
Esok paginya, Sam sudah menunggu di depan rumah Maya. Berusaha mencari celah agar bisa menemui gadis yang membuat pikirannya berputar-putar. Sementara tidak ada El yang akan mengganggunya ketika ia mencoba berbicara dengan gadis itu.
Hati Sam dibelit rasa rindu yang teramat sangat ketika seluruh panggilannya dialihkan dan pesan yang ia kirim belum juga dibaca hingga sekarang. Lamunan Sam terpecah ketika ia mendengar suara ban mobil berdecit dan melihat Elano keluar dari mobil putihnya. Tak perlu waktu lama sampai tatapan mereka bertemu dan pria itu mendekati Sam dengan aura membunuh.
"Untuk apa lo kemari?" tanya El dingin.
"Untuk bertemu Manager pemasaran Wijaya Property," balas Sam tajam.
"Apakah ada peraturan perusahaan yang melarang hal tersebut hah!?"
El mendengus kesal, melemparkan tatapan tajam ke arah Sam. Hampir saja El menekan tombol bel pintu rumah Maya namun dengan cepat Sam menyambar tangan El.
"Gue duluan yang sampai di sini." Ucap Sam dengan kobaran api yang juga terlihat di kedua bola matanya.
"Dan lo dengan seenak jidat lo memarahi Maya kemarin, apa lo yakin jika hari ini Maya bisa memaafkan lo begitu aja hah?!"
Sam terdiam sesaat. Ia ingin melawan, tapi dia tahu itu bukan strategi tepat. Sebagai seorang CEO dia tahu kapan harus maju dan kapan harus mundur dan saat ini, walau dengan berat hati mengakui kalau hari ini adalah saat terbaik untuk mundur.
Tanpa berkata apapun, Sam kembali masuk kedalam mobil dan kali ini menyetir menuju perusahaan Advertising miliknya.
____
Untuk beberapa minggu ke depan Sam memilih untuk fokus di perusahaan miliknya nya sendiri, meninggalkan dulu Wijaya Property. Melihat bagaimana senyum Maya kembali ketika berbicara dengan El membuat Sam kembali merana. Ia tidak ingin emosinya kembali memperburuk hubungannya dengan Maya.
"Sam..."
Martha tiba-tiba saja masuk ke ruang kantor Samuel, perutnya yang semakin membuncit membuat gadis itu berjalan dengan lebih berhati-hati. Membuat Samuel berdiri dari kursinya dan mendekat ke arah Martha, menuntun tangan gadis itu dan membawanya ke sofa agar ia dapat duduk dengan nyaman.
"Kamu duduk dulu," ucap Sam. Menyandarkan punggung Martha pada sandaran sofa empuk yang ada di ruang kerja Samuel.
Pria itu kini duduk di samping Martha, memandangi lekat wajah gadis itu. "Ada yang bisa aku bantu?" nada bicara Sam kini terdengar lebih lembut, tidak seperti dulu.
"Aku mau minta bantuan kamu Sam, tolong bantu bicara dengan orangtua aku soal kita dan Harris."
Sam mengangguk, meraih tangan Martha dan mengusapnya lembut. "Aku akan bantu sebisa aku Tha."
"Thanks Sam. Maaf jika selama ini aku udah jahat sama kamu dan Maya." Terlihat kesungguhan dari ucapan Martha, wajah gadis itu kini penuh kelembutan. Sangat berbeda dengan Martha yang dulu.
"It's Ok... aku udah lupain semuanya. Semoga kamu dan Harris bisa bahagia, aku yakin kalian akan jadi orangtua yang hebat buat baby kamu." Jawab Samuel, tangannya kembali menggenggam lembut tangan Martha.
"Kamu kapan melamar Maya, Sam?" Martha memandang lekat wajah Sam dan tersenyum simpul, membuat Samuel membuang napas berat. "Ada masalah sama hubungan kalian?" lanjut Martha lagi, gadis itu serius memandang iris Samuel.
