bahagia.
"Kamu cantik sayang, bukan hanya wajah kamu yang cantik tapi hati kamu juga." kali ini ada nada serius dari jawaban Samuel.
"Sam...." Ucap Maya lagi.
"Hhmm...?"
Samuel belum juga melepaskan pandangan nya dari arah Maya, ia rasanya tidak pernah puas melihat wajah gadis itu.
"Jika nanti mantan pacar kamu kembali lagi dalam hidup kamu... siapa yang akan kamu pilih?"
Kali ini dengan sangat hati-hati Maya mengajukan pertanyaan nya.
Samuel mengalihkan sejenak pandangannya.
"Sampai kapan pun kamu selalu jadi pilihan utama ku May."
"Kalo aku pilihan utama, ntar ada pilihan kedua, ketiga, keempat dan yang lain dong Sam...?"
Maya menghentikan suapan es krim ke mulutnya, kedua netra nya membola, bibirnya kembali ia kerucutkan.
Kembali Sam terkekeh melihat ekspresi gadis nya itu.
"Hahaha...!! Paling cuma sampai pilihan ketiga aja sayang." goda Samuel, cowo itu masih tertawa kecil menggoda Maya.
"Sam...!!! jahat ih...." Maya kini merajuk manja, bibirnya kembali dia kerucutkan lucu, membuat tawa Samuel semakin meledak.
"Hahahaha...!! sorry sayang, aku cuma becanda tadi, jangan marah ya..."
Sam kembali mengelus lembut puncak kepala Maya.
"Becanda kamu gak lucu..." cibir Maya, kembali Sam meraih tubuh mungil Maya dan membawanya ke dalam pelukan hangat Samuel.
"Nanti aku pasti akan kangen kamu terus May..." lirih Sam, ia semakin mendekap erat tubuh Maya.
"Memang kamu mau kemana Sam? kamu mau pergi?"
Pertanyaan Maya hanya di jawab senyuman kecil Samuel, kini kedua netra Sam mulai berkaca-kaca.
"Kamu nangis?" tanya Maya tak percaya, malam itu sangat jelas Maya melihat kedua iris kecoklatan itu hampir saja menetes kan cairan bening di pipi Samuel.
Sam tersenyum, berusaha menyembunyikan apa yang dia rasakan saat ini. Tangan lembut cowo itu kini membelai lembut pipi Maya.
"Sayang.... besok kita ke Bali yuk, aku udah siapin semua nya."
"Tapi Sam.... kenapa mendadak gitu? lagian besok kan bukan weekend dan kerjaan aku gimana? kamu juga kan harus kerja Sam."
Maya semakin heran dengan sikap Sam, kenapa kini mendadak CEO itu merencanakan liburan mereka?
"Aku udah atur semuanya sayang, masalah kerjaan ada Bayu yang handle, kamu gak usah khawatir." terang Sam.
"Owh..."
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Maya.
"Kamu siapin aja apa yang ingin kamu bawa, aku jemput kamu jam delapan pagi, okey...?" lanjut Sam dan hanya di balas anggukan kepala dan senyuman oleh Maya.
***
"Sam.... kamu mau kemana? hari ini kamu sama Martha ikut mama ke designer pakaian pengantin kalian."
Anita langsung saja melangkah masuk ke dalam kamar Sam begitu wanita itu sampai di mansion pribadi anaknya.
Sejurus kemudian mata Anita membola melihat Samuel yang sedang berkemas, cowo itu pun sudah berpakaian rapi.
Seperti hendak bepergian jauh saja, batin Anita.
"Sam kamu mau kemana? ada kerjaan di luar kota?" ulang Anita, Sam masih terdiam sebentar. Cowo itu masih terlihat sibuk melakukan packing beberapa pakaiannya, kembali Anita membuang nafas panjang.
"Sam mau ke Bali ma." jawab cowo itu akhirnya.
"Ke Bali? ada kerjaan disana?"
Tapi... bagaimana jika Samuel juga berbuat bodoh disana? pikir Anita.
"Ingat Sam kamu jangan berbuat bodoh lagi bersama Maya, kamu jangan mabuk lagi dan..."
"Ma...." potong Samuel.
"Sam sudah gak pernah minum lagi sejak mengenal Maya. Dan Maya bukan gadis seperti Martha atau pun Freya." lanjut Sam lagi membuat Anita terdiam tanpa membantah.
"Sam berangkat dulu ma..."
Pamit Samuel, dia raih tangan Anita lalu menciumnya.
