
Keduanya melangkahkan kaki memasuki pintu cafe mereka yang bernuansa hijau dan penuh dengan tanaman gantung serta bunga daisy dan krisan warna warni. Baru saja langkah kaki mereka memasuki pintu utama cafe, tiba-tiba saja keduanya dikejutkan oleh pemandangan tubuh kekar Dean Sanjaya yang membopong tubuh mungil Samudra.
Membuat Sam maupun Maya membolakan kedua netranya kaget.
"Kenapa dengan Samudra?" tanya Maya panik.
"Aku juga gak tahu, tiba-tiba saja ia turun dari lantai atas sambil memegangi kepalanya." Dean pun menjawab dengan panik.
"Dia mencari kalian dan sempat bilang jika kepalanya sakit," ujar Dean lagi.
"Sam, gimana ini?" Maya terlihat sangat panik.
"Kita bawa Am ke rumah sakit sekarang," jawab Samuel tenang. Sam pun mengambil alih tubuh Samudra dari gendongan Dean.
"Terima kasih atas bantuan anda," ucap Samuel.
Hanya anggukan kecil dari Dean yang meresponnya. Ketiganya lalu berjalan keluar dengan tergesa. Kepanikan masih terlihat jelas dari ekspresi wajah Maya, sedang Samuel lebih bisa mengontrol situasi panik ini. Sam memasukan tubuh Samudra ke jok kursi belakang dengan Maya yang menemaninya, membiarkan kepala Samudra berada dalam pangkuan kaki Maya.
"Aku ikut kalian, aku kenal dengan dokter spesialis saraf di rumah sakit Sejahtera," ucap Dean kepada Samuel sebelum Sam melajukan kendaraannya.
"Hanya di rumah sakit Sejahtera yang paling dekat dengan lokasi cafe kalian. Takutnya sakit yang dialami Samudra semakin memburuk jika telat ditangani." Dean melanjutkan.
Sam hanya bisa mengangguk menjawab ucapan kliennya.
Dengan cepat Sam memacu sedan hitamnya keluar dari tempat parkir cafe. Diikuti juga mobil berjenis SUV berwarna hitam mengkilat.
mobil yang Dean naik-i, dengan sigap mengekor sedan sport milik Samuel dari belakang.
...
Sam dengan sigap membopong tubuh Samudra ke ruang gawat darurat. Sementara Dean memerintah beberapa suster yang tengah jaga disana untuk segera menangani Samudra.
Dengan cepat dua orang suster tadi membawakan brankar dorong untuk Samudra. Dengan hati-hati Sam meletakkan tubuh Samudra yang masih mengeluh pusing di kepalanya.
"Daddy.... Am pucing(pusing) atit (sakit) dad."
Samudra terlihat kesakitan dan selalu memegang kepalanya sembari meringkukkan tubuh mungilnya.
"Sabar ya Am, ini Am mau diperiksa sama dokter." Samuel mencoba menenangkan bocah itu. Sementara Maya terlihat begitu khawatir, ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Samudra.
"Am tenang ya, Am pasti sembuh kok," ucap Maya sebelum suster-suster itu membawa Samudra memasuki ruang gawat darurat.
Dalam kondisi lemah dan terbaring di atas brankar yang di dorong oleh dua suster tadi, terlihat Samudra mengangguk pelan dan tersenyum merespos ucapan Maya.
Melihat kepergian Samudra yang terbaring lemah diatas brankar rumah sakit, membuat Maya sangat panik. Maya menyesal yang tidak cepat menyadari jika siang tadi Samudra merasa tidak enak badan. Harusnya dia lebih peka dengan keadaan Samudra waktu itu.
"Aku yang salah, Sam."
"May-- udahlah, gak perlu menyalahkan diri kamu sendiri. Am pasti baik-baik aja."
"Gak Sam, aku yang gak peka. Tadi siang Am mengeluh kecapean, dan--- harusnya aku bisa peka dengan sikap Am tadi siang." Maya menitikkan air mata, dia sungguh sangat menyesali semuanya. Seandainya saja dia tadi mengerti akan sikap pendiam Samudra. Karena tidak seperti biasanya, anak itu setiap sepulang sekolah selalu nerocos panjang lebar tentang kegiatannya di Jakarta Internasional School. Tentang teman-temannya, tentang pelajaran apa saja yang ia dapatkan dan tak terkecuali tentang hal terkecil sekali pun.
