MySam

MySam
The Couple



Sam memasuki sebuah cafe dengan design interior yang dominan dengan warna matcha. Sesuai dengan menu best seller cafe tersebut yaitu coffe matcha latte. Ia berjalan begitu berkharismatik dengan memancarkan aura ketampanan yang jauh melebihi rata-rata kesempurnaan sebuah ciptaan Tuhan.


Pandangan mata seluruh pengunjung cafe yang saat itu kebanyakan para gadis cantik, tertuju pada sosok pria dengan wajah dan postur tubuh bak dewa Yunani. Berjalan seperti seorang model profesional yang melenggok di atas catwalk.


Martha tertawa geli ketika melihat ekspresi para gadis di sekitarnya saat melihat sosok Sam yang berjalan ke arah mereka. Sedang Maya hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Sam yang terkadang terlihat sangat menikmati perhatian para gadis yang melihatnya. "Tuh liat, May. Gak takut kamu kalau Sam direbut paksa para pasukan gelay itu? hahahaha....!!" bisik Martha menggoda.


Maya hanya tersenyum tipis, bibirnya mengerucut sekilas memandang Martha. Dan kembali Martha terkekeh melihat ekspresi Maya sambil menyeruput matcha latte miliknya.


Samudra masih terlihat duduk tenang di kursi khusus bayi samping Martha yang memang disediakan oleh pihak cafe.


"Hey sayang...." Sam mencium kedua pipi Maya ketika sudah mendekat ke arah gadis itu. Membuat hati para gadis di cafe itu seketika langsung patah dan iri melihatnya.


"Hey Tha," sapa Sam.


Spontan senyum Sam mengembang melihat Samudra yang saat itu juga tersenyum ke arahnya. "Hello jagoan....." sapa Sam beralih ke arah Samudra yang tersenyum dan tertawa khas tawa bayi ke arah Samuel.


Sam mendekat ke kursi kecil Samudra, mengangkat tubuh mungil itu dan membawanya ke dalam pelukan dada bidangnya. "Hello Harris junior, what's up bro?"


Spontan ucapan konyol Sam membuat Maya dan juga Martha tertawa geli. Tak ketinggalan para gadis yang berada di seluruh ruangan itu pun dibuat melting tingkat dewa oleh sikap Sam saat menggendong dan bercanda dengan bayi mungil yang juga sangat tampan itu.


Mungkin menurut para gadis pengunjung cafe, ini lah sosok suami idaman mereka. Namun sungguh disayangkan cowo idaman itu telah mempunyai seorang kekasih.


Sam masih membawa Samudra dalam pelukannya, kini ia duduk di samping Maya. Sesekali menerima suapan potongan kue dari Maya, "Habis ini Martha mau menemui dokter Harris, makanya aku minta tolong kamu untuk kesini," terang Maya, sambil menyuapkan potongan kue buatan cafe tersebut.


"Kamu gak ada kerjaan kan, Sam?"


Sam menggeleng pelan, mulutnya masih sibuk mengunyah. "Hari ini gak terlalu sibuk kok. Sekalian aja nanti mampir ke rumah Martha buat ambil mobil kamu, May." Sam kini menyesap latte milik Maya.


Samudra masih terlihat nyaman berada dalam pangkuan Sam, sesekali berceloteh dan memainkan tangannya ke wajah Samuel.


"Oh ya Tha, thanks ya kamu dan Harris sudah mau bersaksi untuk kami melawan Elano."


"Iya, kapan aja kalian butuh bantuan kami, kami selalu siap bantu kok." Ucap Martha.


"Kapan putusan kasus kalian? Aku yakin pria itu akan mendapatkan hukuman setimpal dengan perbuatannya." Martha melanjutkan ucapannya, sambil menyesap latte miliknya.


"Keputusan pengadilan kemungkinan dalam minggu ini. Gue juga berharap bajingan itu menerima hukumannya." jawab Sam.


Samudra tiba-tiba saja menangis, terlihat mulai tidak nyaman dalam pelukan Sam.


"Uh sayang.... kenapa nangis? lapar ya? sini sama mommy...." Martha mengambil alih Samudra dari tangan Sam. Mendekap tubuh mungil itu dan menyuapi bayi enam bulan itu dengan biskuit yang ia campur bersama susu khusus bayi yang sudah ia persiapkan dari rumah.


Melihat Martha kini yang berubah lebih dewasa membuat Sam tersenyum tipis, sangat berbeda dengan Martha beberapa tahun silam. Sam senang dengan perubahan gadis itu, memang cinta yang tepat selalu bisa membuat seseorang menjadi lebih baik.


....


"Yakin kamu gak bareng aku, May?" tanya Martha sambil tersenyum kecil, Samudra yang sudah mulai kelelahan kini terlihat terlelap dalam gendongan Martha.


"Yakin.... kan udah ada bodyguard ganteng aku yang nemenin," kali ini Maya merajuk manja, bergelayut mesra di lengan Samuel. Martha tertawa geli melihat dua sahabatnya kini. Sementara Samuel mulai mengacak-acak gemas puncak kepala Maya, membuat bibir gadis itu mengerucut lucu.


"Ya udah, aku duluan ya, bye..." Martha melakukan cipika cipiki bersama Maya setelah itu menepuk pelan lengan Sam dan berlalu dari cafe tersebut bersama Samudra dalam gendongannya.


