
Keduanya berjalan menapaki jengkal demi jengkal lantai bandara yang terbuat dari marmer mengkilap, kaki indah Maya yang terbalut dalam sepatu boots dalam nuansa chic, sepatu ala-ala country berwarna coklat muda itu terlihat begitu manis melengkapi menampilan Maya yang saat itu hanya mengenakan celana jeans slimfit warna biru dongker dan berpadu hoodie merah maroon. Sementara Samuel tetap terlihat selalu menawan meskipun ia hanya mengenakan jeans panjang berpadu kaos oblong putih, mantel tebal dengan warna coklat tua pun menjadi pelengkap gaya modis pria itu.
Seperti kata Sam, saat ini di Paris memasuki musim dingin. Mereka tidak ingin membeku kedinginan ketika keluar dari bandara Charles de Gaulle dini hari ini.
Keduanya tiba di Paris sekitar pukul tiga pagi, meskipun begitu banyak jasa taksi ataupun transportasi lainnya yang masih menawarkan jasa mereka.
Sam menggandeng tangan Maya erat, seolah takut jika istrinya tersesat di salah satu kota dunia yang antah berantah buat Maya.
Sam ingin keamanan dan kenyamanan buat istrinya selama perjalanan bulan madu mereka.
"Kita naik taksi, sayang?" tanya Maya yang semakin mengeratkan kalungan lengannya ke lengan Sam.
"Iya, sayang." Sam mengangguk, dan menggandeng Maya mendekati salah satu taksi yang ia tunjuk. Membukakan pintu penumpang untuk istrinya, dan beralih ke sisi pintu taksi lainnya ketika Maya sudah mulai duduk di dalam. Sementara pengendara taksi masih terlihat sibuk memasukkan kopor keduanya ke dalam bagasi mobil.
"Vous allez là où le maître va?"
(Anda mau kemana tuan?)
Tanya sang sopir taksi saat pria itu mulai memasuki taksi dan duduk di balik kemudi.
"S’il vous plaît nous emmener à Rèsidence Charles Floquet (Tolong antar kami ke Residence Charles Floquet), " jawab Samuel. Membuat Maya terperangah kaget, memandang wajah suaminya dengan berekspresi melongo tidak percaya.
"Eh bien monsieur, profitez de votre voyage (Baik tuan, nikmati perjalanan Anda)," jawab sang sopir sopan. Dan tak lama kemudian taksi putih itu pun melaju meninggalkan bandara internasional Charles de Gaulle.
"Sam, kamu bisa bahasa Perancis?" bisik Maya tidak percaya, membolakan kedua manik mata dan mulut yang masih menggangga lebar.
Sam tersenyum geli melihat ekspresi istrinya, meskipun sedikit lucu namun gadis itu selalu terlihat cantik di mata Sam.
"Ya bisa lah, sayang. Aku pernah sekolah dan tinggal disini selama sepuluh tahun," jawab Sam tenang dan masih dengan senyuman indahnya.
Maya ber-oh- ria sambil kepalanya manggut-manggut pelan tanda mengerti. Selama ini ia bahkan tidak mengetahui jika pria itu pernah tinggal di Paris, Perancis. Kota dengan seribu cahaya.
Maya semakin membolakan matanya melihat pemandangan kota paling romantis di dunia dari dalam kaca jendela taksi. Meskipun di luar masih terlalu gelap namun keindahan kerlip lampu-lampu di kota itu masih saja menyala dengan sangat menakjubkan. Seperti sebuah gemintang di langit, cahaya yang penuh warna menyoroti di setiap sudut jalan. Dan tak lupa pemandangan salju putih yang menyelimuti seluruh permukaan kanan kiri jalanan serta pepohonan sepanjang jalan.
"Sam..... indah banget..." decak Maya kagum, manik mata gadis itu bahkan seolah terdapat ribuan gemintang yang terpancar di sana.
Samuel tersenyum kecil, semakin mengeratkan lingkaran lengannya di pundak Maya.
"Jika saja kita kesini pas musim semi, pasti akan lebih indah lagi." Sam berucap, memandang sejenak ke arah Maya.
"Benarkah?"
"Hhmmm..." Sam mengangguk menjawab pertanyaan istrinya.
"Tapi aku seneng kok bisa kesini di musim apapun itu. Asal sama kamu, suami...." Netra hitam Maya kini menatap lembut Samuel, tersenyum lucu seperti seorang anak kecil manja yang selalu mendamba kasih sayang dari orang terkasihnya.
"J’aime aussi.... (Aku juga, sayang)" Sam menjawab, menatap iris hitam istrinya.
"Sam, kamu ngomong apa barusan?"
Kembali Sam terkekeh geli, ekspresi wajah istrinya yang kini penuh rasa penasaran dengan bibir yang mengerucut lucu seolah seperti candu buat Samuel.
"Kok malah ketawa sih, iihhh..... kamu ngerjain aku lagi ya?" Maya kembali mengerucut, melipat kedua lengannya sebatas dada dan memasang wajah kesalnya.
Tak ada jawaban dari Samuel, hanya senyuman kecil pria itu yang menjawab semuanya dan tak lupa pelukan hangat Sam di bahu kecil Maya yang melengkapi perhatian CEO tampan tersebut.
🗼🗼🗼
Taksi putih tersebut berhenti tepat di sebuah bangunan megah berarsitektur eropa kuno. Sang pengendara taksi turun dan membukakan pintu untuk Samuel lalu disusul dengan membukakan pintu untuk Maya, setelahnya pria tinggi tersebut mengeluarkan kopor dari dalam bagasi.
"Sam.... kita menginap di sini?" tanya Maya yang kembali berekspresi penuh kejutan. Betapa tidak, ia melihat sebuah apartemen dengan desain yang sangat futuristik dan membuat Maya takjub melihatnya.
