
Sam kembali menggandeng tangan Maya erat menuju meja makan, cowo itu tidak pernah sedetik pun melepas Maya.
Sam tahu jika Maya sedikit tidak nyaman dengan Anita.
"Makan yang banyak Maya gak perlu sungkan, Karena Sam suka sama gadis gemoy." Goda Perdana membuat Sam dan Maya tertawa kecil.
"Iya sayang, makan yang banyak ya ntar kalo kamu kurus dikira aku gak perhatiin gadis ku sendiri." Lanjut Sam sambil mengambilkan beberapa potong daging panggang serta beberapa kentang goreng.
Anita menatap ketiganya dengan tatapan dingin. Sebenarnya menurut Anita, Maya gadis yang cantik dan baik namun dia sudah terlalu dibutakan oleh Martha dan juga hubungan nya dengan orang tua Martha yang sudah baik dari dulu. Anita tidak ingin hubungan baik itu retak gara-gara perjodohan Martha dan Sam batal.
Bola mata Maya sesekali melirik ke arah Anita namun dibalas tatapan mata dingin oleh Anita.
Keadaan sementara hening, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu di atas piring bundar berwarna putih.
***
Setelah Dinner
Maya menikmati kembali semangkuk es creame yang Sam ulurkan barusan.
"Makanan penutup kesukaan kamu dear." Ucap Sam mengulurkan semangkuk es creame strowberry.
Maya tersenyum menerima nya.
Sam kini duduk disamping Maya. Anita dan Permana sudah pamit duluan tadi.
"Papa kamu baik ya Sam, dia welcome banget ke aku yang cuma gadis biasa." Lirih Maya pelan, dia sendok sedikit es lumer di genggamannya lalu dia suapkan ke mulutnya.
"Kamu istimewa dear, dan orangtua aku sangat menyukai kamu." Jawab Sam dengan tatapan lembut ke arah Maya, jemarinya memainkan ujung rambut sebahu Maya.
Membuat gadis itu sedikit merasa geli dan anehnya semua itu sangat nyaman.
"Tapi tante seperti gak suka sama aku ya?" Tanya Maya pelan, kali ini dia hanya memainkan sendok kecil es creame di mangkuk es punya nya.
"Mama orang yang baik kok sayang, beliau cuma belum terlalu mengenal kamu aja. Aku yakin kalo mama sudah ngenal kamu lebih jauh dia akan sangat mencintai kamu dear." Jawab Sam lembut.
Lagi-lagi Sam selalu bisa membuat hati Maya merasa nyaman.
Gadis itu tersenyum kecil lalu mengangguk kearah Sam.
"Buruan dihabisin es nya terus kita pulang? Atau kamu mau jalan dulu kemana gitu?"
"Kita langsung pulang aja Sam."
Samuel sejenak melirik nakal ke arah Maya.
"Atau kita mansion ku?" Goda Sam dengan kedipan mata nakal.
"Hhmm gak ah kamu kan suka ambil kesempatan kalo lagi bedua." Cibir Maya lucu. Sam terkekeh mendengar cibiran Maya lalu kembali mengacak-acak puncak kepala Maya membuat gadis itu semakin cemberut.
"Sam... jadi berantakan kan rambut aku." Cemberut Maya lucu, Sam kembali terkekeh kecil.
***
Anita melihat kedua anak muda yang sedang duduk di ruang tengah dengan pandangan lembut.
Sebenarnya Anita senang melihat ekspresi Sam yang bisa tertawa lepas jika bersama Maya, hal itu tidak pernah dia lihat jika bersama Martha ataupun Freya dulu.
Anita tahu jika Sam benar-benar mencintai Maya, kini hati Anita kembali bimbang.
"Liat apa sayang?" Tanya Permana ke istrinya, Anita menoleh ke arah suaminya lalu tersenyum kecil.
"Sam sepertinya sangat mencintai Maya." Jawab Anita pelan, Permana mendekat ke sang istri dan memeluk Anita dari belakang.
"Sayang, Sam kan sudah besar biar saja dia memilih gadis pilihan nya sendiri." Bisik Permana lembut.