Untuk sejenak wanita anggun itu terperangah dengan sikap anaknya barusan. Apa Maya benar-benar sudah merubah sikap dan perilaku Sam? batin Anita.
Terlihat Sam sudah meninggalkan mansion pribadi nya, namun tidak dengan Anita. Wanita itu masih berdiri mematung di dalam mansion milik Samuel, salah satu maid yang menawarkan minuman pun tidak terlalu Anita tanggapi.
'Apakah pernikahan ini bukan yang terbaik untuk Samuel?' batin wanita itu lagi.
***
"Lo mau ke Bali May?" pekik Airin dari sambungan seluler, Maya spontan menjauhkan telinganya dari ponsel pipih milik nya.
"May.... lo kok diem??" kali ini Airin sedikit merendahkan nada bicara nya.
"Abis nya lo kalo ngomong kayak petasan si Rin... pelan aja ngapa kalo ngomong." jawab Maya dari seberang sambil mengerucutkan bibir beberapa centi.
"Heee... sorry May, habis nya gue excited banget denger lo mo ke Bali."
'Eh ni anak yang mau ke Bali siapa... yang excited siapa' pikir Maya geli.
"Haloo May... betewe.... lo ke Bali sama siapa? sendiri? tumben lo banyak duit." sambung Airin lagi.
'Eeiitsss.... ni bocah kadang kalo ngomong suka asal tapi bener' pikir Maya lagi.
"Sama Sam, iya kalee gue sendiri ke Bali." jawab Maya yang kembali mengerucutkan bibirnya.
"Lo hati-hati di jalan ya May, oh ya... hati-hati juga di Bali ntar. Kalo bos ngapa-ngapa in lo tonjok aja May, heeee." kekeh Airin kembali. Dari seberang Maya lagi-lagi cemberut kesal dengan omongan Airin, tapi... ada benarnya juga sih omongan tuh bocah. Kalau Sam ngapa-ngapa in dia nanti tak segan-segan Maya nonjok tuh muka si bos, yah... walau Maya cinta sama Sam tapi gadis itu masih punya janji sama mama nya untuk tidak berbuat melebihi batas saat pacaran.
"May, biasa... jangan lupa oleh-oleh nya heee..." lanjut Airin lagi.
"Iya kalo inget, weeekkk..." jawab Maya sambil menjulurkan lidahnya, yah.... walau tidak terlihat oleh Airin di sana.
"Ya udah ya Rin, gue mau siap-siap dulu bye..."
Klik...
Maya memutuskan panggilannya, gadis itu lalu kembali memutar bola matanya, mencoba mengingat kembali barang apa yang akan dia bawa nanti.
____
Perlahan Maya mengalihkan pandangannya ke arah Siska, mama nya.
"Sayang, kamu hati-hati ya disana dan ingat kepercayaan yang mama berikan." pesan Siska, dengan lembut wanita itu membelai rambut dan pipi Maya.
"Iya ma, May akan jaga kepercayaan dari mama."
Maya memeluk erat tubuh ramping Siska, wanita itu kembali tersenyum dan mencium pipi Maya.
"Ya udah, tuh Sam udah ada di depan nunggu kamu." ucap Siska lagi sambil tersenyum.
Maya mengangguk kecil hingga gadis itu bangkit dari duduknya dan menyeret sebuah koper berisi pakaian untuk ia pakai di Bali nantinya.
____
"Tante, Sam berangkat dulu ya." pamit Sam pada Siska, dia meraih punggung tangan wanita itu lalu mencium nya.
"Hati-hati ya nak Sam, tante titip Maya." jawab wanita itu dengan sedikit penegasan.
"Sam akan jaga Maya baik-baik tant. Kita berangkat dulu." pamit Sam lagi.
Samuel berjalan mendahului Maya, dia mengambil alih koper yang ada di tangan Maya lalu membawa nya ke dalam bagasi mobil.
"May berangkat dulu ma, Assalamualaikum..." pamit Maya sambil mencium kedua pipi Siska dan punggung tangan wanita itu.
Tak lama kemudian sopir Samuel membawa mobil sedan hitam mengkilat itu melaju menjauh dari rumah minimalis Maya.
Sam meraih jemari lentik Maya dan menggenggam nya erat lalu menciumnya lembut.
Sedan mengkilat itu pun akhirnya menjauh dari kompleks perumahan Maya, mengarungi trafic Jakarta yang sudah padat pagi itu untuk menuju ke Airport Soeta.
To be continue...