"Iya, istriku."
"Sayang, siapa bilang kita nyewa tempat ini, hhhmmm...." Sam tersenyum kecil, mengacak-acak puncak kepala Maya lembut.
"Terus...."
"Ini apartemen milikku, aku dulu tinggal di apartemen ini selama sepuluh tahun, honey." Sam kembali tersenyum kecil melihat wajah kaget istrinya yang seperti seorang anak kecil.
"C’est votre valise, monsieur." (Ini kopor anda, tuan) ucap sang pengendara taksi sopan setelah ia mengeluarkan kopor dari dalam bagasi. Sam lalu membuka dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang untuk si pengendara taksi.
"Merci beaucoup et profitez de notre ville (Terima kasih banyak dan selamat menikmati kota kami)" ucap pria tinggi itu, yang kemudian ia kembali masuk ke dalam taksi, selang beberapa menit kemudian taksi putih itu terlihat meninggalkan halaman apartemen megah tersebut.
"Kita masuk, di luar dingin." Sam meraih kopor lalu menyeret nya masuk ke dalam pintu utama apartemen. Sedang Maya melingkarkan erat tangannya di lengan Samuel.
Netra Maya kembali membola, melihat design apartemen yang begitu memukau dan elegan, mereka melewati lorong megah bangunan yang terlihat kuno dari luar namun sangat mengagumkan di dalamnya. Mereka langsung di sodori pemandangan lampu hias mewah dan juga beberapa tanaman hias yang tumbuh apik meski di dalam ruangan. Langit-langit ruangan yang tinggi serta pilar bangunan besar dengan nuansa kuno karena Residence ini memang berlokasi dalam bangunan bersejarah yang telah direnovasi.
"Sam..... ini indah banget....." pekik Maya girang.
"Tunggu hingga kamu masuk ke dalam kamar apartemen kita, sayang," ucap Sam sembari mengeratkan pelukannya di bahu Maya.
"Bienvenue monsieur Perdana, c’est votre carte d’appartement (Selamat datang tuan Perdana, ini kartu apartemen Anda)." Seorang wanita cantik bersurai pirang langsung mendekati Samuel, menyerahkan sebuah kartu eksekutif class ke arah Samuel, setelah sebelumnya ia menghubungi pihak pengelola apartemen untuk mengkonfirmasikan kedatangannya dini hari ini.
"Merci, Mlle Bella (Terima kasih, nona Bella)," jawab Sam dengan senyuman menghiasi sudut bibir tebalnya.
Sang wanita cantik itu pun mengangguk sopan dan mempersilahkan Samuel berjalan menaiki lift untuk sampai di kamar apartemen pribadinya.
Maya masih mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Sam, menautkan seluruh jemarinya erat ke dalam genggaman jemari Samuel.
"Dia salah satu pengurus kamar apartemen di sini, sayang. Namanya Bella." Sam menerangkan, takutnya jika Maya salah paham dengan wanita anggun tadi.
"Cantik ya, Sam...." Senyum kecil Maya mengembang, namun sedikit terkesan menyindir suaminya.
"Lebih cantik kamu, Maya Aulia Perdana." Sam kali ini menghentikan langkahnya sejenak, memandang lekat wajah istrinya.
"Tentu saja lebih cantik aku, kalau tidak mana mungkin kamu suka sama aku, weekk...." Maya tertawa kecil, menjulurkan lidahnya ke arah Sam dan menggoda suaminya.
"Eh, sudah mulai nakal ya kamu...." Sam terkekeh, menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah istrinya.
....
Lift akhirnya berhenti di lantai sepuluh, Sam dan Maya keluar begitu pintu lift terbuka, kembali mereka berjalan menyusuri lorong demi lorong gedung apartemen.
"Ini apartemen kita, sayang." Ucap Sam akhirnya ketika mereka berada di sebuah kamar bernomor 105. Sam membuka knop pintu apartemen, menyuruh Maya untuk masuk terlebih dulu. Lagi-lagi netra gadis itu membola, Sebuah ruangan yang lumayan luas. Ada dapur yang luas dan lengkap dengan segala jenis peralatan memasak modern, dan yang paling menyita perhatian Maya, sebuah ruang santai lengkap dengan beberapa kursi dan meja bundar serta vas bunga yang berisi buket mawar merah di seluruh sudut ruangan.
Sam membuka tirai jendela yang berada dekat dengan ruang santai.
"Samuel.... i-t-uuu menara eifel....?!!" pekik Maya girang, wajah gadis itu spontan membuncah senang. Ia pun langsung berdiri di depan jendela besar. Lampu-lampu kecil yang bergemerlapan di seluruh bangunan menara tinggi itu bersinar indah berwarna-warni.
Sam dulu memang membeli salah satu kamar apartemen dengan view yang menghadap langsung ke arah menara eifel.
"Oh, Sam..... terima kasih," peluk Maya erat.
"Sama-sama sayang, sekarang kamu istirahat dulu. Aku juga sudah lelah seharian di pesawat." ucap Samuel
Maya mengangguk, bagi Maya kini rasa lelahnya terbayar lunas dengan pemandangan indah yang Paris suguhkan. Bahkan jet lag yang tadinya Maya rasakan kini mendadak menghilang dan hanya menyisakan kebahagiaan.
"Kita istirahat dulu, sayang. Besok aku akan mengajak kamu ke suatu tempat," ucap Sam.
Pria itu kini menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang berukuran delux, Maya menoleh dan tersenyum kecil melihat suaminya, ia pun berjalan menghampiri Samuel, memandang lembut wajah lelah suaminya yang kini telah tertidur pulas.
"Thanks, suami...." batin Maya.
to be continue....