
Memandangi lekat paras Maya, tersenyum sebentar kemudian kembali mengaduk secangkir latte hangat miliknya, netra Elano masih betah berlama-lama menyusuri tiap sudut paras cantik gadis itu. Membuat Maya merasa agak canggung duduk tepat di hadapan Elano. "Bagaimana kabar cowo kamu May? Aku kira kamu masih kerja di kantor dia." tanya El sambil menyesap latte.
Tidak ada jawaban dari Maya, ia hanya tersenyum sebentar lalu memasukkan lagi ke mulutnya potongan roti isi buatan sang mama.
"Kamu masih jalan sama dia?" tanya El lagi.
"Kita udah jalan masing-masing."
"Kalian putus? udah lama?" El semakin mengerutkan dahi heran.
Maya mengangguk, kembali memasukan potongan roti isi ke mulutnya. "Kamu sendiri, bagaimana hubungan kamu dengan gadis itu?" tanya Maya kini, mencoba mengalihkan pertanyaan El tentang Samuel.
"Freya maksud kamu?"
Maya mengangguk, tangannya masih sibuk memotong roti isi miliknya.
"Dia masih di Aussy, masih ngejar S2 nya di sana."
Sejenak Maya hanya ber-oh-ria.
"Tapi kalian masih bersama kan?" tanya Maya lagi, kali ini El mengangguk tersenyum.
"Bagus lah jika kalian masih bersama, aku senang kamu bahagia El." ucap Maya tulus.
"Kamu sendiri, apa kamu bahagia saat ini May?" tanya El lekat memandangi netra gadis itu.
Maya terdiam sesaat, merotasikan kedua bola matanya ke arah lain seolah mencoba menghindari tatapan mata El. Bagaimana gue bisa bahagia tanpa Sam? batin Maya.
"Udah jam satu lewat, kita balik ke kantor sekarang?" ucap Maya yang kembali berusaha mengalihkan pertanyaan Elano.
El hanya mengangguk pelan menanggapi ajakan Maya lalu berdiri, berjalan ke arah kasir untuk meminta bill tagihan.
Mereka kembali jalan ber iringan menuju parkiran, lagi-lagi detektif yang Sam sewa terlihat mengambil beberapa foto mereka.
____
Anita mengamati semua gerak tubuh Martha dan Harris, sedetik pun pandangan Anita tidak pernah lepas dari keduanya.
Untung saja Martha tidak menyadari sedan hitam Anita yang terparkir agak jauh dengan Jeep Wrangler milik Harris.
Kini mereka memasuki pusat pertokoan yang menyediakan perlengkapan baby, bergandengan tangan erat dan sesekali Harris mendaratkan ciumannya di pipi Martha.
"Sebegitu perhatian kah Harris terhadap Martha?" batin Anita.
"Pak Andi ikuti terus gerak gerik mereka berdua di dalam toko. Foto semua hal yang mencurigakan." Anita kali ini berbicara dengan seseorang lewat ponselnya. Begitu ia selesai memerintahkan orang suruhan nya, Anita kini melajukan kembali sedan hitam miliknya menjauh dari tempat parkiran itu.
"Sam, mama mau ngomong sebentar sama kamu___ iya mama ini menuju ke kantor kamu___ oke kamu jangan kemana-mana ya."
tuuutt.....tuuttt.....
Anita mematikan ponselnya dan kini memutar arah menuju kantor Samuel.
Kantor Sam
Setibanya di kantor Samuel, Anita langsung menuju ke arah sofa yang berada di sudut ruangan. Duduk bersandar dan membuang napas perlahan. "Mama kenapa? gak enak badan?" tanya Sam penuh rasa khawatir.
"Sam..."
Kali ini Anita memasang muka serius, lekat memelototi kedua netra Sam seperti sedang melakukan sebuah penghakiman.
"Pernikahan kamu sama Martha sebenarnya seperti apa sih Sam?"
"Maksud mama?" Sam bertanya dengan raut muka heran.
"Kamu baik kan sama Martha? memenuhi kebutuhan dia kan?"
"Sam selalu memenuhi kebutuhan Martha."
"Maksud mama kebutuhan biologis Martha, Sam!!"
"Ma... jangan paksa Sam lagi, sejak awal aku bilang gak bisa bersikap layaknya suami ke Martha."
Anita kembali membuang napas, kini ia mendekati Samuel.
"Tadi mama lihat Martha jalan berdua sama dokter Harris, dan ini bukan pertama kalinya mama lihat mereka." lirih Anita.
"Maksud mama, dokter Harris teman om Baskoro?"
Anita mengangguk, "Dan mereka terlihat sangat akrab, mama juga gak tau sejak kapan kedekatan mereka."
Samuel menyilangkan kedua tangan tepat di atas dadanya, berjalan mendekat ke arah jendela besar di tepi ruangan kantornya. Menghadap keluar jendela dengan sedikit hembusan napas berat.
"Kamu coba tanya ke pak Mail, sopir pribadi istri kamu. Apa benar dia sering disuruh Martha untuk mengantar nya ke rumah Harris." Ucap Anita, mendekati anaknya dan meraih punggung kekar Samuel.
