
Dua pekan sudah berlalu sejak kasus penyerangan Elano terhadap Samuel bergulir di pengadilan. Setelah pembacaan putusan pengadilan, Elano terlihat geram. Berbicara secara serius bersama pengacara Adrian. "Dua tahun? bagaimana bisa putusan Hakim seberat ini, hah....?!"
"Bukti dan saksi sungguh memberatkan Anda, seharusnya Anda beruntung masa tahanan Anda mendapat keringanan. Seharusnya masa hukuman Anda adalah Lima tahun penjara." Pengacara Adrian menjelaskan.
"Tapi buat gue dua tahun bukan waktu singkat. Bagaimana dengan semua bisnis gue nanti? Arrhghhhh.... sialan!!" Elano menggedor meja di dalam ruangan khusus pengadilan. Hanya ada dirinya dan sang pengacara.
"Kami sudah melakukan semaksimal mungkin, bahkan tuan Wijaya juga ikut turun tangan dalam mendapatkan keringanan hukuman Anda." Pengacara Adrian kembali mencoba menenangkan.
"Bagaimana pun kejadian ini banyak sekali saksi mata. Di kantor, di club malam, semua ada saksi yang memberatkan Anda. Apalagi si korban sempat mendapat luka yang sangat serius," lanjut sang pengacara. Elano hanya terdiam dengan pandangan mata tajam, mengepalkan seluruh jemari tangannya erat.
....
Di pihak lain, Samuel pun terlihat tidak puas dengan putusan pengadilan, menurutnya Elano pantas mendapatkan masa hukuman lebih berat dari putusan yang ia dapat, karena ia dijerat dengan dua pasal berlapis. Penyerangan disertai penganiayaan dan percobaan perkosaan. Maya mencegah Samuel ketika pria itu mencoba untuk naik banding akan kasus tersebut. Bagi Maya, Elano sudah mendapatkan hukuman setimpal dengan perbuatannya. Maya tidak ingin lagi berurusan dengan pria itu terlebih dengan urusan hukum. Sudah cukup Sam dibuat pusing dan juga keluar banyak biaya lagi akan masalah mereka dengan Elano. Gadis itu hanya ingin semuanya selesai dan mereka bisa melanjutkan kehidupan mereka dengan damai. Apalagi pernikahan itu sudah terlalu lama mereka undur.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu, sayang? Kalau mau kita bisa naik banding supaya pria brengsek itu mendapatkan masa tahanan lebih dari masa tahanan putusan saat ini." Sam meraih punggung Maya, menatap manik mata hitam kelam itu lekat.
Maya mengangguk pelan, "Sudahlah, Sam. Aku menerima semua putusan hakim. Lagipula dua tahun pun sudah cukup untuk menghukum Elano." Maya menjeda sejenak kalimatnya, meraih lengan Sam dan meremas jemari kuat namun lembut milik Sam.
"Aku kasihan liat kamu mengorbankan segalanya demi kasus ini. Waktu kamu, kerjaan kamu dan Aku mau kita fokus dengan rencana pernikahan kita, Sam." Maya melanjutkan, berdiri di hadapan pria itu dengan kedua tangan yang saling bertaut. Maya sedikit mendongak saat memandang ke arah pria tinggi kekar di hadapannya.
Sam tersenyum, mengelus lembut pipi gadis itu. "Baiklah sayang jika itu kemahuan kamu. Kita urus kembali segala perencanaan pernikahan kita." Sam mencium kening Maya.
"Sekarang kita pulang, kita temui pengacara Rudi terlebih dahulu, okey....?"
Maya mengangguk setuju dan berjalan mengikuti langkah Samuel, menyusuri lorong demi lorong ruang pengadilan hingga mereka memasuki sebuah ruangan.
.....
Sam mengulurkan tangannya ke arah pengacara Rudi, menjabat tangan sang pengacara erat. "Terima kasih pengacara Rudi. Walaupun keputusan hakim tidak sesuai dengan tuntutan kita."
"Kita bisa naik banding jika Anda ingin, tuan..." tawar sang pengacara.
Sam memandang ke arah Maya lalu menggeleng. "Tidak perlu, saya rasa dia sudah mendapatkan hukumannya," jawab Sam tenang.
"Baiklah kalau begitu, saya mohon pamit dulu." Sang pengacara kali ini yang mengulurkan tangannya ke arah Sam dan dibalas Samuel dengan anggukan kepala ke arah pengacara Rudi.
"Jika ada apa-apa, Anda hubungi saja saya." Lanjut pengacara Rudi dan Sam kembali mengangguk pelan dan semakin mengeratkan jabatan tangannya.
Sam dan Maya terdiam sejenak, memandang kepergian sang pengacara yang berpenampilan rapi tersebut.
"Kita pulang, Sam?"
Sam mengangguk, meraih jemari Maya dan menggenggamnya erat, mereka berjalan beriringan. Gelayutan manja tangan Maya di lengan Sam membuat iri seorang pria dengan pakaian pesakitan serba orange yang kala itu berjalan berlawanan arah tepat di hadapan mereka. Pria itu terlihat berjalan dengan dikawal oleh empat orang petugas kepolisian.
Ekspresi Sam berubah ketika jarak mereka semakin dekat, melirik ke arah Elano dengan rahang kotak yang mengeras, iris kecoklatan itu terlihat begitu dingin. Sam mengeratkan genggaman tangannya ke telapak tangan Maya sedangkan satu lengannya erat memeluk pundak Maya. "It's ok, hunny......" bisik Sam ketika menyadari gerak gerik Maya berubah ketika berhadapan dengan Elano yang kini semakin berjalan mendekat. Ketakutan jelas terlihat dari wajah dan perilaku Maya saat itu.
