MySam

MySam
Senjata Makan Tuan



"Keluarga nona Freya...?"


Maya langsung menoleh dan melepaskan pelukannya. mendekat ke arah dokter wanita yang keluar dari ruang UGD.


"Saya Maya Aulia yang membawanya ke sini. Bagaimana keadaan Freya, Dok?" Maya menggenggam tangan Samuel gugup. Seolah jika ia tidak memegang sesuatu, ia akan runtuh.


Maya memang tidak menyukai Freya mengganggu hubungannya dengan Sam tapi gadis itu sama sekali tidak pernah berharap hal buruk menimpa diri Freya.


"Anda tenang saja, nona Freya baik-baik saja, dia hanya mengalami syok ringan. Keadaan traumatis yang pernah menimpanya mungkin penyebab ketidaksadaran nona Freya." Dokter wanita tersebut menjelaskan secara rinci, membuat hembusan napas lega dari Sam dan Maya keluar begitu saja dari ujung hidung dan mulut mereka.


"Apa luka di badan Freya baik-baik saja, Dok? Apa ada luka yang serius?" Ekspresi Maya kembali menegang, berharap apa yang ia takutkan tidak menjadi kenyataan.


"Luka-luka luar nona Freya baik-baik saja, untuk sementara ini kami masih menunggu hasil check up untuk luka dalamnya,"


"Tunggulah beberapa saat lagi sampai nona Freya sadar kembali," jelas dokter wanita itu lagi.


Kembali raut wajah Maya menegang, berharap semua hasil pemeriksaan Freya dalam keadaan sehat.


"Terima kasih, Dok. Tolong usahakan perawatan terbaik untuk gadis itu," ucap Samuel kali ini, ia meraih pundak Maya dan mengusapnya lembut, berusaha menenangkan gadisnya yang terlihat begitu tegang.


Dokter wanita tadi mengangguk pelan menjawab Samuel, tersenyum sebentar ke arah Samuel dan Maya sebelum ia akhirnya melangkah pergi meninggalkan keduanya.


"Kamu tenanglah, biar pengacaraku yang akan menangani jika nanti Freya mengambil tindakan macam-macam." Sam mengelus pelan pundak Maya.


"Terima kasih, Sam. Entah apa jadinya jika tidak ada kamu."


Lagi-lagi Sam mengangguk pelan dan tersenyum menguatkan Maya. "Sekarang kamu pulang dulu, kamu bawa mobil aku aja. Bisa kan kamu pulang sendiri?" Sam bertanya memastikan.


"Aku bisa kok, terus kamu?"


"Ada yang ingin aku bicarakan sama Freya jika dia sadar nanti. Kamu pulang terus istirahat, okey?" Maya kembali mengangguk pelan menjawab Samuel. Sam kembali meraih tubuh Maya dan dipeluknya erat.


"Hati-hati di jalan, sayang." Sam mengulurkan remote mobil ke arah Maya, mencium sebentar di kening gadis itu.


Samuel masih memandangi tubuh Maya sebelum akhirnya gadis itu menghilang di balik tikungan tembok rumah sakit.


.....


Sam segera memburu ke dalam UGD ketika dilihatnya tangan Freya mulai bergerak. Ia tak akan membuang waktu lebih lama lagi untuk mengakhiri segala hal yang berhubungan dengan mantan tunangannya itu.


"Samuel...?!" sebut Freya ketika pandangannya mulai fokus selepas siuman. Hatinya membuncah melihat Sam berdiri di sampingnya meski tubuhnya terasa sakit.


"Aku.... Aku di mana?" tanyanya bingung. Freya memijit kening dengan sebelah tangannya.


"Kepalaku? tanganku? Apa yang terjadi?" ucapnya sambil membolak-balik lengan yang terbalut perban, memegang kening yang juga terbalut perban.


Freya mengerjap mengumpulkan seluruh kepingan ingatannya, mengingat-ingat kejadian yang terjadi sebelum ia tersadar dan bangun di ruangan serba putih.


Perlahan kesadaran mulai merayapi otak gadis yang baru saja terjatuh di trotoar jalanan beraspal itu. Ia mulai mengingat pertengkarannya dengan Maya Aulia, gadis yang kini memenuhi benak Samuel, tamparannya yang meleset, rasa sakit pada kepala, dada, lengan dan juga kakinya saat tubuhnya limbung dan terjatuh menghantam trotoar beraspal kasar.


Maya harus mendapatkan balasannya!. Pikirnya kesal.


"Kau sudah sadar?" tanya Sam dengan suara yang dalam dan tegas. Ketenangan dalam suaranya menunjukkan betapa terkontrol emosi pria itu sekarang. Sam menekan dalam-dalam amarah. Ia memerlukan kepala yang dingin dalam menghadapi ular berbisa di hadapannya.


"Oh, Sam. Cewe lo itu.... dia menyerangku. Kau lihat sendiri apa yang terjadi padaku. Oh Tuhan bagaimana aku akan menjalani pekerjaanku dengan semua luka memar ini?!" erang Freya manja, ia berusaha memutar balik fakta yang sebenarnya terjadi agar Sam bersimpati.


"Sudahlah Fe, tidak perlu bersandiwara lagi. Aku sudah tau semuanya," geram Sam.


Freya terbelalak lalu melanjutkan aktingnya.


"Kamu hanya mendengar versi dari dia aja kan? Kamu tidak mengerti semuanya karena kamu tidak berada di sana. Kau tidak melihat dia mendorongku! Demi Tuhan, aku hanya ingin bicara padanya sebagai sesama perempuan." Freya menitikkan air mata bohongannya, wajahnya berekspresi penuh kepiluan.