"Nanti deh Sam coba tanya."
Dengan nada lemah Sam menjawab ucapan Anita. Sebenarnya Samuel tidak terlalu peduli akan masalah Martha, yang ia pedulikan hanya Maya. Tentang kedekatan Maya dengan El saat ini.
"Sam..." kembali Anita membuyarkan lamunan Samuel. Melirik sebentar ke arah meja kerja, kini perhatian Anita tertuju pada beberapa foto yang berserakan di atas meja kerja Sam.
"Kamu diam-diam menguntit Maya, Sam?"
Samuel terdiam, menyeka kasar wajah tampan nya yang terlihat sangat lelah.
"Kamu masih mencintai Maya?" tanya Anita lagi. Tak ada jawaban dari Samuel hanya keheningan, saat ini ia merasa seperti orang bodoh yang hanya menerima keadaan begitu saja.
"Aku akan menikahi Maya begitu anak Martha lahir." ucap Sam, Anita meraih lengan Samuel dan menepuknya pelan.
Sekarang ini Anita hanya ingin melihat Samuel bahagia, hanya itu.
"Ya udah mama pulang dulu."
Sam mendekat ke arah Anita dan memeluk tubuh wanita itu, "Hati-hati ma." ucap Samuel.
Anita berjalan meninggalkan ruangan Sam, membuka knop dan kembali mengetukkan heels nya di permukaan lantai koridor kantor.
____
"Sam, lo serius berniat membeli lima puluh persen saham Wijaya Property?" Bayu memasang wajah serius begitu memasuki ruangan Sam.
Samuel hanya mengangguk pelan dengan kedua bola mata yang masih memandangi layar laptop miliknya.
"Itu uang nya gak sedikit Sam." ucap Bayu lagi.
"So....?"
Kini Sam mengedikkan kedua bahunya, memandang ke arah Bayu.
"Udah lah lo urus aja semuanya, masalah harga lo gak perlu khawatir."
"Lagi pula udah lama gue pengen nanam saham di bidang property. Untung nya gede Bay." Jawab Sam, kembali ia memfokuskan perhatiannya ke layar laptop miliknya.
"Gak ada hal lain yang membuat lo ngambil keputusan ini kan Sam?"
Sam melihat ke arah Bayu, mendesis pelan lalu mengabaikan pertanyaan sahabatnya itu.
"Udah deh lo atur aja pembelian saham itu, ribet amat sih lo!" Sam berdecak kesal, memasang wajah jengahnya untuk Bayu.
"Oke oke.... lo bos nya....!" jawab Bayu sambil mengangkat kedua lengannya, menggeleng sejenak lalu keluar dari ruangan Samuel.
Seringai kecil kini tertarik dari sudut bibir tebal Sam, sebenarnya ada sebuah pemikiran yang entah di bilang licik atau tidak. Niat Samuel membeli separuh saham dari Wijaya Property adalah untuk bisa dekat dengan Maya.
Dengan begitu Samuel akan lebih bebas berada di kantor Wijaya Property, tentu saja lebih leluasa untuk bisa melihat kembali wajah Maya.
Kembali senyuman smirk itu menghiasi wajah Samuel.
_____
Harris memainkan ujung rambut kemerahan milik Martha, menciumi surai ikal itu dan merasakan harum aroma kiwi yang menyeruak keluar.
"Kenapa kamu gak lepas aja Samuel dan hidup bersama ku sayang?"
Mengeratkan pelukan ke tubuh Martha dan menggenggam erat jemari lentik gadis itu.
Mereka masih duduk dan menikmati sunset dari balkon apartement Martha.
"Aku pengen buat Sam menderita." ucap Martha tanpa ekspresi.
"Menderita gimana? yang ada aku yang menderita harus sembunyi-sembunyi jika ketemu sama kamu." ucap Harris, ia daratkan ciuman ke pelipis Martha.
"Biar Sam tidak pernah bisa bersama dengan gadis kampungan itu."
"Udah lah sayang lupakan Samuel."
"Gak bisa om, Tha mau Sam merasakan tidak dapat bersatu dengan orang yang dia cintai."
"Aku mau Sam merasa apa yang aku rasakan!"
Martha kini memandang ke arah Harris, menenggelamkan kepalanya di dada bidang Harris.
"Om Harris mau kan bersabar lagi? please...."
Martha mulai merajuk, mendekatkan wajahnya dengan Harris, meraih ujung bibir laki-laki itu dan menciumnya.
"Sampai kapan Tha?"
"Sampai Tha merasa puas menyiksa Samuel." ketus Martha, kini ia memandang lurus kedepan. Sunset petang ini semakin turun, menghilang dari permukaan bumi di belahan Jakarta.
Berganti sinar lembayung kehitaman yang kini memenuhi seluruh balkon apartement Martha.
"Ok, i will always waiting for you baby..." bisik Harris lembut, kembali ia daratkan ciuman kecil di puncak kepala Martha, mengeratkan pelukan ke tubuh Martha yang saat ini duduk di pangkuan nya.
to be continue....