"Am pasti baik-baik aja, sayang." Samuel berusaha menghibur serta menenangkan Maya. Sam mengelus lembut kedua bahu kecil Maya, lalu beralih ke perut perempuan itu yang terlihat menonjol.
Tak dipungkiri, usapan Samuel selalu memberikan ketenangan dan kedamaian dalam diri Maya.
...
Dean yang melihat itu semua dari jarak yang tidak terlalu jauh hanya mendengus pelan sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.
Bagaimana cara Samuel menenangkan Maya dan memeluk perempuan itu, membuat Dean Sanjaya seolah terbakar api cemburu. Entah mengapa...
Dia bahkan tidak memiliki hak untuk merasakan perasaan itu, terlebih lagi Maya bukanlah siapa-siapa dari seorang Dean Sanjaya.
"Kalian tenang saja, Samudra telah ditangani dokter saraf terbaik, dokter Chen." Dean akhirnya mendekat ke arah Sam dan Maya.
"Aku kenal baik dengan dokter Chen dan aku sudah memberitahukan tentang riwayat kecelakaan yang pernah menimpa Samudra." Dean melanjutkan ucapannya.
"Kecelakaan? Bagaimana anda tahu soal kecelakaan yang menimpa Samudra?" tanya Samuel bernada bingung.
Ekspresi wajah Sam pun mendadak penuh dengan pertanyaan di benaknya.
"Eee---i-ya-- aku pikir sakit yang dialami Samudra mungkin karena kecelakaan. Eee---a-ku punya sahabat yang memiliki gejala sama persis yang dialami Samudra." Dean tergagap menjawab pertanyaan Samuel.
Bodoh...! kenapa bisa keceplosan kayak gini, hah?! umpat Dean dalam hati.
"Temen ku juga pernah mengalami kecelakaan dan menyebabkan trauma pada kepalanya." Dean melanjutkan kembali kalimatnya. Berharap Jika Samuel ataupun Maya tidak menaruh curiga terhadapnya.
Samuel tidak merespon apa-apa. Saat ini hanya keadaan Samudra lah yang dia pikirkan. Untuk masalah kliennya, Sam berusaha mengesampingkannya terlebih dahulu.
Sam hanya mengangguk perlahan, ia lalu kembali merengkuh bahu Maya dan membawanya kedalam pelukan.
...
Beberapa jam setelah pemeriksaan Samudra, akhirnya seorang dokter paruh baya dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya keluar dari ruang perawatan.
"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Maya panik, ia langsung saja bergegas menuju ke arah sang dokter begitu pria paruh baya itu terlihat membuka knop pintu ruang gawat darurat.
Sang dokter tersenyum sebentar, mungkin mencoba menenangkan perempuan cantik yang tengah mengandung di hadapannya.
"Anda tidak perlu khawatir, keadaan putra anda saat ini baik-baik saja."
Maya sedikit bisa menarik napas lega begitu mendengar ucapan sang dokter.
"Tapi untuk lebih detailnya, saya harap kita bisa melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap pasien. Saya menyarankan agar putra anda bisa menjalani CT scan."
Sang dokter menjeda sebentar kalimatnya dan memandang ke arah Maya dan juga Samuel secara bergantian.
"Lakukan saja, Dok." Samuel menjawab cepat.
"Berapa pun biayanya akan saya setujui untuk kesembuhan putra saya." Sam menambahkan lagi.
"Saya akan mempersiapkan proses dan prosedurnya."
Sam menurut saja apa yang menjadi ucapan dokter Chen.
"Untuk sementara, pasien bisa anda tempatkan ke ruangan. Anda bisa menemui suster di bagian registrasi untuk memilih ruangan." Dokter Chen kembali melanjutkan.
"Baik." Jawab Samuel singkat.
Selang beberapa detik kemudian dokter setengah baya dengan wajah oriental itu melangkah meninggalkan Samuel dan juga Maya.
"Aku urus ruangan Samudra dulu, kamu ikut? atau mau disini menemani Am?" tanya Samuel.
"Aku disini aja ya Sam?"
"Oke." Samuel mengangguk pelan.
"Sam....!" Ucap Dean yang berusaha menyela langkah kaki Samuel.