Sam menggeleng, lalu tersenyum sebentar. "Gak ada, kami baik-baik aja." Kembali tersenyum walau sedikit ia paksakan.
"Maaf Sam, jika hubungan kalian terganggu dengan kehamilan ini. Perceraian kita bisa sah jika anak ini sudah lahir."
"No, itu gak bener Tha. Aku dan Maya baik-baik aja."
Martha sekilas menarik kedua sudut bibirnya, menarik napas lega saat ini. Ia tidak mau ada yang terluka akibat ulahnya di masa silam.
"Aaarrggghhh...."
Tiba-tiba Martha mengerang kesakitan, wajahnya kini memucat seputih kapas. Jemarinya meremas kuat pada jok sofa sementara tangan yang satunya terus memegang perutnya.
"Tha, kamu kenapa?" Sam panik melihat semua itu.
"To...lo..ng telpon Harris.... se...kaarangg.... Sam!" teriak Martha. Gadis itu masih terdengar mengerang kesakitan, mulutnya dia kerucutkan untuk mengambil oksigen lalu membuangnya kasar.
Samuel kebingungan, panik melihat keadaan ini. Mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mencari sebuah kontak di layar ponselnya.
Harris...
Sam, masih terlihat menunggu panggilan telfonnya terangkat, lagi-lagi hanya nada sambung yang terdengar dan diikuti dengan nada panggilan tidak terjawab.
"Aaarrggghhh...." erang Martha lagi, kali ini lebih kencang. Menahan rasa sakitnya yang semakin mendera gadis itu.
"Ke rumah sakit Sam, sekarang!!" teriak Martha.
Sam mengangguk cepat. Keluar sebentar dan memanggil beberapa pegawainya untuk membantu memapah tubuh Martha sampai ke lift dan parkiran.
"Aaahhh.... huuhh.... huuhh...!!"
Martha masih mencoba mengatur napas, mengambil oksigen lalu membuangnya dan hal itu ia lakukan hingga beberapa kali.
___
Samuel menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah sakit, memanggil beberapa suster yang standby di lobi rumah sakit.
Membuka pintu belakang mobil, menitahkan dua karyawan Samuel dan dua orang suster untuk membantu mengangkat tubuh Martha naik ke atas tempat tidur Stretcher rumah sakit.
"Aahhh uuuhh aarrghhh....!!" Erangan Martha semakin kencang, meremas lengan Samuel yang saat itu berjalan mengikuti Stretcher yang ia naiki.
"Ini pasien dokter Harris, sust. Tolong tempatkan ia di kamar paling bagus." Titah Samuel.
Kedua suster tadi mengangguk patuh lalu membawa membawa tubuh Martha yang terbaring di atas Stretcher tadi masuk ke dalam ruang bersalin.
Meninggalkan Samuel yang berdiri mematung di tengah koridor rumah sakit, mengusap kasar wajahnya. Pria itu masih menatap kepergian Martha yang didampingi dua suster tadi. Berdoa untuk kelancaran proses melahirkan gadis itu.
Pikiran Sam tiba-tiba saja beralih ke Maya. Membayangkan jika gadis yang menahan sakit tadi adalah Maya, Sam merasakan bagaimana perasaan seorang laki-laki jika gadis yang menjadi istrinya nanti melakukan proses kelahiran seperti Martha.
Samuel semakin merindukan Maya, melihat Rolex di tangannya lalu bergegas keluar dari rumah sakit, menuju ke kantor Wijaya Property.
Kerinduannya akan Maya dan juga permohonan maaf yang belum sempat Sam ungkapkan membuatnya semakin frustasi.
___
Siang itu, Sam menunggu di depan ruangan Maya. Untuk beberapa menit, Sam masih berdiri mematung di depan pintu ruangan Maya. Mengurungkan kepalan tangan yang hendak mengetuk pintu coklat itu. Perasaan Sam bercampur aduk, ada rindu, sakit dan juga ketakutan jika Maya kembali mengacuhkan dia.