Maya memandangi kepergian Martha, senyuman kecil sesekali tertarik di semua sudut bibirnya. Ia masih tidak percaya. Dahulu, mereka berdua saling bermusuhan, mencintai Samuel hingga membuat Sam terpaksa menikahinya. Tapi kini mereka justru bersahabat, saling bercerita tanpa jarak dan rasa segan di antara mereka.


"Sam......." ucap Maya lirih, kali ini memandang ke arah pria yang masih duduk di sampingnya. Sedangkan para gadis yang berada di cafe saat itu masih saja memandang iri ke arah mereka.


"Enggak, aku seneng deh liat Martha sekarang yang berubah dewasa gitu. Bahkan dia lebih dewasa saat ini jika di bandingkan aku."


Lirih Maya sambil lekat menatap manik mata coklat milik Samuel.


Sam tersenyum kecil, meraih jemari lentik Maya dan meremasnya pelan. "Aku malah seneng sama sifat kamu yang manja dan kayak anak kecil jika bersamaku, dear...." ucap Sam sambil tersenyum dan mengedip lucu.


"Iiiihh..... Apaan sih kamu, aku bukan anak kecil!" Maya kembali mengerucut kesal. Namun terlihat lucu di mata Sam.


"Tuh kan.... mulai sifat kanak-kanaknya...." ledek Sam yang kemudian dibalas dengan cubitan gemas Maya di lengan Samuel.


Sam terkekeh, "Padahal dulu kamu tuh galak nya minta ampun lho sayang...." lanjut Sam lagi.


"Samuel.....!!!" pekik Maya, menempatkan tangannya pada mulut Sam dan membekap mulut jahil Sam. "Awas ya..... Stop ledekin aku, Samuel....!!" nada Maya setengah mengancam dengan bercanda.


"Hahahaha.....!! Oke-oke... Maya ampun....." Sam tertawa geli mendapat gelitikan di pinggang kiri Sam. Tawa Sam terhenti ketika mata mereka saling beradu. Netra hitam pekat itu tetap memberi kenyamanan buat Sam, selalu memandang hangat ke arahnya. Seperti ada ribuan gemintang di sana, dan Samuel sangat menyukainya.


.....


Martha mengetukkan heels warna pastel ke lantai rumah sakit, bersama Samudra yang ada dalam gendongannya. Terlihat beberapa kali ia membalas sapaan dari suster rumah sakit yang mengenalnya. Memang sebagian besar suster di ruang bersalin dan bedah mengenali gadis itu sebagai istri dari dokter Harris Pratama.


Gadis itu segera mengetuk pintu ruangan dokter Harris begitu ia sampai di ujung pintu bercat putih. Membuka knop pintu perlahan ketika mendengar izin dari sang empunya ruangan.


"Siang, sayang...."


Harris spontan mengangkat wajahnya ketika mendengar suara yang tak asing buatnya. Tersenyum lebar ketika melihat istri dan anaknya yang kini berdiri di hadapannya. "Tumben kamu siang-siang kemari, baby....?" tanya Harris begitu ia selesai mencium kening istri dan anaknya.


Harris mengambil alih Samudra dari tangan Martha, mengangkat tubuh mungil itu tinggi-tinggi hingga terdengar suara tawa dari mulutnya. "Anak daddy..... kangen ya sama daddy?" Harris memeluk anaknya lembut, menciumi wajah serta keningnya secara membabibuta.


"Udah dong daddy.... Samudra nya nanti gak bisa napas lho..... iya sayang, ya....."


"Gak apa-apa ya sayang, daddy kan masih kangen sama jagoan daddy...." Harris menjawab perkataan Martha sambil terus berinteraksi dengan putranya.


Hingga beberapa menit dokter itu terus mencoba berkomunikasi dengan bayi mungil berwajah tampan itu, membuat Martha tersenyum haru.


"Kamu gak ada masalah kan, sayang? tumben kamu ke tempat praktekku," Harris kini memandang Martha lembut, dokter itu masih menggendong Samudra yang terlihat sangat tenang di pelukan bahu kekar sang ayah.


"Gak kok, aku kangen aja sama suamiku," ucap Martha manja, mencium pipi bercambang tipis Harris.


"Tadi aku habis ngopi sama Maya, sekalian aja aku kesini. Kamu udah makan siang, mas?"


"Belum, kita makan siang bareng? Aku senang kamu kesini." Kini tangan satunya Harris melingkar di pinggang Martha dan memeluk gadis itu erat.


"Oh ya tadi Laura datang lagi ke rumah."


Harris spontan memasang wajah terkejut, "Mau apa lagi dia? Dia bikin masalah? Gak bisa dibiarkan perempuan ular itu," geramnya.


"Tenang aja, mas. Dia sudah mendapatkan balasan dariku." Martha tersenyum kecil ke arah Harris.


"Tentu saja, siapa yang berani dengan istriku yang mantan preman cantik ini, hhmmm?" Harris terkekeh geli menggoda Martha. Beberapa cubitan menjadi jawaban atas godaan Harris hingga terdengar tawa mereka berdua dalam ruangan dengan dominan warna putih.


"I love you, dear.... I love both of you." Harris membisikkan di telinga Martha kemudian ciuman mesra mendarat di bibir pink istrinya.


to be continue.....