Membuat Sam menghentikan sejenak langkah kakinya.
"Aku temeni kamu ke ruang resepsionis. Kebetulan aku kenal dengan beberapa suster di rumah sakit ini," terang Dean.
Sesaat Sam terlihat berfikir.
Mungkin sebaiknya pria ini ikut dengannya daripada ia disini bersama dengan Maya, istrinya. Pikir Samuel.
"Baiklah," angguk Samuel setuju.
Kedua laki-laki tampan itu pun berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit.
Tak jarang tatapan kagum dari beberapa suster dan juga pengunjung rumah sakit lainnya tertuju ke arah keduanya.
Bagaimana tidak kagum, jika mereka melihat sosok ciptaan Tuhan yang begitu sempurna sedang berjalan di lorong-lorong rumah sakit yang notabene sangat jarang mereka jumpai sosok tampan seperti mereka. Bahkan tak jarang pengunjung lainnya mengira jika kedua pria itu adalah artis ataupun publik figur yang terkenal.
...
"Biar saya saja yang menanyakan kamar untuk Samudra."
Sam menautkan kedua alisnya sesaat.
"Anda tidak perlu repot-repot, saya bisa melakukannya sendiri."
Dean hanya tersenyum kecil merespon.
"Maaf, bukannya saya mau ikut campur. Tapi saya hanya ingin membantu kalian. Lagipula saya punya koneksi di rumah sakit ini, dan Samudra akan mendapat pelayanan utama jika melalui koneksi saya."
Dean terlihat sedikit memaksa.
Sam sebenarnya merasa curiga dengan apa yang Dean Sanjaya lakukan. Ini semata-mata bukan hanya karena keduanya adalah rekan bisnis.
"Bagaimana?" tanya Dean kembali memastikan.
"Baiklah," ucap Samuel akhirnya.
Dean pun tersenyum dan maju menuju meja suster. Dan melakukan pemesanan kamar rawat inap untuk Samudra.
Beberapa menit berlalu, dan Dean pun berjalan kembali ke arah Samuel.
"Samudra akan ditempatkan dalam ruangan terbaik di rumah sakit ini, anda tenang saja Sam."
"Kalian tidak perlu identitas saya untuk mendapatkan kamar rawat Samudra?"
Dean menggeleng. "Tidak perlu, karena saya memakai nama saya."
"Sebenarnya rumah sakit ini milik anda bukan?" tanya Samuel.
Sebenarnya Sam tidak ingin berdebat atau berurusan dengan pria tampan di sebelahnya. Hanya saja semua yang Dean lakukan untuk keluarganya terlalu berlebihan, terlebih lagi karena hubungan mereka hanya relasi kerja.
Dean tersenyum sekilas menanggapi pertanyaan Samuel.
"Apa salah kalau saya membantu anda?" Dean menjeda sebentar.
"Apa anda merasa diremehkan jika saya memberi bantuan pada kalian?"
"Saya tulus melakukannya." Dean kembali menjeda ucapannya.
"Apa yang anda lihat di cafe tadi, tidak seperti apa yang anda pikirkan. Saya bukan orang brengsek yang akan melakukan hal kotor untuk mendapatkan apa yang saya inginkan." Dean melanjutkan ucapannya.
Kali ini ekspresi wajah Samuel terlihat bertanya-tanya.
"Mendapatkan apa yang anda inginkan?" tanya Samuel tegas.
Sorot mata Sam pun terlihat sedikit lebih tajam memandang Dean Sanjaya.
"Hahahaha!! lupakan ucapanku tadi." Dean menyeringai lebar.
"Oh ya urusan kamar Samudra sudah beres. Samudra berada di kamar Bougenvile nomor sepuluh dan itu berada di lantai lima."
Dean kini melangkah meninggalkan Samuel yang masih mematung dengan banyak pertanyaan dalam benaknya.
"Anda tidak ingin melihat putra anda, Sam? Saya yakin Samudra saat ini sudah dipindahkan ke ruangan tersebut," seru Dean Sanjaya, pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Samuel.
Sam hanya diam tanpa merespon. Dia lalu berjalan menyusul Dean Sanjaya yang telah duluan sampai di depan pintu lift.
Apa yang sebenarnya lo rencanakan, Dean? batin Samuel.
to be continue....