"Tak usah membawa nama Tuhan, kamu sendiri yang menyebabkan dirimu celaka." Sam menjeda kalimatnya.


"Kalau saja kamu tidak menyerang Maya dengan memakai sepatu stiletto, tentu saja kamu tidak akan berada di sini," pancing Samuel.


Freya memucat.


"Dengar, Sam. Sebaiknya kamu tinggalkan gadis kampungan itu, dia hanya mengincar hartamu. Tahukah kamu, sebelum sama kamu dia ada hubungan dengan Elano." Freya memasang wajah licik tersembunyi di hadapan Sam.


Sam tersenyum sekilas. "Aku sudah tau masa lalu Maya, dia bukan seperti kamu yang hanya bisa memanfaatkan pria-pria kaya untuk status sosial kamu."


Sam menatap Freya lekat.


"Bukannya saat ini kamu sudah memiliki El, hah? Aku rasa kamu lebih cocok bersama pria itu. Kalian sama-sama ular bermuka dua!" Samuel melanjutkan ucapannya, mendecih pelan melihat perubahan wajah Freya yang kini terlihat pucat.


"Sam...!!!" erang Freya, kedua telapak tangannya mengepal erat, wajah cantik itu menajam, luapan emosinya membuat Freya sedikit terlihat menyeramkan.


"Oke..." Ucap Freya kini, ia berusaha menenangkan dirinya mengendalikan permainan ini.


"Dengar ya Sam, kalau kamu bersikeras tetap bersamanya, aku akan menuntut gadis tak tau malu itu atas tuduhan penyerangan hingga menyebabkan cedera. Tentu saja tidak ada saksi mata lain dalam kejadian itu selain kami," ancam Freya, seringai kecilnya tertarik di kedua sudut bibir tipis itu.


"Kamu yang harusnya dengar aku, Freya!" Sam berkata dengan dingin, ia sengaja memberi jeda sejenak dalam kalimatnya.


"Apa yang pernah ada di antara kita sudah berakhir. Dulu aku memang mencintai kamu, sangat mencintaimu. Tapi itu dulu sekali, sekarang yang aku cintai hanya Maya. Ku harap kamu mengerti." Wajah Samuel masih terlihat tenang, kalimat yang baru saja ia ucapkan mampu membuat Freya bungkam.


Kedua netra gadis yang masih terbaring lemah itu mendadak terasa berat. Rahang Freya berubah kaku, ancamannya sama sekali tidak dihiraukan. Ia merasa dicampakkan, ditolak mentah-mentah oleh pria yang dulu sangat tergila-gila padanya. Air mata pura-puranya menjadi kesedihan yang sesungguhnya.


"Tapi Sam... aku masih mencintai kamu," lirih Freya akhirnya. Ia raih punggung tangan Sam yang tidak terlalu jauh dari ranjang rumah sakit.


"Harusnya dulu kamu berfikir dua kali saat berselingkuh dariku Fe, apalagi yang kamu tiduri adalah Jodi, sahabatku sendiri."


Samuel menatap Freya, tentu saja ia masih kesal dengan apa yang telah diperbuat gadis cantik itu, tetapi melihat kesedihan di mata Freya tak urung membuat Sam iba. Bagaimana pun Freya pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Sam menarik napas panjang, ia harus menguatkan tekad untuk tidak terpengaruh dengan perubahan sikap yang Freya tunjukkan. Sam harus ingat, ia punya Maya yang harus ia jaga perasaan gadis itu.


"Apa lebihnya gadis kampungan itu di banding aku, Sam?"


"Tidak perlu ada alasan untuk cinta Fe, kamu dan dia punya kelebihan masing-masing. Ini hanya masalah hati, Fe." Jawab Sam serius.


"Lalu bagaimana dengan hatiku, Sam? Kau tidak peduli bukan?! Aku akan tetap mengajukan tuntutan terhadap kekasihmu. Mungkin saja dia akan mendekam di penjara."


"Silahkan tuntut, kamu tidak akan pernah menang di pengadilan mana pun, kebohonganmu akan terbongkar, tidakkah kamu berfikir jika aku merekam semua pembicaraan kita tadi?" Sam menyeringai kecil.


" Jadi, bersiaplah menghadapiku di pengadilan nanti." Sam melanjutkan ucapannya, sorot iris coklat itu menatap Freya tajam, seolah menusuk hingga relung hati Freya.


Wajah Freya semakin pucat. Namun, berusaha untuk tetap tenang seolah-olah tidak terintimidasi oleh ucapan Samuel.


"Tentu saja jika semua kebusukan kamu terbongkar, semua pengikutmu di sosial media akan berkurang drastis. Namamu seketika akan hancur dan tentunya tidak ada lagi endorsement yang akan memakai namamu." Sam melanjutkan ucapannya, memberikan tekanan pada setiap akhir kalimatnya. Mata coklatnya menatap Freya dengan penuh kemenangan.


"Kecuali kau berjanji akan menjauh dari kehidupanku dengan Maya, kita tidak perlu bersusah payah bertemu di pengadilan. Kuanggap masalah ini tidak pernah ada."


Freya terperanjat. Senyuman manis yang biasanya ia pamerkan kini mendadak menghilang. Ia telah kalah telak. Ancaman yang semula ia tunjukkan kepada Sam kini berbalik telah menyerangnya. Gadis bersurai gelombang kemerahan itu tidak akan pernah menang melawan Samuel Perdana. CEO itu bukan orang sembarangan, banyaknya koneksi penting yang ia punya membuat pria tinggi atletis itu menjadi salah satu orang yang paling berpengaruh.


"Sialan.....!" batin Freya.


to be continue.....