Tok... tok... tok...
Ketuk Sam akhirnya.
"Siapa?" tanya sebuah suara yang selalu membuat hatinya tenang, suara yang beberapa hari ini telah hilang di setiap pagi, siang, sore dan malamnya.
"Aku," jawab Sam, beberapa menit tidak ada jawaban dari sang empunya ruangan, membuat Samuel tidak bisa menahan diri untuk membuka knop pintu tersebut.
Menjulurkan sedikit kepalanya, melihat Maya yang duduk di kursi kerjanya. Sam tersenyum sekilas, memandang wajah gadis yang selama ini memenuhi isi kepalanya.
"May, boleh aku bicara sebentar?" tanya Sam lirih. Berjalan mendekat ke arah Maya, semakin melekatkan pandangannya ke arah gadis itu.
Maya juga menatap Sam lekat, tersenyum sebentar lalu berdiri dari kursi kerja yang bisa berputar itu. Berjalan ke arah Sam dan tanpa Samuel duga Maya tiba-tiba saja menjatuhkan tubuh mungilnya ke dalam pelukan Sam. Memeluk erat tubuh kekar Samuel untuk beberapa detik lalu mendongak menatap manik coklat Sam dan entah karena dorongan apa, Maya mencondongkan tubuhnya dan berjinjit kecil, melingkarkan kedua lengannya ke leher kokoh Sam.
Mengecup bibir Sam, menempelkan ujung bibirnya ke bibir tebal Sam yang selalu berwarna merah muda.
Sam mengerjap sebentar, namun tak lama. Samuel memulai pergerakan kedua bibir itu, mencium Maya lembut penuh kerinduan. Mengeratkan pelukannya di pinggang kecil Maya.
Keduanya masih saling menyesap bibir masing-masing, meluapkan kerinduan mereka selama ini. "I'm so sorry dear..." bisik Sam, melepas sebentar pautan bibirnya dan sedetik kemudian Sam kembali menempelkan bibirnya di atas bibir Maya. Mereka kembali saling menyesap bibir masing-masing.
"Aku juga minta maaf Sam." bisik Maya, melepas pautan bibirnya. Menempelkan hidung mancungnya dengan hidung mancung Samuel.
"Waktu itu, mama menelfon dan bilang kalo ia merasa tidak enak badan. Aku panik dan kebetulan ada El di ruangan ku." Jelas Maya dengan hidung mereka yang masih saling menempel.
"Aku gak sempat ngomong sama kamu Sam, maaf...." lirih Maya.
Samuel kembali membawa tubuh Maya ke dalam pelukan hangatnya. Mengecup kening Maya lembut. "Aku minta maaf sayang, aku tidak tahu. Sekarang bagaimana keadaan tante? baik-baik aja kan?"
Ada nada khawatir dalam pertanyaan Sam.
"Mama baik, hanya darah tinggi mama yang kambuh."
"Maaf jika kemarin aku emosi sayang, I'm sorry ...."
Sam menyesali semuanya, harusnya kemarin dia lah yang menemani Maya saat Siska mengalami kekambuhan penyakitnya, bukan Elano.
"Aku ingin emosi kamu jangan selalu meluap-luap seperti kemarin Sam, kamu bisakan?"
"I will try, dear."
Melihat wajah sendu pria yang dulu selalu bersikap arogan sekali lagi membuat Maya semakin mengeratkan pelukannya. Rasa cinta dan rindu yang semakin menyeruak keluar tanpa terkendali dan ingatan tentang kebersamaan mereka, juga perlakuan Sam yang manis hanya untuknya kembali berputar dalam benak Maya.
Maya sangat merindukan Samuel, berada jauh dari Sam adalah ketakutan terbesar Maya.
Kembali memeluk tubuh Sam, keduanya saling berpeluk melepas kerinduan.
to be continue...