Anita mengeratkan pelukan Permana lalu kembali tersenyum kecil.
"Bukankah kebahagiaan Sam anak kita yang paling penting?" Tanya Permana, kali ini ucapan suaminya itu bisa membuat Anita sedikit berfikir.
Benar, kebahagian Sam lah yang terpenting buat Anita. Bukankah dulu dia ingin Sam bisa move on dari Freya? Bisik Anita dalam hati.
"Sayang, udah malam kita istirahat biarlah Sam dan Maya menikmati malam mereka." Ucap Permana.
***
Depan rumah Maya
Sam kembali mendaratkan kecupan kecil di ujung bibir Maya sebelum gadis itu keluar dari mobil, kembali iris ke kecoklatan milik Sam memandang gadis itu lembut.
"I love you dear."
Sam tersenyum lembut dengan pandangan yang enggan jauh dari wajah Maya.
"Kamu langsung tidur ya jangan begadang." Titah Sam lagi, Maya mengangguk pelan dengan senyuman kecilnya.
"Ya udah aku masuk dulu ya, kamu hati-hati bawa mobilnya."
Sam kini mengangguk pelan ke arah Maya dan kembali mencium kening Maya.
"Good night dear...."
Sam sedikit memiringkan kepalanya ke arah jendela mobil yang kini sudah terbuka penuh.
Maya melambai ke arah Sam dan tersenyum manis sebelum sedan sport milik Sam melaju meninggalkan halaman rumah Maya.
"May, kamu udah pulang?" Tanya seorang wanita anggun yang keluar dari balik pintu kamar begitu mendengar Maya memasuki rumah.
"Mama, iya Maya minta maaf jika pulangnya telat." Jawab gadis itu sambil memeluk sang mama.
"Gimana hubungan kamu sama El?" Tanya mamanya tiba-tiba, Maya terdiam sebentar saat mendengar pertanyaan dari sang mama. Bukan apa-apa karena Siska sangat jarang mencampuri urusan anaknya.
"Maaf kalau mama tanya soal El, mama perhatiin kamu suka jalan sama Samuel akhir-akhir ini. Hubungan kamu sama El baik-baik aja kan?" Tanya Siska lagi.
Maya untuk sesaat kembali terdiam, entah apa yang akan dia katakan pada mama nya sekarang.
"Sebenarnya... May sama Sam .... udah pacaran ma." Lirih Maya hati-hati.
"May sama El belum putus ma. May salah ya ma? Tapi beneran May gak ada niatan mempermainkan El atau Sam." Lanjut gadis itu lagi.
"Sam tahu kalau kamu sudah punya pacar?" Tanya Siska, Maya mengangguk pelan.
"Dan El tahu kalau kamu disini deket sama cowo lain?" Tanya Siska lagi, kali ini Maya menggeleng menjawab pertanyaan sang mama.
"May belum cerita sama El, May bingung mau mulai dari mana."
Siska membelai rambut anaknya lembut. "Kamu harus bilang May, lebih baik dia mengetahui kebenarannya dari kamu sekarang daripada di kemudian hari dia tahu dari orang lain." Nasehat Siska, dia usap kembali puncak kepala Maya yang saat itu sedang menunduk dalam.
"Iya ma, May akan ngomong sama El."
"Sekarang kamu tidur gih, udah malam." Titah Siska. "Maya tidur dulu ma, makasih udah bikin May merasa lebih baik." Jawab Maya lalu mengecup kedua pipi sang mama sebelum akhirnya dia melangkah ke kamarnya.
Maya merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur minimalis.
Dia melihat langit-langit kamar sebentar, kini seluruh memori kepalanya penuh dengan bayangan Sam.
Maya menarik senyuman sekilas, "Sam... aku kangen sama kamu..." Maya bermonolog pelan.
"Padahal baru aja ketemu kenapa gue masih kangen sama bos jutek itu?" Pikir Maya.
"Aarrghh... tau ah!!" Kali ini Maya mendekap erat kepalanya dengan bantal seakan berusaha menghilangkan bayangan Sam dari kepalanya dan tentu saja usahanya lagi-lagi gagal.
>>>> To be continue