MySam

MySam
Ke Rumah Sam Lagi



Sam membukakan pintu mobilnya buat Maya, senyuman cowo itu tertarik penuh kearah Maya saat gadis itu turun dari sedan sport milik Sam.


Bola mata Maya berotasi sebentar, mengitari semua sudut rumah besar bergaya eropa tersebut.


"Ayo masuk." Ajak Sam, cowo itu menggenggam erat tangan Maya dan membawanya masuk ke dalam mansion.


"Kamu sendirian tinggal di rumah sebesar ini Sam?" Tanya Maya sedikit mengernyit, Sam sekilas mengangguk ke arah Maya.


Ini kedua kalinya Maya berkunjung ke mansion Sam dan untuk kedua kalinya dia tidak melihat penghuni lain selain Sam dan beberapa maid.


"Orang tua kamu?" Tanya Maya yang sambil mengekori langkah Sam.


"Mereka tinggal di mansion yang lain."


Kini Sam membawa Maya ke area kolam renang, mereka duduk berdua di salah satu kursi yang terdapat di tepi kolam renang luas itu.


Air nya yang jernih tampak berkilau ditempa sinar lampu dan sinar rembulan yang malam itu bebentuk bulat penuh.


"Kamu mau minum dear?" Tawar Sam, Maya menggeleng pelan. "Makasih aku gak haus." Jawab Maya pelan dengan senyuman yang kembali merekah.


"Aku mau kamu tinggal disini bersama ku." Ucap Sam lagi, kali ini kedua mata kecoklatan milik Sam menatap kearah Maya yang sedikit tersipu. Pipi gadis itu merona merah mendengar semua ucapan Sam.


"Kamu gak sedang bermain-main sama aku kan Sam?"


Kini ekspresi Maya sedikit serius. Dia kembali mencari kebenaran dari mata kecoklatan milik cowo dihadapannya saat ini.


Sam tersenyum sebentar lalu mendekat kearah Maya, satu tangan Sam meraih tangan Maya dan mencium punggung tangan Maya, sangat lembut.


"Aku gak pernah se-serius ini dear." Bisik Sam lagi.


"Aku takut kamu ninggalin aku nanti." Kini Maya sedikit menjauhkan pandangannya dari iris kecoklatan Samuel.


"Aku gak mungkin ninggalin orang yang aku cintai May, dan orang itu adalah kamu."


Ucap Sam lagi. Maya memandang sebentar bola mata Samuel, membuat cowo itu kembali mengelus lembut pipi chubby Maya.


"Tapi aku sudah punya cowo Sam, aku gak mau mempermainkan kalian." Lirih Maya.


Kali ini Sam sedikit melepaskan genggaman tangannya.


"Dimana dia sekarang?"


Maya kali ini memandang Sam, cowo itu kini berekspresi sedikit dingin.


"Maksud kamu El?"


Sam mengangguk menjawab Maya, kini tatapan mata Sam kembali tajam.


"Melbourne." Jawab Maya pelan.


"Kamu lebih mencintai dia atau aku?" Kali ini pertanyaan Sam begitu menyudutkan Maya, membuat gadis itu terdiam sesaat.


"Jawab sayang, aku gak akan marah jika kamu jujur." Ucap Sam kali ini dengan tatapan lembut dan benar-benar mampu membuat Maya jatuh cinta pada cowo itu.


Entah kenapa...


"Dear...."


Sam kembali mengganggu lamunan Maya.


"Aku lebih mencintai kamu Sam." Lirih Maya dengan derai air mata yang kini mulai terjun bebas di kedua pipinya.


Sam mendekat ke arah Maya dan menghapus pelan jejak cairan bening di pipi putih gadis itu.


"Aku tau, aku tau kalau kamu mencintai aku May." Bisik Sam. Dia mendekatkan wajah nya ke arah Maya, kini kedua kening mereka kembali saling bertaut.


"And I love you too my sweet peach." Bisik Sam lagi, kini bibir Sam sudah sangat dekat dengan bibir peach Maya.


Sam meraih dagu Maya dan mengangkatnya sedikit, tak lama kemudian Sam menyatukan bibir tebalnya kembali ke bibir Maya. Bibir yang selalu berwarna peach dan sangat memabukan buat Sam.


