
Samuel memeriksa kembali laporan pengeluaran dari file yang Bayu kirimkan. Ada pembengkakan disana, beberapa biaya yang tidak terlalu penting untuk dikeluarkan membuat kerugian di perusahaan Advertising miliknya. Walau tidak seberapa namun cukup membuat Sam geram. "Bagaimana bisa lo kecolongan kek gini sih Bay?!" Menggebrak meja dan memperlihatkan layar laptop ke arah Bayu. "Sorry Sam, gue gak nyangka jika ada staf di bidang produksi membengkakkan budget kita."
"Apa yang harus gue bilang sama mister Jhonattan Bay? lo tau kan dia klien penting. Bikin iklan produk dia dengan kualitas jelek tapi biaya selangit? damned!!"
Sekali lagi Samuel melayangkan kepalan tangannya di atas meja kerjanya, lalu kembali berkutat dengan keyboard di laptop tipisnya.
"Ya udah lah Sam kita pakai property seadanya, lagian klien gak bakal sadar." usul Bayu.
"Gila lo Bay, gue gak pernah ya curang di kerjaan gue." Terdiam sejenak dan sedikit memutar otak mengatasi kekacauan dalam perusahaan Advertising miliknya.
"Mau gak mau kita ganti semua konsep dan biaya produksi." ucap Sam akhirnya.
"Memulai lagi dari awal maksud lo?"
Sam mengangguk menjawab pertanyaan Bayu, mengusap kasar wajah lelahnya.
"Lo juga sih Sam kebanyakan di kantor property lo itu. Udah deh fokus di perusahaan ini yang udah lo rintis dari awal karier lo."
Samuel menarik napas panjang mendengar ucapan Bayu. Kini pikirannya kembali bercabang, jika ia fokus sementara di Advertising, itu artinya Samuel harus merelakan Maya kembali dekat dengan Elano. Secara untuk sementara waktu ia tidak akan berada di kantor Property Wijaya Group.
"Lagian lo kan pemilik saham kedua, masih ada keluarga Wijaya yang menghandle disana kan." lanjut Bayu.
Sam merapatkan mulutnya, membentuk garis tipis penuh kekesalan, menyeka kasar rambut dan kini menopang kepala dengan kedua tangannya, mendongak keatas sebentar lalu membuang napas kembali, "Okey..." ucap Sam kemudian.
Untuk sementara Sam akan kembali fokus di perusahaan miliknya sendiri, meskipun ia tahu jika keputusan itu akan semakin menjauhkan jarak dia dengan Maya.
Ponsel Sam kembali berdering, rasanya ia ingin mengabaikan panggilan itu apalagi saat tahu kalau Anita yang menelepon. Kembali berusaha mengatur napas dan juga emosinya, Sam meraih ponsel pipihnya sembari mendekatkan ke telinga. "Iya ma?___ aku ada kerjaan ma___ harus sekarang?___ okey-okey Sam kesana. Bye..."
"Gue harus ke rumah orang tua gue dulu. Kabari kalo ada apa-apa."
Bayu mengangguk pelan, memberi jalan pada Samuel untuk keluar dari ruangan kantornya.
___
Seorang maid membukakan pintu untuk Sam dan memberi hormat.
"Mama dimana bik?" tanya Sam, sedikit melonggarkan dasi yang melingkar di leher.
"Den Sam ditunggu nyonya dan tuan di ruang belakang." jawab si bibik. Membuang napas sebentar kemudian Samuel melangkahkan kakinya menuju ruang belakang.
Benar saja, Sam melihat Anita dan Permana sang ayah, duduk berdampingan dengan ekspresi tegang. Merotasikan kembali netranya, ia juga melihat Martha yang sedang duduk di pojok ruangan dengan wajah sepucat salju.
"Ada apa ini Ma?" tanya Samuel dengan kening sedikit berkerut heran. Pria itu duduk di salah satu kursi kayu berwarna coklat keemasan.
Tak ada jawaban dari Anita, wanita anggun itu hanya menghembuskan napas pelan, saling memandang ke arah suaminya. "Lo ngapain ada disini juga Tha? bukannya di rumah, lo bentar lagi melahirkan dan gak usah lah jalan kesana kemari."
Samuel sebentar memandang ke arah Martha, gadis itu masih membisu, menundukkan kepalanya dalam.
"Kenapa semua diam? Ma, ini ada apa sebenarnya?" Sam mengajukan pertanyaan dengan wajah kesal.
"Mama tadi memergoki Martha, istri kamu itu.... berada di rumah dokter Harris," terang Anita. Ekspresi jutek Anita terlihat jelas di wajah bersihnya, melirik kesal ke arah Martha.
"Bener itu Tha?" kini Sam mendekat ke arah Martha, berdiri di hadapan gadis itu, memandang tajam netra Martha.
"Dan mama melihat dokter itu mencium dan memeluk Martha," lanjut Anita. Sam terkejut mendengar penuturan mamanya. Kini emosinya kembali meluap, meraih dua lengan Martha dan mencengkeram erat. "Apa bener itu Tha?" mengguncang tubuh Martha dengan sorot mata penuh kemarahan.
Mengingat perut Martha yang membuncit, Sam mencoba meredakan emosinya. Melepas cengkeraman tangannya dan menjauh sejengkal dari Martha.
"Sekarang kamu jujur Tha, berapa lama kamu ada affair sama Harris hah?!" tanya Sam, meninggikan intonasi suaranya.