Elano pun menatap keduanya dengan pandangan mata tajam, seakan masih menyimpan dendam untuk mereka.
Hingga ketiganya saling menjauh dengan arah mereka masing-masing yang saling membelakangi. Hingga beberapa meter langkah mereka, Elano membalikkan badannya. Melihat sekali lagi ke arah Maya dan Samuel. Sungguh dendam itu masih terlihat di kedua sorot netra tajam Elano.
.....
"Sam.....!!"
Sebuah suara perempuan tiba-tiba terdengar di basement parkiran gedung pengadilan tinggi. Membuat Sam dan Maya spontan menoleh ke arah sumber suara tersebut, sebelum keduanya memasuki sedan hitam milik Samuel.
"Freya.....?" gumam Maya pelan.
"Mau apa lagi dia!!" geram Samuel.
Freya mendekat, memandang lekat ke arah Sam, seolah gadis itu tidak terlalu mempedulikan kehadiran Maya di samping Sam.
"Mau apa lagi kamu, hah....?!" tanya Sam kasar.
"Sudahlah Fe, lupakan semua tentang kita di masa lalu. Sekarang minggir, kamu menghalangi kami." Sam mendengus kesal. Mencoba memasuki mobil yang saat itu masih dihadang oleh Freya.
"Tapi Sam....." masih saja Freya mencoba menghadang Sam, menghalangi pria itu memasuki mobilnya.
Maya terlihat gerah dengan sikap Freya yang memang disengaja untuk membuatnya cemburu atau marah. Namun tidak semudah itu Freya bisa mempermainkan Maya.
"Sayang, kita pulang sekarang? bukankah kita sudah ada janji pertemuan dengan designer gaun pengantin kita?" tanya Maya tenang ke arah Sam. Melirik ke arah Freya dan tersenyum sekilas. Senyuman yang terkesan skakmat! ke arah Freya.
Sam mengangguk cepat. "Sekarang kamu tolong minggir, Fe!" tegas Sam lagi. Kali ini membuat gadis itu mundur beberapa langkah. Freya mendengus kesal, kedua tangannya ia kepalkan erat. Gadis itu merasa sangat murka karena kini Sam benar-benar sudah melupakannya. Namun bukan Freya namanya jika ia menyerah begitu saja.
....
"Kamu tau kan tadi aku cuma bohong waktu bilang soal perjanjian kita dengan designer gaun pengantin?" tanya Maya.
Sam mengangguk, sambil fokusnya masih ke arah jalanan saat itu.
"Baguslah sayang, kamu ada ide itu untuk membuat Freya bungkam." Sam menyahut, sesekali ia memandang ke arah Maya.
"Kamu masih sayang sama Freya, Sam?" tanya Maya kini.
Membuat Sam tiba-tiba saja membelokkan kemudi ke arah bahu jalan, kini sepenuhnya perhatiannya beralih ke arah Maya.
"Kenapa kamu ngomong gitu? Sudah aku bilang saat ini dan seterusnya hanya ada kamu, May." Sam menjawab tegas.
"Karena aku lihatnya kamu masih tidak tega dengan gadis itu. Mata kamu berkata seperti itu, Sam."
Sam membuang napas berat. Kali ini kembali memandang wajah Maya lekat, begitu tajam dan tegas. Bahkan Maya kini terlihat sangat tidak nyaman dengan tatapan mata itu.
"Aku hanya menganggap dia bagian dari masa laluku, tidak lebih. Aku tidak pernah berfikir menduakan kamu, sayang." Sam kembali menarik napas berat, menjeda sebentar kalimatnya.
"Kamu tidak berfikir jika aku berniat menduakan kamu, bukan? Maya, bukankah kamu tau sifat aku, hah? Jika aku sudah mencintai seseorang. Aku tidak akan pernah mencoba meraih hati lain selain gadis yang aku cintai."
"Aku akan sangat terluka jika kamu berfikir aku seperti pria-pria lainnya, May...." Sam melanjutkan. Suaranya sedikit berat.
"Maafkan aku, Sam....."
Maya menyesali semuanya, harusnya ia lebih bisa memahami Sam saat ini. Setelah apa yang terjadi di antara mereka, pria itu telah memperlihatkan semua perhatiannya untuk dia.
"Aku takut kehilangan kamu, Sam. Takut jika masih ada kisah kalian dalam hati kamu." Suara Maya kini melemah, menundukkan wajahnya dalam.
"Kamu tau itu tidak akan terjadi, hanya ada kisah kita dalam hatiku, Maya. Hanya kita." Kali ini Sam melembutkan nada bicaranya, meraih jemari Maya dan menggenggamnya erat.
"Sekarang kita ke tempat Vivian untuk melakukan fitting baju pengantin kita."
Maya membolakan kedua netranya, tersenyum terkejut dengan ucapan Sam. Fitting baju pengantin tadinya hanya akal-akalan dia saja untuk bisa terbebas dari Freya.
"Tapi, Sam...."
"Aku gak mau ada penolakan, sayang.... Gaun yang dulu pernah kamu fitting sudah Vivian jual ke orang lain. Dan aku mau gaun pengantin yang lebih indah dari yang kemarin." Sam tersenyum sebentar.
Maya meremang, tersenyum bahagia mendengarnya. Walau bagi Maya, ia tidak perlu gaun terindah. Cukup menjadi istri sah Samuel dan menjadi ibu dari anak-anak Sam sudah cukup baginya.
"Aku tidak sabar menunggu kamu menjadi nyonya Samuel, hunny...." bisik Sam lembut.
"Me too, Sam...."
Lalu beberapa menit kemudian pria itu kembali melajukan mobilnya ke arah jalan raya, menembus padatnya lalu lintas Jakarta siang itu.
to be continue......