"I love you my sweet peach." Desah Sam disela-sela pautan bibirnya yang masih bermain lembut menguasai bibir Maya.


***


"Sam..."


"Hhmmm??"


"Mmmhhh sssshhhh aahh Sam... please not now." Desah Maya yang masih berusaha menjauh dari dekapan tubuh kekar Sam dan dari beberapa ciuman yang diberikan cowo itu di pipi, bibir, leher dan kini turun ke pundak putih Maya.


Lagi-lagi rintihan Maya membuat Sam menghentikan sejenak ciuman hangatnya, keduanya mengambil oksigen sebentar.


Ada ketakutan di mata Maya namun ada juga hasrat cinta disana, Maya seperti sedang dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit.


Bagaimana pun akal sehat gadis itu masih menguasai hasrat nya.


"I love you baby, dan aku gak akan ninggalin kamu." Bisik Sam lembut.


"Janji?" Kali ini Maya mencoba menekan Sam.


"I promise you dear." Jawab Sam setengah berbisik.


"Tapi aku belum siap dengan yang lebih dari ini Sam." Lirih Maya.


"Aku gak akan maksa kamu, perasaan ku ke kamu bukan hanya sekedar nafsu May" Bisik Sam lagi.


Kini Sam kembali mencium kening Maya lalu tersenyum ke arah gadisnya itu.


"Aku punya es creame, kamu mau ?" Tawar Sam lembut, Maya mengangguk manja dan kembali memeluk erat tubuh Sam.


Sam berjalan ke arah pantry diikuti Maya yang kini menyusuri tiap sudut ruangan mansion milik Samuel.


Maya mengamati satu persatu bingkai foto yang berjejer rapi di atas nakas kecil.


"Sam ini foto orangtua kamu?" Tanya Maya sedikit berteriak.


"Iya itu Mama dan Papa ku." Jawab Sam dari arah pantry.


"Iya aku pernah ketemu Mama kamu kan dulu." Ucap Maya, senyuman mengembang di sudut bibirnya begitu dia melihat Sam berjalan kembali ke arah nya.


Dengan dua buah mangkuk kecil berisi es creame strowberry di tangannya, Sam mendekat ke arah Maya dan menyodorkan salah satu mangkuk es creame tadi.


"Thanks." Ucap Maya dengan senyuman kecil.


"Kembali kasih sayang..." jawab Sam dengan ekspresi konyol membuat Maya terkekeh geli saat melihat wajah konyol Sam.


Maya sangat menikmati waktu bersama Sam.


Membicarakan banyak hal tentang kenangan semasa sekolah mereka, film-film favorit, kebiasaan buruk masing-masing dan tentang kejadian pertama kali mereka bertemu. Maya dan Sam sama-sama saling tertawa saat mengingat kembali moment itu.


"Kamu tau? dulu kamu begitu menyebalkan. Pertama kali ketemu kamu, aku selalu pengen marah-marah sendiri." ucap Sam dengan sedikit tawa kecil, Maya cemberut sebentar.


"Tapi itu yang bikin aku suka kamu sayang." Bisik Sam lagi, kembali Sam mencium mesra bibir Maya.


Serasa ribuan kupu-kupu kembali menyeruak terbang keluar dari dada Maya.


"I love you Sam." Kali ini bisik Maya lembut, Sam tersenyum kecil menanggapi, dia lingkarkan lengan kekarnya kembali ke pinggang Maya.


"I love you too baby."


Balas Samuel.


***


Melbourne


Perlahan El membuang nafas berat lalu berjalan menuju balkon apartemen nya.


Di Melbourne saat ini sudah hampir tengah malam dan entah kenapa El merasa malam ini sangat susah memejamkan mata.


Cowo itu merasa bersalah terhadap Maya, beberapa kali panggilan seluler Maya terabaikan oleh El.


Kesibukan El mengurusi anak perusahaan keluarganya membuat cowo itu lebih memilih mementingkan pekerjaan dari pada Maya kekasihnya.


Entah kenapa beberapa pekan terakhir El merasa dia dan Maya sedikit berjarak.


Kembali El menghembuskan nafas berat nya, malam ini yang El butuhkan adalah segelas martini atau tequila maybe?


Cowo itu pun bergegas mengambil kunci mobil di atas nakas dan bersiap meluncur ke sebuah discotic ternama di Melbourne.


>>> To be continue