Martha tersentak kaget, mengedikkan sedikit bahunya yang gemetaran. "See... see.... beeluum... ki...ta nikah Sam." Masih dengan wajah menunduk, Martha kini memberanikan menatap wajah Sam.
"Tapi itu semua salah kamu Sam, andai kamu gak acuh ke aku, masa bodoh ke aku. Aku gak akan melakukan ini." Martha mencoba membela diri.
"Sekarang lo bilang, anak dalam kandungan lo itu, anak gue atau bukan?"
Tidak ada jawaban dari Martha, membuat Sam semakin berang.
"Jawab!!" bentak Sam lagi. Martha semakin bergetar ketakutan, kini cairan bening tiba-tiba meluncur bebas di pipi putihnya.
"Lo...." Samuel mengangkat telapak tangannya, hampir melayangkan nya ke pipi Martha. Jika saja Sam tidak mengingat anak dalam kandungan Martha, pria itu bisa saja melakukan hal yang lebih buruk lagi terhadap Martha.
Menghentikan layangan tangannya, kini Sam kembali mengepalkan telapak tangan erat, menahan emosinya. "Aaarrggghh!!"
"Maafin aku Sam."
Martha menangis, mencoba meraih lengan Sam.
"Jangan sentuh gue!!" Menghindar beberapa langkah menjauhi Martha, kini Sam menyeka kasar rambut ikalnya.
"Kenapa kamu lakukan itu Tha, kenapa tega sama Sam dan tante?"
"Itu artinya sebelum kalian nikah, kamu belum hamil? atau...."
"Tha belum hamil tant, Tha bohong soal kehamilan itu," lanjut Martha.
Membuat Sam dan kedua orangtuanya kembali terkejut, marah dan entah perasaan apa lagi yang mereka rasakan saat itu.
"Brengsek!!! kenapa lo lakuin hal itu ke gue? lo sakit Tha, bener-bener sakit!!"
Meninjukan kepalan tangannya ke dinding, meluapkan semua kemarahan yang ia rasakan saat ini. Berkali-kali Sam berteriak keras, membuat Anita dan juga Permana memandang nanar ke arah putra satu-satunya itu.
"Aku cinta sama kamu Sam, tapi kamu gak pernah menganggap aku."
"Maafin Tha, tante..."
Gadis itu kini menuju ke arah Anita, mencoba meraih tangan dan memeluk wanita itu. Dengan cepat Anita menghindar menjauhi Martha.
"Kamu udah tante anggap seperti anak sendiri tapi kamu tega sejahat ini sama Samuel? tante gak bisa maafin kamu Tha."
Martha masih menangis, namun semua itu tidak menggoyahkan kemarahan Anita maupun Samuel.
"Setelah anak itu lahir, kita cerai. Gue yang ngurus semua itu," ucap Sam.
"Sebelum anak itu lahir, terserah lo mau tinggal di rumah gue atau Harris. Dan sebelum perceraian kita, gue akan tetep biayain lo sampe anak itu lahir," lanjut Samuel.
"Sam...." lirih Martha
"Diem!!" sela Samuel cepat. Dengan wajah kesal, Sam meninggalkan ruang keluarga yang terletak di ujung rumah besar itu. Melangkah menuju lantai dua, ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak di kamar pribadinya. Mungkin untuk sementara waktu, ia akan tinggal di mansion orangtuanya.
"Sam.... maafin aku." Martha kembali berteriak, mencoba melunak kan kembali hati Sam.
"Kamu lebih baik pulang dulu, jangan ganggu Sam," ketus Anita.
"Maafin aku tante Anita," lirihnya pelan.
Ekspresi penuh penyesalan kini terlihat jelas di wajah Martha, melangkah gontai meninggalkan mansion Anita, lalu memanggil supir pribadinya.
Anita berdiri mematung, mengeratkan dekapan Permana, suaminya. "Apa yang sudah aku lakukan terhadap Sam?" lirihnya pilu.
"Sudahlah sayang, semua yang terjadi ada hikmahnya. Lagipula dari dulu Sam tidak pernah mencintai Martha, mereka memang tidak berjodoh."
Permana mengelus kedua pundak Anita, mendaratkan ciuman kecil di keningnya lalu kembali mendekap erat tubuh istrinya.
"Tapi status Sam...." lirih Anita lemah.
"Bukankah itu hanya status? gak usah memikirkan omongan orang. Baik buruknya Sam, dia tetap anak kita kan," lanjut Permana, mencoba menenangkan istrinya.
Anita mengangguk, semakin mengeratkan pelukan Permana dan mencium ujung bibir laki-laki itu.
"Kamu istirahat dulu, biarkan dulu Samuel, dia juga butuh waktu untuk sendiri." Lanjut Permana lagi.
____
Sam tidak mengerti dengan perasaannya sendiri saat ini. Masalah yang satu persatu menderanya. Mulai dari kedekatan Maya dan Elano, masalah dalam bisnisnya dan juga kebohongan Martha selama ini. Khusus untuk yang terakhir, Sam entah harus bersikap marah? lega? atau merasa sangat bodoh, yang begitu saja terpedaya oleh muslihat Martha. Berkali-kali tinjuan Sam mendarat di dinding beton kamarnya. Ia tidak peduli sakit yang dirasakan, hampir satu tahun menjalani pernikahan tanpa ada cinta sedikitpun. Mengorbankan segala perasaan Sam untuk Maya, sungguh kali ini Samuel merasa menjadi orang terbodoh sejagat raya. Jika saja ada nominasi untuk kategori itu, mungkin saja Samuel adalah juaranya.
to be continue.....